Isyaroh

Isyaroh
Nglumpokke balung pisah (mengumpulkan saudara yg terpisah)


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode Lalu


“Owh gitu, itu putranya habis rewel ya ?” Tanya Farhan.


“Iya semalam lama banget nangisnya, sekarang masih rewel lagi padahal semalam sempat tenang.” Ucap Fatimah.


“Itu kena sawan orang meninggal mbakyu kayaknya coba Farhan gendong dulu sini.” Ucap Farhan.


Kemudian Fatimah menyerahkan Jafar kepada Farhan.


Aneh begitu di pegang Farhan Jafar malah tersenyum gak rewel lagi.


“Anak ini kuat kok, gak papa sudah ditempa keadaan dari semenjak dalam kandungan. Hanya saja bapaknya semalam habis nginjak injak tanah makam gak cuci kaki dan tangan dulu pasti ?” ucap Sena.


“Nginjak Tanah kuburan ?” tanyaku heran….???


*****


Episode ini


“Iya, semalam mas Yasin habis dari mana ? seperti ada sawab ( semacam radiasi kalo ilmiahnya ) yang timbul dari makam baru tapi tidak terawat atau tidak dikebumikan dengan baik.” Ucap Farhan.


“Astaghfirrullahal ‘adzim, apakah benar semalam itu adalah….???” Kataku tertahan takut membuat Fatimah takut.


“Adalah apa mas “ Tanya Farhan.


“Panjang ceritanya, sebaiknya nanti saja kita bicarakan. Kamu baru datang masak mau aku suguhin cerita aja. Ini kok gak ada yang bikini minum ?” kataku mengalihkan pembicaraan.


“Owh iya maaf dik Farhan, mbak sampai lupa. Sebentar mbak buatin minum.” Kata Fatimah sambil bangkit menuju ke dapur.


“Ada apa mas sebenarnya ?” Tanya Farhan.


“Ini ada hubungannya dengan ibu mengundangmu kesini. Jujur aku butuh bantuan kamu demi menjaga keselamatan dan keutuhan keluarga besar kita. Sekaligus juga memberantas kesesatan.” Kataku membuka pembicaraan.


“Sebenarnya sejak pertemuan kita di Mushola dulu, Farhan sudah merasakan jika mas Yasin ini sedang dalam kesulitan, namun Farhan gak berani mendahului.” Jawab farhan.


“Kenapa kok gak berani ngomong waktu itu ?” tanyaku ke Farhan.


“Karena secara Nasab lebih tua mas Yasin, dan secara Sanad keilmuwan juga Sanad ilmunya tua mas Yasin. Mas Yasin murid langsung Abah Guru sedangkan Farhan Murid dari adik kelasnya Abah gurunya Mas Yasin.” Ucap Farhan.


“Kok kamu tahu itu ?” tanyaku.


“Saat Farhan denger jika Mbakyu Fatim dinikahkan dengan teman satu pesantrenya maka saat itu Farhan tahu jika suami mbakyu berarti murid dari kakak angkatan Guru ngaji Farhan. Meski belum tahu dan belum kenal wajahnya.” Jawab Farhan.


“Kamu jangan berlebihan begitu, jangan berekspektasi terlalu tinggi. Mungkin aku gak pantas disebut Murid Abah Guru. Yang lebih tepat adalah aku ini pasien yang diobati Abah Guru, biar sembuh. Kalo soal ngajinya aku malah yuniornya istriku Fatimah.” Jawabku jujur ke Farhan.


“Masak sih mas, biasanya kan santri senior dinikahkan dengan santriwati yunior karena biar santri bisa jadi imam yang baik bagi yuniornya yang jadi istrinya.” Jawab Farhan.


“Tapi kenyataanya memang begitu Farhan. Tanya saja sama Sena atau sama Fatimah langsung nanti.” Jawabku.


“Udah gak usah Farhan juga tahu Abah guru Thoha, dan beberapa kali diajak sowan kesana oleh abah Guru Armin guru ngaji Farhan di kawasan banten sana. Farhan Yakin ada maksut tersendiri mas Yasin dinikahkan dengan mbakyu Fatimah.” Ucap Farhan.


“Sena juga awalnya heran mas Farhan, tapi selanjutnya jadi Faham. Memang benar yang dikatakan mas Yasin jika mas Yasin itu yuniornya mbakyu Fatim di pondok pesantren. Tapi ada maksut khusus kenapa mas Yasin dinikahkan dengan mbakyu Fatim. Itu ada kaitanya dengan Yuyut.’ Sahut Sena.


