Isyaroh

Isyaroh
Joyo Maruto mulai lancarkan serangan lagi


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Mimpinya tentang Apa mas ?” Tanya Fatimah.


Aku bingung menjawabnya, karena ini bisa membuat Fatimah Khawatir.


“Nanti saja kalo sudah ada Sena baru aku cerita. Sekarang ngomongin jafar saja deh, sini gentian aku yang gendong,mumpung neneknya baru mandi.” Jawabku.


“Jangan  aah, Jafar baru ***** nih, kehausan kayaknya.” Jawab Fatimah.


“owh yaudah, kirain lagi bobok saja.” Kataku.


Karena Fatimah istriku kalo menyusui auratnya ditutupi dengan jilbabnya sehingga tidak kelihatan Jafar menyusu atau lagi tidur.


“Mas mandi dulu aja sana setelah ibu selesai, sekalian Sidiq diajak mandi.” Kata Fatimah.


“Dimana Sidiq sekarang ?” tanyaku pada Fatimah.


“Tu di belakang lagi sama Khotimah ngomongin apa gak tahu.” Kata Fatimah.


Aku segera menyusul Sidiq ke dapur, ah paling juga godain khotimah atau ngrayu minta sesuatu batinku.


*****


Episode ini


Sidiq terntaya baru berbincang bincang dengan Khotimah dengan bahasa polos seorang bocah.


“Bulek dedeknya Sidiq kok namanya sama ya dengn Sidiq ?” Tanya Sidiq ke Khotimah.


“Ya biar ketahuan kalo Ayah kalian namanya Ahmad Sidiq, nama aslinya.” Jawab Khotimah.


Aku mendengarnya jadi agak merinding, kalimat Sidiq begitu polosnya. Meskipun nama dia bukan aku yang member bukan aku tapi ibu kandungnya.


“Nanti kalo ada yang panggil dedek dengan nama panjang Jafar Sidiq berarti Sidiq ikut dipanggil ya Bulek ?” Tanya Sidiq.


“iya bisa jadi begitu.” Jawab Khotimah mulai kebingungan.


“Kalo bulek besuk anaknya dikasih nama siapa, pakai Sidiq juga gak ?” Tanya lanjut Sidiq.


“Ya gak dong, mungkin pakai nama suami bulek dan nama bulek.” Jawab Khotimah.


“Suami bulek namanya siapa ?” Tanya polos Sidiq.


“Sekarang ya belum punya Sidiq.kenapa Sidiq nanya begitu ?” jawab khotimah mulai kebingungan menjawab Sidiq.


“Gak papa bulek, Sidiq mau dong kuenya itu bulek.” Kata Sidiq minta pisang goreng yang baru diangkat Khotimah.


“Sidiq mau ? nanti ya kalo udah bulek tiriskan biar gak panas.” Jawab Khotimah.


Aku sengaja mendengarkan percakapan Sidiq dengan bulek nya, Khotimah.


“Iya bulek, tadi malem Sidiq udah berani tidur sendirian lo bulek, Sidiq udah besar sekarang.” Kata Sidiq bangga. Merasa tidurnya sendirian.


“Bukanya di temenin Ayah Sidiq semalam ?” Tanya Khotimah.


“Enggak bulek, Sidiq tidur sendirian dan bangun juga sendirian tadi. Ayah gak nemenin Sidiq.” Jawab Sidiq.membuatku terharu. Untung saja Sidiq gak nanyain hubunganku dengan ibu kandungnya kemudian kenapa aku beristrikan Fatimah ibunya Jafar tapi namanya sama sama pakai Sidiq.


Namun suatu saat anak itu harus tahu kejadian yang sebenarnya, jika sudah sampai pada waktunya, pikirku. Kemudian aku menghampiri Sidiq untuk mandi.


“Sidiq, ayo Ayah mandiin dulu baru nanti minta kue sama bulek. Jangan gangguin bulek terus dong.” Kataku.


“Eeh Ayah, Sidiq gak gangguin bulek kok kan Sidiq nemenin bulek masak.” Jawab Sidiq.


“owh pinter dong Sidiq, tapi Sidiq mandi dulu yuk. Ayah mandiin apa mandi sendiri ?” tanyaku.


“Mandi sendiri aja Yah, kata Abah Salim Sidiq udah gede jadi harus bisa mandi sendiri.” Kata Sidiq menyebut kang Salim dengan Abah Salim. Rupanya anak ini cukup mendapatkan didikan dari kang Salim, batinku merasa puas.


