
Episode 80
Suasana yang sudah cukup tenang itu tiba tiba kembali dikejutkan dengan suara tembakan lagi yang mengarah ke pintu dapur. Dan terdengar suara jeritan…
“ Aaaaaakh… tolong…!” suara jeritan dari dapur.
“ Siapa yang di dapur, semua kumpul disini dulu “ kataku
Kami saling memandang berkeliling, mencari siapa yang gak ada disitu.
“ Arum sama Sidiq, gak ada disini cepat tolong mas ?” ucap Isti.
Aku segera berlari kedapur, mengajak Fanani yang siap melindungi dengan senjata jika ada sesuatu yang tidak diinginkan. Kulihat di dapur Arum pingsan kaarena ketakutan, tapi tidak ada luka serius.
Sementara Fanani memeriksa keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, fanani melihat celah kecil dari pintu dapur. Yang dimungkinkan jadi tempat mengincar mush.
“ Untung proyektinya menyerempet kayu dulu pak, jadi membias tidak mengenai langsung.” Kata Fanani.
“ Iya Fan, Arum hanya kaget dengar suara tembakan. Tidak ada luka.” Jawabku.
Kemudian Arum dibawa keruang mujahadah, Isti dan Khootimah membopong Arum yang pingsan untuk mendapat perawatan agar sadar. Sementara Aku dan Fanani masih mencari proyektil peluru untuk mengetahui jenis senjatanya.
“ Ini Fan, proyektil pelurunya mengenai tembok sebelah sini.” Kataku menunjuk pada tembok dapur yang kena peluru.
“ Melihat posisi jatuhnya bu Arum tadi, bisa jadi bu Arum berdiri disini. Kemungkinan musuh mengincar beliau, tapi peluru menyerempet pintu dulu. Jadiberbelok arah.” Kata Fanani.
“ Kalo begitu jika diambil garis lurus antara target dan pelaku, posisi penembak ada di atas gedung itu Fan.” Jelasku pada Fanani.
“ Bisa jadi pak, tapi sekarang yang penting kita harus menutup semua lobang yang memungkinkan peluru bisa masuk ke dapur dan ruang lain yang bisa diincar oleh musuh.” Kata Fanani.
“ Berarti harus besok Fan, sekaligus melihat dari arah mana saja musuh bisa mengincar orang yang berada di rumah ini.” Jawabku.
Kemudian aku dan Fanani kembali keruang Mujahadah, kulihat Arum sudah sadar. Tapi Wajahnya masih pucat.
“ Kamu gak papa kan Rum, Sidiq dikamarnya ?” tanyaku.
“ Iya mas, Sidiq aman dikamar. Maaf tadi Arum mau bikinin susu buat Sidiq, tapi tiba tiba terdengar suara tembakan. Kemudian kayak ada yang lewat diatas kepala Arum.” Jawab Arum.
Berarti benar analisa Fanani, sniper itu maksutnya hanya mau melukai Arum. Tapi karena menyerempet peluru berbelok arah justru hamper mengenai kepala Arum.
“ Mulai sekarang jangan tinggalkan ruangan ini dulu, biar diperiksa dulu tempat tempat yang mungkin bisa disasar peluru dari luar. Karena ini rumah tua, tentu banyak lobang yang bisa jadi incaran musuh.” Kataku.
“ Biar saya nanti yang keliling bertiga pak.” Kata Fanani.
“ Sama aku gak papa, justru kalian bisa jadi juga diincar. Kalo aku bukan diincar untuk disakiti begitu. Tapi diincar untuk diintimidasi.” Kataku.
“ Tapi tetap harus waspada pak, siapa tahu mereka berubah pikiran dan mau mencelakai bapak.” Ucap Fanani.
“ Iya, tentunya tidak meninggalkan kewaspadaan. Kalian juga dilengkapi rompi kan ?” tanyaku.
