Isyaroh

Isyaroh
Bertemu dengan Wiwin teman SMA


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


............


Gadis itupun hanya tersenyum tanpa tahu bahaya besar yang sedang mengancamnya. Tiga hari lagi Maheso Suro sudah mempersiapkan untuk menculiknya dan membawa ketempat dia sembunyi dan menahan Sulis untuk di korbankan pada saat bulan Purnama nanti….???  


Kemudian Maheso suro pun pergi meninggalkan dusun itu. dengan impian tiga hari lagi akan dapat membawa gadis sebagai tumbal untuk persembahan. Demi mendapatkan ilmu sesat dengan memuja Jin serta mempersembahkan tumbal anak gadis yang lahir pada hari ‘Anggoro Kasih’ atau selasa Kliwon.


Sesampai si tempat persembunyiannya Maheso suro menemui Mento Rogo dan mengatakan jika sudah menemukan target. Kemudian Maheso Suro member tahu cirri cirri anak yang lahir di hari Selasa Kliwon kepada Mento Rogo. Serta member tahu caranya menghitung mundur hari pasaran seseorang untuk mencari tahu hari dan pasaran kelahirannya.


Maheso suro lebih dulu menerangkan sifat atau simbol angka dari perhitungan hari dan pasaran dalam hitungan jawa.


Hari                                        Angka


Ahad                                     5


Senin (Isnain )                   4


Selasa ( tsalasatun )        3


Rabu ( Arba’a )                  7


Kamis ( Khomsa )             8


Jumat                                    6


Sabtu (Sab’atun )             9


Dan untuk Jumlah Pasaran adalah


Legi                                        5


Pahing                                  9


Pon                                        7


Wage                                    4


Kliwon                                  8


*Author tidak faham dari mana angka tersebut muncul, di ambil dari akar kata bahasa asli nama hari tersebut ( bahasa Arab ) pun tidak ketemu. Karena urutan Nama hari dari Ahad s/d Sabtu  adalah urutan angka dalam bahasa Arab. Kecuali hari Juma’at, karenanya hari  Jum’at dianggap sebagai Sayidul Anam ( Rajanya Hari ) sehingga bagi umat Muslim ada perintah Sholat Jum’at diwaktu Dhuhur. Berbeda dengan hari yang lainnya.


Namun begitulah perhitungan jawa yang dijadikan pedoman untuk melihat ciri ciri orang sesuai hari dan pasarannya. Bahkan sering dipakai untuk memberikan nama bagi anak anaknya. Misalnya orang yang bernama Sangadi, kalo orang jawa member nama itu berarti anak itu lahir hari minggu. Karena ada kata ‘Ngad’ sebutan orang jawa untuk menyebut ahad ( minggu ). Dan masih banyak lagi perumpamaan lainya.


Menurut kepercayaan tertentu hari dan pasaran membawa sifat sendiri sendiri dan perpaduan keduanya menentukan karakter orang tersebut, Wallahu a’alam Bishowab. ( Hanya Allah yang tahu kebenaranya )


 Tapi Author jujur mengakui ada manfaat atau fungsi adanya hari dan pasaran tersebut. karena dengan adanya hari dan pasaran tersebut orang jawa sangat lihai menghitung hari selamatan orang yang sudah meninggal bahkan bisa di hitung sampai seribu harinya kapan dengan cepat. Hanya dari hari dan pasaran meninggalnya orang tersebut.


MIsal meninggalnya hari Ahad (Minggu) Pon, berarti empat puluh harinya adalah malam kamis Pahing.


Karena Ahad Pon sampai dengan Sabtu Pahing  adalah 35 hari , kemudian ditambah 4 hari berarti pas malam 40 hari orang tersebut meninggal. Dengan rumus itu bisa digunakan untuk menghitung sampai peringatan seribu harinya orang tersebut meninggal. Dan itu adalah perhitungan matematis bukan soal mistisnya.*


…..


