Isyaroh

Isyaroh
Memenjarakan Jin Pemimpin Khodam Jahat


__ADS_3

Setelah Sena berangkat mencari pak Yadi, Tohari dan Yasin menyingkirkan mayat Joyo Maruto ke tempat lain. Dan mereka pun beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang, sekaligus memulihkan tenaga bagi Yasin yang masih harus melawan Jin Anyi anyi nanti malam. Dan sampai saat itu pun Gong Simo Ludro pun belum di tayangannya. Namun Yasin Yakin jika aka nada jalan untuk mengalahkan Jin itu dengan atau tanpa Gong Simo ludro itu….!!!


Tohari dan Yasin yang kelelahan tertidur dengan lelapnya, sehingga tidak menyadari saat  Sena datang bersama rombongan Polis dan juga di damping oleh Zulfan dan Farhan. Kedua saudara Yasin itu sangat mencemaskan Yasin karena tahu tugas Yasin yang yang cukup berat.


Pak Yadi kemudian membangunkan Yasin dan Tohari, sehingga kedua kaget tahu tahu pak Yadi sudah di hadapan mereka.


“Maaf pak, terpaksa saya bangunkan untuk minta keterangan terkait buron kami Joyo Maruto.” Ucap pak Yadi.


“Owh iya pak gak papa, memang sudah waktunya kami untuk bangun.” Jawab Yasin.


Kemudian pak Yadi menanyakan kronologis dari penyelamatan dua gadis dusun yang tak berdosa sampai dengan tertangkapnya Joyo Maruto dalam keadaan sudah meninggal.kemudian Yasin dan Tohari pun menceritakan secara detail kronologis menyelamatkan dua gadis kecil kemarin sampai dengan proses penangkapan Joyo Maruto, dan tewasnya Maheso Suro serta Mento Rogo.


“Jadi dari kemarin itu pak Yasin dan pak Tohari belum pulang sama sekali ?” Tanya Pak Yadi.


“Belum pak, boro boro pulang, mandi saja masih jarang jarang nih.” Jawab Yasin dengan bahasa kesehariannya yang selengekan.


“Ha ha ha… begitu ya pak, maaf nih saat ini apa yang di butuhkan pak Yasin dan pak Tohari, barang kali saya bisa membantu mengusahakan.” Tanya pak Yadi.


Yasin yang memang sudah cukup akrab dengan pak yadi tidak sungkan sungkan mengatakan kebutuhannya.


“Kurang kopi sama rokok pak ini, dari semalam sudah kehabisan rokok.” Jawab Yasin enteng.


“Iya iya pak biar nanti di carikan anak buah saya.” Jawab pak Yadi. Yang langsung mengutus salah satu anak buahnya untuk mencari Rokok dan kopi buat semua yang ada di situ.


“Wah makasih pak Yadi, maaf mulut sudah asem gak ngopi gak ngerokok nih.” Gurau Yasin.


“Saya yang makasih pak, sudah dibantu menangkap penjahat yang paling berbahaya ini.” jawab Pak Yadi.


Dan siang itu mereka berkoordinasi untuk segera dapat memproses Hukum orang orang yang kemarin di tangkap. Disesuaikan dengan sejauh mana keterlibatan mereka dalam kasus yang memakan korban tumbal manusia tersebut.


Anggada dan Damar adalah saksi hidup yang pernah mengikuti proses persembahan tumbal manusia tersebut. Dan kemungkinan adanya orang lain yang terlibat namun saat ini lepas dari pengamatan. Dan orang orang yang lepas dari pengamatan inilah yang nantinya akan membocorkan rahasia kepada anak dan kerabat dari Joyo Maruto serta Maheso Suro dan Mento Rogo. Sehingga nantinya mereka akan berusaha balas Dendam juga dengan Yasin dan anak anak Yasin, Sidiq juga Jafar.


Rombongan pak Yadi yang sudah selesai mengidentifikasi Korban Akhirnya mohon diri untuk membawa mayat Joyo Maruto. Tinggalah di situ hanya Yasin dan saudara saudaranya Saja.


“Kalian kenapa menyusul kemari ?” Tanya Yasin kepada Farhan dan Zulfan.


