Isyaroh

Isyaroh
Memusnahkan khodam Ajar Panggiring


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Saat ajar Panggiring semakin dekat, aku nekat memukul kepala ajar panggiring menggunakan baju basahku dengan kualiri inner power yang cukup kuat.


Dan tak kusangka pukulan itu membuat Ajar panggiring menjadi berteriak kesakitan. Rupanya Ilmu najis itu kelemahanya dengan air mutlak ( suci dan mensucikan ) Ajar Panggiring tergeletak dan kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Masih hidup gak orang ini, batinku. Saat aku berusaha mendekat untuk memastikan, tiba tiba terdengar suara letupan senjata api.


Doorrr…..!!!


*****


Episode ini


 


“Ki Ajar Panggiring…..!” teriak ki Soma yang melihat ajar panggiring tergeletak tak berdaya.


Rupanya suara letupan senjata apai tadi berasal dari pak Yadi yabg menembak ki Soma yang hendak membokongku.


“Bapak gak  papa ?” Tanya pak Yadi.


“Gak papa pak Cuma basah saja kok, gimana pak kalo sampai Ajar panggiring meninggal. Kayaknya kepalanya cukup banyak mengeluarkan darah. Dan saya tidak sengaja tadi ternyata kelemahan ilmunya ada pada air yang suci bisa buat berwudhu.” Kataku.


“Kita periksa bersama saja pak, bapak sama mas Sena yang periksa, biar saya yang  berjaga jaga kalo dia mau melawan.” Kata pak Yadi sambil mengacungkan pistolnya kepada Ajar Panggiring yang masih tergolek tak berdaya.


“Nadinya masih berdenyut pak, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit dengan pengawalan khusus.” Kataku pada pak Yadi.


“Sebentar mas, ada yang aneh dengan darah ini ?” Ucap Sena.


“Apanya yang Aneh ?” tanyaku pada Sena.


“Darahnya cukup banyak, tapi tak terdapat satu goresan luka kecil sekalipun.” Ucap Sena.


“Ah masak sih terus itu darah dari mana ?” tanyaku pada Sena.


“Pak Yadi, sebaiknya tangan orang ini diborgol dulu sebelum terlambat.” Kata Sena sambil bersiap dengan segala kemungkinan entah apa yang dia rasakan.


“Mana pak borgolnya biar saya yang memasang, takut dia menggunakan trik saja.” Ucapku.


Dan benar saja ternyata Ajar panggiring tidak terluka sedikitpun, dia berusaha bangkit dan berusaha kabur.


Untung saja aku berhasil menjegal kakinya dan terjatuh kemudian aku borgol kedua tangannya.


“Lepasin, aku akan balas dendam kepadamu bocah…!” bentak Ajar Panggiring.


Tentu saja aku gak mau melepaskan dia begitu saja.


“Katakan padaku itu darah apa atau kupatahkan tanganmu seperti tangan Anggada murid Maheso Suro ?” bentakku pada Ajar panggiring. Yang ternyata meski kepalanya tidak luka sedikitpun, dia seperti kehilangan kekuatannya yang tadi, seperti Babi hutan mengamuk.


Ajar panggiring berusaha berontak dan melepas borgol itu. mulutnya terbungkam rapat tidak mau membuka, kemudian aku tekan jakunnya agar mau bersuara.


“Cepat katakana itu darah apa, kenapa kepalamu tidak terluka sedikitpun tapi tadi darah membasahi rambutmu.” Tanyaku pada Ajar Panggiring dengan ancaman ku pegang jakunya dan kutekan sedikit kencang.


“Ehhhhhuuk ehhhuuk baik lepaskan dulu, tanganmu !” ucap Ajar Panggiring.


Kemudian Ajar Panggiring menceritakan jika itu adalah darah babi yang tadinya menjadi pelindungnya ketika bertarung. Namun pukulan dengan baju basahku yang terkena air dari aair mengalir itu menjadikan ajianya musnah. Dan Ajar Panggiring sempat kesakitan dan pingsan saat ajian itu lepas darinya. Dan efeknya darah babi yang menjadi pelindung itu lantas keluar dari tubuhnya, lewat pori pori kulit kepalanya bersamaan dengan larinya khodam ajian ilmu tersebut.