Cukup lama Maheso Suro menjelaskan bagaimana ciri ciri anak yang masuk criteria sebagai tumbal kepada Mento Mento Rogo. Dan pada Akhirnya Mento Rogo pun bisa memahaminya. Dengan begitu akan lebih mudah bagi Mento Rogo menentukan target sebelum memastikan secara nyata hari kelahiran anak tersebut adalah Selasa Kliwon atau ‘Anggoro Kasih’


*****


Di Rumah Yasin


Setelah kami beristirahat cukup kami pun bangun dan sudah disiapkan sarapan pagi oleh Fatimah dan Lainya.Kemudian kami segera Mandi dan makan pagi sebelum kembali ber aktifitas.


“Fat bukankah hari ini rencananya Isti dan Rofiq datang ?” tanyaku pada Fatimah.


“Iya mas, tapi kata Isti paling agak Sorean samapi sini.” Jawab Fatimah.


“Terus bagaimana mas, kan pernikahan mereka tinggal tiga hari lagi. Sedangkan masih banyak tugas juga yang harus kita lakukan.” Tanya Sena.


“Gak papa, yang penting urusan surat menyurat sudah lengkap. Nanti disini hanya proses akad Nikah saja. Untuk acara lain biar mereka sendiri yang melaksanakan.” Jawabku.


“Owh Begitu, kalo soal Aqiqoh Jafar ? sudah Siap semuanya mas ?” Tanya Lanjut Sena.


“Udah, soal kambing juga sudah aku pasrahkan Amir dan ibunya untuk mencarikan. Nanti sekalian buat jamuan tamu yang pada hadir di acara pernikahan.” Jawabku.


“Hari ini mas Yasin jadi mencari temen sekolah ma situ ?” Tanya Zulfan ikut nimbrung obrolan.


“Temen Sekolah siapa ?” Fatimah Ikut bertanya.

__ADS_1


Kemudian aku jelaskan informasi dari pak Yadi semalam bahwa ki Soma yang tewas itu adalah suami dari temen sekolahku waktu SMA dulu. Yang masuk daftar orang hilang beberapa tahun yang lalu.


“Lah kalo masuk daftar orang hilang berarti dia nikahnya gak resmi dong mas, kan gak ada Wali juga ?” Tanya Fatimah kemudian.


“Ya begitulah, bahkan Temenku yang bernama Wiwin itu adalah istri kedua dari ki Soma almarhum.” Jawabku.


Fatimah tampak kaget dan seperti merasakan ada kejanggalan dengan kasus teman sekolahku dulu itu.


“Kok bisa begitu mas ?” Tanya Fatimah Spontan.


“Makanya aku nanti sama Sena mau menemui dia, mengajaknya pulang ke rumah orang tuanya. Karena orang tuanya juga sudah lama menunggunya pulang.” Jelasku pada Fatimah. Agar tidak terjadi salah faham, bagaimanapun perasaan seorang istri pasti ada rasa cemburu ketika suaminya mau menemui wanita lain yang bukan saudaranya. Makanya dengan saksi mengajak Sena agar menghilangkan kesan negative.


“Hati hati mas, bisa jadi di rumahnya juga ada pengikut yang mungkin gak terima dan akan melakukan balas dendam dengan kita.” Ucap Fatimah.


“Mudah mudahan saja tidak.” Jawabku singkat.


Setelah cukup lama kami bicara, akhirnya Aku dan Sena pamitan mau mencari rumah wiwin atau ki Soma. Tentu saja dengan melihat situasi dan kondisi disana juga, seandainya tidak memungkinkan mendatangi rumahnya nanti, maka rencana itu juga aku batalkan atau tunda dulu. Mengingat dalam tiga hari ke depan aku harus konsentrasi dengan aqiqah dan pernikahan Khotimah dengan Candra serta Arum dengan Rofiq.


Aku dan Sena kemudian pergi menggunakan sepeda motor agar lebih leluasa dan lebih santai. Berdasarkan alamat yang pak Yadi berikan aku dan Sena pun dengan mudah mencari alamat tersebut. Namun sebelum menuju ke rumah yang sesuai alamat aku ajak Sena mampir di sebuah warung dulu untuk Ngopi dan mencari info tentang ki Soma dan keluarganya dari masyarakat sekitar.


