Isyaroh

Isyaroh
Kedatangan Kang Salim teh Atikah & Samsudin Eis


__ADS_3

Episode 88


“Waktu itu, mas Yasin Cuma bilang, selamat


ya Eis. Meski kita tidak berjodoh, tapi jodohmu adalah sahabatku dan jodohmu


adalah sahabatmu. Tapi aku mohon maaf, aku mungkin akan pergi lama, aku titip


Fatimah dan anak ku ya. Tolong sampaikan juga ke Samsudin suamimu, aku titip


keluargaku dulu. Aku percaya kalian. Begitu kata mas  Yasin dalam mimpi. Eis takut mas, kasihan


Fatimah kalo terjadi apa apa dengan mas Yasin.


“Huush jangan ngomong gitu atuh neng,Pamali kan kamu bilang tadi ?” kata Samsudin.


“Karena mimpi itu Aa’, Eis jadi sedih banget. Kepikiran Fatimah jika mas Yasin sampa….!” Kata Eis dipotong oleh


Samsudin.


 


 


“Udah Stop gak boleh diterusin ngomong gitu !”  kata Samsudin.


“Tapi A’…! mimpi itu seperti nyata A’..!” kata Eis.


“ Udah STOP. Jangan ngomong yang jelek jelek, aa’ takut jika itu terjadi Neng.” Kata Samsudin.


“Yaudah kita ke tempat kang Slaim saja, kita minta ijin dan restu untuk mengunjungi Yasin.” Kata Samsudin mengkhiri perdebetaan dengan Eis.


“Aa’ maafkan Eis, Eis tidak bisa melupakan mas Yasin sebagai saudara a’. meski hati Eis sekarang hanya buat Aa’.


Maafkan Eis a’.” ucap Eis pada Samsudin suaminya.


Untunglah Samsudin sangat memahami posisi Eis dan Yasin, yang sama juga dengan posisi dirinya dengan Fatimah istri Yasin.


“Iya neng, Aa’ tahu persis kok, kamu sama Yasin sama halnya dengan Aa’ dengan Fatimah. Dan Aa’ percaya jika


kamu saat ini sudah sepenuhnya menerima Aa’ sebagi suami. Demikian juga Yasin dengan Fatimah,tentunya.” Ucap Samsudin menghibur Eis istrinya.


Samsudin yang tahu persis bahwa istrinya dulu saling menaruh hati dengan Yasin. Sama persis dengan dirinya yang dulu juga berpacaran dengan Fatimah istri Yasin. Meski akhirnya Jodoh mempertemukan yasin dengan Fatimah dan justru Samsudin menikah dengan Eis.


Hal itu tentunya sangat memberatkan mereka diawal pernikahan. Meski hal itu tidaklah bisa disebut pertukaran jodoh. Karena jodoh memanglah sudah tertulis saat bayi dalam kandungan, meskipun perjalanan cinta atau hati seseorang penuh dinamika. Namun jodoh tetaplah menjadi sebuah misteri yang hanya Allah lah yang mengetahui dan maha berkehendak. Sebesar apapun cinta seorang lelaki pada permpuan jika bukan jodoh maka tak akan menjadi pasangan. Demikian juga sebaliknya, meski awalnya tidak saaling cinta jika sudah jodoh maka tetap saja akan dipersatukan.


Laki laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, demikian juga wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik.


“Maafkan Eis a’, bukanya apa apa.


Jika Eis ingat mimpi semalam, dan jika mas Yasin samapi dipanggil Allah. Eis rela Aa’ menikahi Fatimah. Sebagai bentuk tanggung jawab kita a’ ?” kata Eis.


“Eis kamu ngomong apa, gak boleh begitu Eis. Masa kamu berharap Ysin meninggal begitu ?” kata Samsudin marah mendengar kata kata Eis.


“Sama sekali gak gitu Aa’, Eis terus berharap dan berdoa mas Yasin selamat dan tetap bahagia dengan Fatimah. Tapi kita gak bisa menentukan, dan apa yang Eis impikan semalam selalu mengganggu pikiran Eis a’ !” jawab Eis sambil meneteskan air mata.


