
Iya mas, Fatimah juga kangen tapi Fatimah tahu kok kalo senua ini karena keadaan sehingga waktu kita berdua jadi berkurang. Fatimah gak papa, yang penting masih ada waktu buat Fatimah.” Jawab Fatimah.
Aku langsung memeluk dan menciumi istriku yang beberapa malam selalu tidur sendirian.
Beberapa malam kami terpisahkan oleh keadaan, sebagai pasangan suami istri yang tergolong baru tentu saja membuat kami saling menahan rindu. Malam itupu kami saling melepaskan kerinduan kami sebagai paangan suami istri. Meski kondisi Fatimah istriku saat itu sedang hamil dan postur tubuhnya Nampak semakin berisi. Namun perubahan bentuk fisik istriku tiak mengurangi semua rasa sayang dan cintaku padanya. Setelah kami selesai menuntaskan hasrat sambil berbaring aku mengusap perut Fatimah istriku kemudian membisikan sesuatu kepadanya.
“Sayang, anak yang kamu kandung ini banyak mengikuti dan mengalami kejadian kejadian yang luar biasa. Bayak ujian berat yang harus dia ikuti dalam kandunganmu. Berdoalah agar kelak anak ini kuat dalam menghadapi kehidupan. Serta dapat menjadi tauladan yang baik bagi masyarakat sekitar.” Kataku berbisik pada istriku.
“Iya mas, tentunya mas juga harus doakan gak hanya Fatimah saja kan.” Jawab istriku.
“Iya pastilah kalo itu, hanya saja doa ibu itu kan Tiga kali lebih makbul dari doa ayahnya. Karena ikatan batin anak dan ibu kandungnya itu lebih kuat.” Kataku.
“Iya sih mas, Fatimah juga tahu yaudah ayuk bobo aja takut kesiangan. Atau mau mandi sekalian sekarang mas ?” Tanya istriku.
“Nanti ajalah, malu kalo ada yang masih terjaga. Mending menjelang tahajut saja nanti.” Jawabku.
“Kenapa mesti malu mas, sesuatau yang wajar kan sama suami istri ini.” kata Fatimah.
“Biar sama istri sendiri juga gak perlu orang lain tahu juga kan !” jawabku sambil memeluk dan menciumnya agar berhenti bicara. Karena rasa lelah dan mengantuk sudah berat kurasakan.
Akhirnya kai sama sama tertidur, baru setelah terdengar suara ayam berkokok aku bangun. Aku mencari istriku disampingku sudah tidak ada, ternyata dia sudah bangun duluan. Aku segera bangkit dari pembaringan untuk menuju kekamar mandi.
Saat melewati dapur kulihat istrikusudah selesai mandi dan merebus air bersama Isti. Waduh Isti juga sudah bangun, mana tahu istriku habis keramas karena belum memakai jilbab hanya dililit handuk rambutnya. Aku merasa agak malu sebenarnya, kupikir isti pasti dapat menduga apa yang sebelumnya terjadi.
“Cepetan mandi mas, terus Tahajut ini sudah di rebusin air buat minum.” Kata Isti. Kalimat isti itu benar benar membuat aku malu, entah apa yang dibicarakan dengan Fatimah istriku sebelumnya.
Tanpa menjawab aku langsung masuk kekamar mandi, sambil mandi aku berpikir ternyataa wanita itu kalo cerita lebih vulgar dan tidak malu malu kalo sesame wanita. Sampai sampai Isti aja ikut komentar seperti tadi.
Usai mandi dan tahajut, aku langsung meminum kopi yang sudah disediakan. Tiba tiba Fatimah dan Isti ikut bergabung dan mengajak ngobrol.
“Mas, maksut mas bilang doa ibu itu tiga kali lebih makbul itu apa ?” Tanya Fatimah istriku.
Aku kaget Fatimah bertanya seperti itu, bukankah kalo secara waktu dia lebih lama mengajinya disbanding aku. Kenapa malah bertanya seperti itu, apakah dia hanya mengetes aku bersama isti, pikirku.
“Kamu nanya apa ngetes, mentang mentang kamu seniorku di pesantren ?” tanyaku balik.
