
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Jujur mas aku sering kali dibilang sesat hanya gara gara merawat dan mengasuh anak anak yang suka mabuk tadi itu, bahkan kadang aku juga jadi bingung apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Karena mereka kadang ikut sholat dan mujahadah masih dalam posisi mabuk. Padahal kan itu jelas dilarang dalam Alquran ?” kata Sena.
Aku jadi tertawa dengan keluh kesah Sena yang seperti itu.
“Wkakaka,,,, kamu kok malah jadi bodoh hanya karena omongan orang sih ?” kataku.
“Maksutnya Mas,,,,,???”
*****
Episode ini
“Ngapain pusing mikirin omongan orang ? memang mereka mikirin nasip orang orang yang salah jalan itu, yang suka mabuk, yang suka Judi yang suka main perempuan. Apa mereka peduli ? apa mereka mengajak orang orang itu sadar kembali kejalan yang benar ? enggak kan, kenapa kamu yang mengajak mereka kembali ke jalan yang benar malah mau diatur oleh orang yang berbuat apapun juga ?” jawabku pada Sena.
“Iya juga sih, tapi masalahnya mereka beralasan sholat dalam kondisi mabuk dibiarin saja gak dilarang, ikut mujahadah juga ada yang habis mabuk diperbolehkan. Itu yang membuat mereka menuduhku Sesat.” Kata Sena.
“Iya memang, kalo secara Fiqh orang mabuk itu gak boleh deket deket sholat. Tapi harus diingat, hokum (Fiqh ) itu dibuat untuk orang yang mukmin yang sudah cukup iman nya. Sedangkan orang orang itu kan masih dalam proses. Ada dua pilihan, orang itu dilarang sholat sehingga selamanya tidak mau sholat, atau dibiarin sholat dengan harapan dia sadar dan berhenti, mabuk, main perempuan dan maksiat yang lain. Kalo kamu pilih mana ?” tanyaku pada Sena.
“Ya pilih mereka mau sholat biar suatu saat sadar dan berhenti maksiat. Hanya kadang ngeri juga kalo jadi gunjingan orang dibilang sesat membiarkan orang mabuk ikut sholat.” Jawab Sena.
“Sesat itu kalo kamu menyuruh mereka mabuk sebelum sholat, memang orang mabuk yang meleksanakan Sholat itu salah. Tapi lebih salah udah mabuk, maksiat yang lain gak mau sholat, kapan sadarnya ?” kataku pada Sena.
“Tapi aku masih bingung jelasinya mas !” jawab Sena.
Aku menghela nafas sebentar, sambil mencoba gambaran yang tepat bagi Sena.
“Yang jelas mabuk dan maksiat lain itu semuanya dosa, aku yakin mereka yang melakukan pun tahu. Karena itu termasuk perbuatan munkar ( perbuatan Dosa yang pelakunya juga tahu itu dosa ) bukan perbuatan Fahsya ( perbuatan Dosa yang tidak disadari itu sebagai Dosa ) jadi dia mau ikut sholat mau ikut mujahadah itu menunjukan dihatinya masih ada iman. Jadi selamatkanlah iman mereka, jangan malah divonis kamu ahli neraka tukang maksiat dan sebagainya.” Jawabku.
“Itulah sulitnya mas, jujur saja tadi juga saya lihat yang ikut mujahadah disini juga ada yang masih bau alcohol, jadi saya berani menanyakan soal ini.” kata Sena.
“Itu juga dala proses sama saja, dulu utuk mengurangi kegiatan mereka mabuk dan lainya malah kuajak main music atau lainya. Dengan tujuan mengurangi waktu kegiatan mereka bermaksiat, dengan mengisi kegiatan yang mubah atau bahakn bisa dibilang gak ada manfaatnya bagi orang yang gak suka atau anti music. Tapi aku gak peduli, yang penting dari pada mereka pada mabuk kuajak saja mereka mengisi waktu dengan kegiatan yang lain.
Awalnya sambil nongkrong juga masih pada mabuk, tapi lama lama malu sendiri. Minimal didepanku mereka gak berani minum.” Kataku.
