
Aku berusaha keras untuk menghapus kenangan kenangan masa laluku yang muncul tiba tiba. Akan tetapi betapa sulitnya aku menghapus kenangan itu dari pikiranku. Sampai dengan aku mengingat wajah Fatimah istriku yang saat ini sedang mengandung anakku itupun tak mampu menghilangkan kenangan yang muncul dalam otakku. Ada apa aku ini, kenapa tiba tiba teringat dengan masa lalu saat bersama Arum. Bahkan ada rasa seperti ingin mengulang masa lalu itu, apakah iya aku akan menghianati istriku, kataku dalam hati.
Tidaaaak…. Bukankah sebentar lagi Arum juga akan dipinang dan akan menikah dengan Rofiq, aku gak boleh terbawa suasana seperti ini, kataku dalam hati.
Namun kenapa justru aku malah merasakan seperti ada rasa cemburu takut kehilangan Arum, tidak rela Arum dinikahi orang lain. Ada apa ini….????
Aku pejamkan mataku rapat rapat berusaha keras melupakan masa laluku bersama Arum. Saat begini aku merasakan lemahnya hati manusia. Aku focus dengan semua yang pernah aku pelajari saat dipesantren dulu. Dan aku ingat betul apa itu “Hati” yang dalam bahasa Arab Qolbun yang arti bahasanya adalah \= yang terbolak balik, jadi beginikah hati manusia yang sangat mudah terbolak balik oleh keadaan ?
Karena rasa lellah akhirnya aku dapat terlelap namun kembali aku diganggu mimipi dalam tidurku. Seakan aku kembali melihat peristiwa peristiwa masa lalu sebelum aku dibawa kang Salim dan diajak tinggal di pesantren.
Dari saat sku melakukan judi di posko kami dulu, kemudian pesta minuman dan semua kejahatan yang aku perbuat yang mungkin tidak pantas untuk diutarakan. Sampai kemudian aku melihat masa laluku ketika bertemu dengan Arum saat hujan deras, kemudian aku tidak tega melihat dia digoda para preman di terminal hingga aku tawarkan untuk kuantar pulang agar lepas dari gangguan para lelaki itu.
Berawal dari niat yang baik disambut dengan baik juga oleh Arum akhirnya kami saling berkenalan dan kemudian menjalin hubungan sebagai kekasih. Meski waktu itu aku dilarang untuk berkunjung kerumahnya. Karena Arum sangat dilarang untuk berpacaran selama masih sekolah.
Kembali terngiang kata kata Arum waktu itu “mas gak usah datang kerumahku, Arum tidak boleh kedatangan cowok. Karena bisa dimarahin kakaku. Teman sekampungku saja kalo gak ada kakaku gak boleh kerumah Arum. Atau kalo ada yang berkunjung Arum gak boleh ikut nemui tamu cowok, kecuali teman sekolah dan urusan belajar.” Begitu kata Arum waktu itu.
Dalam mimpiku Arum kembali mengucapkan kalimat itu, ini mimpi tapi kenapa aku seperti melihat diriku sendiri dimasa lalu. Seperti dibukakan atau diputarkan perjalanan hidupku di masa lalu. Apa yang sebenarnya terjadi ?
Hingga sampai pada saat aku dan Arum pergi ke sebuah tempat wisata dan hujan turun lebat sampai Arum ketakutan minta pulang namun justru berakhir kami masuk sebuah penginapan. Meski awalnya hanya berniat untuk berteduh karena hujan lebat dan cuaca sangat dingin. Namun karena aku yang sudah terpengaruh alcohol dan Arum pun waktu itu kupaksa minum biar gak kedinginan. Dibawah pengaruh alcohol itulah akhirnya kami melakukan sesuatu yang seharusnya tidk boleh terjadi, sehingga menjadi sebuah awal dari perbuatan dosa yang akhirnya berkelanjutan dan menyebabkan Arum Hamil mengandung anakku yang kemudian lahir dan diberi nama Sidiq Sekartadji oleh Arum.
Aku terbangun saat mendengar kumandang adzan asar, aku segera bangkit keluar dari kamar itu. Entah mengapa rasanya kau gak mau lagi masuk ke kamar itu, bahkan seperti ketakutan ketika harus masuk ke kamar itu. Jauh lebih menakutkan disbanding digoda dengan penampakan penampakan makhluk Astral jenis apapun, bisiku dalam hati.