“Owh berarti mas Yasin ini keturunan dari salah satu dari kakek Sidiq Ali atau kakek Jafar Sanjaya ?” Tanya Sena.


Obrolan terhenti karena Kgotimah datang membawa minuman dan diikuti Fatimah dari belakang sambil menggendong Jafar yang tadi sudah diambil dari Farhan setelah gak rewel.


“Diminum dulu mas Farhan, udah kenal sama mas Yasin juga kah ?” Tanya Khotimah.


“Iya dik, pernah bertemu saat jamaah sholat di mushola dulu. Hanya saja mas Yasin gak mau mampir ke gubuk Farhan.” Ucap Farhan menyindir aku.


“Eeh bukan begitu Farhan, maaf waktu itu aku juga gak paham hubungan kekerabatan kalian. Jadi kuanggap waktu itu kamu hanya beramah tamah mengakui aku sebagai saudara agar gak canggung, maaf banget deh, jadi gak enak nih tar dikira mau mengakui saudara saat butuh saja.” Gurauku.


“Wah ya gak gitu juga mas, bukan begitu maksut Farhan. Missal mas Yasin gak jadi suami mbakyu Fatimah pun Farhan tetep mau ngebantuin sebagai ikatan Sanad  ( Garis atau jalur keilmuwan ) ilmu yang nyambung dari guru kita.” Ucap Farhan agak menyesali sindiranya tadi.


“Iya aku juga hanya bercanda kok, gak usah diambil hati.” Kataku sambil tertawa.


“Jangan kaget mas Farhan, mas Yasin memang begitu sama istriku baru pertama kali jumpa saja juga sudah bercanda. Tapi itu memang style nya mas Yasin begitu. Jadi Sena juga gak masalah. Justru malah bisa langsung akrab gak canggung.” Ucap Sena.


“Owh begitu ya mas Yasin ?” Tanya Farhan.


“Iya lah, kita hidup ngapain dibikin susah, hadapi semua dengan senang hati saja. Tapi mungkin memang caraku menunjukkan keakraban dengan teman dan saudara memang berbeda dengan lainya. Tapi itu sudah menjadi cirikhasku.” Jelasku pada Farhan.


“Iya mas iya, gak masalah kok. Terus pertanyaanku tadi belum di jawab, apakah  berarti mas Yasin ini keturunan dari kakek Jafar Sanjaya atau Kakek Sidiq Ali ?” Tanya Farhan lagi.


Aku diam sejenak bingung mau menjelaskan kepada Farhan juga kaget dia menyebut dua kakekku itu. “dari mana dia tahu ?” pikirku.

__ADS_1


“Awalnya Fatimah juga gak tahu dik Farhan, baru tahu setelah menikah jika Yuyut ada masa lalu dengan dua kakek itu. dan ternyata suamiku ini keturunan dari kedua kakek itu. ibunya keturunan kakek Jafar Sanjaya dan bapaknya keturunan kakek Sidiq Ali. Makanya anakku diberi nama ‘Jafar Sidi Amin’ oleh suamiku, amanah dari Abah Guru dan kakek jafar lewat mimpi.” Jawab Fatimah yang ternyata mendengar pertanyaan Farhan tadi.


“Maasyaa Allah,,, ternyata begitu rupanya. Maaf ya mas atas ketidak tahuan Farhan.” Ucap Farhan yang membuat aku malah jadi bingung.


“Maaf,,,,? Maaf untuk apa Farhan ?” tanyaku pada Farhan.


Farhan malah jadi terkejut ketika aku Tanya demikian.


“Iya maaf, Farhan pernah diceritain Yuyut tentang kedua kakek ma situ. Dan dimintai bantuan untuk mencari keturunannya dengan memberikan cirri cirri bathiniyahnya. Namun jujur saat ini mas belum menunjukkan cirri ciri itu.” ucap Farhan lagi lagi membuat aku bingung.


“Maksutnya cirri cirri seperti apa ?” tanyaku lanjut pada Farhan.


“Sulit digambarkan mas, tapi bisa mas rasakan sendiri nanti. Asal mas mau ziaroh sampai ke tujuh tingkat leluhur kamu mas.” Jawab Farhan yang kali ini bukan sekedar membuatku kaget. Akan tetapi sampai aku hampir saja teriak….!!!


Bahkan sena pun ikut mengernyitkan jidatnya mendengar keterangan Farhan tersebut.


“Subhanallah…. Ini luar biasa mas Farhan, karena hal itu juga yang kami terima dengan ISYAROH lewat mimpi kami berdua beberapa waktu kemarin.” Ucap Sena.


Kali ini justru Farhan yang terkejut mendengar penjelasan Sena.