“ Saat ini belum pak, tapi dengan kejadian pertama tadi besuk akan dikirimkan rompi. Besuk pagi pak Yadi akan kesini.” Jawab Fanani.
“ Sukurlah, kebetulan besuk pagi juga ada yang harus aku bicarakan pada pak Yadi. Sepertinya musuh tahu betul aktifitas kita, sampai Arum kedapur saja bisa ketahuan begitu.” Kataku.
Malam itu kembali kami berkumpul diruang mujahadah semuanya, karena hanya tempat itu yang paling tidak mungkin disasar peluru dari luar. Suasana yang sungguh sangat tidak nyaman, bagi kami semua. Apa lagi bagi aku dan istriku tentunya. Tapi demi keselamatan semuanya ya bagaimana lagi.
Pagi saat habis sholat subuh, suasana agak tenang tidak begitu mencekam seperti saat malam harinya.
“ Mau minum kopi atau apa mas ?” Tanya Fatimah.
“ Bikin aja kopi sama teh, yang pingin kopi ya kopi yang pingin the ya biar minum the.” Jawabku.
“ Maksut Fatimah mas Yasin sendiri, kalo yang lain udah di buatin dari tadi.” Sahut Fatimah.
“ Owh aku biasa lah, kopi tanpa gula, seperti biasa.” Jawabku.
“ Yaudah Fatimah bikin dulu, suka amat sama yang gak pakai gula.” Bisik Fatimah menggoda.
“ Maksut Fatimah apaan ?” tanyaku sambil senyum.
“ Ya kopi gak pakai gula suka, susu gak pakai gula juga demen.” Bisiknya sambil menahan tawa.
“ Aah dasar, pingin ya ?” candaku pada Fatimah.
Dan kami pun tertawa bersama sampai tidak menyadari kehadiran Isti, yang ternyata sudah membawakan aku kopi pahit.
“ Yaah keduluan kamu Fat.” Gurauku.
“ Yee gak papa kali keduluan bikini kopi ini.” Jawab Fatimah.
“ Kalian sedang ngomongin apa, gak rahasia kan ?” Tanya Isti salah tingkah.
“ Gak kok Is, hanya bercanda biar gak terlalu stress. Kalo terlalu spanneng bisa stress malah.” Jawabku.
“ Mas Yasin ini bisa aja, Fatimah juga udah ketularan ya rupanya. Disaat begini masih bisa ketawa tawa.” Sahut Isti.
“ Habis mau gimana Is, selagi masih bisa tertawa ya tertawa saja.” Jawab Fatimah.
Mau gak mau Isti pun ikut tertawa, sehingga memancing kehadiran yang lain diruang mujahadah. Khotimah, Arum ibunya isti ikut bergabung ngeteh dan ngopi disitu. Sengaja aku tidak membicarakan masalah semalam agar tidak membuka memori ketakutan mereka.
__ADS_1
Aku sengaja membicarakan Khotimah yang sepertinya ada hubungan khusus dengan Fanani.
“ Tampaknya saat ini ada yang lagi jatuh cinta nih.” Ucapku membuka obrolan.
“ Maksut mas Yasin siapa ?” Tanya Isti yang agak sensitive jika bicara tentang cinta laki laki dan perempuan.
“ Gak kok Is, aku hanya menduga saja. Kayaknya bentar lagi Fatimah bakal punya sepupu Ipar.” Kataku lanjut sambil memandang Khotimah.
Sementara Khotimah hanya terdiam malu, dan sedikit cemberut melihatku.
“ Owh iya iya Isti faham sekarang mas. Yaudah mungkin disegerakan saja kali biar lebih Afdhol.” Sahut Isti.
“ Ya aku sih tergantung yang bersangkutan saja lah, gak mau intervensi terlalu jauh.” Jawabku.
“ Aah mas Yasin ini, dalam kondisi begini juga masih saja bercanda.” Ucap Khotimah sewot.