“Ya pingin lihat keadaan mas Ahmad saja, masa kakaknya berjuang sendirian gak di tengokin.” Jawab Zulfan


“Gak sendirian Fan, kan ada kang Tohari, owh iya bagaimana Jafar dan Sidiq sekarang ?” Tanya Yasin.


“Mereka sehat sehat semua kok mas, Cuma ibunya jafar yang agak gelisah tiap hari mikirin mas.” Goda  Zulfan.


“Aah kamu bisa aja godain kakakmu Fan, baru juga beberapa malam. Yang dulu aja biasa ku tinggal beberapa minggu kok.” Jawab Yasin


Suasana senda gurau keluarga Bani Mustolih ( Keturunan Mustolih ) itupun terdengar meriah. Namun mereka pun harus berpisah lagi, karena masing masing harus menjalankan peran yang di tugaskan. Sena mengantarkan Zulfan dan Farhan pulang terlebih dahulu. Sementara Tohari tetap menemani Yasin, sedangkan Sena nanti juga akan kembali kesitu menemani Yasin dan Tohari juga.


Sena segera mengantarkan Zulfan dan Farhan pulang ke rumah Yasin.


*****


Sampai di rumah Yasin


Author POV


“Udah beres semuanya ?” Tanya kang Salim kepada Sena.


“Udah kang, mas Yasin baik baik saja kok. Kang Tohari juga selalu berada disamping mas Yasin terus.” Jawab Sena kepada Kang Salim.


“Sukurlah kalo begitu.” Jawab kang Salim.


“Maaf kang, kenapa sih mas YAsin sama kang Tohari belum boleh pulang sebelum selesai tugasnya, kan kasihan mereka di tengah hutan terus..!” Tanya Sena pada Kang Salim.


“Karena Yasin dan Tohari itu sedang bertempur dan menimbulkan korban juga kan. Jadi jangan sampai dia membawa aura negative ke rumah karena ada dua bayi disini. Yaitu anak kamu dan anak Yasin.” Jawab kang Salim.


“owh begitu…!?!” kata Sena.


“Sekarang kita kumpul di ruang mujahadah semua ada yang aku ingin bicarakan kepada kalian semua.” Perintah kang Salim kepada Sena.


Kemudian sena mengajak Nurul untuk member tahukan kepada yang lain. Agar berkumpul di ruang Mujahadah. Dan akhirnya semua berkumpul di ruang mujahadah.


Kang Salim : “Nanti kalian seperti biasa mujahadah dan baca Hizib, aku sendiri mungkin akan menyusul Yasin jika dirasa perlu.”


Sena                      : Kenapa tidak sekalian bareng saya saja kang ?”


Kang Salim          : “Gak,,, ada tugas lain yang harus aku selesaikan.”


Fatimah                : “Iya kang, mudah mudahan mala mini semua bisa tuntas. Kasihan bapak ibu dan Yuyut juga, harusnya sudah pulang masih bertahan disini.”


Isti                          : “Bilang saja udah kangen suami Fat !”


Fatimah                : “Yee bukan itu Is, kasihan saja tidur di tengah hutan tiap malam.”


Eis                           : “sabar Fat, suamimu cukup kuat menghadapi itu.”


Khotimah            : “Iya mbak Fatim, tenang saja kan ada kang Tohari juga disana !”


Candra                  : “Aku jadi bingung mau panggil mbak atau dik sama Fatimah nih ?”


Fatimah                : “Ya kalo mas Candra panggil nama saja gak papa kali, kalo Khotimah kan beda.”


Kang Salim          : “Sudah sudah, bukan waktunya saat ini membicarakan itu, nanti Zulfan dan Farhan kalo aku berangkat awal kamu perbanyak baca Hizib. salah satu pimpin mujahadah Zulfan boleh, farhan boleh Samsudin juga boleh. Yang lain tetap sepertii biasa, dan lebih dikuatkan untuk membaca Hizip Nashor nya.”


Samsudin            : “Insya Allah kang…!”


Begitulah pesan kang Salim kepada saudara saudara Yasin yang mendoakan dari rumah, sedangkan kang Salim sendiri merasa perlu membantu Yasin dari dekat dalam masalah yang ini. mengingat yang akan menjadi lawan Yasin adalah sebangsa Jin yang kekuatannya seratus kali lipat dari kekuatan Sosro Sukmo dahulu. Sehingga sebagai senior Yasin kang Salim pun merasa sedikit was was jika membiarkan Yasin sendirian hanya di temani Tohari yang lebih focus ke olah kanuragan saja.