Sena dan pak Yadi pun segera mengecek darah tersebut, dan menurut keduanya itu memang bukan darah manusia.


“Syukurlah, aku pikir semacam ilmu rawa rontek atau panca sona yang kuanggap hanya mitos itu.” kataku.


Saat aku, Sena dan pak Yadi sedang mengamati darah itu. Ajar panggiring hendak melukai aku dengan telapak tangannya dan berhasil memutus borgol tersebut  dengan tangan kosongnya.


Untunglah sena lebih dulu menyadari dan kemudian memukul Ajar panggiring dengan tangan kananya tepat di antara kedua matanya hingga Ajar Panggiring terjatuh dan hendak melarikan diri.


Kemudian aku kembali menangkapnya dengan melumpuhkannya lebih dulu dengan memukul pinggang dia yang dulu pernah ku bikin retak saat bertarung di samping wato kemloso.


“Ajar panggiring mengaduh…


Heeegghhhh….


Suara Ajar panggiring yang menahan sakit, kemudian aku menghampiri.


“Jangan coba coba lari…!” bentakku pada Ajar Panggiring.


Ajar panggiring yang masih kesakitan karena pukulan di area itu memang bisa membuat orang bisa sangat sakit dan engap saat bernafas.


Akhirnya Ajar Panggiring pun dapar kami ringkus dan hendak kami amankan dulu.

__ADS_1


*****


Flashback beberapa saat sebelumnya


Author POV


Saat Ajar panggiring berteriak dan pingsan dengan musnahnya ajianya ki Soma mengira Ajar Paggiring Tewas dan kepalanya pecah karena mengeluarkan darah. Meski ternyata itu hanya darah babi yang menjadi pelindung Ajar Panggiring.


Melihat itu ki Soma hendak membokong Yasin dengan senjata golok yang sudah terhunus.


Untunglah pak Yadi dan Sena mengetahui hal tersebut, sehingga keduanya dengan sigap menyerang ki Soma secara bersamaan. Pak Yadi mengambil pistolnya dengan cepat menembak Ki Soma. Sementara Sena melempar ki Soma dengan batu sebesar satu genggaman dan tepat mengenai kakinya hingga dia terjatuh. Meski itu artinya ki Soma beruntung, sebab jika dia tidak jatuh mungkin pelurulah yang akan menyasar tubuhnya.


Mengetahui pihak lawan bawa Senjata api ki Soma pun memilih kabur menghindari kemungkinan terburuk, tertangkap atau terbunuh.


Dan dia segera lari menuju ke tempat dimana Maheso Suro dan Mento rogo sudah menunggu kedatangan Yasin.


“Lama sekali Adi Ajar Panggiring memancing Yasin kemari, tangan aku sudah gatal ingin menghajarnya dengan ajian kelabang Sayuto biar dia menjerit kesakitan. Dan bisa mati pelan pelan.” Ucap Mento Rogo.


“Aku jga sudah gatal, ingin meremas tulang tulangnya dengan ajian giling wesiku. Aku akan buat tulang tulangnya remuk dari tiap ruas tulangnya. Sehingga aku bisa menikmati setiap teriakan kesakitanya.” Ucap Maheso Suro.


“Aki ki Maheso suro,,,, ketiwasan ( celaka ) Aki ki Ajar Panggiring sudah tewas dibunuh Yasin baru saja !” ucap ki Soma ketakutan.


“Apa kamu bilang ? bukanya sudah dipesan jangan melawan sendirian. Dan kamu harus turun tangan jika Ajar Panggiring terdesak. ?” bentak Mento rogo yang kemarahannya menjadi semakin meluap mendengar berita Ajar Panggiring tewas.


“Coba kamu ceritakan apa yang terjadi sebenarnya ?” perintah Maheso Suro.


Kemudian ki Soma menceritakan jika awalnya Yasin sudah terdesak dan beberapa kali harus terpental atau bergulingan ditanah karena serangan Ajar Panggiring. Ajar panggiring terpaksa melawan karena Yasin tidak sendirian. Dia dibantu dua orangnya yang tiba tiba muncull di depan Ajar panggiring saat memancing Yasin.