“Gak mas, kami beneran Tanya, maaf tadi Fatimah cerita kalo mas Yasin bilang begitu. Tapi aku sendiri gak tahu atau mungkin juga lupa jadi aku suruh Tanya mas Yasin langsung saja sekalian Isti juga pingin tahu jawabanya.” Sahut Isti.
Aku jadi semakin bingung, Isti yang kukenal cerdas bahkan termasuk yang paling ceras di pesantren malah bertanya kepadaku. Mebuat aku agak grogi, apakah aku yang salah dengan kalimat itu, pikirku. Tapi gak juga, aku diwejang angsung oleh abah guru dulu juga seperti itu. untuk mengurangi rasa grogiku aku harus menutupi dengan candaan dulu pada Isti.
“Mang cerita apa aja Fatimah sama kamu Isti ?” tanyaku.
“Ya cerita kalo mas bilang doa ibu tiga kali lebih makbul dari doa ayah.” Jawab Isti.
“Masak Cuma itu aja gak ada yang lain lagi ?” gurauku pada Isti.
Membuat Isti yang sekarang tersipu malu, dalam hatiku bilang “rasain tadi ngerjain kau”.
“Yang lain ya gak perlu diceritakan lah mas, kan kamu pelakunya.” Jawab Isti masih bisa berkelit juga batinku. Tapi gak papalah gak pantas juga membicarakan hal seperti itu. maksutku juga sekedar mengurangi rasa grogiku saja tadi.
“Iya Isti, kan Rasulullah pernah ditanya seorang sahabat, setelah Allah dan Rasulnya, siapa yang kemudian harus saya Hormati, dan dijawab IBUMU, kemudian ya Rasul maka dijawab lagi IBUMU sampai tiga kali, baru kemudian bapakmu. Itu mengandung maksut juga bahwa doa seorang ibu kepada anak tiga kali lebih makbul dari doa seorang bapak. Meski bukan berarti doa bapaknya tidak makbul. Tapi lebih makbul lagi doa seorang ibu. Karena doa ibu lebih didengar Allah dari doa seorang Ayah.” Jawabku.
“Owh gitu ya, iya juga sihg kok Isti bisa lupa ya.” Jawab Isti.
“Karena kamu belum jadi seorang ibu, makanya segera nikah biar cepet jadi ibu dan gak hanya dengerin cerita ibu ibu.” Kataku sambil tertawa.
“Dasar mas Yasin ini, pagi pagi sudah bicara ngelantur.” Fatimah yang menjawab sementara Isti hanya tersipu malu.
“Siapa dulu yang mulai tadi, hayo !” balasku pada Fatimah yang juga ikut tersipu akhirnya.
“Udah ah, ganti topic aja. Bagaimana soal Khotimah semalam mas, maaf tadi aku juga sudah cerita sama Isti. Maaf yam as, aku gak bilang dulu kalo cerita sama Isti.” Kata Fatimah istriku. Dalam hati aku berkata,”dasar mak mak gak bisa nahan untuk tidak cerita” tapi hanya kau batin dalam hati saja tentu.
“Iya gak papa, mas tahu kamu gak akan bisa menyembunyikan cerita pada sahabatmu Isti. Asal bukan cerita aib suamimu saja.” Kataku agak menyindir sebenarnya. Takut kalo dia cerita keceplosan ngomongin kekurangan suaminya. Meski ity hal yang wajar bagi seorang wanita, tapi untuk hal itu harus dihindari benar agar rumah tangga bisa rukun tidak dicampuri pihak ketiga yang lebih sering membuat rumah tangga pecah.
“Iya lah mas, masa aib suami atau keluarga diumbar.” Jawab Fatimah istriku.
“Betul kata Fatimah, kalo dia mau keceplosan Isti yang akan mengingatkan mas, tenang saja.” Sahut Isti.
“Ok, kembali soal Khotimah biar dia berpikir dulu,merenung dulu kita gak usah intervensi kalo perlu sarankan agar dia solat istikhoroh biar diberi petunjuk mana yang lebih baik.” kataku pada Fatimah dan isti.
“Maksut Fatimah begini mas, ada informasi jika Fanani itu belum resmi bercerai dengan istrinya baru pisah ranjang saja.” Kata kata Fatimah betul betul membuatku kaget dan sedikit menahan amarah. Siapa yang bohong, Fanani kah atau Khotimah yang menutupi karena sudah terbuai perasaanya,pikirku.
