Isyaroh

Isyaroh
Rendy jadi tulang punggung keluarga


__ADS_3

Saat aku dan istriku sedang berbincang bincang kudengar ribut ribut diluar rumah. Membuatku gak jadi istirahat, kemudian bangkit meliht apa yang terjadi diluar.


Ternyata Rendy datang mencariku dengan teriak teriak marah, karena bapaknya dijemput polisi dengan tuduhan bersekongkol dengan kelompok Maheso Suro.


“Pak lek, keluar apa salah bapakku sehingga kamu laporkan ke polisi, jangan dendam lama diseret seret ke kasus pak lek sendiri !” teriak Rendy dengan luapan emosinya. Aah ini bocah gak ngerti juga kalo bapaknya memang bersalah. Dan soal penangkapan bapaknya bukanlah karena aku, tapi itu sepenuhnya urusan kepolisian. Bagaimana menjelaskan pada anak muda yang hanya mengandalkan emosinya tersebut, pikirku.


Aku keluar kamar menuju luar rumah rumah berusaha menenagkan Rendy, darah muda anak itu mungkin baru bergejolak.


“Ada apa kamu teriak teriak Ren ?” tanyaku datar saja pada Rendy.


“Kenapa bapakku ditangkap polisi lek, katanya dituduh mau mencelakai ppak lek. Padahal bapakku gak pernnah ngomongin pak lek.” Kata Rendy.


Aku berpikir sejenak untuk menenangkan anak ini harus bicara pelan saja pikirku.


“Aku barusan pulang dari rumah sakit, jadi tidak tahu apa yang terjadi. Bapakmu ditangkap polisi pun aku juga gak tahu, apa lagi masalahnya apa aku gak tahu. Siapa yang lapor juga aku gak tahu.” Kataku pada Rendy menenangkan.


“Tapi kata bapak ini pasti pak lek yang melaporkan, kata bapak dia dituduh mau mencelakai pak lek..” protes Rendy, namun intonasinya sudah mulai turun.


“Kamu lihat sendirikan, kepalaku barusan diperban habis dari rumah sakit.terus kapan aku lapor polisnya ?” tanyaku.


Rendy hanya diam saja, tapi masih terlihat agak kecewa dengan keteranganku.


“Sekarang begini saja, coba kamu jenguk bapakmu di kantor polisi. Coba kamu lihat sendiri atas kasus apa dia ditangkap dan siapa pelapornya.” Kataku.


Rendy terdiam tidak menjawab, namun akhirnya dia mau kuantar bersama Fanani untuk menjenguk bapaknya. Sebenarnya aku sudah sangat mengantuk tapi demi menenangkan Rendy aku tahan tahan kantukku. Mengantar Rendy ke kantor polisi diantar oleh Fanani.


Sampai dikantor polisi aku dan Rendy langsung diantar keruangan Saputro bapaknya Rendy.


“Kamu coba ngobrol sama bapakmu aku disini saja.” Kataku pada Rendy, aku menunggu diluar ruangan takut malah ribut dengan Saputro.


Kemudian Rendy masuk menemui bapaknya, entah apa yang mereka bicarakan aku lebih memilih duduk dibangku luar ruangan sambil menahan kantuk. Namun kondisi capai dan mengantuk saat itu tak dapat kutahan lagi. Aku tertidur dibangku dalam posisi terduduk, entah berpa lama aku tertidur.


Karena semalaman belum tidur dan kondisi badan yang cape, aku benar benar terlelap dalam tidur. Sampai tidur dalam posisi dudukpun aku sampai bermimpi. Di dalam mimpi, aku seakan menyebarangi sunga dan ketika sampai ditengah tiba tiba terjadi banjir. Air yang sebelumnya mengalir jernih dan tenang tiba tiba semkain besar dan keruh dan hamper menghanyuktkan aku. Datangnya air yang tiba tiba itu membuatku terkejut dan tak sempat menghindarinya.


Untuk kembali ataupun terus menyeberang sudah sama jauhnya, maka tak ada pilihan lain kecuali harus terus menyeberang. Sudah terlanjur basah, maka mandi sekalian ibaratnya. Sudah ditengah balikpun basah terus juga basah, maka kuputuskan untuk terus menyeberangi sungai. Dengan susah payah menerjang arus sunga yang tiba tiba membesar dan semakin besar. Aku yang sempat terbawa arus beberapa meter harus berjuang keras untuk dapat menyeberangi sungai itu.