“Yaudah sana mandi dulu, tadi sholat subuh gak Sidiq ?” tanyaku.


Sholat dong Yah, tapi kesiangan Sidiq bangun yang lain udah pada selesai semua.” Jawab Sidiq.

__ADS_1


“Pinter ni anak Ayah.” Kataku.


Kemudian Sidiq mandi sendiri, setelah mandi tampak kedinginan sampai menggigil.


“Ayah kok airnya kayak es ya dingin.” Kata Sidiq.


“Gak papa nak kan malah seger, yaudah Sidiq mau minum susu pakai botol gak ?” tanyaku.


“Pakai gelas Yah, Sidiq kan udah gede sekarang.” Jawab Sidiq.


Aku bangga sekali dengan perkembangan Sidiq meski baru beberapa waktu ikut kang Salim tapi sudah banyak sekali perkembangan positifnya. Anak ini harus dididik secara Ekstra memang, batinku.


“Wah Ayah bangga sama Sidiq, sekarang sudah Pinter ternyata.” Kataku pada Sidiq.


Sidiq sudah ganti baju, kemudian gentian aku yang mandi. Setelah mandi aku mencari Sidiq ku ajak nemenin Jafar Adiknya.


“Sidiq, ini adik kamu ya jadi kamu harus bisa lindungi Jafar menyayangi Jafar serta mendidik Jafar agar Jafar jadi adik yang pinter.” Kataku pada Sidiq.


“Iya yah, Sidiq akan jagain Jafar terus pokoknya. Dedek Jafar lucu ya Yah kepalanya kok panjang banget yah ?” Tanya Sidiq.


Karena memang saat  Jafar mau lahir ibunya sempat gak kuat kontraksi sehingga saat kepalanya mau keluar terhenti beberapa saat. Sehingga kepalanya agak lonjong. Meski akan bisa pulih ketika sudar agak besar nanti.


“Gak papa Sidiq, itu nanti akan kembali sendiri.” Jawabku.


“Bunda Sidiq pingin gendong dedek boleh gak ?” Tanya Sidiq.


“Nanti kalo Sidiq udah besar sayang, sekarang belum boleh kan Dedek Jafar masih bayi belum bisa pegangan.” Jelas istriku.


“Pegang aja bunda, dedek Jafar kulitnya kok pada ngelupas bunda ?” Tanya Sidiq kemudian.


“iya kan mau ganti kulit baru Sidiq, semua orang begitu.” Jawab Fatimah istriku.


Kemudian Sidiq memegang pipi Jafar dan menciumnya, terlihat Sidiq sangat menyukai dan menyayangi Jafar adiknya. Kadang tingkahnya juga membuat aku dan Fatimah harus menahan tawa karena kepolosannya.


Kalo Jafar sedang tidur Sidiq sering lihatin Jafar, yang dalam tidurnya entah bermimpi apa sehingga senyum senyum sendiri. Kemudian Sidiq akan bilang, “Ayah/Bunda dedek Jafar senyum sama Sidiq. Dedek Jafar pingin minta gendong Sidiq.” Atau ungkapan ungkapan lain yang kadang terasa lucu. Namun semua itu menunjukkan bahwa Sidiq tidak merasa tersaingi dengan kehadiran Jafar adiknya. Karena kami semua tetap menyayangi Sidiq seperti sebelumnya.


Bahkan Fatimah tetap memperhatikan Sidiq seperti anak kandungnya sendiri. Maka kebahagiaan yang aku dapatkan pun terasa sangat sempurna.


Di tengah obrolan kami yang cukup lama, karena aku memang belum mulai beraktifitas membuat bibit buah sampai bergantian dalam menggendong dan memangku Jafar serta mengganti popoknya. Tidak kami sadari Sena sudah muncul di hadapan kami.


“Wah Asiknya yang baru mendapatkan momongan baru, sampai ada yang datang gak diperhatiin.” Kata Sena.


“Eeh dik Sena, kok gak sama dik Nurul ?” Tanya khotimah lebih dulu menyapa Sena.


“Masuk Sena, jangan didepan pintu aja yuk kita langsung ke dalam saja.” Ajakku pada Sena.


Kemudian Aku dan Sena meninggalkan mereka yang baru mendengarkan ocehan Sidiq yang memberikan cerita saat ngaji di tempat kang Salim dan juga memberikan komentar tentang Jafar Adiknya.