“Eh sudah bangun, mau mandi dulu ?” Tanya Candra yang juga sudah bangun bahkan sudah mandi.
“Iya mas, rasanya lemes kalo belum mandi.” Kataku.
Kemudian Candra mengambilkan sebuah handuk dan menunjukkan kamar mandinya. Setelah selesai mandi dan ambil air wudhu aku segera melaksanakan solat Asar. Selesai solat Asar aku sudah ditunggui Candra dan bapaknya, yang akan membicarakan pesan terakhir pak Sastro.
“Duduk sini nak, aku dan Candra mau bicara bertiga saja.” Ucap bapaknya Candra. Kata katanya datar tapi terdengar mengerikan bagiku, karena penuh tanda Tanya apa yang akan mereka bicarakan.
“Njih pak.” Jawabku singkat.
Kemudian Candra dan bapaknya saling pandang, seakan member isyarat siapa yang akan memulai bicara.
“Begini, aku tahunya nama kamu dulu Ahmad Sidiq jadi aku panggil kamu Ahmad saja, karena Sidiq sudah menjadi panggilan anak kamu.” Kata Candra. Aku makin berdebar menunggu kemana arah pembicaraan mereka nanti. Rasanya seperti tertuduh yang sedang menunggu hakim memberi vonis saja gemetar dan berdebar debar pikirku.
“Iya mas, terserah mas Candra saja mau panggil aku apa saja boleh.” Jawabku.
“Apa benar kamu dan istrimu mau mengadopsi Sidiq ?” Tanya Candra kemudian. Malah membuatku semakin bingung saja. Kan memang Sidiq itu anak biologisku, pikirku.
“Maaf mas, mungkin lebih tepatnya saya mengakui kalo Sidiq itu anak biologisku dan istriku mau menerima keberadaan Sidiq dirumahku dan mau menganggap Sidiq itu sebagai anaknya juga. Jadi adopsi itu hanya istilah saja, kalo adopsi kesanya seperti saya tidak mau mengakui kalo Sidiq itu anak kandungku.” Jawabku menjelaskan dengan panjang lebar.
“Iya apapun itu namanya, maksutku kamu dan istrimu mau merawat Sidiq ?” Tegas Candra.
“Iya dan itu sudah kami bicarakan dengan Arum juga, dan Arum kapanpun boleh menjenguk Sidiq bahkan mengajak Sidiq asal member tahu kami.” Kataku.
“Bukan itu maksut kami sebenarnya,kalo itu aku percaya sama kalian. Tapi maksutku bisa tidak Sidiq tinggal bersama kami agar kami juga bisa mendidik dan menebus kesalahan kami. Namun status anak tersebut tetap menjadi anak kamu dan Arum.” Kata Candra yang berubah menjadi sedih wajahnya.
Apakah ini sebuah penyesalan atau apa aku gak tahu pasti, namun secara manusiawi aku pun menjadi iba padanya.
“Maaf mas Candra, diakui atupun tidak Sidiq adalah anak biologisku dengan Arum adik kandung mas Candra.yang berarti dia juga keponakan mas Candra dan cucu dari bapak juga. Akan tetapi secara hokum belum diakui. Makanya aku dan istriku mau mengadopsi Sidiq dengan tujuan agar Sidiq nanti mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Soal tinggal ditempatku itu dulu Arum pernaah menitipkan Sidiq agar diajarkan pendidikan Agama. Makanya saya ajak tinggal dirumahku bersama istriku mas.” Kataku.
“Tapi aku mbahne masak iya pingin lihat cucunya saja susah.” Kata bapaknya Candra.
“Gak pak, bapak bebas jenguk Sidiq atau jika perlu Sidiq yang kami bawa kesini pak.” Jawabku.
“Apa gak bisa Sidiq tinggal disini saja, atau tinggal bersama ibunya ( Arum ) nanti dirumah warisan adikku Sastro. Kan sudah diserahkan buat Arum ?” Tanya bapaknya Candra.
Aku jadi terdiam dan merenung sejenak, seandainya Sidiq tinggal sama Arum dan Arum sudah menikah dengan Rofiq mungkin Rofiq bisa mendidik soal agama pada Sidiq. Karena bagaimanapun Rofiq itu juga pernah ngaji di pesantren, meski kemarin pernah salah jalan.