“ Lah siapa yang bercanda Khot, aku serius kok. Dan kenapa kamu protes begitu, apa kamu merasa ?” tanyaku.
“ Yee,,, pura pura ngeles padahal maksutnya ngomongin Khotimah kan. Siapa lagi sepupu mbak Fatim disini kalo bukan Khotimah ?” jawab Khotimah.
“ Sukurlah kalo kamu sadar dan mengakui, apa kamu setuju dengan usul Isti tadi ?” tanyaku pada Khotimah.
“ Apaan sih ah, orang Khotimah cuma berteman saja kok sama mas Fanani.” Ucap Khotimah.
“ Tuh kan, malah ngaku sendiri sekarang. Berani sebut merek lagi.” Kataku sambil tertawa.
“ Merek kayak barang aja, bilang sebut nama kek jangan merek masa orang disamain sama barang.” Balas Khotimah.
“ Owh ada yang gak terima aku bilang merek, sudah segitu dalamnya kah ?” gurauku yang berhasil memancing reaksi Khotimah.
“ Bodo ah, dasar mas Yasin tu sukanya iseng banget kerjaanya.” Kata Khotimah sambil melangkah pergi.
“ Khot, jangan kemana mana dulu. Masih belum aman sekarang ini !” seru Fatimah.
“ Khotimah sih beda Fat, sekarang sudah punya body guard sendiri.” Gurauku.
“ Iiih mas Yasin mah gak bosen bosen godain Khotimah, nyebelin. Khotimah mau kekamar dulu aja ah.” Jawab Khotimah.
Kami yang ada diruang itu hanya tertawa melihat sikap konypl Khotimah. Tiba tiba Fanani yang baru dibicarakan datang mengabarkan bahwa pak Yadi akan datang bersama Rofiq kakaknya Isti sekalian.
“ Assalaamu ‘alaikum pak, maaf mengganggu tadi pak yadi telpun katanya pagi ini mau kesini membawa Rofiq sekalian untuk ikut bergabung disini.” Kata Fanani.
Aku yang masih senyum senyum ingat sikap Khotimah barusan, hamper saja keceplosan bilang, jangan panggil pak tapi mas saja. Untung masih bisa kutahan, sehingga kalimat itu tidak terucap.
“ Owh iya, jam berapa kira kira sampai sini ?” tanyaku masih sambil menahan tawaku.
“ Kira kira satu jam lagi sampai sini pak !” jawab Fanani.
Fanani pun meninggalkan kami dengan rasa penasaranya karena sikapku yang menjawab perkataanya sambil senyum senyum. Hmm paling juga nanti nanya sama Khotimah, pikirku. Jadi gak perlu aku jelaskan, biar rasa penasaranya akan terjawab nanti, bisiku dalam hati.
“ Owh iya mas, bagaimana dengan pesanan ibu untuk menyediakan jadah tempe buat mas Rofiq ?” Tanya Isti.
“ Gak usah gak papa nak, mengingat kondisi yang baru seperti ini.” Kata ibu Isti.
Namun bagiku keinginan ibu Isti harus dipenuhi, sangat tidak baik mengecewakan orang tua.
“ Begini saja, saat ini yang paling aman keluar adalah aku, biar aku yang cari Isti. Karena jika selain aku sangat mungkin akan dicelakai.” Jawabku.
“ Tapi bener ibuk mas, gak usah saja demi keamanan semuanya.” Kata Isti.
“ Gak Is, semua sudah aku perhitungkan dengan matang. Gak mungkin mereka melukai aku, karena tujuan mereka jelas bukan itu.” Jawabku.
Sambil berkata aku bangkit berdiri dan berjalan keluar rumah.
“ Tolong kalian jangan keluar rumah dulu semuanya, nanti kalo Sidiq bangun jangan diajak main diluar dulu Rum !” pintaku.
“ iya mas.” Jawab Arum pendek.