Sementara untuk ilmu hikmah yang berhubungan dengan hal hal gaib Tohari kurang begitu faham. Sehingga kang Salim meras perlu membantu secara langsung Yasin dalam menghadapi Jin itu.


Singkat cerita Sena kembali berangkat ke tempat Yasin dan Tohari. Sementara di rumah Yasin kang Salim memerintahkan semua yang di rumah mengkhatamkan Al-Quran secara bergantian bacanya.


*****


Sesampai Sena di tempat Yasin dan Tohari.


“assalaamu ‘alaikum….!” Sapa Sena yang melihat Tohari dan Yasin masih mengobrol sambil ngopi. Rupanya tadi pak Yadi sekalian memberikan termos dan perebus air berbahan bakar paraffin, yang biasa digunakan para pendaki gunung, karena titik didih di puncak gunung yang hanya sekitar delapan puluh derajat celcius sehingga dengan kompor paraffin pun bisa mendidihkan air.


Berbeda dengan di pantai yang titik didihnya hampir mencapai seratus derajat Celsius. Harus dengan api yang besar baru bisa mendidihkan air.

__ADS_1


“Wa’alaikummussalaam,,, mau ikut ngopi gak Sena ?” Tanya Yasin.


“Boleh nih, menghilangkan dingin.” Jawab Sena.


“Kamu tuang dulu air di termos itu ke panic secukupnya baru di panasin buat nyeduh kopi.” Jawab Yasin.


“Lah memang ini air mentah ?” Tanya Sena.


“Air mateng juga, tapi disini barusan mendidih juga langsung di seruput juga berani.” Kata Yasin.


Mereka pun melanjutkan obrolan, dan Sena mengatakan jika kang Salim mungkin akan ikut menyusul kemari nanti jika dirasa Perlu. Hal itu sudah membuat Yasin mantab dan tidak ada lagi kekhawatiran yang tadi sempat menghinggapi dirinya.


Yasin yang sudah dididik lama oleh Abah Gurunya juga kang Salim. Sangat mengetahui sampai sejauh mana kemampuan kang salim. Baik dalam olah kanuragan maupun dalam menghadapi makhluk Astral. Karena secara jujur Yasin mengakui jika dia lebih pantas menjadi murid Kang Salim. Namun kang Slim sendiri gak mau menganggap Yasin murid. Melainkan menganggap Yasin adalah adik seperguruannya.


Singkat cerita malam pun telah tiba, setelah melaksanakan sholat Isya Tohari, Yasin dan Sena segera mencari batu Altar persembahan Korban.


Mereka akhirnya menemukan tempat itu yang ternyata di balik gerumbulan rumput perdu dan ilalang yang cukup tinggi..


“Besar sekali batu Altar ini kang, bagaimana kita menghancurkannya ?” Tanya Yasin kepada Tohari.


“Satukan Kekuatan kita, dan pusatkan seluruh energi kita ke telapak tangan. Kemudian kita hancurkan batu ini bertiga secara bersamaan.” Jawab Tohari kepada Yasin.


“Apakah ini rumah Jin itu sehingga harus di Hancurkan kang ?” Tanya Sena kepada Tohari.


“Bukan, tapi jika batu ini kita hancurkan maka dia kan marah dan keluar karena tempat yang biasa dipakai tempat orang memuja dirinya kita hancurkan. Ayu kita mulai sekarang juga, persiapkan lahir batin kalian sekarang juga.” Ucp Tohari.


Kemudian Ketiganya segera mengerahkan segenap kepercayaan diri kepasrahan dan memohon kepada Sang Pencipta Alam untuk menghilangkan sarana pemujaan yang sesat itu.


Dan sesaat kemudian Tohari meneriakkan untuk bersama sama memukul batu besar itu dengan telapak tangan mereka bertiga, dari tiga sisi yang berbeda secara bersamaan.


Dan batu itu tidak hancur….!


melainkan hanya timbul retakan kecil yang menjalar dari titik dimana telapak tangan mereka tadi menyentuh batu itu.