“Ada gak yang bisa di jadikan Hujah agar kita tidak dituduh sesat. Bagaimanapun hujjah ( Argument ) itu penting agar mereka juga tahu mas !” kata Sena.
“Lah kan dalam Quran saja sudah jelas, bahwa ayat yang membahas pertama tentang KHomer ( minuma keras / Memabukan ) tidak langsung dihukumi haram. Batu kemudian dikatakan kalau khomer itu najis, jangan dekat dekat sholat kalo baru mabuk. Setelah itu baru tegas dinyatakan bahwa Khomer itu Haram hukumnya. Dari situ kan kita diberi pelajaran bahwa semua itu butuh proses adaptasi gak bisa sim salabim jangsung jadi.” Kataku pada Sena.
“Bagi kita tahu mas, permasalahanya bagi orang yang gak faham itu susahnya.” Kata Sena.
“Memang apa yang kita lakukan itu bukan tindakan yang popular, bahkan rawan kontroversi. Namun apalah pentingnya ucapan orang yang gak faham dengan tujuan kita. Kapan atau siapa yang akan menyuarakan kebenaran kepada orang orang yang salah jalan itu. jika semua memusuhi mereka, dan satu hal lagi jika kita merasa lebih baik dari orang lain itu adalah sebuah ketakaburan ( Kesombongan ) yang nyata. Seperti hal nya Iblis yang gak mau sujud kepada Nabi Adam karena merasa lebih baik dari Nabi Adam ( Kesombongan ). Jadi menurutku lanjutkan apa yang telah kita mulai, buktinya dari beberapa yang dulu suka mabuk saat ini sudah ada yang berhentikarena kesadaran bukan paksaan.” Jawabku ke Sena.
“Iya sih mas, yang di tempatku juga begitu sudah ada beberapa yang meninggalkan maksiat atas kesadaranya sendiri. Bahkan aku juga gak nyuruh berhenti, hanya mengatakan bahwa maksita itu menutup hati, menjadi penghalang Nur ( cahaya ) Ilahi masuk.” Kata Sena.
“Yaudah kalo begitu tetap lanjutkan, biarin yang suka mau bersuara apa saja gak usah di gubris.” Jawabku.
 “Lah kok malah jadi aku yang curhat, kan mas Yasin yang baru dalam masalah besar ?” kata Sena.
“Iya gak papa, namanya juga sharing gak Cuma aku yang cerita kamu juga boleh cerita.” Kataku.
“Gak mas, saya rasa dah cukup cerita saya. Sekarang gentian mas Yasin yang cerita masalah apa yang terjadi.” Kata Sena.
“Kalo cerita masalahku panjang banget sampai siang nanti juga gak akan selesai kalo diceritakan detail Sena.” Jawabku ke Sena.
“Garis besarnya saja lah mas, kan biar aku juga bisa bantu mikir. Mas bantu Sena nanti Sena juga bantu mas.” Jawab Sena.
__ADS_1
“Jadi intinya saat ini aku akan menghadapi ilmu Panggiring Sukma, yang dilancarkan oleh sekelompok orang di bawah pimpinan maheso Suro. Mereka adalah orang orang bayaran yang diperintah untuk memaksaku sabagi pelaku pembunuhan. Begitu inti masalah yang aku hadapi, dan saat ini sudah ada beberapa korban luka da satu meninggal.” Jawabku.
“Selama ini sudah ada serangan dari pihak mereka mas ?” Tanya lanjut Sena.
“Ya sudah beberapa kali, serangan fisik dan secara supra natural juga.” Jawabku.
“Dengan apa Sena harus bantu mas, kalo musuh saja gak jelas keberadaanya dan gak tahu kapan mereka akan menyerang kita ?” kata Sena.
“Aku sendiri bingung menghadapi serangan gerilya mereka. Tapi yang jelas aku harus siap setiap saat.” Jawabku. Â
“Wah pusing juga mas, kalo begitu, tapi Sena siap dipanggil sewaktu waktu mas jika diperlukan.” Kata Sena. Aku sendiri bingung belum tahu kemampuan Sena di bidang apa, kemudian aku melirik jam. Kulihat belum ada setengah empat pagi, masih jam tiga lebih sedikit.
