Isyaroh

Isyaroh
Damai bersyarat dengan Fatimah


__ADS_3

Sebelum masuk cerita, Author mengucapkan banyak terimakasih. Atas kritik dan saran yg diberikan, semoga ke depan bisa menyajikan karya yg lebih baik lagi.


*Salah satunya adalah tentang flashback yg mengulang isi cerita sebelumnya.


Author coba mengurangi dalam episode berikutnya.


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏*...


...........................


Dialog akhir episode sebelumnya.


"Maksutnya gimana Isti, kamu sahabat terbaikku. Kamu gak lagi bela suamiku kan ?" tanya Fatimah penasaran.


" Gak lah, Isti gak bela siapapun Fat. Isti hanya ingin kalian baik baik saja. Yang perlu Fatimah tahu, suamimu pun belum lama tahu jika akibat perbuatanya dulu mengakibatkan lahirnya Sidiq." jelas Isti pada Fatimah.


" Apa....? Mana bisa begitu Isti ?" seru Fatimah.


" Iya Fat, Suamimu belum lama tahu. Dia curhat atas kegalaunya, dia bingung. Satu sisi dia sangat mencintaimu, tapi di sisi lain dia harus bertanggung jawab pada anaknya. Dan dia juga gak mau kamu terluka, tapi kondisi itu juga bukan kemauanya. Dia berpikir apa yg dialaminya dulu sudah terkubur. Tapi ternyata tumbuh benih yg jadi masalah baru !" Isti mencoba menjelaskan kronologinya.


" Sejak kapan mas Yasin tahu dia punya anak, dari perbuatanya dulu Is ?" tanya Fatimah, yang sudah agak mereda emosinya.


" Persisnya aku lupa Fat, tapi pada saat peristiwa aku ketemu suamimu. Dan kemudian telpun kamu itu, suami kamu baru saja menyadarinya." jawab Isti.


" Menurut Isti, apakah suamiku jujur baru tahu saat itu. Atau sebenarnya dia tahu dari awal ?" tanya Fatimah ke Isti.


" Kalo menurutku, suamimu jujur Fat, dia baru tahu kemarin itu." jawab Isti.


" Alasanya ?" desak Fatimah.


" Kamu sudah tahu umur anaknya yg bernama Sidiq ?" tanya Isti ke Fatimah.


" Ya belum lah Is !" jawab Fatimah.


" Anak itu usianya 3 tahun kurang beberapa bulan." jelas Isti.


" Fatimah bingung Is, arah pembicaraan Isti kemana ?" protes Fatimah.


" Sabar Fat, Isti mau bicara soal logika. Kamu jawab saja, nanti ada giliran kamu buat tanya Fat ?" jawab Isti tegas. Pantas dulu sering jadi wakil santri putri kalo harus negosisiasi.


Kecerdasan Isti memang di atas rata rata, sampai sampai selalu dipercaya jadi wakil santri saat ada lomba antar santri.


Lanjut ke pembicaraan Fatimah dan Isti.


" Iya deh, terus kalo umur Sidiq anak mas Yasin 3 tahun kurang kenapa ?" tanya Fatimah.


" Suamimu tinggal di pesantren berapa tahun ?" tanya Isti lanjut.


" Maksutnya apa sih Is ?" tanya balik Fatimah.


" Nanti kamu akan tahu maksutku, kamu jawab saja Fat." kata Isti.


" Ya kurang lebihnya 3tahun lah, persisnya gak inget. Kan dulu juga gak ada apa apa Fatimah sama mas Yasin !" jawab Fatimah.


" Iya Fat, kalo itu Isti faham sekali. Tapi bukan kesitu arah bicara Isti. Coba Fatimah ingat, saat suamimu dibawa masuk pesantren. Dia habis dirawat di rumah sakit, dan kondisinya masih sakit, inget gak ?" tanya Isti.


Fatimah bingung dengan pertanyaan Isti, namun tak berani bantah karena merasa pasti kalah adu logika dengan Isti.


