Isyaroh

Isyaroh
Isti coba redakan kemarahan Fatimah


__ADS_3

Bagian akhir episode sebelumnya.


Begitulah yg kemudian terjadi pak/buk. Semua diluar kehendak saya, meski semua itu terjadi akibat perbuatan saya dimasa lalu. Dan saat ini saya serahkan sepenuhnya pada Fatimah. Saya terima apapun keputusan yg Fatimah ambil. Saya sadar, dosa saya terlalu besar. Dibanding Fatimah saya bukan apa apa dan.....?"


Belum selesai bicara dihentikan ibu mertua.


" Cukup...! Tidak usah dilanjutkan. kita tunggu saja keputusan Fatimah nanti !" seru ibu mertuaku.


Sementara di kamar Fatimah, Khotimah sedang hibur Fatimah.


" Mbak Fatim yg sabar ya mbak, Khotimah tahu hati mbak Fatim pasti terluka." ucap Khotimah menenangkan Fatimah.


" Mbak gak nyangka Khot, jadinya seperti ini. Kenapa muncul saat mbak udah cinta, bahkan sangat mencintai mas Yasin." seru Fatimah.


"Iya mbak, sabar ya mbak Khotimah tahu mbak pasti sedih sekali." hibur Khotimah.


"Mbak kecewa, kenapa gak dari awal mas Yasin ngomong. Mungkin mbak gak akan sekecewa ini." ucap Fatimah.


" Apa dulu sudah pernah ada pembicaraan mbak ?" tanya Khotimah.


Kemudian Fatimah cerita, saat awal awal kehidupan rumah tangganya.


" Karena kita dulu, menikah tanpa ada rasa cinta. Malam pertama dan selanjutnya kita tidak saling sentuh meski tidur seranjang."


Kata Fatimah membuka cerita.


" Lama lama mbak ngrasa banyak kecocokan. Dan kita seperti pasutri yg lain. Mbak mulai ada rasa kangen padanya. Mbak merasa mulai tumbuh rasa cinta." kata Fatimah.


" Setetusnya gimana mbak ?" tanya Khotimah.


" Karena mbak belum tahu isi hatinya, mbak cari kesempatan buat bertanya. Tapi susah, waktu itu mas Yasin kayak yg cuek sama mbak. Sering keluar rumah, bahkan malam haripun lebih sering di tinggal mancing. Dari pada menemani mbak istrinya. Meski pekerjaan rumah juga tetap dibantu mas Yasin."


Kemudian Khotimah bertanya lebih dalam.


" Maaf mbak, sejak kapan mas Yasin mulai perhatian sama mbak Fatim ?" tanya Khotimah hati hati.


" Belum lama Khot, sejak mbak ada kesempatan bertanya tentang isi hatinya pada mbak !" jawab Fatimah.


" Ceritanya gimana mbak ?" desak Khotimah.


Fatimah terdiam sejenak, mencoba mengingat kronologis waktu itu.


................


...flashback on...


Mah kok gak bangunin, aku belum dhuhur..." tanyaku.


Aku jadi membuka mata.


" Lah kirain tidurnya habis dhuhur, tadi dibangunin gak bangun juga. Sampai aku cubit cubit gak bangun. Yaudah aku temenin bobo nya. " jawabku.


Aku senyum senyum sendiri, karena lihat tanda dilehernya yg kubuat tadi.


" Yaudah aku sholat dhuhur dulu..." kata Suamiku.


Mas Yasinpun pergi ke kamar mandi, membersihkan diri. Ah... Ini Istriku iseng amat, kasih tanda dileherku...?


Pantas tadi senyum senyum.


Selesai mandi, ganti baju ambil wudhu langsung sholat dhuhur. wirid pendek kemudian dia panggil aku.


" Mah mau makan masak nggak ? " mas Yasin bertanya kepadaku.


" Mamah gak masak Pak, cuma beli tadi." jawabku.