Apakah mereka di masyarakat dikenal baik, di anggap tokoh atau justru dianggap Trouble maker. Aku merasa perlu mengetahui tanggapan masyarakat lebih dahulu sebelum menuju ke rumah tersebut.


“Pak Kopi, sama minta dibakarin kepala Ayam ya ?” pintaku pada penjual makanan angkringan yang buka siang hari itu.


Kemudian Sena juga ikut memesan minum dan makanan kecil lainya juga.


“ Iya pak, mau kemana ini pak ?” Tanya penjual warung tersebut.


“Owh gak kemana mana pak, Cuma jalan jalan saja. Gak ada tujuan pasti, maunya sih cari orang pinter yang bisa membantu merubah nasib saya pak. Biar bisa hidup enak. Gak kayak gini, cari duit susah istri ngomel terus. Dirumah diomelin kalo pulang kemaleman cari rejeki juga dimarahin,kalo gak bawa hasil. Padahal namanya usaha kan gak selalu berhasil ya pak ?” jawabku panjang lebar pada penjual warung itu.


“Ha ha ha…. Bapak ini sudah orang ke empat yang datang kemari cerita seperti itu pak. Tapi sayangnya orang yang biasa bantuin merukunkan suami istri itu barusan meninggal beberapa hari yang lalu.” Kata pemilik warung angkringan tersebut.ntuan sebenarnya.” Ucapku pada pemilik warung tersebut.


“Haah sudah meninggal pak ? padahal saya baru saja mau sowan kesana minta bantuan padanya.” Kataku seakan merasa kecewa. Sena pun hampir saja tak bisa menahan tawa sampai menendang kakiku.


Untung saja pemilik warung tersebut tidak mengetahuinya. Sehingga tidak menunjukkan perbedaan Sikap pada kami.


“Iya pak baru beberapa hari yang lalu, dia memang jago kalo merukunkan suami istri. Bahkan kedua istrinya juga hidup satu rumah tetap rukun sampai sekarang.” Kata pemilik warung tersebut.


“Wah menarik itu pak, paling tidak saya bisa Tanya ke Istrinya apa rahasia suaminya bisa membuat mereka begitu.” Ucapku.


“Ya kalo itu coba saja pak, saya gak tahu istri istrinya tahu atau tidak, misalnya tahu mau jawab jujur atau tidak.” Jawab pedagang itu.


“Ya namanya juga Usaha pak, kalo kita gak coba mana bisa kita tahu. Tapi rumahnya sebelah mana ya pak. Sekalian mau mengucapkan bela sungkawa kami soalnya.” Ucapku pada pemilik warung itu.


“Udah deket kok pak, bapak nanti dari sini ambil kiri lurus terus ketemu pertigaan yang di tengahnya ada pohon beringin ambi kanan nanti di situ cari saja rumah yang ada plakatnya ‘Sanggar Kamulyaning Urip’


itulah rumahnya.” Kata pemilik warung angkringan itu.


“Kalo persisnya gak tahu pak, tapi tiap malam jumat kliwon dan selasa kliwon sering banyak tamu berdatangan mengadakan ritual khusus disitu katanya.” Ucap pemilik warung angkringan itu.


“Nggih pak nuwun infonya.” Jawabku. Kemudian membayar jajanan yang sudah kami makan dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah ki Soma.


Dalam hati aku berpikir, “apakah aku akan mengaku sebagai Ahmad Sidiq pada Wiwin dan bilang terus terang tujuanku. Atau pakai trick pura pura gak tahu jika dia ( Istri kedua ki Soma ) adalah wiwin. Kemudian pura pura kaget, ah bagaimana nanti sajalah lihat situasi dan kondisi saja.”


Beberapa menit kemudian sampailah aku ke sebuah rumah Pendopo yang dimaksut oleh penjual warung Angkringan tadi. Lumayan besar juga rumahnya, di pintu masuk halaman rumahnya yang cukup luas itu juga dipasang nama sanggar seperti yang dikatakan penjual warung Angkringan tadi.


Agak ragu aku mau masuk ke rumah itu, karena dari luar rumah saja aroma kemenyan jawa sangat menyengat hidung. Aah mungkin ini karena baru dalam suasana duka saja, dan mungkin kepercayaan mereka melakukan ritual dengan membakar kemenyan seperti ini.” kataku dalam hati.