Dan tiba tiba dari retakan batu itu mengeluarkan asap tipis yang baunya sangat menyengat.


“Awas menjauh ini asap beracun…!” teriak Tohari.


Sena dan Yasin pun segera melompat menjauh dari batu itu, tapi sebagian kecil sudah terhirup oleh mereka.


Kemudian setelah itu asap itu mengumpul menjadi satu dan berubah wujud menjadi dalang Anyi anyi…!


“Ayyyyiiii….ayyyyyiiii…..ayyyyiiiii kalian anak manusia sudah bosan hidup rupanya,menghancurkan sanggar pamujan tempat orang yang ingin bergabung menjadi pengikut aku, ayyyyiiii….. ayyyyiiiii….. ayyyyiiii…..!” ucap Jin jahat itu.


Yasin Sena dan Tohari serasa mual perutnya dan mau muntah saja rasanya. Dan sesaat kemudian Jin itu mengibaskan tangannya sehingga baik Sena Yasin maupun Tohari menjadi terpental jauh.


Kemudian Jin Raja Khodam itupun melayang ringan menghampiri Yasin.


“Ayyyyiiii…. Ayyyyiiii…. Ayyyyiiii….. kamu yang sudah pernah merasakan Gundolo Sosro milik ku masih berani campur tangan urusanku juga, rupanya memang sudah bosan Hidup. Ayyyyiiii…. Ayyyyiiii…. Ayyyyiiii….!’ Ucap Raja khodam Jin itu pun komat kamit membaca mantera dan dari kedua telapak tanganya muncul kilatan kilatan api seperti korsluitin arus listrik semakin lama semakin besar.


Yasin ingat saat dia mimpi bertemu makhluk itu dan dihantam dengan ajian itu. meski hanya dalam mimpi namun efeknya sampai terbawa saat dia bangun. Bagaimana jika ini dalam alam nyata seperti ini, kata yasin dalam hati.


Kemudian yasin ingat yang bisa menandingi adalah Cemeti Kyai Pamuk, maka dengan cepat Yasin mengeluarkan Kyai Pamuk dan melecutkan cambuk itu tepat disaat Jin itu melontarkan pukulan Gundolo Sosro nya.


Dan tak ter elakan lagi dua benturan kuat pun terjadi, Yasin terpental hampir saja cemeti nya lepas dari tangannya. Masih untung bisa ditahan meski di bantu tangan satunya untuk mempertahankan agar cemeti itu tidak Jatuh. Yasin mengalami guncangan hebat sampai seluruh tubuhnya terasa seperti kesemutan, seakan habis terkena sengatan listrik ribuan atau mungkin jutaan Voltase.


Sementara Jin itu seakan bergetar hebat karena pengaruh benturan itu, namun karena dia makhluk Astral mungkin tidak tampak pengaruhnya. Karena tidak mempunyai jasad seperti manusia.


“Ayyyyiiii…. Ayyyyyiiii…. Ayyyyiii…. Jangan bangga dulu anak manusia, pasukanku belum aku kerahkan, Ayyyyiiii…. ayyyyiiii…. ayyyyiiii….!” Ucap Jin penguasa Khodam kesesatan itu.


Yasin berusaha mengumpulkan kembali tenaganya dan menghilangkan rasa kesemutan yang dia rasakan. Namun agak susah karena aliran darah yasin pun menjadi tidak teratur. Sementara Raja Jin itu sudah mempersiapkan diri untuk memanggil pasukan pengawalnya. Tujuh Naga dan Tujuh harimau yang menjadi pasukan andalan Raja Jin itu.


Tohari dan Sena pun tak dapat banyak berbuat karena dua duanya masih merasakan mual akibat menghirup Asap beracun itu tadi. Yang merupakan racun pelemah sukma yang dicampur dengan bubuk sirep.


Sedangkan Yasin masih bisa bertahan lantaran dulu pernah terkena racun Jerat sukma dan bubuk bibit sirep tatkala memasuki hutan kekuasaan Sosro Sukmo. Sehingga racun yang berupa asap tadi tidak berpengaruh banyak.


Tapi bahaya lain pun sedang mengancam, karena saat ini pasukan pengawal Raja Jin itu perlahan mendekati Yasin. Sementara Yasin Sendiri belum sepenuhnya mampu memulihkan tenaganya yang baru saja berbenturan dengan ilmu Gundolo Sosro ( Gundolo \= Petir Sosro , dan Sosro \= Seribu ). Jadi seperti tersengat seribu petir.