Dengan berpegangan akar pepeohonan yang menjalar. Akhirnya aku mampu menyeberangi sungai itu, meski dengan susah payah. Dan dengan basah kuyub dan terdapat luka goresan dimana mana sehingga tersa perih dan badanpun kelelahan. Bahkan hamper pingsan saat tiba di tepi sungai dengan nafas terengah engah aku berbaring direrumputan di pinggir sungai tersebut.


Aku terbangun atau tepatnya dibangunkan Fanani saat rendy sudah selesai menemui bapaknya.


“Lek bapak mau bicara sama pak  lek.” Kata Rendy. Setelah aku terbangun.


Agak tergagap aku karena belum puas rasanya tidurku, disamping mengalami mimpi yang cukup menegangkan.


“ Eeh apa Ren ?” tanyaku pada Rendy.


“Bapak mau ketemu dan bicara sama bapak.” Ulang Rendy.


“Owh iya tunggu sebentar, aku mencari wastafel untuk cuci muka agar agak segeran dikit wajahku, yang masih kelihatan ngantuk dan juga memancarkan kelelahan fisik. Kemudian baru menemui bapaknya Rendy. Sebenarnya aku agak malas ketemu dia, hanya saja agar tidak menyakiti hati Rendy aku terpaksa memenuhi permintaanya.


Bagaimanapun Rendy adalaj anak dari kakak kandungku almarhumah. Jadi dia tetap ponakanku juga. Jadi mau gak mau aku harus perhatian juga sama Rendy, meski bapaknya seperti musuh.


“Ayo Ren, kita temui bapak kamu !” ajakku pada Rendy.



Pak lek saja, tadi bilangnya mau bicara empat mata sama pak lek.” Kata Rendy.


Dalam hati aku sebenarnya kesal hamper saja mengumpat, ngapain juga tu orang mau ngomong berdua sama aku, kataku dalam hati. Tapi ya sudahlah, mungkin memang aku harus menemui dia supaya lebih jelas. Akhirnya aku melangkah sendiri menuju ketempat bapak nya Rendy ditahan. Sesampai disana aku langsung menyapa bapaknya Rendy.


“Ada apa mencari aku, apa kamu pikir aku yang melaporkan kamu kepada polisi ?” tanyaku langsung memojokkan bapaknya Rendy.


“Gak, aku hanya mau Tanya, apa yang dilakukan dan diucpkan Anaka kecil juga tahu, kalo jawabanmu itu pasti bohong. Meskipun disuruh Damar tpi pasti kamu punya tujuan gak mungkin kalo tanpa aanya tujuan dan maksut tertentu.” Jawabku. Membuat bapaknya rendy semakin tertunduk.

__ADS_1


“Udah kamu bilang apa adanya saja, dari pada hukuman kamu jadi makin berat jika memberikan keterangan palsu nanti.” Lanjutku.


“Aku hanya berteman baik dengan Damar jadi hanya membantu dia dalam mengawasi rumah kamu.” Jawab bapknya Rendy.


“Aku gak percaya, aku bahkan tahu kamu pernah ikut dalam pertemuan mereka dan mendapat tugas khusus dari mereka untuk mengawasi dan melaporkan apa yang terjai dirumahku. Sampai menyuruh Rendy kerumahku, untuk melihat keadaan.” Ucapku lanjut.


Bapaknya Rendy hanya tertunduk diam, tanpa menjawab apapun.


“Asal kamu tahu saja, kalo bukan karena ibu Rendy itu bukan kakak kandungku sudah aku libatkan dalam masalah ini.” Kataku.


‘”Jangan, dia gak tahu apa apa !” kata bapaknya Rendy.


“Makanya kamu jangan main main, aku tahu kamu yang suruh dia untuk datang dan mengawasi rumahku. Kemudian kamu jual info itu, sehingga apa yang aku lakukan dan apa yang terjadi dirumahku, mereka pun semua tahu.” Kataku membuat bapaknya Rendy semakkin tertunduk.


“Satu hal lagi, jangan urusi urusanku jika kamu tidak mau berhadapan denganku sebagai musuh. Namun jika kamu nekat begitu, aku juga tidak sakan Segan untuk menghadapimu sebagai musuh juga.” Kataku.


