
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Aku berusaha menangkapnya dan segera menghunus golok itu dari sarungnya.
“Maafkan saya ki, ini memang gak adil aku bersenjata sedangkan aki tidak. Tapi karena aki sudah melukai aku saat aku lengah jadi ini harus aku lakukan.” Kataku.
“Gak usah bayak bicara cucu Sidiq Ali, kalo kamu masih memiliki kemampuan kerahkan semua kemampuanmu. Jafar Sanjaya tidak akan mundur sesentipun untuk menghindri seranganmu.” Ucap orang itu.
Mendengar dia menyebut namanya, aku jadi gemetar seakan mendegar suara ratusan halilintar yang bersamaan
“Apakah maksut aki, Aki adalah kakekku ayah dari ibu kandungku Ningsih, apakah kakek adalah kakek Jafar Sanjaya ?” kataku gemetaran.
“Menurutmu aku ini siapa, aku memang ayah dari Ningsih ibumu tapi aku belum mau mengakui kamu sebagai cucuku jika kamu tidak bisa menyatukan kami bertiga.” Ucap kakek Jafar.
“Maksutnya menyatukan apa kakek, ampuni cucumu yang sudah berani suul adab ( kurang ajar ) kepada kakek.” Kataku bersimpuh dihadapa kakekku Jafar Sanjaya.
“Aku dan kakekmu Sidiq Ali pernah bermusuhan karena memperebutkan cinta Siti Aminah. Namun semua tidak mampu mendapatkanya, Siti Aminah tidak dapat memilih salah satu dari kami. Sehingga lebih memilih mengorbankan perasaanya menikah dengan orang lain. Dikemudian hari anaknya datang pada kami tapi anakku dan anak Kang Sidiq Sudah menikah semua. Sementara anak kedua ku perempuan anak kedua Kang Sidiq laki laki tapi masih kecil Jadi anak perempuanya kami suruh pulang. Dan aku dengan kang sidiq Ali besanan. Melahirkan kamu dan kakak kaka kamu, kakak kamu perempuan semua dan cucu Siti Aminah juga perempuan semua.
Maka harapan kami hanya kamu yang bisa berjodoh dengan keturunan Siti Aminah. Tapi kamu mengecewakan kami karena telah melahirkan anak dari perempuan lain. Sehingga kami sangat kecewa. Untung saja akhirnya kamu bisa menikahi keturunan Siti Aminah.” Penjelasan kakekku Jafar Sanjaya.
“Tapi saat ini saya kan sudah menjadi suami dari cucu Yuyut Siti Aminah kakek. Jadi mempersatukan kakek berdua dengan Yuyut yang bagaimana lagi ?” tanyaku pada Kakek jafar Sanjaya.
“Mempersatukan keilmuawan kami bertiga, itulah yang dari dulu kami harapkan. Kang Sidiq itu ahli strategi, Aku ahli kanuragan dan Siti Aminah Ahli diplomasi. Untuk menghaapi tantangan Zaman dibutuhkan semua itu.” kata kakek Jafar.
“Jadi kakek Jafar dengan kakek Sidiq Ali itu tidak beneran bermusuhan ?” tanyaku.
“Ada permusuhan tapi bukan permusuhan yang menyebabkan harus adu fisik tapi permusuhan mana dulu yang harus menyatukan dua ilmu yang berbeda. Apakah aku dengan Siti Aminah dulu atau Kang Sidiq Ali dengan Siti Aminah dulu. Baru kemudian keturunanya disatukan lagi dengan salah satu dari kami.” Jawab kakek Jafar.
“Owh begitu, tapi kenapa Yuyut malah memilih orang lain kek ?” tanyaku agak iseng juga, batinku.
“Karena secara manusiawi aku dan Kang Sidiq juga mencintai Siti Aminah yang cantik. Dan dia juga menyukai kami berdua sehingga dia bingung memilih salah satu diantara kami. Sedangkan aku dan kang Sidiq Ali memaksa dia untk memilih salah satu diantara kami. Tapi Siti Aminah bilang gini, aku gak mungkin memilih salah satu dari kalian jika memang Allah menghendaki ilmu kita di persatukan suatu saat aka nada jalan tapi bukan sekarang.” Kata kakekku menceritakan masa lalunya.
“Jadi jaman dulu juga sudah ada kisah cinta yang seru ya kek, kayak kisah cinta kakek Jafar, kakek Sidiq Ali dan Yuyut.” Kataku berani bercanda setelah tahu dia kakekku sendiri.
“Tapi beda kisahnya dengan kisahmu yang sempat salah jalan hingga melahirkan anak diluar nikah, dasar bocah gendeng…!” balas kakek Jafar. Membuatku tersipu malu.
“Terus masalah mempersatukan tadi bagaimana Kek ?” tanyaku lagi.