Sementara Raja Jin itu melayang di udara dengan posisi terbalik kepalanya di bawah sedangkan kakinya bersila berada di atas. Rupanya Raja Jin itupun sedang menghisap kembali energinya yang hilang karena benturan dengan cemeti kyai pamuk tersebut.


 Disaat kritis itu tiba tiba terdengar sebuah tembang jawa.


...Bapak Pocung…...


...Siro Ojo kumalungkung...


...Eling Madyo podo...


...Kabeh di atur mring Gusti....


...[ Bapak pocung \= tembang Pocung dari macapat...


...Kamu jangan sombong/ tinggi hati...


...Ingatlah ini di bumi ( Mdyo podo \= moyopodo )...


...Semua diatur Gusti ( Allah Swt ) ]...


Mendengar tembang itu entah kenapa pasukan pengawal Raja jin yang berupa Tujuh Naga dan Tujuh Harimau itupun Nampak ketakutan dan lari terbirit birit.


Dan tembang itu pun terus saja dikumandangkan, meski tak Nampak siapa yang mengumandangkan. Namun tiba tiba muncul sosok kakek berjubah putih yang memegang pundak Yasin dan berkata.


“Ngger eyangmu ora nglirwakke, iki Gong minongko piranti ngalahake Jin iku. Ananging ojo kemrungsung gunaake. Luwih disik cemeti iku mbok tamaake kaping telu, banjur lagi gong iki kang pungkasan mbok gunaake.” Ucap kakek berjubah putih itu yang tak lain adalah Kakek Mustolih. Yang semasa hidupnya dulu menghabiskan waktunya untuk berdakwah kemana mana.


[Ngger kakek mu tidak melupakan, ini Gong sebagai wasilah untuk mengalahkan Raja Jin itu. tapi jangan buru buru digunakan. Lebih dahulu gunakan Cemeti itu tiga kali, kemudian baru Gong ini yang terakhir kamu gunakan.]


 


Yasin merasa jauh lebih segar setelah pundaknya disentuh oleh kakek Mustolih. Kemudian kakek mustolih itu berpindah mengobati Sena dan Tohari.


“Ngger kekarone, ojo cilik atimu sedelo maneh kabeh bakal kewiak sopo gawe nganggo sopo nandur ngunduh.” Kata kakek Mustolih sambil menepuk pundak Sena dan Tohari. Kemudian keduanya muntah dan mengeluarkan Racun yang tadi terhirup oleh mereka.


[Ngger berdua, jangan berkecil hati sebentar lagi bakal terbuka siapa yang membuat dia yang memakai siapa menanam dia yang menuai.]


Setelah itu lenyaplah sosok kakek Mustolih dari pandangan mata mereka.


Sementara Yasin masih menunggu Raja Jin itu yang masih diam memulihkan tenaga nya yang banyak keluar saat benturan tadi. Raja Jin itu bahkan tidak tahu jika Pasukan Pengawalnya sudah lari terbirit birit mendengar tembang jawa yang dilakukan oleh kakek Mustolih tadi.

__ADS_1


Entah takut dengan tembangnya atau takut dengan yang menyuarakan, saat ini masih belum di ketahui.


Apakah jika aku menyerangnya sekarang itu melanggar aturan atau tidak ? tapi dia kan jin yang banyak menyesatkan orang, jadi gak papa lah biar aku serang sekarang saja, batin Yasin.


Ternyata justru jin itu lebih dulu bergerak menyerang Yasin dengan Gondolo Sosro nya. Kemudian kembali Yasin menangkis dengan Cemetinya. Dan kembali benturan keras terjadi, namu kali ini Yasin tak lagi sampai terpental, meskipun masih meraskan sedikit kesemutan, namun dengan cepat dapat kembali mengatur aliran darahnya yang sebelumnya mengalir dengan sangat cepat.


“Yasin jangan terlena oleh diamnya Jin itu, dia sedang menunggu kamu dan siap menyerang kamu…!” suara Kang Salim yang tiba tiba muncul.