“Kalo begitu, gak bisa dibiarin harus segera di Tanya itu Fanani ! kalo masih berstatus menikah ya harus bilang apa adanya jangan ada yang ditutup tutupi begitu.” Kataku seikit naik intonasinya.
“Sabar dulu mas, jangan terus emosi begitu. Fatimah mau minta pendapat tapi mas Yasin gak boleh langsung marah ya, janji dulu !” kata Fatimah setengah memohon.
Aku menghela nafas lebih dulu untuk menenangkan diri, siap siap mendengar apa yang akan diucapkan Fatimah istriku.
“Apa yang mau kamu Tanya, bilang saja.” Kataku datar.
Tampak Fatimah dan isti saling pandang dulu seakan saling memberikan isyarat agar salah satu dari mereka yang bicara. Fatimah berharap Isti yang bicara, sedangkan Isti berharap Fatimah yang bicara.
__ADS_1
“Kalian gak usah salaing lempar, salah satu saja yang bicara. Aku janji gak akan marah, dan akan menahan emosiku.’ Jawabku santai.
“Iya mas, Fatimah percaya jadi ini hanya seandainya saja bukan merupukan kenyataan, tapi seandainya atau mungkin bisa terjadi bisa juga tidak.” Kata Fatimah gak jelas arahnya kemana.
“Kamu tu bicara apa, kok muter muter gak jelas begitu ?” tanyaku penasaran.
“Misalnya, Khotimah mau dijadikan istri keduanya Fanani bagaimana, jika Fanani ternyata belum bercerai dengan istrinya, tapi jangan emosi dulu ini baru misalnya lo mas ?” pinta Fatimah.
Aku berusaha tersenyum mendengar pertanyaan Fatimah, meski dalam hatiku sedikit bergejolak emosiku. Karena aku sudah anggap Khotimah itu adik kandungku sendiri, aku sangat menyayangi dia sebagai adik meski kadang aku suka menjahili dia. Suka membuat dia sebel padaku, tapi itu justru bentuk perhatianku pada Khotimah.
“Begini sayang, secara Fiqiq itu memang sah sah saja. Lelaki beristri lebih dari satu. Seorang wanita menikah dengan pria beristri itu sah sah saja. Tapi, selain pertimbangan Fiqih yang kebanyakan orang lupakan adalah pertimbangan “RASA” atau perasaan. Bagaimana perasaan istri pertama Fanani jika tahu suaminya beristri lagi ? makanya kita orang jawa, ada istilah NGOLAH ROSO maksutnya mengasah perasaan kita agar peka terhadap kondisi sekitar. Bukan sekedar halal haram boleh tidak boleh saja.” Kataku membuka penjelasan pada Fatimah dan Isti.
“Maaf mas jujur Isti belum paham dengan semua yang mas katakana tadi. Apa lagi soal olah roso dan lainya juga belum paham maksutnya.” Tanya Isti.
“Ini kalo kau jabarkan bisa panjang banget nanti, kayak orang ceramah jadinya Isti.” Kataku.
“Gak papa mas, Isti kira Fatimah juga gak keberatan dengerin penjelasan, bahkan jika gak cukup waktu bisa dilanjut habis subuh nanti.” Kata Isti bersemangat. Memang isti adalah type orang yang haus akan ilmu baru, sehingga sangat antusias menunggu penjelasanku. Meski kalo dia gak setuju dengan penjelasan bisa diprotes dan dikejar sampai mendapatkan jawaban yang menurut dia bisa diterima. Untunglah aku masih ingat betuk semua wejangan abah guru waktu itu meski waktu itu aku tidak sempat mencatat.
Karena aku termasuk orang yang lebih kuat memori audionya dari pada memori visualnya. Maksutnya adalah orang yang lebih cepat faham ketika mendengarkan orang menjelaskan dari pada membaca buku.
Sekali mendengar aku bisa ingat sampai tiga bulan kedepan tanpa catatan, tapi ketika membaca aku agak susah memahami. Smentara saudara jauhku berbalik denganku. Sekali membaca bisa tiga bulan ingat tapi mendengar penjelasan orang tiga menit sudah lupa. Begitulah Allah memberikan kelebihan dan kekurangan pada tiap tiap manusia, agar semua bisa saling melengkapi.