“Berikan nama kami bertiga pada nama anak kamu yang masih dalam Kandungan istrimu ?” perintah kakekku. Aku jadi kaget karena baru ingat jika diberi dua nama untuk anakku oleh Abah guruku dan dua duanya adalah nama laki laki. Yaitu Sidiq dan atau Jafar. Rupanya itu adalah nama kakek kakeku yang oleh Abah guru diberikan untuk calon anakku.
“Tapi kek, Saya sudah diberi pilihan nama oleh Abah guru saya disuruh memilih nama Jafar atau Sidiq.” Kataku.
“Iya kakek juga tahu, kan tinggal kamu tambahin, berikan anakmu nama Jafar Sidiq Amin, panggilanya Jafar, karena Sidiq sudah menjadi Nama anak pertamamu dari perempuan lain. Sedangkan Amin atau Aminah nanti buat nama anak ketigamu yang Insya Allah akan lahir perempuan.” Kata kakek Jafar.
“Kek saya pingin ketemu kakek Sidiq Ali, bisakah kakek mempertemukan kami ?” tanyaku.
“Ziarahlah ke makamnya bacakan amalan yang dulu dia sukai biar dia datang menemuimu.” Ucap kakek jafar.
__ADS_1
“Amalanya apa kek, yang disukai Kakek Sidiq Ali ?” tanyaku lanjut.
“Kamu cari sendiri kalo itu, jangan hanya mau enaknya saja.” Jawab kakek jafar.
“Iya kek, tapi kenapa tadi kakek tega mukulin cucu sendiri sampai saya terluka dalam parah bahkan sampai muntah darah hampir mati ?” tanyaku.
“Dasar bocah gendeng kamu, apa kamu gak merasakan sekarang efek setelah kamu muntah darah. Apa kamu gak merasa lebih lega lebih segar setelah muntah darah akibat pukulanku tadi. Itu tadi aku mengeluarkan semua racun yang masih tersisa di tunuh kamu. Bocah ora paham paham ( anak gak paham paham ) !” bentak kakekku yang galak ini. gak kebayang kalo dia dulu nikah sama Yuyut yang juga galak, jadi kaya apa anaknya nanti.
“masak sih kek ?” tanyaku gak percaya.
“Coba kamu ulang gerakan jurus jurus kamu sekarang, bandingkan dengan sebelum aku pukul tadi.” Perintah kakek Jafar. Dan aku mengikuti perintahnya kemudian bangkit dan melakukan gerakan gerakan jurus yang pernah diajarkann Kans Salim di pondok dulu.
Aneh gerakanku jauh lebih ringan dan seakan tidak ada beban ketika melakukan pukulan pukulan berat bahkan lebih terasa ringan dan lebih terukur.
“Bagaimana ?” Tanya kakekku.
“Iya kek, gerakanku terasa lebih ringan dan lebih bertenaga seperti mendapat kekuatan baru sekarang.” Jawabku.
“Makanya jadi orang jangan cepet suudhon, mana mungkin kakek mau membunuh cucu sendiri.” Kata kekek.
“Tapi kenapa gak bilang dari awall kalo kakek ini adalah kakekku ?” jawabku.
“Karena aku butuh kamu saat mengeluarkan seluruh tenagamu untuk mengeluarkan racun itu, makanya aku pancing kemarahan kamu.” Jawab kakekku.
Dasar kakkeku ini suka iseng juga, jangan salahkan cucumu kalo jadi orang yang suka iseng juga, batinku.Â
Tiba tiba aku punya pikiran liar, mau menjajal ilmu kanuragan kakeku ini sampai sejauh mana.
“Kek…?” sapaku.
“Apa ?” jawab kakeku.
“Dasar bocah gendeng, kamu itu ibaratnya masih anak ingusan mau lawan kakek mana bisa tanding.” Katanya.
Kemudian aku melompat menyerang kakekku.
“Maaf kek cucu minta di ajarin ilmu kakek ya.” Seruku sambil melompat menyerang kakeku.
Tapi kulihat kakeku tidak bereaksi, apakah dia terlalu meremehkan cucunya ini atau memang tak sempat menghindra pikirku.
Saat tinggal setengah jengkal tinjuku hampir mengenai dada kakekku, tiba tiba saja tangan kakekku sudah berhasil menangkap pergelangan tangke dan mengyunkan kesamping hingga tubuhku ikut berputar menyamping.
“Bocah gendeng, during ilang pupuk lempuyang e wis wani kurang ajar karo mbahne.” ( Bocah gendeng, belum hilang pupuk lempuyang ( ramuan jamu padat yang di tempelkan pada jidat bayi ) sudah berani kurang ajar dengan kakeknya. Kata kakek Jafar. Sambil memutar mutar tubuhku seperti main gasing saja.
“Ampun kek ampuuun cucu nyerah Cuma iseng saja kok ke….Ampuun cucu pusing kek.” Kataku meratap.