__ADS_1
“Nanti bisalah pak diatur, kebetulan Rofiq yang akan meminang Arum juga pernah ngaji di pesantren. Dan Sidiq boleh ikut siapa saja dan boleh tinggal dimana saja. Mau disini dirumahku atau ikut Arum juga gak masalah.” Jawabku pada Bapaknya Candra sekaligus mbahnya Sidiq.
“Maksut bapak itu pingin momong Sidiq cucunya, jadi bapak pingin tiap hari melihat Sidiq maklumlah bapak sudah pingin menimang cucu juga.” Kata Candra.
“Ya mas Candra aja segera menikah biar bisa member cucu ke bapak. Masalahnya Sidiq itu kan punya bapak punya ibu tapi gak mungkin tinggal serumah. Jadi ikut dirumahku juga sama bapaknya, ikut Arum juga sama ibuknya disini juga sama pak de dan mbahnya.” Jawabku.
“Iya aku tahu, nah to the point saja sekarang. Ini ada kaitanya dengan pesan lek ku Sastro. Mungkin tidak kamu menikahi Adikku Arum agar kalian bisa hidup satu Rumah ?” kata Candra.
Akhirnya yang aku khawatirkan benar benar terjadi, inti pembicaraanya sampai kesitu juga. Sesuatu yang gak mungkin aku penuhi, sangatlah berat bagiku memenuhi permintaan itu.
“Maaf mas, saat ini tidak mungkin aku menikahi Arum karena aku sudah beristri. Dulu aku sudah menyakiti hati Arum dan sekarang aku tidak ingin ada lagi yang tersakiti. Kalo aku menikahi Arum sekarang maka istriku akan tersakiti hatinya mas. Mohon maaf aku tidak bisa, karena aku tidak ingin lagi menyakiti hati wanita.” Jawabku kepada Candra dan bapaknya.
Candra dan bapaknya hanya terdiam, mereka berpikir tentang apa yang aku ucapkan.
“Maksutku bukan menyuruh kamu dan istrimu bercerai, tapi kami ingin Sidiq punya orang tua yang utuh secara sah.” Kata Candra.
“Iya mas, Sidiq tetap punya orang tua yang utuh karena istriku sudah menganggap Sidiq sebagai anak kandungnya dan Sidiqpun memanggil istriku dengan sebutan bunda. Jadi Sidiq tetap mempunyai orang tua yang komplit bahkan saat ini juga Sidiq diakui sebagi anak juga oleh pasangan suami istri yang masih temen dari istriku dan temenku di pesantren juga.” Jawabku.
“Maaf ya nak, kalo orang yang mau meminang Arum itu kan usianya beda agak jauh dengan Arum kayaknya. Yang bapak mau Tanya apa Arum bersedia atau terpaksa ?” Tanya bapaknya candra.
“Iya pak, jarak usia Arum dengan Rofiq memang sekitar 10 tahun kurang lebihnya. Tapi keduanya sudah saling suka, saya pernah menanyai keduanya. Dan Arum pun bilang kalo siap menjadi istri Rofiq dan keduanya sudah saling mengetahui kelebihan dan kekurangan masing masing. Jadi menurut saya tidak ada masalah dan tidak ada paksaan.” Jawabku pada Bapaknya Candra dan Arum.
“Jujur saja, bapak sama Candra kemarin sebenarnya berharap kamu mau menikahi Arum. Memang sulit tentunya, tapi aku percaya kamu orang baik jadi saat ini kami menyesal dulu memperlakukan kamu dengan kasar. Jadi kami pikir meski Arum jai istri keduamu pun tidak apa apa nak.” Kata bapaknya Candra sambil menitikan Air mata.
Akupun seperti di pukul pukul hatiku mendengar perkataan calon mertuaku yang gagal itu.
“Saya faham pak, tapi yang bapak dan mas Candra perlu tahu meski dulu saya gagal menikah dengan Arum. Saya akan tetap anggap bapak sebagai orang tua saya juga karena bapak adalah kakek dari Sidiq anak saya. Dan mas Candra juga saya anggap kakak saya karena menjadi pak denya anaka saya Sidiq. Meski saya tidak akan pernah menjadi suaminya Arum, biarlah Arum bahagia dengan suaminya nanti dan tetap menjadi yang pertama bukan yang kedua. Bagaimanapun menjadi yang kedua itu tidak enak pak, dan jika ada yang ke dua yang pertama pu juga akan sakit.” Jawabku pada bapaknya Candra.