Akhirnya bapaknya Rendy mau menceritakan kronologis dia sampai ikut dalam rombongan merela. Ternyata Damar itu adalah rekan dan partner Saputro dalam perjudian, selama ini.


“Owh jadi begitu ya ?” tanyaku pada Saputro.


Saputro makin tertunduk namun kejengkalanku belumlah hilang, teringat dengan semua perbuatanya yang sangat merugikan aku selama ini.


“Sekarang terserah kamu saja, masih mau ikut dengan rombongn musuh atau tidak. Toh kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya.” Kataku lebih lanjut kepada bapaknya Rendy.


Bapaknya Rendy pun diam tak menjawab, meski kulihat ada sedikit rasa penyesalan diwajahnya namun semua itu belum mampu meredakan kejengkelanku padanya. Mungkin dengan sedikit pembelajaran begitu dia akan bisa merubah sikapnya. Soal anaknya Rendy aku juga tidak akan mendiamkan saja, bagaimanapun dia lahir dari rahim kakak kandungku. Jadi aku tidak akan membiarkan dia berada di jalan yang salah.


“Aku minta tolong agar hukumanku bisa diperingan, aku mengaku salah selama ini.” Kata Saputro.


“Soal hukuman itu bukan wewenangku, kalo kamu mau hukumanya ringan katakana saja secara jujur nanti saat siding sehingga kamu dinilai kooperatif. Tidak memberikan keterangan yang dibuat buat, sehingga mempermudah proses pengadilan. Kalo soal salahmu aku bisa memaafkan, tapi soal hukuman itu adalah resiko yang harus kamu tanggung sebagai bentuk tanggung jawabmu dalam melakukan kesalahan selama ini.” Kataku panjang lebar pada Saputro bapaknya Rendy.


Kemudian setelah selesai bicara akupun meninggalkan Saputro untuk pulang kerumah. Bersama Rendy dan Fanani. Sesampai dirumah aku melanjutkan pembicaraanku pada Rendy.


”Biarlah bapak kamu menanggung hasil dari perbuatanya, ini jangan kamu anggap aku tega pada bapakmu. Tapi ini adalah satu pembelajaran baginya agar dia lebih berhati hati dan tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.” Kataku pada Rendy.


“Kamu sudah dewasa, tentunya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan kamu juga yang harus menjaga ibu sambungmu ( Ibu tiri ) karena dia tidak memmiliki anak dan kamu selama ini juga diasuh olehnya.” Jawabku.


“tapi kan Rendy belum punya pekerjaan tetap lek, yang bisa untuk menghidupi keluarga Rendy.” Kata Rendy.


“Kalo kamu mau bisa ikutan Amir mengelola tanaman, nanti kan juga ada hasilnya. Atau mau ikut bantu jaga kios dengan mbak Surti ibunya Amir. Bukan aku perhitungan, tapi aku ingin kamu juga punya rasa tanggung jawab dan tahu bagaimana rasanya orang bekerja mencari uang. Agar besuk kamu kalo berumah tangga bisa bertanggung jawab kepada istrimu. Bukan seberapa besar hasil yang kamu peroleh, tapi seberapa kesungguhanmu dalam melaksanakan tanggung jawab itu yang penting. Soal hasil itu adalah konsekuensi logis dari hasil dan jerih payahmu.” Kataku menasehati Rendy. Aku berharap sifat buruk ayahnya tidak menurun kepada Rendy, yaitu sifat yang hanya mau menang dan senang sendiri. Tahunya ada makanan setiap saat, ada uang jika  dia butuh, tapi tidak mau berusaha member nafkah pada istrinya.


Rendy diam tertunduk, mungkin dia juga menyadari kesalahan bapaknya selama ini. Karena sudah hafal dengan perangainya, yang tiap harinya hanya keluyuran tanpa tujua yang jelas. Setelah itu Rendy pamit pulang untuk menyampaikan berita kepada ibu tirinya dirumah.


...*****...


Dirumah sakit tempat pak Sastro dirawat


Author POV


“Pak, gimana keadaan pak lek Sastro ?” Tanya Candra pada bapaknya.