Sesampai diruang mujahadah, aku langsung membuka obrolan dengan Sena terkait mimpi yang kami alami bersama.


“Begini Sena, langsung saja aku bermimpi diberi tahu kakek kakek yang memberikan pesan dalam bahasa Jawa. Inti dari pesan itu yang pertama sama dengan dawuh dari Abah Guruku intinya jika aku disuruh mencari leluhur sampai ke 7 tingkat ke atas.” Kataku membuka Obrolan.


“Kalo itu sama mas, Sena juga bermimpi hal yang serupa juga.” Jawab Sena.


“Nah selain itu, kakek tadi bilang jika masih banyak mara bahaya yang akan menimpa keluargaku Sena.” Kataku kemudian.


“Terus rencana mas Yasin bagaimana sekarang ?” Tanya Sena.


“Aku menduga, jika bahaya itu akan muncul dari orang orang yang dendam kepadaku dulu. Seperti Mento Rogo yang pernah kita hajar saat datang kesini dengan ilmu halimunnya itu. kemudian Ajar Panggiring yang pernah bertempur denganku hingga tak berkutik dan terakhir adalah gurunya Anggada si Maheso Suro yang kita tangkap saat habis sidang itu. bukankah mereka saat itu bersatu dalam sebuah kelompok di pedepokan Joyo Maruto. Saat kita membebaskan gadis yang bernama Lara situ.” Kataku pada Sena.


“Iya ya, kok Sena juga gak kepikiran sampai kesitu. Sena sempat berpikir bahaya apa lagi yang akan kita hadapi nanti. Aku kira akan ada sumber masalah yang lain, ternyata kejadian kemarin masih menyisakan dendam bagi orang orang tertentu.” Jawab Sena.


“Bagaimana jika kita selidiki markas mereka itu Sena ? Bener gak jika mereka saat ini sedang menyusun kekuatan yang akan digunakan untuk balas dendam ke kita ?” kataku


“Bagus sih, tapi apa gak terlalu berbahaya jika kita hanya berdua saja mas ?” Tanya Sena.


“Terus mau ngajak siapa Sena saat ini yang bisa bekerja sama ya hanya kita berdua Sena.” Jawabku.


“Lah bagaimana jika kita minta bantuan pak Yadi polisi temen ma situ ?” kata Sena.


Aku berpikir sejenak, bagaiman caranya bukankah ini sudah bukan masalahnya pak Yadi sebagai Polisi lagi. Kalo pun dia mau bantu sudah sebagai pribadi saja bukan polisi mungkin, pikirku.


“Bisa saja sih, tapi beliau pasti akan bertindak sebagai pribadi saja bukan sebagai polisi.” Kataku.


“Minimal pak Yadi bisa ajak temenya mas mau atas nama pribadi atau satuan kan gak masalah.” Jawab Sena.


Ditengah obrolan kami tiba tiba Fatimah dan lainya menyusul keruang Mujahadah.


“Mas, dicariin pak Yadi tuh mau ketemu mas katanya.” Ucap Fatimah padaku.


Panjang umur, baru saja dibicarakan malah muncul sekarang, batinku.


“Owh iya, yuk Sena kita lanjutin obrolan kita didepan saja sekalian nemuin pak Yadi.” Kataku pada Sena.

__ADS_1


Aku dan Sena segera keruang tamu menemui pak Yadi.


“Assalaamu ‘alaikum pak, maaf saya baru sempat kesini dan belum bisa ngajak Siska istri saya pak. Masih sibuk urusan urusan criminal yang saat ini masih tinggi saja pak.” Ucap pak Yadi.


“Wa’alaikummussalaam pak Yadi, gak papa saya maklum dengan tugas pak Yadi kok.” Kataku.


“Makasih pak, lah ini sama mas Sena juga kebetulan ada disini juga ?” Tanya Pak Yadi pada Sena.


“Iya pak, saya juga belum lama jaraknya dengan pak Yadi kok.” Jawab Sena.


“Wah kebetulan sekali kalo begitu, saya memang aka nada perlu dengan panjenengan berdua.” Ucap pak Yadi yang membuat aku dan Sena saling berpandangan. Kenapa ini sebuah kebetulan lagi, baru saja mau menemui pak Yadi malah sekarang pak Yadi sendiri datang mau menemui kami berdua.


“Ada sesuatu yang pentingkah pak ? Sampai menemui kami berdua ?” tanyaku pada pak Yadi.


Sebelum pak Yadi menjawab, tiba tiba Fatimah datang membawa minuman panas kesukaan kami bertiga yang kebetulan hobi ngopi.