“Apakah kamu serius tetap menganggap aku sebagai orang tuamu dan kamu bersedia menjadi bagian dari keluarga kami nak ?” kembali bapaknya Candra bertanya dengan menitikan air mata.
Aku bangkit dan bersimpuh dihadapan calon mertuaku yang gagal itu, dan aku menjabat tanganya sambil kucium dan berkata.
Kemudian aku pun mendekati Candra dan aku berkata juga kepada Candra.
“Mas meski aku tidak jadi menikahi Arum, tapi kamu tetap kuanggap abangku karena dari Arum sudah lahir anak kandungku. Maka mulai sekarang jangan sungkan lagi, karena aku tetap adalah adikmu.” Kataku kepada Candra, kemudian Candra dan bapaknya serempak merangkul aku dan menangis bersama.
“Maafkan tindakan kami dulu, mungkin jika kami dulu menerima kamu akan berbeda jadinya saat ini.” Kata bapaknya Candra.
“Itu sudah kehendak Allah pak, mungkin kalo saya dulu langsung diterima jadi anggota keluarga ini saya juga tidak akan masuk pesantren dan tetap dengan jalan hidup saya yang dulu, jalan hidup yang salah.” Jawabku pada bapaknya Candra dan Candra.
“Kamu berjiwa besar, aku bangga padamu meski kamu sekarang tidak mau menikahi adikku Arum.” Kata Candra.
“Jangan berkata seperti itu mas, Arum itu cantik banyak yang suka. Kalo saya tidak mau menikahi Arum saat ini karena justru gak mau membuat Arum tersiksa jadi yang kedua. Biarlah Arum menemukan kebahagiaan dia dengan lelaki lain yang akan menjadikan Arum sebagai istri dan satu satunya istri baginya.” Jawabku.
“iya aku paham maksut kamu sekarang nak, asal kamu masih mengakui kami sebagai kkeluargamu saja saat ini kami sudah bahagia.” Kata bapaknya Candra.
Suasana saat itu benar benar haru, aku jadi ingat saat istirhat di kamar Arum tadi. Ketika mengingat masa laluku dengan Arum. Kemudian mengingat saat bersama dalam bahagia berdua meski pacaran sembunyi sembunyi. Namun lebih dari itu sebuah kesimpulan besar dalam kejadian ini adalah, bukti bahwa hati manusia itu sangat mudah terbolak balik. Seperti ketika aku di kamar Arum hanya memandang foto dia saat SMU saja hatiku sudah terguncang mengenang saat kebersamaan dengan Arum.
Kemudian yang kedua, peristiwa yang baru saja aku alami ini. Baru beberapa hari kemarin aku hamper saja dihajar oleh Candra dan bapaknya ketika bertemu dirumah sakit. Tapi saat ini justru berharap aku mau mengakui sebagai bagian dari keluarganya. Bahkan berharap aku mau menikahi Arum sebagi istri keduaku.
Aku menjadi tambah sukur, karena keluarga Arum mau mengakui Sidiq dan Arum lagi yang sebelumnya rum pernah diusir dn tidak mengakui Sidiq sebagai bagian dari keluarga itu. Tapi sekarang justru berharap Sidiq tinggal dirumah itu, yaa Allah tidak ada yang tidak mungkin bagi –MU. Yang kemarin sangat membenciku saat ini justru terbalik sangat menyukai aku. Bukan tidak mungkin yang kemarin mencintai akupun bisa jadi berbalik menjadi sangat membenci aku.
“Alhamdulillah mas, pak akhirnya kita sama sama bisa membuka mata kita. Bahwa kita itu hanya sekedar memainkan peran, saat ini saya merasa sangat bersukur bisa diterima menjadi bagian dari keluarga ini. Dan sebentar lagi akan ada tambahan keluarga baru disini, Sidiq anak ku cucu bapak dan keponakan kamu mas Candra. Semoga nantinya kana menjadi sebuah berkah bagi kita semuanya.” Kataku.
“Aamiin…!” jawab Candra dan bapaknya bersamaan.