“Ayo kita keluar rumah sebentar, biar aku lebih mudah menjelaskan. Namun kamu harus memakai kewaspadaan penuh agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan.” Kataku.
“Maksutnya gimana mas ?” Tanya Sena.
“Gunakan apa yang kamu punya untuk menjaga kewaspadaan dan keamanan. Kamu pasti tahu maksutku.” Kataku pada Sena.
“Owh iya mas, Sena Siap sekarang.” Kata Sena.
kemudian aku ajak sena berkeliling rumah mengamati keadaan sekeliling rumahku. Aku tak berkomentar apapun menunggu komentar Sena saja, apakah dia merasakan atau melihat kehadiran makhluk makhluk astral disekeliling rumahku atau tidak.
“Mas…?” sapa Sena.
“Ya ada apa ?” tanyaku pada Sena.
“Apa mas tidak merasakan adanya sekumpulaan makhluk suruhan ?” Tanya Sena.
“Justru aku pingin tahu apa saja yang dapat kamu rasakan disekitar sini dan bagaomana menurutmu ?” kataku.
“Jumlahnya mas, banyak banget masih untung mereka gak bisa masuk lebih dekat lagi.” Jawab Sena.
“Ya, saat ini mereka hanya sebagai pengintai. Jika kita lengh merekalah yang akan melaporkan ke pemeliharanya. Kemudian baru ereka melakukan serangan batin ke kita.” Jawabku pada Sena.
Harus segera diusir mas, klo tidak bisa berbahaya karena mereka memancarkan Aura yang panas yang bisa mempengaruhi emosi anggota rumah ini.” jawab Sena.
“Owh jadi mbakyu Khotimah kemrin sempat terkena yam as ?” Tanya Sena.
“Begitulah, menjelang maghrib saat masa transisi perpindhan kehidupan alam manusia dan alam jin.” Sahutku.
“Wektu Candik ala ya mas ?” kta Sena.
“Betul, saat itu memang baru rawan rawanya waktu menjelang maghrib.” Ucap Sena.
“Makanya sekarang tiap Maghrib aku selalu mengadakan seaman quraan buat melindungi anggota keluarga di rumah.” Jawabku.
“Tidak mas, jangan habis maghrib, tapi harus mulai dari habis Asar mending maghrib udah selesai saja.” Kata Sena.
“Owh begitu ? dengan alasan waktu candik olo tadi ?” tanyaku.
“Iya mas, selain itu waktu setelah sholat Ashar ibadah terbaik yang bisa dilakukan adalah baca Alquran. Karena tidak ada sholat sunah yang tanpa sebab. Begitu juga sehabis subuh, langsung seaman Al-Quran lagi. Biar saat mereka keluar dan saat kembali ke sarang rumah ini selalu terlindungi kalinnmah kalimah Suci Al- Quran.” Kata Seno.
Tiba tiba ku terngiang tembag yang dilantunkan kakek Sidiq Ali pada penggalan tertentu
...Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito...
... ...
...Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno...
...Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno...
... ...
...Tyasing roso mardiko...
... ...
...Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo...
__ADS_1
... ...
...Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo...
... ...
...Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono...
... ...
...Byar manjing sigro-sigro...
...Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh...
...Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah...
...Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko...
...Kataman wahyu … Kolosebo...
...Memuji ingsun kanthi suwito linuhung...
...Segoro gando arum, suhrep dupo kumelun...
...Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur...
...Titahing Sang Hyang Agung...
...Rembesing tresno, tondho luhing netro roso...
...Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci...
...Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang...
...Palilahing Sang Hyang Wenang...
... ...
Dri bait ini, intinya adalah ayat A’udzu bikaliamttillahittammah min Syari ma Kholaq ( Aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna dari  godaan semua Makhluk.)
Yaa Allah kenapa aku baru ingat sekarang, aku harus banyak membaca doa tersebut untuk memperkuat membentengi rumah dari semua gangguan makhluk, baik yang Nampak maupun yang tidak namapak, aku segera mendekati Sena.
“Sen… Sena… Sena….?” Panggilku ke Sena yang tiba tiba menghilang dalam sekejap.
“Kemana Sena tadi, barusan aja disampingku…!” kataku dlam hati.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1