“Yaa Allah,,, kenapa Farhan jadi melupakan satu hal yang selama ini justru Farhan tunggu moment moment seperti ini,,,!?!” ucap Farhan.


“Moment apa itu ?” tanyaku dengan Farhan bersamaan saking kagetnya.


“Moment dimana aku akan bertemu dengan dua saudaraku yang lain dan saat inilah aku juga bisa melaksanakan perintah guru ngaji Farhan untuk menyatukan persaudaraan yang sudah puluhan tahun terpisah. Dan memang perintahnya kita bertiga harus mengirim doa kepada leluhur kita sampai tujuh tingkat ke atas secara berjamaah. Dan kita masing masing mencari garis nasab kita yang katanya akan bertemu pada satu titik di garis leluhur kita di tingkat 7. Artinya kita bertiga ini akan bertemu di satu titik kakek tujuh tingkat diatas kita. Kakek tujuh tingkat di atas kita bertiga adalah orang yang sama.” Penjelasan Farhan panjang lebar namun aku dan Sena dapat memahaminya.


“Subhanallah walhamdulillah wa laaa ilaha illallah Allahu Akbar….!!!” Semua bertasbih mengakui kesucian Allah tidak hanya kami bertiga, tapi semua yang mendengar penjelasan Farhan waktu itu.


Bahkan saking harunya kami bertiga yang laki laki pun menangis haru dan bahagia.


“Ini adalah waskitonya guru guru kita Farhan, dengan wasilah beliau kita yang satu kelurga besar ini akhirnya bisa terkumpul mudah mudahan ini menjadi pertanda baik bagi kita semuanya.” Ucapku penuh haru pada semuanya.


Smuapun semakin larut dalam keharuan sehingga kami tidak menyadari kehadiran ibu mertuaku.


“Kalian sedang membicarakan apa, ada tamu kok gak dikasih jamuan makan siang Cuma dianggurin saja ?” ucap ibu mertuaku.


Kami pun baru sadar bahwa waktu sudah menunjukan waktu makan siang.


Maka kami segera pindah ke meja makan untuk makan Siang bersama seluruh keluarga dengan suka cita.


Waktu yang terus berjalan tanpa terasa jika kita sedang bahagia, sehingga sampailah pada saat untuk melaksanakan sholat maghrib. Dan kamipun segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah.


*****


Author POV


Di Padepokan Joyo Maruto sedang Beraksi


“Baik Guru Saya dan ki Soma akan segera berangkat setelah ritual memanggil Sukma Laras.” Jawab Ajar Panggiring.


Maka setelah semua Ubo Rampe ( Sarana dan Pra Sarana ) siap mulailah joyo Maruto melaksanakan Ritual mengetrapkan ilmu ‘Panggiring Sukma’ untuk memanggil Laras melalui khodam jin yang di Puja Joyo Maruto.


Proses ritual itu dilakukan dilakukan bertepatan dengan keluarga Yasin melaksanakan sholat jamaah maghrib dan dilanjutkan dengan wirid berjamaah. Saat itu pula Joyo Maruto memanggil Khodamnya untuk menguasai jasad Laras. Dan memancing Yasin agar mengejar laras, kemudian dihadang Ajar Panggiring kemudian diarahkan ke sebuah tempat untuk dikeroyok.


Begitulah strategi yang akan diterapkan Joyo Maruto, dan setelah ritual selesai berangkatlah murid murid Joyo maruto. Sedangkan Joyo Maruto masih memantau perjalanan khodam yang dia kirimkan ke Laras.


Mento Rogo dan Maheso Suro berhenti di suatu tempat yang telah disiapkan untuk menjebak Yasin. Sedangkan Ajar Panggiring dan Soma berdua berjalan menuju ke arah rumah Laras untuk memantau keadaan dan menunggu kehadiran Yasin.


Sesampai di dekat rumah Laras, Ajar Panggiring dan ki Soma mengawasi dari kejauhan. Keduanya lamat lamat sudah mendengar teriakan teriakan laras dan giduhnya keluarga Laras juga sebagian tetangga Laras.


“Laras sudah terpengaruh, tinggal menunggu kedatangan Yasin baru nanti kita beraksi.” Ucap Ajar Panggiring pada ki Soma.


“Baiklah, aku akan awasi dan hanya jika diperlukan saja aku menampakkan diri agar semua berjalan sesuai rencana.” Ucap Ki Soma.


Mereka berdua bersiap dan sama sama mengawasi keadaan di rumah Laras.


*****


*****


Dirumah Yasin


Yasin POV


Setelah melaksanakan Sholat maghrib dan Isya secara berjamaah, kami melanjutkan pembicaraan seputar rencana menghadapi jebakan Joyo maruto yang sudah aku dengar saat mengintai markas mereka kemarin malam.