“Iya mas, Fatimah juga butuh pencerahan. Meski Fatimah lebih dulu nyantri, tap hal hal tertentu mas Yasin lebih tahu karena dulu sangat dekat dengan kang Salim. Sampai diibaratkan orang dalem ( Istilah santri yang ikut masuk dalam lingkungan rumah kyai nya ).
“Baiklah, jadi maksutnya begini, disamping soal Fiqih kita harus menggunakan rasa atau perasaam itulah olah roso. Contoh ni maaf Fatimah jangan tersinggung ya, missal aku menikahi Arum saat ini secara Fiqih hukumnya boleh tidak ?” tanyaku pada Fatimah.
“Fatimah agak ragu menjawab meski aku yakin dia tahu jawabanya.
“Ya boleh sih, sah sah saja.” Jawab Fatimah agak ragu ragu berkata.
“Tapi hati kecilmu apakah bisa menerima meski itu boleh secara Fiqih ?” tanyaku lanjut pada Fatimah.
“Jujur saja gak bisa menerima lah, Fatimah kan wanita biasa yang punya perasaan dan cemburu.” Jawab Fatimah.
“Yah begitulah maksutku, meski secara Hukum Fiqih itu boleh, tapi ada pertimbangan lain yang harus diperhatikan juga. Jangan hanya beralasan secara Fiqih sah tapi ada yang tersakiti, karena hokum fiqih dibuat bukan untuk menyakiti sesama. Bukan sekedar untuk mencari keabsahan dalam mengumbar nafsu semata. Maaf saja ya, kebanyakan orang beristri lebih dari satu itu lebih karena nafsu bukan karena fiqih. Meskipun itu sah dan lebih baik dari pada berzina atau berselingkuh, aku juga tidak mengatakan tidak boleh. Hanya saja sudah cukupkah pertimbangan yang dipakai dalam mengambil kepetusan tersebut.
Kembali ke soal Khotimah tadi, tolong apa yang aku sampaikan itu nanti disampaikan padanya, kalo Khotimah beneran punya pemikiran seperti itu. jangan sampai ada penyesalan dan jangan sampai ada yang tersakiti. Apa lagi kalian kan sesame wanita, tentunya lebih tahu perasaan wanita. Apa lagi kamu Fatimah, sebagai seorang Istri juga. Mungkin kamu bisa bilang ke Khotimah, kalo misalnya suamiku nikah lagi perasaan kamu gimana Khot, meski itu boleh secara Fiqih juga.” Kataku mengakhiri pembicaraan.
“Beruntung kamu Fat, punya suami begitu.” Ucap Istiserius bahkan haru terlihat matanya berkaca kaca.
“Gak juga kok Isti, justru aku yang bersukur merasa beruntung punya istri seperti Fatimah. Mau menerima semua keburukanku, bahkan mau menerima Sidiq sebagi anaknya. Kalo Fatimah gak besar hati mungkin rumah tanggaku sudah hancur. Apakah kebaikan dan kebesaran hati Fatimah istriku akan aku tukar dengan nafsu birahi pada wanita lain dengan alasan boleh secara fiqiq ? Kayaknya kau bukan orang seperti iyu .
Dan yang pasti, aku bersukur bertemu kalian dulu di pesantren, seandainya aku tidak di takdirkan jadi suami Fatimhpun aku akan tetap anggap dia saudarku begitu juga dengan kamu Isti.”
“Iya mas, aku juga sangat bersukur punya suami seperti kamu pengertian dan tanggung jawab.” Kata Fatimah sambil memeluk aku.
“EEh jangan begitu, malu pada Isti iih nanti dia pingin mau peluk siapa ?” kataku bercanda agar mereka tidak larut dalam suasana haru yang justru membuat kau meras kikuk.
“IIh mas ni, kan lagi romantic jangan bercana kenapa ?” protes Fatimah.
“Iya kita nya Romantis, tapi lihat tuh Isti jadi menangis nanti.” Candaku.
“Gak kok mas, Isti juga ikut seneng kalian bahagia begitu. Ternyata Abah guru kita memang waskito betul menikahkan kalian meski dulu rtidak saling cinta.” Jawab Isti sambil tersenyum.
“Tuh kan mas, Isti juga gak papa kok.” Kata Fatimah.