Tapi saat Ajar Panggiring berhasil menjatuhkan Yasin masuk ke parit, pada waktu Yasin bangkit dan naik dari parit serta membuka baju. Ajar panggiring menyerang Yasin yang sedang buka baju tersebut.


Dan pukulan dengan baju basah yasin tersebut membuat kepala jar Panggiring pecah dan banyak mengeluarkan darah.


“Kejadianya begitu cepat, sehingga aku tak dapat membantu ki Ajar Panggiring.” Ucap ki Soma.


”Kenapa kamu tidak mencoba melukai Yasin saat itu ?” Tanya Mento Rogo.


“Sudah,,, saat Yasin lengah aku mencabut golokku ingin menebas batang leher anak itu. tapi dua orang yang bersamanya melempar aku dengan batu hingga aku jatuh. Dan satunya lagi menembakku untung tidak kena. Jadi aku terpaksa lari meninggalkan ki Ajar Panggiring.” Ucap Ki Soma.


“Yaudah kita laporkan ini ke guru kita aja.” Ucap Mento Rogo.


Kemudian ketiganya kembali ke padepokan tanpa Ajar panggiring. Setelah sampai di padepokan. Mento Rogo segera menceritakan laporan dari ki Soma. Joyo Maruto tampak menggeretakkan giginya karena marah. Merasa strategi yang sudah dia anggap sempurna begitu mudah digagalkan oleh Yasin dan kawan kawannya.


“Anak itu…. apakah harus aku sendiri yang menghadapinya ?  Tapi ini belum tiga bulan dari peristiwa itu, kalo aku yang turun tangan pasti orang berjubah itu akan membantunya lagi. Dan aku tak sanggup melawan ajian tatar bayunya itu.” ucap Joyo Maruto.


“Ampun Guru, biar Mento yang membalaskan dendam adi Ajr Panggiring guru….!?!” Ucap Mento Rogo.


“Kamu jangan buru buru, aku yakin Ajar Panggiring tidak tewas dia masih hidup. Dan kamu harus meningkatkan ilmu kelabang sayutomu ke level lebih tinggi agar mampu menghadapi Yasin.” Ucap Joyo Maruto.


“Tidak, Ajar Panggiring tidak mati darah yang ada dikepalanya adalah darah babi yang keluar bersama musnahnya ajian Mustakaning Babi milik Ajar panggiring.” Jawab Joyo Maruto.


Apakah masih bisa diselamatkan guru ?” Tanya Mento Rogo.


“Iya bisa saja kita segera ke tempat pertarungan itu tadi saja. Siapa tahu Ajar paggiring ditinggalkan begiru saja “ ucap Joyo Maruto.


Berangkatlah mereka ke lokasi pertempuran.


*****


Dirumah Yasin


Author POV


Farhan merasakan ancaman yang cukup bahaya pada Yasin dan rombongan, baik dari makhluk kasat mata dan makhluk tak kasat mata.


Farhan dengan feelingnya merasakan bahwa Laras yang dirasuki khodam ilmu panggiring sukma selain diarah sebagai korban juga sebagai umpan atau pancingan bagi Yasin dan rombonganya.


Sesudah membaca Hizib ( doa khusus ) Farhan mewiridkan doa ( dari ayat Quran ) “…….wama romaita idz romaitaa wa laa kinnalahha roma…..” dibaca berulang ulang mungkin sampai ratusan. Dengan diniatkan mohon kepada Allah agar orang orang yang berniat jahat tersebut di hantam mundur. Kemudian dilanjutkan dengan memohon pada Allah agar kebathilan ( kejahatan ) menjauh.


“….waqul jaal Haqo wazaqol bathil, innal bathila kana Zahuqo….” Terus dan berulang Farhan melafadzkan doa doa tersebut. Yang pertama berimbas kepada Laras yang kerasukan. Sehingga khodam yang merasukinya merasa panas dan akhirnya keluar dengan sendirinya.


Kemudian yang kedua berimbas kepada Ajar Panggiring, saat menerima pukulan dari Yasin dengan baju basahnya dengan wasilah ( perantara ) air suci ( syah buat wudhu ) mampu melenyapkan ilmu sesat dari Ajar Panggiring.