“Mala mini kamu mau nginep disini atau mau pulang dulu ?” Tanya Candra padaku.
“Kalo bapak pinginya kamu ikut tahlilan disini kirim doa buat lek mu Sastro, jangan panggil pak Sastro lagi kalo kamu mengaku sebagai anggota keluarga ini.” Kata Bapak nya Candra.
__ADS_1
“Mngkin besuk lagi pak, pertama saya masih cape yang kedua kondisi rumah kan belum aman betul jadi saya tidaak tega meninggalkan istri saya sendiri. Dan maaf istri saya juga bagian dari keluarga ini juga kan pak ?” tanyaku sambil senyum.
“Iya pokoknya seluruh keluargamujuga keluargaku juga.” Kata bapaknya Candra.
“Alhamdulillah kalo begitu saya ijin pamit pulang dulu pak. Besuk mungkin saya akan datang bersama istri saya juga.” Kataku.
“Biar diantar Candra saja nanti, sama besuk kalo mau kesini bilang saja biar dijemput Candra kasihan kan istrimu juga lagi hamil.” Kata bapaknya Candra.
“Njih pak, kalo gak ngrepotin mas Candra.” Jawabku.
“Santai saja, gak usah bilang begitu katanya aku kakak kamu.” Kata Candra saambil senyum. Baru sekali itu aku lihat Candra senyum, jadi kelihatan mirip dengan Arum kalo lagi senyum. Atau pikiranku saja yang baru terbayang terus sama Arum sejak dirumah ini, pikirku.
“Iya mas, btw kalo kamu senyum kok jadi mirip ya sama Arum adik kamu.” Gurauku.
“Iya lah namanya juga kakak kandungnya, masa kamu gak tahu ?” kata Candra.
‘bukan gak tahu mas, tapi baru kali ini lihat kamu senyum.”Balasku bercanda.
“Ah kamu ni mau bilang aku dulu cemberut terus kalo lihat kamu kan ?” kata Candra.
“Gak aku gak bilang gitu, mas Candra sendiri yang ngomong kok.” Gurauku.
“Owh pantes, adikku dulu tergila gila sama kamu gak mau dinikahin sama yuang lain, ternyata kamu orangnya suka bercanda dan pinter bikin guyonan. Padahal banyak yang mau nikahin dia meski dia hamil saat itu.” Kata Candra.
Ya iyalah, yang ndeketin orang macam Damar sama yang tadi ndorong dan mau mengusir aku. Mana mungkin Arum mau, batinku dalam hati.
Setelah beberapa saat aku kemudian diantar pulang oleh Candra,dalam perjalanan kami banyak mengobrol dan bercanda tentang apa saja. Cerita saat dipesantren, keisenganku sampai dengan proses pernikahanku dengan Fatimah istriku sekarang. Candra hanya geleng geleng kepala mendengar kisah cintaku dipesantren hingga dinikahkan dengan Fatimah padahal sukanya dulu sama Eis.
“Kok bisa kamu menjalani kehidupan seperti itu ?” Tanya Candra.
“Bisa saja lah mas, namanya kita sudah gak terlalu ambil pusing dengan urusan urusan duniawi. Yang penting kita berupaya semaksimal mugkin soal hasil kan Tuhan yang menentukan. Kita mencintai seseorang kalo Tuhan menggariskan jodoh kita orang lain mau apa lagi.” Kataku.
“Owh iya, aku kan belum nikah jadi gak tahu. Kemarin waktu aku sama bapak kerumahmu kamu kenalkan dengan sepupu istrimu dia udah punya pacar apa belum. Kalo belum aku kenalin dong, atau kalo mau aku mau kok langsung menikahi dia !” kata Candra.
Bak tersambar petir aku mendengar ucapan Candra waktu itu, karena Khotimah yang dia maksut sedang ada pendekatan dengan Fanani. Meski belum ada pembicaraan yang pasti, tapi ini ada orang yang menyatakan mau menikahi dia. Bagaimana aku harus menjelaskan ke Candra dan Khotimah nanti ? Candra kakaknya Arum, baru saja berbaikan dengan akau yang selama ini dia sangat membenciku. Kalo ditolak bisa bahaya, tapi aku juga gak mungkin memaksa Khotimah untuk kepentinganku sendiri juga.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1