“Jadi kita harus menunggu saja ini mas, tidak bisa bergerak lebih dahulu ?” Tanya Sena padaku.


“Iya, karena kita gak tahu apa yang akan mereka lakukan atau rencana apa yang akan mereka pakai untuk menjebkku.” Jawabku pada Sena.


“Kalo Feeling Sena sih kemungkinan mereka akan menyerang orang yang ada kaitanya dengan kita. Entah itu saudara kita, teman kita atau orang yang pernah kenal dan dekat dengan kita.” Kata Sena.


“Memang betul, tapi siapa orang itu kan kita yang belum tahu sehingga hanya bisa menunggu saja.” Jawabku pada Sena.


“Lalu Farhan dikasih tugas apa ini mas ? Kalo harus adu fisik Farhan masih belum siap mas, Farhan enggan main fisik dengan orang.” Kata Farhan.


“Enggak, kamu dirumah saja nanti pimpin mujahadah saja sekaligus mendoakan kami yang di lapangan agar diberi kekuatan dan dihindarkan ari mara bahaya.” Ucapku ke Farhan.


“Owh gitu baiklah, dan kayaknya mereka memang sudah beraksi mengirim khodam ke beberapa tempat mas, bahkan disekitar rumah ini.” jawab Farhan.

__ADS_1


“Biarin saja selama mereka gak sampai melewati batas yang kita sudah pagari.” Kataku.


Kemudian aku mempersiapkan sesuatu yang sekiranya dibutuhkan nanti.


Tidak lama berselang datanglah pak Yadi dengan kendaraan Dinasnya dan langsung mengajak kami untuk ke rumah laras. Karena Laras mengalami gejala seperti saat masih di rumah pak Yadi waktu itu.


Aku dan Sena yang memang sudah memepersipkan diri segera mengikuti pak Yadi dan berangkat ke rumah Laras. Setelah berpamitan dan minta doa restu ibu mertuaku juga berpamitan dengan Fatimah istriku juga. Serta tak lupa mencium pipi Jafar yang sudah tertidur hingga bangun kena kumisku. Sampai istriku marah karena aku mengganggu jafar yang sedang tidur.


“Aah mas tu bikin Jafar Bangun kan ?” gerutu Fatimah. Namun tidak aku jawab dan langsung menyusul Sena yang sudah duluan menaiki mobil dinas pak Yadi. Tapi mau hubungi gak punya nomer bapak makanya sekalian saya jemput saja.” Ucap pak Yadi.


“Iya pak gak papa, langsung berangkat saja jangan sampai seperti yang pertama dulu harus ngejar sampai ke markasnya.” Ucapku pada pak Yadi.


Kemudian kami berangkat segera kerumah Laras, karena pak Yadi sudah tahu rumahnya Laras kalo aku dan sena belum pernah sampai kerumahnya Laras.


Sesampai disana memang sedang teriak teriak dan hendak kabur dari rumahnya. Dan entah kenapa orang orang yang memegangi Laras semuanya terpental tak kuat menahan tenaga Laras yang memang bukan kehendaknya sendiri.


Aku segera membisikkan ke pak yadi, bahwa ini hanya jebakan untuk memancing aku agar mengejar Ajar Panggiring. Maka pak Yadi pun kumohon untuk masuk dalam strategi yang sudah aku buat.


Untunglah pak Yadi  tanggap dan segera menggunakan baju ganti bukan baju dinas.


Saat kami masuk Rumah laras aku dikejutkan dengan melayangnya sebuah batu kearahku. Untung aku tanggap dan kutangkap batu itu dan kulemparkan balik kepada orang yang melempari aku. Dan ternyata orang itu adalah Ajar Panggiring.


Dan anehnya Laras kemudian sadar dengan sendiri meskipun masih lemah dan kemudian tertidur.


Aku mohon kepada pak Yadi dan Sena menyusuri jalan memutar mengamati kemana arah larinya Ajar Panggiring. Biar aku yang pura pura sendirian mengejar mereka. Dan pak Yadi harus lebih cepat menemukan kira kira lokasi mana yang akan dijadikan jebakan bagiku. Serta mencegah Ajar panggiring sampai ke tempat itu.


Aku kemudian mengejar Ajar panggiring yang berlari sambil melancarkan pukulan pukulan jarak jauhnya. Sementara aku hanya menghindari tidak menerang balik kepadanya. Aku hemat energiku sampai nanti saat kami dapat membuat Ajar panggiring yang terjebak. Bukan terjebak oleh Ajar Panggiring, batinku dalam hati.