“Diminum dulu pak Yadi, dik Sena.” Kata Khotimah.


“Lah aku gak ditawarin khot ?” godaku.


“Yee mas kan tuan rumahnya masak harus ditawarin.” Ucap Khotimah sambil berjalan pergi.


“Ya mbak makasih.” Jawab pak Yadi.


 Sementara Sena hanya diam saja, bahkan tampaknya dia sedang mengaktifkan kinestesis atau indera ke enamnya.


“Maaf pak Yadi, apa kasusnya sama seperti dulu atau menyerupai dengan kasus yang dulu atau melibatkan orang orang yang dulu pernah berhadapan dengan kita itu ?” Tanya Sena pada pak Yadi.


“Kasusnya adalah adanya beberapa Laporan hilangnya anak gadis secara misterius, dan lenyap bagai ditelan bumi hanya dalam waktu kurang dari semalam. Kemudian saya jadi teringat dengan hal yang hampir menimpa Laras waktu itu. sehingga timbul niat saya untuk minta tolong kepada pak Yasin dan Mas Sena juga untuk ikut membantu menyelidiki kasus ini.” jawab pak Yadi.


Aku jadi termenung sejenak, kenapa masalah masih saja muncul ? baru beberapa hari merasakan tenang dalam keluarga. Dan juga baru saja berbahagia dengan kelahiran anakku Jafar, dan baru senang senangnya menimang anak. Sampai kadang harus berebut dengan ibu mertua. Eeh datang lagi permasalahan baru yang membuat aku juga gak bisa lepas tangan begitu saja.


“Gimana mas, kok malah tampak murung begitu ?” Tanya Sena kepadaku.


“Kita tadi barusan juga ngobrolin itu kan. Dan baru berencana mau menyelidiki dan minta bantuan pak Yadi. Sekarang tiba Tiba saja pak Yadi muncul dan mengucapkan hal intinya sama dengan obrolan kita tadi. Itukan aneh, kalo kebetulan kok kayak kebetulan yang direncanakan saja.” Kataku.


“Maksutnya kebetulan yang direncana bagaimana mas ?” Tanya lanjut Sena.


“Yaitu kalo orang bilang ‘ndilalah’ ( jawa \= hampir serupa kebetulan tapi agak berbeda sebenarnya ) missal ketika pas laper ada yang ngasih makanan. Orang jawa bilangnya, pas luwe ndilalah pas ono wong ngeteri pangan. ( pas  laper Ndilalah/kebetulan/pas waktunya ada orang menghantar makanan ). Ndilalah itu sebenarnya Andil nya Allah maksutnya,jadi dalam hal ini semua yang terjadi itu atas Andil ( kehendaknya Allah ) antara kita bertiga memang harus bahu membahu menumpas kebathilan.” Jawabku.


“Iya juga ya mas, diawali dari kita mengalami mimpi yang serupa, kemudian tadi ngobrol mau melibatkan pak Yadi. Lah kok sekarang pak yadi malah datang dengan niat yang sama.” Ucap Sena.


“Jadi bapak dan mas Sena tadi juga bahas masalah ini ?” Tanya pak Yadi.


“Enggak bukan begitu pak, jadi saya dan Sena tadi ngobrol kalo kita mimpi dengan isi mimpi yang serupa. Inti pokoknya masih ada bahaya yang mengancam kita, dan mengerucut pada kecurigaan kr Joyo Maruto dan Anka buahnya. Dan berencana mau menyelidik kesana mengajak pak Yadi.” Penjelasanku pada pak Yadi.


“Kok bisa begitu ya, bertiga bisa satu arah pemikiran dan dalam waktu yang bersamaan serta sama sama punya keinginan saling bertemu.” Ucap Pak Yadi.


“Itu menunjukan tanpa peran ( Andil / Kehendak ) Allah maka gak mungkin terjadi pak.” Jawabku.


Belum selesai kita mengobrol tiba tiba ponsel pak Yadi berdering.


Kemudian pak Yadi mengangkat telpon dan keluar rumah sebentar.


“Maaf pak saya keluar dulu ada telpon dari Komandan saya.” Kata pak Yadi.


Beberapa menit kemudian pak Yadi masuk lagi.


“Tambah satu kasus yang sama pak, laporan anak hilang dan satu kasus baru ada kesurupan masal bersamaan di dua tempat yang berbeda.” Kata pak Yadi.


 ****


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2