Jin itupun secepat kilat menyerang Yasin sehingga Yasin tak sempat menghindar ataupun menangkis. Hanya bisa membiarkan tubuhnya terdorong oleh sebuah tenaga yang tiba tiba di keluarkan oleh Jin itu.


Untunglah kang Salim cepat menangkap tubuh Yasin yang hampir saja membentur batu gunung yang mencuat di antara tebing tebing yang ada di sekitar itu.


“HAdapi dia sekarang jangan sampai lengah lagi, diamnya makhluk itu hanyalah mengelabuhi kamu dan akan memukulmu saat kamu lengah. Gunakan cemetimu sekali Lagi sebelum kau tabuhkan Bende atau Gong itu.” perintah kang Salim kepada Yasin.


Namun belum sempat kang Salim berhenti jin itu sudah kembali menyerang Yasin dan tubiuh Yasin pun seperti terikat oleh tali Gaib yang melilitnya, hingga tak mampu menggerakkan kedua tangannya sama sekali. Yasin hanya berusaha memegang erat cemeti nya agar tidak sampai terjatuh.


Kemudian kang Salim menyuruh Sena dan Tohari membacakan surat Al-Fatihah untuk membantu Yasin membuka tali gaib yang melilitnya.


“Mana ini yang baca Hizib, apa pada ketiduran kok belum sampai kesini ?” ucap kang Salim pelan seperti pada diri sendiri.


“Waah aku harus meminta tolong Yuyut untuk mengingatkan yang di rumah agar jangan putus berdoa.” Ucap Kang Salim.


Kemudian kang salim melakukan gerakan khusus dan berbisik pelan seperti sedang bicara pada seseorang.


*****


 


Sementara di rumah Yasin.


Sepeninggal kang Salim terjadi sedikit kekacauan yang menyebabkan orang orang ketakutan. Karena persis di samping rumah Yasin terdengar derap langkah Harimau beserta aumanya yang menakutkan dan juga desisan Naga yang tampak panik, mereka menuju ke arah pantai selatan.


“Sudah itu hanya godaan, sekarang kembali berdoa kalo kalian masih ingin saudara kalian Yasin pulang dengan Selamat.” Ucap Yuyut.


Mereka baru sadar jika mereka sedang melakukan doa bersama untuk membantu Yasin secara batin.


Maka kembalillah mereka membaca Hizip mulai dari awal lagi, karena yang tadi batal karena pweristiwa itu.


Kembalilah mereka memulai bacan Hizip dan sebagainya dari awal. Dan jika dilihat dengan mata batin orang ‘Waskito’ saat mereka mulai membaca doa doa teresebut seperti mengeluarkan aura positif menuju ke tempat Yasin yang sedang berjibaku dengan raja Jin Khodam tersebut.


*****


Setelah selesai kang Salim kembali meneriaki Yasin, agar tetap bertahan dulu, karena bantuan akan segera datang.


“Yasin bertahanlah, sebentar lagi bala Bantuan akan segera datang.” Ucap kang Salim yang kemudian ikut membacakan hizip, karena kang Salim sudah hafal bacaan tersebut meski panjang.


Dan beberapa saat kemudian Yasin mulai merasakan lilitan pada dirinya sudah mulai kendor, sehingga dalam sebuah kesempatan Yasin dapat menggerakkan tangan kananya yang memegang cemeti itu. dan dengan gerakan yang hanya terbatas Yasin mencoba memukulkan cemeti itu ke  arah Raja Jin tersebut. sehingga jin itu pun menjerit kesakitan. Selanjutnya bersiap menyerang Yasin kembali.


Yasin menghitung sudah tiga kali memukulkan Cemetinya ke  arah Jin itu, berarti saat ini sudah boleh memukul Gong Simo Ludro tersebut.


Sementaara kang Salim, Tohari dan Sena berdoa dan di dukung oleh yang di rumah juga berdoa semua. Yasin dengan kepercayaan dirinya memukul Gong tersebut dengan penabuh gong yang sudah dia siapkan.


Semua yang ada disitu menutup telinga mereka karena tidak tahan mendengar suar gong itu ditabuh. Bagaikan di tiup di dekat telinga mereka. Sungguh memekakkan telinga, dan suaranya pun bagaikan Auman Harimau dan diikuti oleh dengungan ribuan Tawon yang bunyi bersamaan.