" Hayuuk sini temenin makan, ada yg mau aku omongin ! " Panggilnya kepadaku.


" Tapi aku gak mau makan, masih kenyang.Tadi beli mie ayam di kios. " jawabku.


" Pokoknya sini aja, pentiiing ! " Ucap mas Yasin.


" hmmm iyaaaaa.. bentar " jawabku sambil bangkit.


Tumben makan aja minta di temenin, bisikku dalam hati.


Mas Yasin gak langsung makan, meski sudah laper. Nungguin aku dulu, aku jadi haru.


" Ambilin makan buatku !" Pintanya pada ku, setelah aku duduk disampingnya.


" Ada angin apa ni.. tiba tiba manja minta di ambilin segala. Biasanya diambilin aja gak mau. Awas kalo mulai genit ya !? " Kataku sambil ngambilin makanan.


" Salah siapa, kamu yg mulai genit duluan.. ?! " katanya, membuat aku malu. Mungkin dia lihat tanda di lehernya saat mandi.


Aku diam sebentar, menahan malu pipiku merah dan senyum tertahan.


" Siapa yg genit, memangnya ngapapin ?" godaku.

__ADS_1


Jawabku rada rada nahan tawa.


" Ngapaiiin...? "tanya dia lagi.


" Nih kerjaan siapa ? " tanya suamiku.


Sambil menunjukkan lehernya yg kukasih *stempel* saat tidur tadi.


" Dih ya gak tau... siapa emang ?" jawabku pura pura.


" Beneran.... Gak mau ngakuin.... ? "


seru suamiku tau pura pura marah atau beneran marah, sambil melotot.


" Iya ya.... habis dibangunin susah sih tadi. Gitu aja marah."


Aku pura pura ngambek.


" Ya iyalah jelas marah, kenapa gak diwaktu aku sadar kamu melakukanya " Katanya sambil tertawa, aku hanya senyum malu menahan tawa.


" Udah lah ayuk makan sepiring berdua, kamu kayak ngambilin kuli bangunan aja porsinya. Ambil sendok satu lagi, atau, kamu minta disuapin aja ?"


Candanya yang membuat aku makin malu dan sampai mencubit dadanya.


" Yeee.. beneran genit ah sekarang, yaudah mamah temenin. Mamah aja yg suapin papah " kataku mulai manja.


Usai makan, mas Yasn bilang ke Fatimah. Menceritakan dari kejadian tadi dimakam. Tentang mimpinya firasatku dawuh nya Abah dan sebagainya.


Tiba tiba aku diam, dantak terasa mataku berkaca kaca. Mas Yasin jadi bingung dengan sikapku.


Mungkin mas Yasin berpikir aku hendak ngomong apa, menanggapi dawuhnya Abah.


" Imah Takut mas..." kataku.


dengan panggilan asli kami sebelum dinikahkan dulu.


" Imah takuuuut..... Saat mas kemarin pergi. Sering kali denger suara orang nangis... teriak teriak..." Kataku disela tangisku aku mulai cerita.


" Imah juga mimpi, lihat mas Yasin dikeroyok makhlukq makhluq aneh, menakutkan. Imah gak mau ditinggal pergi mas. Aku takut itu firasat buruk mas..." ucapku ke mas Yasin.


Aku gak tahu apa lagi yg kurasakan waktu itu.


" Im..." Panggil suamiku dengan panggilan asli ketika masih belum nikah juga.


" Kamu gak usah khawatir, mas pasti baik baik saja. Insya Allah, Allah bersama kita. Ini tugas dari Abah, maka Aku harus segera cari kang Salim. Sementara waktu, kalo kamu takut kamu boleh pulang ke Majenang dulu. Besuk saya antar, masalah kios pasrahkan mbak surti saja. " katanya.


MasYasin terdiam, mungkin gak tahu kapan ini akan berakhir.


" Ya kita lihat situasi, kalo sudah aman kamu aku jemput !" jelasnya.