“Kenapa ragu ragu mas ?” Tanya Sena kepadaku.


“Gak kok, hanya aku gak terlalu tahan dengan bau kemenyan seperti ini, perutku jadi agak mual saja.” Kataku.


“Yakin gak papa mas ?” Tanya Sena lebih lanjut.


“Iya. Memang biasa begitu aku kalo mencium aroma kemenyan yang menyengat begini.” Jawabku.


Belum sempat kami melanjutkan pembicaraan kepada Sena, tahu tahu seseorang sudah menegur kami lebih dulu.


“Maaf cari siapa ya mas?” Tanya seorang wanita yang sepertinya aku kenal.


“Wiwin…!!?” kataku dalam hati sebelum menjawab pertanyaan nya “Ah pura pura gak kenal saja dulu lah.” kataku dalam hati.


“Maaf mbak, saya mau Tanya, apa benar ini rumah Ki Soma. Saya dulu pernah minta tolong pada ki Soma, tapi belum pernah melihat rumahnya. Jadi maksut kami kesini itu mau mengunjungi beliau.” Ucapku pada Wanita itu.


“Owh begitu, kalo boleh tahu nama mas siapa ya kok kayaknya saya gak asing dengan wajah mas ini ?” Tanya Wiwin padaku.


Aku mengaku sebagai Yasin saja lah kalo mengaku nama Asliku pasti dia tahu. Bahkan dengan nama sebutanku ‘Zain’ pun dia juga tahu.


“Owh iya perkenalkan nama saya Yasin dan ini teman saya namanya Sena.” Jawabku pada Wiwin.


“Yasin…? Kok sepertinya pernah denger nama itu dan wajah kamu juga kayaknya gak asing ?” jawab Wiwin membuatku harus memutar otak jangan sampai dia tahu lebih dulu jati diriku yang sebenarnya.


“Mungkin mbak, karena saya dulu cukup akrab dengan ki Soma, mungkin ki Soma sering cerita tentang saya kepada mbak. Atau mungkin juga mba pernah diajak kesuatu tempat untuk ritual dan disitu juga ada saya.” Jawabku pada Wiwin.


“Owh bisa jadi begitu, tapi kok kayak gak asing saja dengan suara dan wajah kamu. Tapi begini mas, ki Soma itu barus beberapa hari yang lalu sudah meninggal. Jadi tidak bisa ditemui dalam alam nyata ini, kalo mau bertemu harus saat ritual malam selasa Kliwon atau malam Jumat Kliwon saja.” Ucap Wiwin.

__ADS_1


“Aah sudah sejauh itukah kesesatan kamu Win.” Kataku dalam hati merasa kasihan sebenarnya pada Wiwin. Hingga tak terasa mataku jadi berkaca kaca.


“Kok mas nya sedih begitu mikir apa mas ?” Tanya Wiwin padaaku. Sementara Sena pun bingung melihat mataku berkaca kaca. Tapi dia gak berani ngomong sepatah katapun padaku.


“Iya mbak, ki Soma itu sahabat baik saya dan sudah seperti saudara kok tidak ada yang member tahu jika ki Soma sudah wafat.” Kataku berbohong pada Wiwin.


“Iya maaf mas, soalnya mendadak kemarin, kalo begitu kita bicara di dalam saja. Kebetulan di dalam juga ada mbakyu saya.” Ucap Wiwin.


“Hmm Mbak yu ? pasti maksutnya adalah istri pertama ki Soma.” Kataku dalam hati.


Kemudian kami pun diajak masuk kedalam rumah itu, tapi hanya duduk di Pendopo rumah itu. tidak sampai masuk di bagian dalamnya, untunglah bisa mual mual aku di dalam rumah itu. di luar saja sudah pusing mencium bau kemenyan tersebut.kataku dalam hati.


“Silaahkan duduk, maaf mbakyu Santi masih semedi di depan Altar untuk suami kami jadi belum bisa ikut menemui kalian.” Ucap Wiwin.