Dan yang ke tiga saat ki Soma hendak membokong Yasin, dengan wasilah lemparan dari Sena dapat menggagalkan usaha ki Soma yang hendak membokong Yasin.


Sebuah perpaduan ikhtiar ( usaha ) yang harmonis antara usaha lahiriyah dengan doa permohonan kepada Allah. Sehingga terkabul dan semua lepas dari mara bahaya yang mengancam mereka.


“Alhamdulillah…..!” ucap Farhan mengakhiri ritual doa permohonan kepada Allah untuk meminta keselamatan terhadap Yasin dan kawan kawanya. Yang sedang berusaha secara lahirriyah dan bathiniyah juga tentunya.


“Udah selesai bu, insya Allah mas Yasin sebentar lagi pulang.” Ucap Farhan.


“Aamin… Alhamdulillah…! Menantu ibu itu kadang emosinya yang gede sampai gak ngukur kekuatan diri sendiri. Sehingga sering kali membahayakan dirinya sendiri.” Ucap ibunya Fatimah.


“Iya bude Farhan paham, darah yang mengalir dalam tubuh mas Yasin memang darah pemberani turunan dari kakek Jafar Sanjaya. Namun selain itu mas Yasin juga memiliki darah kakek Sidiq Ali yang pandai main Strategi, jadi bude gak usah terlalu khawatir. Allah member ujian besar pada mas Yasin dan Mbakyu Fatimah tentu juga sudah memberikan bekal kemampuan untuk menghadapi ujian itu. karena Allah tidak memberikan ujian melebihi batas kemapuan dari hamba-Nya.” Jawab Farhan.


“Iya nak, tapi manusiawi juga kalo kita merasa was was kan.” Jawab ibunya Fatimah.


“Betul bude, dan tampaknya ini justru awal dari perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai. Farhan akan terus disini menemani mas Yasin karena moment ini yang Farhan tunggu dari dulu. Untuk melaksanakan perintah Guru ngaji Farhan Abah Armin adik angkatan Abah Thoha abah gurunya mas Yasin BUde.” Kata Farhan.


“Iya semua berjalan alami seperti kebetulan, tapi ibu Yakin ini sudah scenario Allah nak. Owh iya, ibu tadi sempat denger kamu bilang jika kamu, Yasin dan Sena itu berasal dari garis keturunan yang sama kalo diurutkan sampai tujuh tingkat ke atas, apa memang benar begitu ?” Tanya ibunya Fatimah ke Farhan.

__ADS_1


“Iya Bude, Yuyut yang cerita kemudian dikuatkan lagi dengan pesan dari Abah Guru Armin yang mengatakan suatu ketika saya akan dipertemukan dengan dua saudara lainya yang harus bekerja sama dalam syiar dakwah Amar ma’ruf nahi munkar. Yang pertama kali saya temui adalah Sena dan untuk Mas Yasin memang butuh proses panjang. Mungkin ibu lebih paham dengan masa laulunya mas Yasin.” Jawab Farhan.


“Iya  bude Faham kok, untunglah segera mendapatkan Hidayah meski perjalanan dia dulu begitu kelam dan berliku.” Jawab ibunya Fatimah.


Begitulah kejadian di tiga tempat yang terjadi dalam waktu yang relative bersamaan, satu dilokasi pertempuran Yasin dan Ajar Panggiring kedua di tempat kelompok Maheso Suro dan dirumah Yasin.


Masing masing kelompok melakukan usaha sesuai dengan hajat atau keinginan mereka.


*****


Kembali kepada Yasin,Sena dan pak Yadi


“Kita amankan dimana pak Ajar panggiring ini ?” tanyaku pada pak Yadi.


“Saya juga bingung pak, dengan kekuatan dia seperti itu jelas berbahaya jika tidak dikawal ketat oleh orang yang memiliki pengetahuan terhadap ilmu kanuragan juga.” Jawab pak Yadi.


“Kita bawa kerumah dulu saja mas Yasin, nanti kita syariati bertiga dengan mas Farhan agar ilmunya dilepas semua baru kemudian dipenjarakan setelah dia jadi orang biasa lagi.” Kata Sena.