" Mass..." aku sebenarnya keberatan.


Sambil terisak aku memanggilnya.


" Apa lagi ? " tanya mas Yasin.


" Boleh aku bertanya, tapi mas harus janji jawab dengan jujur ? " kataku pada mas Yasin.


Mas Yasin hanya terdiam, beberapa saat tidak menjawab. Hingga aku bertanya lagi.


" Mass.... mau janji gak, jawab yg jujur ! " tanyaku sekali lagi.


" Owh iya iya... Aku janji, gak akan sering keluyuran malam buat mancing lagi.." ucapnya.


Membuat Fatimah jengkel, gak sesuai maksut pertanyaan.


" Bukan janji itu, kalo itu aku tahu sudah hobimu. Mau janji jawab dengan jujur gak....? " seruku.


" Iyaaa aku janji, mau tanya apa sih sayang ku " katanya.


" Serius ini mas...jangan bercanda " kataku.


" Iyaaa aku serius Imah sayang. "


Dia bicara sambil memelukku, dan Fatimah merasa nyaman dalam pelukanya. Tapi menahan diri tidak merespon.


" Mass... Kita dulu kan nikah gak ada rasa cinta...? Saat ini, sudah adakah sedikit saja ada perasaan cinta di hatimu ? " Tanya Fatimah pada mas Yasin.


Mas Yasin jadi tergagap, gak tahu apa yg dia pikirkan waktu itu. Entah ingat Eis mantan dia atau apa Fatimah gak ngerti.


Atau dia masih setengah hati menganggap Fatimah sebagai istri. Atau mungkin masih berharap cinta lamanya, Fatimah jadi makin bingung dengan sikapnya.


" Kenapa mas diem gak mau jawab, aku hanya butuh jawaban jujur saja. jika memang sampai saat ini mas gak bisa mencintai Ftimah. Bilang jujur mas, sebelum Cinta yg tumbuh dihatiku semakin berkembang. Aku tidak ingin nanti aku jadi makin sakit.


Jika cinta dihatiku sudah bulat kuserahkan padamu sebagai Suamiku, sebagai Imamku. Tapi ditengah jalan kamu kecewakan aku. Karena tak setitikpun di hatimu ada cinta untukku. Tidak usah, berpura pura perhatian. Melindungi aku, tapi hanya ingin memulangkan aku ke rumah orang tuaku mas." kata Fatimah sambil marah.


"Masss... Kok diam terus sih ?" tanya Fatimah karena semakin kesal.

__ADS_1


Kala itu Fatimah marah beneran dan melepaskan pelukanya hendak kembali ke kamar. Fatimah berdiri dan hendak melangkah pergi.


Tiba tiba dia mengejarku, dan berkata.


" Fatimah istriku tercinta. " mas Yasin bicara dengan segala keseriusan dan menatap mataku dalam dalam.


" Tatap mataku, biar kamu bisa menilai. Apa aku bicara jujur atau dusta atau bicara antara jujur dan dusta. Dengerin aku ngomong !" katanya.


Akupun pun menatapnya, dengan agak ragu ragu.


" Semenjak Aku mengucapkan akad nikah. Aku Terima Nikahnya Fatimah binti Abdul Hamid dengan mas Kawin sebuah kitab Nahwu Shorof dibayar Tunai. Sejak saat itu, aku berjanji akan mencintai kamu, menyayangi kamu melindungi kamu dan siap menjadi Imam kamu.


Jadi suami yg baik bagimu, jadi ayah yg baik bagi anak anak kita nanti. Dan sejak itu pula aku hanya ingin mengukir satu nama wanita dihatiku yaitu kamu Fatimah Istriku....! " ucapnya serius.


Fatimah langsung menangis haru, tanganku yg tadinya kaku lurus kebawah. Langsung memeluknya sangat erat. Kepalaku kusandarkan ke dadanya, sehingga isak tangisku berirama dengan detak jantungnya.