Saat mereka berdua sedang menangisi nasip Yasin dan Fatimah, tiba tiba terdengar pintu diketuk dan terdengar ucapan salam.


“Assalaamu’alaikum…!” sapa salam dari seseorang diluar pintu.


“Wa’alaikummussalam..!” jawab Eis dan Samsudin serempak.


“Kok kayak suara teteh tikah A’ ?” kata Eis pada Samsudin.


“Iya kayaknya, bersama kang Salim gak ya ?” ucap Samsudin.


Meski seharusnya Eis dan Samsudin


memanggil Mamang dan bibi tapi karena terbawa panggilan saat dipondok, sampai


sekarang mereka memanggil kang dan teteh pada Salim dan Atikah.


Saat membuka pintu Eis melihat teh Atikah dan kang Salim, Eis langsung memeluk teh Atikah sambil menangis.


Sementara Samsudin pun menyalami keduanya dengan mata yang masih sembab juga.


“Udah kalian berkemas sekarang juga, ikut berangkat ke jogja jenguk Yasin bareng kami.” Ucap kang Salim.


“Akang sudah tahu apa yang menimpa Yasin ?” Tanya Samsudin.


“Udah gak usah banyak Tanya ayo kita segera berangkat, jangan sampai terlambat.” Ucap kang Salim.


“Iya Eis, ayo udah jangan menangis, kemasi pakaian kamu kita berangkat sekarang juga buruan !” seperti terhipnotis Eis dan Samsudin pun segera menyiapkan bekal dan pakaian untuk ikut bersama


kang Salim dan Teteh tikah berangkat ke jogja menuju ke tempat dimana yasin dirawat.


“Dengan mobil milik kanf Salim pagi itu juga mereka berangkat ke jogja, langsung menuju kerumah Sakit dimana Yasin dirawat. Dengan kecepatan yang ekstra kang Salim melajukan kendaraanya bagaikan


tidak menyentuh tanah roda mobil itu seperti melayang diatas aspal. Namun begitu semua yang ikut sudah maklum dengan kebiasaan kang Salim saat mengendarai mobil.


Sehingga dalam waktu yang mungkin bagi orang lain gak masuk akal mereka sudah sampai di rumah sakit dimana Yasin dirawat.


********


Di rumah sakit


Fatimah POV


“Is Fatimah gak tega melihat mas Yasin terbujur diam begitu, hanya nafas dan detak jantungnya yang terlihat dari


layar monitor.” Ucap Fatimah pada Isti.


“Iya Fat,mudah mudahan Kang Salim segera sampai, ini tadi Eis member kabar jika sudah berangkat tadi pagi.” Ucap Isti menghibur Fatimah.

__ADS_1


“jam berapa kira kira beliau sampai ya Is ?” Tanya Fatimah dalam kepanikan.


“Kalo itu Isti gak tahu fat, tapi seperti kebiasaan kang Salim selalu datang tepat waktu. Meski kadang


kehadiranya tidak rasional.” Kata Isti.


“Iya Is, mudah mudahan saja kang Salim segera sampai.” Kata Fatimah yang berusaha menenangkan diri.


“ibu Fatimah ?” seru seorang dokter.


“Iya saya dokter, ada apa dok ?” Tanya Fatimah.


“Suami ibu, membutuhkan donor darah, karena banyak darah yang keluar. Bisakah mencarikan donor drah B.” Tanya dokter itu.


“Aduh gol darah saya Ab, kamu apa Is ?” Tanya Fatimah.


“Aduh saya A Fat, kita cari dimana ?” Tanya Isti.


“Di rumah sakit ini gak ada dok ?” Tanya Fatimah pada dokter itu.


“Ada, tapi kebetulan tinggal satu kantong, butuh satu kantong dari satu pendonor lagi.” Jawab dokter itu.


Fatimah dan Isti kebingungan, isti berpikir kakaknya Rofq pun pasti A. karena ayah ibunya golongan darahnya A.


sementara Fatimah mencoba menghubungi Amir untuk mencarikan pendonor darah golongan B.


Saat keduanya sedang bingung, tiba tiba dikejutkan dengan kedatangan kang Salim.