Raja Jin itu kemudian semakin menjerit, dan semakin lama Jin itu melayang turun seperti tidak mempunyai tenaga lagi.


Kemudian kang Salim  yang sudah melindungi diri dari Gong itupun mendekati Yasin dan berkata.


Masukan Jin itu kedalam Guci ini dan nanti kita larung di tempat kamu dulu di buang Yuyut.” Kata Kang Salim kepada Yasin.


Dan Yasin segera menerima Guci yang diserahkan kang salim kemudian Raja Jin Khodam Jahat itu pun dapat diringkusnya dan akan di buang ke laut selatan.


Dengan menutup guci itu dengan kain mori yang sudah dipersiapkan oleh kang Salim.


“Alhamdulillah kang Yasin…. Banyak yang membantu kamu, sampai Abah guru kita pun turun tangan tadi. Jika tidak pertempuran ini gak akan selesai dalam waktu tiga malam sekalipun. Makanya kamu harus bersyukur. Bahkan ku lihat kakek buyut kalian pun tadi ikut membantu juag, menghalau para pengawal Jin itu.” ucap kang Salim.


Singkat cerita Raja jin Khodam ilmu hitam itu pun dapat diringkus oleh Yasin dan keluarga besarnya di bantu berbagai pihak. Dan setelah pulang Yasin dan semua saudaranya melarung jin itu di pantai selatan.


*****


Pasca melarung Raja Jin Anyi anyi.


Yasin POV


“Kang, udah lega kan sekarang jadi kami pamit dulu. Jangan lupa sering berkunjung ke pondok ku ya.” Ucap Kang Salim berpamitan.


Kemudian disusul oleh Yuyut, dan bapak ibu mertuaku juga berpamitan pulang.


Sena, Nurul dan Zulfan pun berpamitan Pulang. Kemudian Isti ikut berpamitan juga.


Kang Tohari pun tak ketinggalan ikut pulang juga, dan terakhir adalah Candra Dan Khotimah.


“Aku panggil kamu apa sekarang ? adikku adalah ibu kandung Sidiq anak kamu. Tapi aku juga suami Khotimah adik sepupu istri kamu sekarang ?” Tanya Candra.


“Terserah kamu saja mas, kalo aku sudah biasa panggil mas dari dulu jadi tetep panggil kamu mas. Meski kamu adalah suami adik sepupu Istriku.” Jawabku santai.


Candra pun berpamitan dan mengatakan minta maaf tidak bisa membantu apapun saat aku dalam bahaya bertempur kemarin. Aku sangat memahami karena di samping pengantin baru juga itu bukan bidang Candra. Fatimah agak haru melepaskan Khotimah yang di bawa Candra pulang kerumahnya.


“Udah santai saja kan Khotimah deket seminggu sekali pun kita bisa jenguk dia nanti, atau biar dia yang jenguk kita.” Godaku pada Fatimah. Disambut tawa Candra dan Khotimah juga.


Begitulah akhir perjuangan seorang Ahmad Sidiq, Alias Zain alias Yasin dalam menumpas kebathilan yang timbul dari pelaku kesesatan. Setelah itu Yasin dan Fatimah bisa hidup Normal. Hingga empat tahun kemudian Fatimah melahirkan anak lagi, seorang perempuan yang cukup cantik. Namun anak Fatimah dan Yasin itu wajahnya justru mirip dengan kakak Kandung Yasin ibunya Rendi istrinya Saputro yang dulu Saputro pernah memusuhi Yasin. Anak itu di beri nama Nisa Aminah, diambil dari nama Yuyut Fatimah Siti Aminah. Sebagai pengingat karena Yuyut sudah pulang ke Rahmattulah sebelum Nisa lahir. Sidiq sudah mulai masuk sekolah, Jafar mengasuh adiknya NIsa di rumah.


Lima Tahun kemudian….


“Mas tadi kata Gurunya,Sidiq memukul teman sekolahnya sampai mata kananya berdarah. Kita disuruh menemui orang tua anak tersebut untuk berdamai…!” ucap Fatimah….???


...TAMAT...


Terimakaih atas semua bentuk dukungan readers tercinta.


Lanjut di


'Pewaris Stambul Al-Quran'


dengan Tokoh Sidiq dan Jafar.


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2