" Mass... maafkan imah, sudah berburuk sangka. Tapi aku gak mau berpisah lama lama. Imah gak ingin, mas Yasin berjuang sendiri sementara imah hanya sembunyi. Ijinkan Imah tetap mendampingimu kemanapun, dimanapun dan apapun yg terjadi..." Kata Fatimah pada mas Yasin.


Nah kemudian giliran mas Yasin yg, meneteskan air mata haru.


" Im.... imah... Aku suamimu, aku wajib melindungi kamu. Aku gak mau kamu kenapa kenapa. Aku sangat berterimakasih, dan sangat bahagia disisimu.


Namun jika disisiku itu membahayakanmu, maka sementara aku minta kamu tinggal dirumah orang tuamu dulu. Kuatkan aku dengan doamu, jangan lemahkan aku dengan tangismu. Iringi langkahku dengan dzkirmu, jangan halangi aku dengan kerinduanmu. " Ucapnya pada Fatimah.


Aku sampai heran, kok suamiku jadi mendadak puitis.


Sampai Fatimah menangis makin terisak haru.


" Sudahlah Im.... Apa yang mau kamu dengar sudah kamu dengar. Apa yg ingin kamu tahu tentang isi hatiku. kamu sudah tahu.Ayo senyum biar tambah manis, biar suamimu ini makin tambah cinta !" Katanya pada Fatimah.


Tiba tiba aku jadi sebel digoda begitu, kemudian melepaskan pelukanya, dan mencubit perutnya.


" Iiiiiiiichhh nyebelin, baru menikmati suasana romantis bentar sudah ngegombal... ?!!! " ujar Fatimah ke mas Yasin suamiku.


...flashback off...


......................


Sejak itulah, aku merasa diperhatikan sebagai istri. Aku mersakan kasih sayangnya. Tapi sekarang.....?" Fatimah tak lagi mampu bicara, hanya menangis.


Tiba tiba telpun berdering, Khotimah berseru.


"Mbak telpun dari mbak Isti, sahabat mbak Fatim !" ucap Khotimah.


Fatimah langsung angkat.


" Assalaamu 'alaikum Isti....! "


Ucap salam Fatimah di telpun pada isti. Diiringi isakan tangis yg keras.


" Wa 'alaikummusssalam Fatimah saudaraku. Menangislah sepuasmu, Isti siap mendengar tangismu. Isti sudah tahu apa yang terjadi Fatimah...!" jawab Isti di telpun.


" Jadi Isti juga sudah tahu, suamiku berbohong. Ternyata dia sudah punya anak ?" tanya Fatimah setengah berteriak.


" Suamimu sudah cerita, rupanya itu yg kau maksut suamimu masih menyembunyikan sesuatu. Seperti saat kau bilang ke aku waktu itu Fat !" jawab Isti.


" Tapi kenapa gak bilang dari awal, mungkin Fatimah gak akan merasa dibohongi. Kenapa baru sekarang bilangnya Isti ?" Seru Fatimah dengan emosinya.


" Kalo kamu bilang seperti itu, berarti kamu belum mendengar cerita komplit dari suamimu ya Fat ?" tanya balik Isti.


" Maksutnya gimana Isti, kamu sahabat terbaikku. Kamu gak lagi bela suamiku kan ?" tanya Fatimah penasaran.


" Gak lah, Isti gak bela siapapun Fat. Isti hanya ingin kalian baik baik saja. Yang perlu Fatimah tahu, suamimu pun belum lama tahu jika akibat perbuatanya dulu mengakibatkan lahirnya Sidiq." jelas Isti pada Fatimah.


" Apa....? Mana bisa begitu Isti ?" seru Fatimah.


...bersambung...


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


Mohon maaf Readers yg budiman, kelanjutan Novel ini diselingi revisi. Agar lebih nyaman dibacanya, tapi tanpa merubah isi cerita.


Dikarenakan banyak typo dan kesalahan lain.


Semoga tetap bisa menghibur.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2