“Assalaamu ‘alaikum !” sapa kang Salim pada Fatimah dan Isti. Yang berjalan kearah mereka diikuti teteh tikah


dan Eis juga Samsudin.


*******


“Wa’alaikummussalaam..!” jawab Fatimah dan Isti.


Fatimah langsung menyambut kedatangan mereka diikuti Isti, kemudian Isti langsung memeluk Eis dan


menumpahkan tangisanya dalam pelukan Eis. Sementara Isti menyalami teteh Atikah dan kemudian menjelaskan kronologis tertembaknya Yasin yang dia dengar semalam.


Teteh Atikah dan kang Salim mendengarkan dengan seksama penjelasan Isti. Smentara antara Fatimah dan Eis


masih larut dalam tangisan mereka berdua. Sementara Samsudin hanya terdiam, bahkan memandang fatimahpun dia tak berani. Begitu juga sebaliknya dengan Fatimah. Hal itu diketahui dan ddisadari semua yang ada disitu dan mereka sangat memahami dan memaklumi kondisi tersebut. Maka dibiarkan saja mereka.


“ Kang salim, maaf ini kebetulan mas Yasin butuh donor darah B, dan kita kekurangan 1 pendonor lagi.” Ucap isti


mencairkan suasana.


“Biar Eis yang donor, dia yang golongan darahnya juga B.” jawab Kang Salim.


Semua terbelalak mendengar kata kata kang Salim. Bahkan Eis sendiripun kaget. Karena dia sendiri saja gak tahu


golongan darahnya apa.


“Udah kamu nurut saja sama aku.” Kata kang Salim.


Eis pun gak berani protes, dia mengikuti saja apa kata kang Salim. Eis mengikuti dokter untuk melakukan


pemeriksaan. Dan hasilnya memang golongan darah Eis sama dengan golongan darah Yasin.


Kemudian Eis, minta ijin pada Samsudin suaminya untuk mendonorkan darahnya kepada Yasin, yang juga mantan


kekasih Eis. Samsudin pun jelas mengijinkan. Karena Yasin adalah sahabat karibnya. Disamping juga gak mungkin berani membangkang perintah kang Salim.


“Fat, Eis mohon ijin untuk mendonorkan darah Eis pada suamimu.” Ucap Eis pada Fatimah.


Fatimah tidak langsung menjawab tapi lebih dulu memeluk Eis.


“Terimakasih Eis, kedatangan kalian sangat tepat waktu. Fatimah gak akan melupakan kebaikan kalian semua.” Hanya itu yang mampu Fatimah ucapkan. Tidak tahu harus berkata apa lagi, karena perasaan haru di hati Fatimah.


Sebenarnya adaa keinginan untuk menyapa mas Samsudin dan berterimakasih juga padanya. Tapi Fatimah tahan saja, karena Fatimah punya masa lalu denganya. Takut menjadi fitnh dan juga menghindari hal hal yang tidak baik. karena kita sama sama sudah berumah tangga, dan sama sama sudah mempunyai kehidupan sendiri sendiri.


“Iya Fat, gak usah sungkan Yasin kan sahabta kita juga. Biar Eis yang memberikan darahnya karena kebetulan golongan darah mereka cocok.” Ucap mas Samsudin yang begitu mengejutkan Fatimah. Mau gak mau Fatimah pun harus angkat bicara, meski tetap dengan kekakuan yang ada.


“Iya makasih,atas bantuanya.” Ucap Fatimah tanpa berani memandang wajah mas Samsudin.


Kemudian proses transfuse darah berjalan Eis diambil darahnya untuk diberikan kepada mas Yasin suamiku.


Semoga semua berjalan lancer ya Allah,doaku dlam hati.


“Fat, kamu jangan kelihatan terlalu kaku,dengan Samsudin malah gak baik nantinya.” Ucap Isti padaku dengan


berbisik.


“Iya Is, sudah Fatimah coba tenang kok. Tapi kok Eis belum menunjukkan tanda tanda kehamilan seperti aku ya Is ?” tanyaku pada isti.