Ajar panggiring semakin dekat jaraknya denganku, bahkan di depan Ajar Panggiring juga sudah berdiri Sena dan Pak Yadi. Sehingga Ajar Panggiring kaget dan menghentikan langkahnya. Seketika itu juga aku langsung menyerang Ajar Panggiring dengan pukulan tangan kananku kearah pelipisnya dengan cepat. Agar segera dapat meringkusnya.


Buuuukkkggh…


Pukulanku mengenai Ajr Panggiring dan dia terpental beberapa meter namu dengan enteng dia bangkit lagi sambil tertawa.


“Pukulan kamu hanya seperti kapas yang lembut tak bisa aku rasakan.” Ucap Ajar Panggiring dengan sombongnya.


“Baiklah,,, dari pada harus menunggu lain waktu lebih baik kita selesaikan urusan kita mala mini juga sampai tuntas.” Kataku pada Ajar Panggiring.


“Siapa Takut, aku tidak akan mundur sejengklpun darimusekarang ini.” ucap Ajar panggiring.


Seketika itu juga aku berbagi pukulan dan tendangan dengan Ajar Panggiring. Secara kuantitas pukulan aku lebih banyak mengenai Ajar Panggiring dari paa pukulan Ajar panggiring yang mengenai akau.


Namun setiap kali pukulanku mengenai Ajar panggiring sepertinya aku sedang menghantam roda luar sebuah kendaraan besar sehingga kesanya hanya memantul dan Ajar Panggiring tidak merasakan dampak apapun. Bahkan tidak goyah sedikitpun, tidsk seperti saat pertama kali aku pukul tadi sempat terpental beberapa meter.


Ada apa ini, kenapa badan Ajar Panggiring menjadi liat dan lentur seperti karet Ban. Kenapa setiap aku memukul atau menendangnya tangan atau kakiku seperti mental ?


Aku mencoba mengingat apa yang terjadi pada joyo maruto saat aku mengintainya itu. aku ingat dia menyebutkan ilmu ajianya babi, jadi itu yang dia pakai sekarang. Aku harus mencari air untuk menawarkan ilmu Najis tersebut, batinku. Sambil melawan Ajar Panggiring yang semakin kesetanan gerakanya. Sudah tidak lagi menggunakan jurus jurus menangkis atau menghindar tapi sudah memasang badan sehingga semua pukulan dan tendanganku dia terima seakan tak ada efek apapun. Dia terus bergerak maju sehingga beberapa kali justru aku yang ahrus melompat kesamping agar terlepas dari sundulan kepalanya. Yang waktu itu sempat kulihat sangat berbahaya.


Ajar panggiring bertarung sudah benar benar seperti  Babi terus bergerak maju gak pernah bergerak ke samping apa lagi mundur.


Dalam kekalutanku aku terdesak dan hampir saja jatuh masuk ke parit. Aku segera melompat kesamping menghindari serudukan babi Ajar panggiring. Namun gerakannya begitu cepat dan tak member aku kesempatan untuk mengambil nafas yang agak panjang.


Aku yang belum bangun sempurna karena harus melompat dan bergulingan di tanah menghindari serudukanya. Langsung dikejar dan kembali diseruduknya Aku gak mungkin bisa menghindari serudukanya kali ini, harus aku lawan dengan doa pertahanan dan jurus pertahananku, batinku.


Dan benturan keras terjadi membuat aku dan Ajar panggiring sama sama terpental.


Namun Aku justru terjatuh ke dalam Parit hingga bajuku basah kuyub. Belum juga berdiri tegak saat naik dari parit Ajar panggiring sudah menyerangku lagi dengan serudukan kepalanya.


“Gila ini sudah bukan manusia, tapi bener bener sudah menjadi babi hutan.” pikirku.


Aku melompat kesamping kanan saat Ajar panggiring menyeruduk ku. Kemudian Ajar panggiring mengejarku dan menyerangku lagi yang sedang berusaha melepas bajuku yang basah kuyup tercebur ke parit.


Saat ajar Panggiring semakin dekat, aku nekat memukul kepala ajar panggiring menggunakan baju basahku dengan kualiri inner power yang cukup kuat.


Dan tak kusangka pukulan itu membuat Ajar panggiring menjadi berteriak kesakitan. Rupanya Ilmu najis itu kelemahanya dengan air mutlak ( suci dan mensucikan ) Ajar Panggiring tergeletak dan kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Masih hidup gak orang ini, batinku. Saat aku berusaha mendekat untuk memastikan, tiba tiba terdengar suara letupan senjata api.


Doorrr…..!!!


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2