“Kata dokter sudah makin membaik, dan besuk bisa dibawa pulang kerumah.” Jawab bapaknya Candra.


“Sukurlah, ada lagi yang sebenarnya ingin kubicarakan pak ?” kata Candra.


“Soal adikmu ?” Tanya bapaknya.


“Iya pak, Candra menyesal dulu terlalu keras dengan Arum. Baiknya bagaimana pak ?” Tanya Candra pada bapaknya.


“Bagaimana apanya ?” Tanya Balik bapaknya Candra.


“Ya soal rum dan anaknya, terutama Arum sendiri bagaimana dengan statusnya ?” kata Candra menegaskan.


“Ya bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. Bapaknya anak itu sudah ( Sidiq ) sudah mempunyai istri lain. Dan Arum sendiri sudah menerima itu kita mau apa ?” jawab bapaknya Candra.

__ADS_1


“Tapi kata Arum soal anaknya bapaknya mau mengakui sebagai anaknya dan tetap kan bertanggung jawab atas Sidiq anaknya. Ini yang aku agak bingung pak, kalo tanggung jawab dengan anaknya bagaimana dengan ibunya ?” Tanya Candra.


“Gini saja, nanti kalo lekmu sudah sadar, kita Tanya rumah bapaknya Sidiq itu. Kemudian kita kerumahnya, kita bicara baik baik denganya. Barang kali dia ada rencana tentang itu, atau minimal kita Tanya bagaimana dengan nasib rum sekarang ini ?” kata bapaknya.


“Terus lek Sastro kita tinggalkan sendiri ?” Tanya Candra.


“Kan ada perawat dan nanti kita minta tolong salah satu teman kamu untuk menjaga lekmu Sastro sementara kita kerumah bapaknya Sidiq.” Jawab pak Sastro.


“Iya pak, coba dulu kita tidak terlalu kasar sama mereka ya pak.” Ucap Candra menyesali perbuatanya.


“Yaudah gimana lagi, karena memang dulu orangnya gak seperti sekarang kan. Dari penampilan dan tutur katanya kalo dulu sudah sangat memuakkan. Siapa yang gak marah anaknya hamil dengan lelaki seperti itu. Meski sekarang sudah berubah tapi tetap saja masa lalunya dulu sangat memuakkan.” Jawab bapaknya Candra.


“Ya memang sih pak, kalo inget yang dulu juga Candra masih suka jengkel, hanya sekarang juga rada nyesel ternyata dia bisa berubah sekarang.” Kata Candra.


Saat bapak dan anak itu sedang berbicara tiba tiba pak Sastro terbangung dari tidurnya.


“Kalian ngomongin Yasin bapaknya Sidiq ?” Tanya pak Sastro.


“Iya lek, tapi bukan membicarakan yang buruk kok, aku dan bapak justru mau bicara baik baik dirumahnya.” Kata Candra pada pak Sastro.


“Aku sudah dengar tadi, kalo kalian mau bicara baik baik kesana saja gak papa. Aku sendiri disini gak papa, toh kalo ada apa apa nanti bisa hubungi perawat.” Kata pak Sastro.


“Yakin po, kamu gak papa kami tinggal. Kalo gak yakin biar salah satu dari kami saja yang kerumahnya !” jawab bapaknya Candra.


“Iyo kang, gak usah khawatir, aku baik baik saja.” Jawab pak Satro.


Kemudian Candra memanggil salah satu temanya untuk menjaga pak Sastro. Kemudian berangkat kerumah Yasin bersama bapaknya setelah menerima alamat rumahnya dari pak Sastro.


Berangkatlah mereka kerumah Yasin, meski masih ada sedikit keraguan dalam hati mereka, namun mereka tetap menuju kerumah Yasin.


Sesampai di alamat yang dituju, baik Caandra maupun bapaknya agak ragu untuk masuk ke pekarngan rumah Yasin. Sampai akhirnya Ardian yang kebetulan lewat menyapa mereka.


“Maaf cari siapa pak ?” Tanya Ardian yang meengejutkan Canra dan bapaknya.


...Bersambung...


Mohon maaf, karena kesibukan untuk upnya novel ini agak terlambat. Dan mungkin akan up lagi setelah lebaran. Mohon maaf dan mohon pengertian dari semuanya.


Terimakasih.


 Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


 


__ADS_2