Aku segera melangkah keluar rumah, akan lebih leluasa jika aku jalan kaki. Toh pasar tidak terlalu jauh, bisa sekalian melihat situasi diluar dengan lebih leluasa.
“ Mas, ajak Fanani jangan sendirian !” seru Fatimah yang tiba tiba menyusul di belakangku.
“ iya, boleh.” Jawabku.
Kemudian aku ajak Fanani jalan kepasar sambil melihat kondisi di luar. Sementara kulihat Dicky yang semalam terluka sudah bisa beraktifitas normal.
“ Kamu gak papa **** ?” tanyaku.
“ Gak papa kok pak, hanya luka kecil kok.” Jawab Dicky.
“ Sukurlah, aku titip rumah mau jalan jalan sebentar sama Fanani, kamu dan Hanif jaga rumah dulu.” Kataku.
Hanif dan Dicky hanya mengangguk dan berkata, “ siap pak.” Secara serempak.
Aku dan Fanani segera jalan menuju pasar, tentu saja setelah Fanani mengambil Senpinya untuk berjaga jaga. Aah rencana hari ini mau puasa gagal gara gara semalam ada insiden, tapi gak papalah mudah mudahan besok tidak ada insiden lagi. Kebetulan hari ini juga harus menyambut Rofiq, gak enak juga kalo yang dirumah puasa semua.
Aku dan Fanani berjalan santai sengaja mengitari jalan dan lingkungan rumah sambil mencari kemungkinan tempat sniper yang semalam bersembunyi.
“ Kayaknya bener dari bangunan itu pak, mungkin juga bawa tambang dan peralatan manjat juga. Biar nanti saya periksa lagi, supaya lebih valid.” Ucap Fanani.
“ Iya Fan, Kemungkinan terbesar dari situ. Dari atas gedung itu bisa mengamati seluruh kegiatan yang ada dirumah. Dengan perhitungan jarak tempuh peluru, jika laras panjang masih melaju lurus tidak berbelok arahnya.” Kataku.
__ADS_1
“ Wah bapak punya pengetahuan tentang jarak tembak dan lurusnya laju peluru juga ?” Tanya Fanani.
“ Ya belajar lah Fan, semua kan bisa dipelajari asal kita mau.” Jawabku.
Aku gak mau berbicara panjang tentang itu, takut Fanani Tanya yang macam macam. Sama aja aku membongkar masa lalu yang gak perlu dia ketahui.
Saat melintasi sebuah rumah, secara naluri aku merasakan ada yang mengawasi kami berdua. Namun aku pura pura tidak menyadari, agar yang mengawasiku tidak curiga. Aku justru melihat arah lain dari orang itu, namun melihat dari bayangan kaca sebuah mobil yang terparkir.
“ Fan, ada yang mengawasi kita. Kamu lihat bayangan dari kaca mobil itu, orang berjaket dan berkaca mata itu.” Kataku.
Aku dan Fanani berhenti sejenak pura pura ngobrol sambil jari tanganku menunjuk kea rah mobil yang kumaksut. Agar orang itu tidak menyadari jika aku dan Fanani pun sedang mengawasinya.
“ Owh iya pak, dia memandang kearah kita dan membawa tas gitar pak.” Jawab Fani.
“ Iya, tapi aku curiga itu isinya bukan gitar. Tapi senjata laras panjang, kemudian dia sniper yang semalam Fan. Kamu ambil foto mobil itu, fokuskan kamera pada wajah orang itu. Biar dia kira kita sedang memfoto mobil itu, kemudian nanti kamu cari di daftar polisi orang itu.” Kataku.
“ Siap pak, saya sudah faham maksutnya.” Jawab Fanani.
Dari jarak dekat fanani mengambil foto, yang sebenarnya difoto adalah bayangan orang tersebut. Namun diambil dari pantulan kaca dimobil yang terpakir tersebut. Dan berhasil, wajah orang itu cukup terlihat jelas, bisa digunakan untuk mencari rekam jejaknya nanti.