Dalam hati aku berkata, Isti gak papa tapi aku yang malu didepan dia istriku begitu. Mungkin lebih tepatnya merasa gak enak saja risih.
Untunglah tak lama kemudian terdengar kumandang adzan Subuh, sehingga ada alasan buatku untuk melepaskan pelukan istriku itu. kemudia Fatimah aku suruh bangunin Khotimah dan lainya untuk solat subuh.
Aku sendiri segera menagmbil air wudhu untuk segera melaksanakan solat subuh berjamaah. Dan setelah semua siap kami pun melaksanakan solat subuh secara berjamaah, diruanh mujahadah yang bisa kami gunakan.
Usai solat subuh aku minta Isti dan Fatimah berbicara dengan Khotimah melanjutkan pembiacaraan semalam yang sempat tertunda. Aku sendri kemudia mengajak Ardian untuk jogging sambil mengamati keadaan lingkungan sekitar. Meski secara sepintas sudah agak aman, tanpa ad gangguan tapi aku tidak mau lengah dalam bersikap, karena musuh masih selalu tetap mengawasi kondis dan keadaan kami untuk melancarkan serangan mendadak.
Sambil jogging akupun mencoba mengorek keterangan tentang Fanani pada Ardian, aku harus tahu kebenaran tentang Fanani agar tidak salah dalmmenilai. Karena sebagai kakaknya Khootimah aku harus membantu memilihkan jodoh yang tepat untuknya, minimal mencaraikan yang terbaik dari beberapa orang yang punya niat melamarnya.
“Ardian, kamu dekat gak dengan Fanani ?” tanyaku saat jogong dengan Ardian.
“”Dekat banget sih gak Pak, tapi kam sudah lama saling kenal karena kebetulan rumah kami juga tidak berjauhan.” Jawab Ardian.
“Owh begitu, kalo begitu kamu tahu dong fanani itu sudah menikah ?” tanyaku.
Tampak Ardian agak kaget mendengar pertanyaanku yang kedua itu.
:”Iya pak, maaf saya juga sebenarnya gaka kaget ketika ikut bertugas jaga dirumah bapak. Dan disana ada Fanani yang deket sama adiknya istri bapak. Karena setahu saya prsoses perceraian dengan istrinya belum selesai. Istrinya gugat cerai tapi Fanani masih belum mau menceraikan, karena masih berharap istrinya mau kembali kepadanya.” Jawab Ardian membuatku makin kaget.
“Owh jadi istrinya yang gugat cerai, tapi fanani yang gak mau menceraikan ?” tanyaku lanjut.
“Iya pak, Fanani masih sangat mencintai Istrinya tapi istrinya yang gak mau dan minta Ceria.” Kata Ardian.
“Lalu kenapa bilangnya ke adik istriku sudah cerai ?” kataku.
__ADS_1
“Owh kalo iti mungkin mbak hotimahnya yang salah paham pak, Fanani bilangnya baru proses cerai. Cuma fanani salahnya gak bilang kalo dia sendiri yang belum mau bercerai dengan istrinya, kalo dia mau tanda tangan proses cerai sudah selesai.” Jawab Fanani.
“Owh begitu rupanya, aku sih gak mau ikut campur hanya kalo Fanani masih berat bercerai dengan istrinya ya sebaiknya diusahakan agar mereka rujuk kembakli. Kembali bersatu biar Khotimah juga tidak terlalu berharap, jangan digantung seperti ini, kan kasihan Khotimah berharap sesuatau yang tidak pasti.” Kataku pada Ardian.
Sepanjang melakukan jogging aku banyak ngobrol dengan Ardian seputar Fanani, memang kasihan juga kehidupan Fanani dengan istrinya. Tapi bagaimana lagi, aku juga harus memikirkan adikku Khotimah jangan sampai dip hp in sama fanani. Aku takut Khotimah justru makinmabuk cinta dengan Fanani sampai akhirnya nanti seperti yang dibilang Fatimah tadi pagi, saking mabuk cintanya rela jadi yang kedua. Tanpa berpikir itu menyatikiti hati istri yang pertama juga. Dan masih banyak lagi akibat buruk yang akan timbul, apa bila pernikahan lelaki dengan istri kedua dan seterusnya hanya didasari nafsu semata.