“Ya kalo itu mungkin belum saja kali Fat, jangan mikir yang aneh aneh lah ?” jawab Isti.


Kami terdiam beberapa saat menunggu hasil transfuse darah selesai. Sambil menunggu kang Salim memberikan wejangan pada kami.


“Kalian semua, nanti bantu doa ya, kalo transfuse darah sudah selesai.” Ucap kang Salim.


“Iya kang, dan makasih semuanya yang telah membantu kami semua.” Ucap Fatimah.


“Ehm perutmu udah membesar Fatimah, sudah berapa bulan nih ?” Tanya teteh Atikah padaku.


“Udah lima bulan teteh.” Jawab Fatimah singkat.


“Selamat ya, doakan Eis segera menyusul biar teteh segera punya cucu ponakan.” Kata teteh Atikah.


“Aamiin teteh.” Jwab Fatimah dan Isti.


Begitu proses transfuse darah selesai kami minta ijin untuk melihat keadaan mas Yasin. Dengan pengawasan

__ADS_1


ketat dari personil kepolisian, karena ada Fatimah disitu akhirnya kami diperbolehkan masuk. Tentu saja setelah mendapatkan rekomendasi dari pak yadi.


Di dalam kamar rawat mas yasin, kami melihat mas Yasin belum juga sadar, hanya dapat melihat detak jantung dan


nafasnya dari layar monitor. Sementara semua anggota tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Fatimah pingin nangis tapi Fatimah tahan, bahkan Eis yang barusan diambil darahnya pun menitikkan air mata. Demikian juga dengan mas Samsudin, wajahnya tampak sedih. Meski Fatimah hanya berani melihat wajahnya dari


pantulan kaca jendela saja.


“Proyektil peluru sudah diambil, tapi kenapa belum sadar juga ?” kata kang Salim.


“Mari kita bantu berdoa disini, biar Yasin mendengar dan mengetahui kalo kita sekarang berada didekatnya. Barang


kali itu akan membuat dia bisa sadar.” Kata lanjut kang Salim.


Kemudian kang Salim melantunkan doa dan kami semua mengamini.


********


Didalam alam bawah sadar Yasin.


Yasin POV


Aku mendengar percakapan orang orang yang ada disekelilingku, bahkan mataku yang terbuka meski tak mampu melirik melihat kelebatan orang orang yang ku kenal itu. Ada kulihat kang Salim,Teteh


Atikah, Isti, Fatimah Istriku, Samsudin dan terakhir adalah Eis. Apakh ini hanya halusinasiku saja melihat mereka semua orang orang terdekatku itu. Apakah justru ini adalah pertanda ajalku akan segera tiba ? karena sesaat sebelum ajal tiba akan diputarkan memori dari masa lalu kita, menurut ulama.


Yaa Allah jika ajalku telah tiba, berikanlah kekuatan bagiku untuk mengucapkan kalimah thoyibah sebagai kalimat


terakhir yang keluar dari lisanku sebelum menghadapmu.


Aku terus melantunkan kalimah thoyibah meski hanya dengan gerakan lidah dalam mulut yang tertutup dan tak


bersuara.


Karena pengucapan kalimah thoyibah Tahlil secara makhrojul huruf sangat mudah. Hanya ada huruf  Lam, Alif dan Ha. Dan secara makhrojul huruf tidak perlu menggerakkan bibir.


Tiba tiba saja aku seperti berada disebuah taman yang sangat indah, sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga bunga yang sedang mekar dan mewangi. Bau harum alami dari bunga bunga itu seperti memberikan kekuatan bagiku. Aku bangkit berdiri tidak merasakan sakit apapun. Bahkan aku merasakan badanku segar lebih segar dari sebelum sebelumnya. Tidak pernah aku merasakan tubuhku sesegar ini, kemudian aku berjalan berkeliling


mengitari ttaman bunga tersebut.


Langkahku terhenti pada sebuah rumah yang indah, dan tiba tiba dikejutkan oleh suara seorang wanita berparas cantik yang berpakaina sangat indah serta mengeluarkan aroma yang sangat Harum.