“Usul bagus Sena, jadi begitu saja pak. Sementara biar Ajar Panggiring saya karantina dulu biar dimusnahkan semua khodamnya setelah itu barulah dipenjarakan.” Kataku ke pak Yadi.


“Baiklah pak kalo begitu terimakasih sebelumnya.” Ucap pak Yadi.


Kemudian kami berangkat pulang ke rumahku bersama sama dengan membawa Ajar panggiring yang aku lumpuhkan sementara


*****


 


Sesampai dirumah  


Farhan yang sudah menunggu kami didepan rumah, kemudian menyambut kami dan dia langsung menotok Ajar Panggiring hingga tak mampu banyak bergerak. Hanya kakinya yang bisa berjalan sedang kedua tanganya bagai lumpuh total tak bisa bergerak. Samapi jari tanganya pun tak mampu bergerak.kemudian setelah pak Yadi pamit pulang Farhan langsung membuka obrolan.


“Kita musnahkan dulu khodamnya di belakang rumah sebelum dibawa masuk kerumah.” Ucap Farhan.


Kemudian kami bertiga duduk dengan posisi mengepung Ajar panggiring yang sudah dalam keadaaan tertotok.


Kemudian bersama membacakan doa doa rukyah dan doa Sayidan Akassa untuk menghilangkan semua khodam yang dimiliki Ajar panggiring.


Cukup lama kami bersama membaca doa tersebut karena memang cukup panjang dan tidak hanya sekali baca, namun sampai semua khodam yang ada Di ajar panggiring itu lenyap.


Betapa kencangnya teriakan Ajar Panggiring stiap kali Khodamnya keluar, aku dapat melihatnya karena dalam membaca doa sekaligus kami bertiga juga membuka mata batin kami. Agar tahu jika khodam khodam jin yang ada ditubuh Ajar panggiring tersebut pergi.


Tidak terlalu sulit mengusir khodam yang ada di Ajar Panggiring, karena yang membuat kontrak langsung dengan khodam khodam jin tersebut adalah joyo Maruto bukan Ajar Panggiring Sendiri.


Berbeda jika Ajar Panggiring yng melakukan kontrak ‘Memuja’ Khodam tersebut maka prosesnya akan lebih sulit dan lebih menyakitkan bagi si pelaku.


Setelah selesai maka Farhan membuka kembali aliran darah Ajar Panggiring, hingga dia bisa bergerak bebas sekarang.


“Kamu sudah bisa bergerak bebas sekarang, namun semua khodam yang ada pada tubuhmu sudah kami musnahkan semua. Jadi semua ilmu Tosan Aji yang kamu bangga banggakan selama ini tak ada lagi.” Kata Farhan pada Ajar Panggiring.


“Aku gak akan percaya begitu saja dengan ucapan kamu ?” kata Ajar Panggiring yang masih bisa menyombongkan dirinya.


“Kalo gak percaya coba kamu gunakan ilmu kesaktianmu sekarang, boleh pilih menyerang satu diantara kami bertiga. Dan kami gak akan membalas.” Ucap Farhan.


“Itu kamu yang bilang, bukan aku  yang minta sekarang rasakan ilmu kelabang Sayutoku.” Ucap Ajar Panggiring sambil mengetrapkan manteranya kemudian menyentuhkan kedua telapak tanganya kepadaku dan kepada Farhan. Sambil berteriak nyaring mengucapkan ajaianya


“Terimalah ajaianku kelabang Sayuto…!” teriak Ajar Panggiring.


Namun baik aku maupun Farhan tak merasakan apapun selain darii sentuhan tangan Ajar panggiring.


Aku kerjain saja ini Ajar panggiring, biar dia sadar diri sukur mau berhenti ikut memuja jin, batinku.


Kemudian aku mengedipkan mata kepada Farhan untuk member kode pura pura kesakitan. Farhan pun mengangguk tanda faham dan setuju.


Kemudian aku dan Farhan pura pura menjerit kesakitan, sampai Sena pun hampir tertipu dan mengira aku dan Farhan beneran kesakitan


“AAkkkhhhh……!” teriakan pura puraku……???


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2