Rasulullah dulu, ketika ada janda yang ditinggal mati saat perang, setelah selesai masa iddahnya. Dan butuh dilindungi dan disantuni kemudian bertanya pada para sahabatnya. Apakah ada yang siap nikah, ini ada janda yang perlu dilindungi dan di santuni sehingga harus dinikahi. Jika ada yang bersedia kemudian dinikahkan. Jika tidak dan mendesak harus ada yang melindungi maka beiau nikahi sendiri.
Kalo zaman sekarang mana ada yang begitu, ada janda dilihat dulu cantik apa nggak, kalo cantik dinikahi sendiri kalo gak selera baru ditawarkan orang lain. Yang kayak gitu ngakunya sunah rasul, hahaha,,, sunah rasul palalu. Menuruti nafsu aja dengan kedok sunah rasul.
Ngikuti sunah kok pilih pilih yang enak enak saja, mending juju raja gak cukup punya bini satu jadi harus cari tambah. Begitu lebih baik gak usah berkedok sunah rasul sunah rasul. Meskipun itu juga boleh dan gak semua begitu juga sih. Tapi khusus yang sok NYUNNAh aja maksutku.
Tanpa terasa aku dan Ardian sudah sampai dirumah kembali, aku segera kekamar mandi untuk cuci muka sebelum ikut gabung dengan Fatimah dan Isti juga Khotimah.
“Lagi pada ngerumpiin apa nih, pagi pagi bukan bikin sarapan atau camilan malah pada ngerumpi.” Kataku seakan menyindir. Padahal memang Fatimah dan Isti aku mintai tolong untuk menasehati Khotimah.
“Udah bikin the anget buat semuanya kok, mas mau ngopi lagi ?” Tanya Fatimah.
“Gak ah, udah ngopi tadi, gentian ngeteh aja sekarang.” Jawabku.
“Ada camilan apa nih, goreng goreng tahu atau apa kek buat temen ngeteh.” Kataku.
“Udah disiapain tuh tinggal goreng, biar adonanya lumer dulu.” sahut Isti.
“Mo bikin apa kok nunggu lumer adoananya ?” tanyaku.
“Bikin bakwan, kata Fatimah mas lebih suka bakwan.” Jawab Isti.
“Iya sih, tapu jangan sampai terlalu Lumer juga, nanti malah gak enak,” kataku.
“Iya sekarang aku goreng bentar aja.” Kata Isti sambil jalan ke dapur.
Kemudian aku mulai membuka obrolan dengaan Fatimah dan Khotimah.
“Aku tadi jogging bareng Ardian, ternyata Ardian itu tetangga dusunya Fanani.”
kaataku membuka obrolan.
“Berarti dia kenal Fanani sudah lama mas ?” Tanya Fatimah kaget.
“Iya, bahkan boleh dibilang teman main sejak kecil, hanya kemudian Ardian pindah tinggal setelah dia menikah.” Kataku.
“Terus apa lagi informasi yang mas dapatkan ?” Tanya Fatimah.
“Aku mau Tanya dulu sama kamu Khotimah, apakah benar Fanani sudah bercerai dengan istrinya ?” tanyaku pada Khotimah.
“Belum selesai prosesnya mas.” Jawab Khotimah.
Sontak Fatimah kaget dan hampir saja meledak amarahnya, untung saja cepat aku cegah. Sehingga amarahnya cepat terkendali, dan akhirnya Khotimah mengakui jika dia yang mengarang cerita jika Fanani sudah bercerai.
“Maaf memang Khotimah yang mengatakan mas Fanani sudah bercerai, Khotimah sudah terlanjur mencintai dia. Dan kemarin merasa siap jadi istri keduanya, sampai tadi mbak Fatim dan mbak Isti memberikan nasehat pada Khotimah.” Kata Khotimah sambil menitikkan air mata.
Aku sendiri sampai gak tega melihat Khotimah begitu sebenarnya, tapi bagaimana lagi demi dia dimasa depan juga,pikirku.
“Maafkan mas ya Khot, mas terpaksa melarangmu menjalin hubungan dengan Fanani. Demi kebaikan kamu kedepan. Mas gak mau kamu jadi menyesal dan mederita kedepanya.” Kataku pada Khotimah.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1