Tuh benerkan mbakyu yang dimaksut adalah istri tua Ki Soma, kataku dalam hati.


Aku jadi ragu apakah harus mengatakan diriku sesungguhnya sebelum istri pertama ki Soma datang atau nanti saja.


Tiba tiba Wiwin memandangi aku dengan lekat dari jarak dekat. Tidak seperti diluar tadi yang terhalang jarak cukup jauh karena di dalam dan di luar pagar pekarangan rumahnya.


“Sebentar, beneran nama kamu Yasin ?” Tanya Wiwin yang sepertinya sudah mulai curiga dan mengingatku.


“Beneran mbak nama saya Yasin.” Jawabku.


“BOHONG kamu….!!!” Bentak Wiwin keras sehingga membuat aku kaget juga.


“Bohong bagaimana ?” tanyaku heran.


“Aku tahu kamu sekarang, kamu adalah Ahmad Sidiq tetanggaku sekaligus adalah teman sekolahku dulu. Kamu pasti diperintahkan orang tuaku untuk mencari aku kan ???” Tanya Wiwin padaku.


Sudah terlanjur basah, apa boleh buat aku harus mengakui jika aku memang Ahmad Sidiq alias Zain alias Yasin.


Aku tersenyum melihat tingkah Wiwin yang kaget dengan kehadiranku dan sudah tahu siapa diriku sebenarnya.


“Sabar Win, aku memang Ahmad Sidiq alias Zain alias Yasin tapi kedatanganku ke sini bukan atas perintah orang tuamu. Melainkan karena kehendakku sendiri, gak ada sangkut pautnya dengan orang tuamu.” Jawabku.


Wiwin terdiam sesaat, agak ragu dengan ucapanku namun sejenak berpikir kemudian agak meredakan kecurigaannya.


“Ok, aku percaya sementara ini, karena aku juga tahu bagaimana kamu dulu.” Ucap Wiwin. Yang kemudian berbalik ramah lagi pada kami.


“Sukurlah kamu percaya, paling tidak aku bisa bicara baik baik denganmu Win.” Jawabku.


“Kamu kenapa gak dari awal bilang kalo kamu Ahmad, aku sudah curiga tapi kok kamu bilang nama kamu Yasin. Jadi aku agak ragu juga, kamu kenal dekat dengan suamiku ?” Tanya Wiwin padaku.


“Iya saya kenal dekat banget, kenapa suami kamu bisa meninggal ?” tanyaku pada Wiwin.


“Ceritanya panjang, tahu tahu aku di hubungi Polisi jika suamiku terbunuh oleh seseorang. Sayangnya suamiku saat itu dalam ujud yang kurang baik, karena menggunakan ilmu kesaktiannya. Jadi Aku gak mau diperpanjang secara Hukum. Karena gak ingin berita tentang suamiku tersebar luas.” Jawab Wiwin.


“Owh begitu, terus maaf nih kok kamu bisa menikah sama dia Win. Kalo tahu dia sudah punya istri juga ?” tanyaku pada Wiwin. Membuat Wiwin agak terkesiap kaget, agak ragu untuk menjawab. Bahkan tampak agak sedikit sedih.


“Sudahlah gak usah bahas itu, yang jelas kami gak ada masalah punya satu suami.” Kata Wiwin.


“Ok Win, sori kalo tersinggung. Kalo boleh tahu kegiatan apa yang dilakukan disini saat malam selasa Kliwon dan ma;am jumat Kliwon ?” tanyaku pada Wiwin.


TIba tiba kami dikejutkan oleh suara seorang wanita yang lebih tua beberapa tahun dari Wiwin yang muncul tiba tiba dari pintu yang menghubungkan pendopo dan ruang dalam rumah.


“Jangan di percaya kedua lelaki itu adalah pembunuh suami kita…!!!” ucap Wanita itu.


Dan tanpa ku duga Wiwin menjadi mata gelap dan langsung menyerangku dengan tanganya. Dan anehnya kulihat mata Wiwin enjadi merah semerah bara api.


“Bangsaaa**** kalian…..!” teriak Wiwin.


***Mohon maaf baru Sempat up


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏***...


 


__ADS_2