“Selamat datang, mas Ahmad Sidiq alias Yasin. Ini adalah rumah kita, didalam sudah menunggu istri istri


bidadarimu. Silahkan jika mau masuk sekarang, aku akn membawamu dan menunjukkan kepadamu sebuah telaga dan taman bunga yang ada didalam rumah ini.” Ucap Wanita itu.


“Aku gak kenal kamu, dan aku hanya punya satu Istri namanya Fatimah bukan kamu atau yang lain.” Jawabku.


“Di dunia memang istrimu hanya satu, tapi disini kamu banyak mempunyai Istri yang siap menemani kamu setiap saat.” Kata Lanjut wanita itu.


“Apakah ini bukan dunia, bukankah aku masih berada diduniaku ?” kataku.


“Tidak saat ini, kamu sudah memasuki alam lain dan ini adalah alam setelah dunia.” Ucap wanita itu.


Aku diam tidak menjawab, namun memang merasakan keanehan saat itu. Kemudian wanita itu kembali berkata.


“Kamu bercerminlah, wajahmu pun berubah kan. Dan lihatlah dicermin itu siap yang terbaring itu, kemudian orang


orang disekelilingnya.” Kata lanjut wanita itu.


Tiba tiba cermin yang tadinya menunjukkan wajahku dengan performa yang berbeda itu kemudian berubah.


Menampakkan keberadaan tubuhku yang sedang dikelilingi oleh orang orang dekatku. Fatimah Istriku, Arum, Sidiq,Eis, Isti kang Salim the Atikah Samsudin dan lain lain. Mereka menangis disamping tubuhku yang sedang diberi kejut jantung oleh dokter.


“Itulah bukti kalo kamu sudah berpindah alam, jadi sudah saatnya kamu meninggalkan mereka. Biarlah mereka


hidup di alam dunia, sampai suatu saat mereka juga akan menyusul kamu kesini.”


Aku sedih melihat mereka semua menangisi aku, tapi jika memang ini sudah takdirku harus meninggalkan mereka


mau bagaimana lagi. Fatimah istriku yang perutmya semakin sudah semakin membesar, kulihat beberapa kali sampai pingsan.


Sidiq, menangis meraung seakan tidak merelakan aku pergi selamanya. Bahkan Samsudin,Eis Arum dan semuanya meangisi aku. Yang masih terus diberi kejut jantung oleh dokter.


“Sudahlah, jangan kamu memikirkan lagi kehidupan dunia. Kehidupan abadi sudah di depan mata. Mari aku antar kamu memasuki rumah abadimu, yang dipenuhi dengan keindahan dan kenikmatan. Tak ada


lagi kata kata yang sia sia disini, dan tak ada lagi kebohongan disini.” Ucap wanita itu seakan mengutip ayat dari sebuah surat al Waqi’ah.


Aku melangkah mengikuti wanita yang katanya mau menunjukkan aku kedalam rumah abadiku.


Tiba tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara yang aku kenal.


“Durung wayahe, kowe mlebu omah kui !”  ( Belum saatnya kamu memasuki Rumah


itu ) ucap seseorang yang aku kenali suaranya. Yaah itu adalah suara Abah guruku, aku berbalik menghampiri beliau. Kemudian aku menyalami beliau dan mencium telapak tangan beliau tanda ta’dhim seorang santri kepada kyai nya.


“Ayo pulanng sekarang,  ini belum waktunya kamu meninggalkan duniamu.’ Kata abah guruku yang kemudian mendekapku dan kemudian tahu tahu aku sudah berada dikerumunan orang orang yang menagisi aku. Tiba tiba aku eras didorong oleh sebuah kekuatan yang entah dari mana membuat aku seakan terjatuh kedalam sebuah lorong panjang dan terhempas dengan kencangnya. Dan tersedot kedalam lorong itu yang membuatku menjerit ketakutan karena aku merasakan sebuah tarikan kuat yang membuat seluruh badanku terasa sakit.


                                                                     Bersambung.


Terimakasih atas semua dukungan dari


readers semuanya.


Like, komen dan Vote.


Dukungan anda adalah semangat bagi


Author.


Mohon selalu dukung Author, untuk


dapat memberikan karya yang baik dan menghibur.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2