Segera kami melanjutkan perjananan kepasar, dengan buru buru agar segera sampai dirumah. Setelah membeli kebutuhan dapur dan pesanan ibu Isti, aku dan Fanani segera melangkah pulang. Di tempat kami melihat orang mencurigakan tadi, ternyata orang tersebut sudah tidak ada disitu.
“ Ayo Fan kita cepat jalanya, jangan jangan orang tadi justru mau mengawasi orang yang dirumah.” Kataku pada Fanani.
Sampai dirumah aku segera menyuruh semua berkumpul di ruang mujahadah lagi. Sementara aku dan Fanani serta kedua temanya, mengitari rumah mencari lobang yang harus ditutup agar tidak bisa untuk mengintai sniper.
Aku dan fanani mengitari rumah, sementara Hanif dan Dicky menyelidiki bangunan yang aku curigai sebagai tempat sniper itu bersembunyi.
Setelah berhasil menutup semua lobang yang kemungkinan bisa dibuat mengintai, akhirnya kami masuk rumah menunggu kedatangan Hanif dan Dicky. Belum sempat kami duduk sempurna, tiba tiba terdengar suara baku tembak.
“ Fan, Dicky dan Hanif ayo kita bantuin. Ada senjata cadangan gak, aku pinjam.” Kataku.
“ Maaf pak tidak ada, dan peluru Logistik kami sangat terbatas. Satu peluru yang ditembakan harus ada laporanya.” Jawab fanani.
“ Owh begitu, yaudah cepat bantu Hanif dan Dicky sekarang.” Ucapku.
Segera kami mendekati lokasi baku tembak, setelah mengumpulkan semua anggota keluarga di tempat yang aman.
Kulihat, Dicky dan Hanif sambil berlindung mengamati bangunan yang aku maksut tadi. Jelas posisi menguntungkan musuh. Aku harus memanfatkan medan yang jelas aku lebih faham dari musuh. Aku ajak Fanani jalan memutar, sementara Dicky dan Hanif beradu keberuntungan dengan musuh. Saling melepas tembakan.
...********...
Hanif POV
“ **** kita tahan tembakan, kita pancing dia mengamati kita terus. Kulihat pak Yasin dan Fanani mengambil jalan memutar. Barang kali mau menyerang dari belakang dia.” Kata Hanif.
“ OK, tapi kita harus saling lindungi. Sesekali lepaskan tembakan, biar dia gak bisa focus mengintai sasaran tembak, ingat dia seorang sniper.” Jawab Dicky.
Kemudian suara baku tembak kembali terdengar.
“ Aku harus bisa membuat orang itu focus ke aku dan Dicky, sampai Fanani dan pak Yasin berhasil mendekatinya.” Bisiku dalam hati.
Tiba tiba sebuah peluru hamper saja bersarang dikakiku, untung terlindungi sebuah batu. Hanya serpihan batu yang melukai kulit kakiku.
“ Sialan, perih juga kakiku.” Aku mengumpat dalam hati.
Aku membidik kearah orang itu yang sedang mengintai dicky.
“ ****, dia mengarahkan senjatanya ke kamu, berlindung yang rapat !” teriakku sambil mengarahkan senjaku kearahnya.
Door…. Peluruku melesat dan berhasil mengenai tangan orang tersebut. Sehingga sebelum dia berhasil menarik pelatuknya yang mengarah ke Dicky, senjatanya terjatuh ketanah dari atas bangunan itu.
Aku berlari mendekati orang itu, tapi tanpa kuduga sebuah tembakan mengenai kakiku hingga aku jatuh tersungkur. Ternyata dia tidak sendirian, ada orang lain yang juga bawa senjata. Dan kini mengarahkan senjata kearahku, aku hanya bisa pasrah dengan nasib. Karena tak mampu lagi berlari menghindar. Dan tiba tiba terdengangar suara Door door…..
...Bersambung....
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1