Kemudian kakek menghentikan tubuhku yang berputar seperti gasing. Karena cukup lama aku diputar begitu pandanganku jadi ikut berputar meski badan sudah tidak berputar. Jadi mirip orang mabuk berat jalan sempoyongan tidak terarah dan akhirnya jatuh tersungkur ke tanah.
“Ha ha ha… dasar putu kakean polah, tangi dewe aku wegah nulungi.” ( dasar cucu banyak tingkah bangun sendiri aku gak mau menolong. Kata kakek Jafar sambil berjalan meninggalkan aku.
“Kek…. Kakek jangan tinggalkan aku di hutan ini kek….!” Panggilku pada kakek Jafar. Namun beliau tetap berjalan dan semakin cepat dan semakin jauh. Apakah kakek marah beneran sama aku pikirku, kemudian aku memanggil sekuat tanagaku biar kakek dengar karena jarak yang sudah semakin jauh.
“Kakek tungguin… cucu mau ikut kakek…!” teriakku…
Aku bangkit berdiri hendak mengejar kakek jafar, namun ternyata aku berada dipinggir pantai bukan ditengah hutan. Aah rupanya aku hanya bermimpi saj, bukan beneran. Aku baru sadar jika kakekku itu sudah tiada, aku jadi sedih karena hanya bisa bertemu lewat mimpi. Di alam nyata aku belum pernah sekalipun bertemu denagn beliau. Karena beliau sudah wafat saat aku belum lahir, bahkan saat ibuku Ningsih belum bersuamikan Ayahku.
“Mas… mas mimpi apa kok manggil manggil kakek ?” Tanya Fatimah membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
“Biarkan suamimu sadar sepenuhnya dulu, dia baru saja mengalami mimpi yang membuat dia murung.” Kata ibu mertuaku.
“Maaf bu, saya habis mimpi bertemu kakek Jafar. Kakek dri ibu saya yang meninggal karena dibunuh.” Jawabku pelan.
“Katanya mas belum pernah ketemu beliau kok bisa mimpi ketemu, dari mana mas bisa tahu itu beliau mas ?” Tanya Fatimah istriku.
Kemudian aku menceritakan detail mimpiku dari ketika berada dihutan bau darah sampai bertarung dan di hajar seseorang yang kemudian mengaku sebagai kakekku dan akhirnya beliau pergi meninggalkan aku saat terjatuh setelah hendak mencoba ilmu kanuragan kakek Jafar.
“ Dasar bocah geblek, dengan kemampuan kamu yang hanya secuil mau mencoba ilmu kanuragan kakekmu Jafar Sanjaya ? Ibarat mentimun mau melawan durian, he he he he…!” tawa Yuyut mengejekku.
“Gak kok Yut, mana berani saya melawan kakek sendiri. Kan hanya pingin tahu jurus jurusnya Yut ?” kilahku pada yuyut.
“Sudahlah, kamu gak usah pingin tahu jurus kakekmu Jafar. Kamu bilang tadi kamu dibikin muntah darah katanya kakekmu mengeluarkan racun yang ada ditubuhmu ?” Tanya Yuyut.
“Iya yut, dan dalam mimpi itu kemudian aku menjadi lebih segar dan lebih ringan dalam Bergerak melakukan jurus jurus Yut.” Jawabku.
“Sekarang coba kamu berdiri disana dan lakukan gerekan seperti apa kamu melihat gerakan dan jurus kakekmu. Karena Yuyut hafal jurus jurus kakekmu.” Ucap Yuyut.
“Jangan Yut, kasihan mas Yasin kan baru saja dia siuman belum pulih betul tenaganya.” Kata Fatimah.
“Kamu diam dulu gak usah ikut campur urusan ini Fatimah.” Bentak yuyut pada Fatimah.
“iya Yut…!” jawab Fatimah sambil tertunduk.
Aku berusaha bangkit dan berdiri, tapi aku merasa aneh karena baru tadi pagi aku mengalami rasa lelah yang aat sangat tapi badanku sekarang teras segar dan ringan. Aku mengingat gerakan kakek Jafar saat menyerangke dengan golok terhunus dan saat memukul bagian belakang tubuhku hingga aku muntah darah.
Aku mencoba menirukan gerakan tersebut seingatku, seakan tidak mengalami apa apa aku melakukan gerakan tersebut tanpa kesulitan bahkan terasa ringan seperti kejadian di dalam mimpi saat disuruh kakek memperagakan jurus, setelah muntah darah.
Aneh sekali rasanya badanku lebih segar dari biasanya, bahkan seperti tidak pernah mengalami berjuang hidup di tengah laut hingga kelelahan hampir putus asa. Dan merasakan langkah kaki yang berat seperti di bebani puluhan kilogram saat mencoba mengankat kaki untuk melangkah. Ini gak wajar, mimpi tadi gak wajar, pikirku.
“Cukup…!” teriak Yuyut.
“Kenapa yut ?” tanyaku.
“Itu memang jurus jurus Kakekmu Jafar Sanjaya…!” ucap Yuyut.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
Â