" Iya Fatimah inget Is !" jawab Fatimah singkat.


" Nah hubunganya adalah, beberapa bulan setelah suamimu masuk pesantren anak itu ( Sidiq ) lahir. Suamimu saat itu di pesantren. Dia gak mungkin tahu, memiliki anak, itu pertama Fat !" ucap Isti.

__ADS_1


" Tapi mas Yasin pasti tahu dong, meninggalkan wanita hamil karena perbuatanya. gak mungkin kalo gak tahu Isti !" ucap Fatimah membela diri atau mempertahankan argument dia.


" Iya Isti belum masuk ke soal itu, Fatimah sudah potong bicara Isti !" jawab Isti datar.


" Nah terus maksut Isti, kemudian apa ?" tanya Fatimah lanjut.


" Sabar ya Fat, ini butuh kesabaran dan penalaran soalnya. Supaya gak salah dalam ambil keputusan !" jelas Isti dengan sabar.


" Yaudah Is, mo tanya apa lagi sekarang Is ?" tanya Fatimah.


" Gini Fat, sekarang Isti mau cerita tolong kamu dengerin dulu. Bersedia kan ?" tanya Isti.


" Iya Is, Fatimah dengerin." jawab Fatimah.


Kemudian Isti mulai menceritakan peristiwa saat kedatangan kang Nur Salim lurah pondok yg membawa seseorang dari rumah sakit. Dan dirawat di Pondok Pesantren, semua santri tahu itu.


Orang itu tidak lain adalah suami Fatimah saat ini, yang bernama Ahmad Sidiq, yang kemudian oleh Abah guru diberi nama baru Nur Yasin.


Kang Nur Salim lurah pondok memperkenalkan orang itu pada beberapa santriwan dan santriwati.


Dan beliau menceritakan kronologis beliau membawa orang itu. Sambil memberikan pesan pada beberapa orang santri, untuk membantu mengawasi. Pada saat itu kondisi Ahmad Sidiq atau Nur Yasin yg kemudian dipanggil Yasin, berbaring tak berdaya.


Pesan kang Nur Salim :


"Anak ini bermasalah, namun Abah dawuh agar aku mengurusnya. Karena Abah mengingat Dhuriahnya orang orang baik.


Kalo bukan karena dawuh Abah, aku juga malas ngurus anak ini. Kemarin saja kutemukan saat dihajar warga karena menghamili anak gadis orang.


Awasi anak ini, jangan sampai kabur dari pesantren. Kalo terpaksa boleh dengan kekerasan, tapi sebatas pembelajaran. Jangan sampai kembali ke komunitasnya yg dulu.


Begitu pesan dari Kang Salim pada beberapa santri khusus.


Sekitar satu bulan kemudian, setelah dia bisa berjalan tanpa tongkat penyangga. Kembali di kumpulkan santri khusus itu, bersama Ahmad Sidiq juga.


Didepan kami semua, Ahmad Sidiq ditanya kang Salim.


" Nama Asli kamu siapa ?" tanya kang Salim.


" Ahmad Sidiq mas !" jawabnya.


" Panggil aku kang Salim, aku lurah pondok sini !" seru kang Salim.


" Owh... di pondok juga ada pilihan lurah ya, cariknya siapa ?" jawabnya bikin kami semua hampir marah.


Sampai Isti membentak


" Kamu sopan dikit sama Lurah pondok, sudah untung kamu ditolong. Kalo gak bisa.....!" suara Isti dipotong kang Saim.


" Sudah cukup Isti !" kata kang Salim.


Maka kami semua diam, tak berani bicara. Kemudian Abah guru datang, didadapan Abah guru barulah Ahmad Sidiq tidak berani berulah.


Kemudian Abah guru bertanya :


" Wis tutuk po urung le nakal ? Nek rung tutuk, tutukno disik kono ! " kata Abah guru yang maksutnya.


"Sudah puas apa belum nakalnya, kalo belum puas, puasin dulu sana !"


Disitu Abah menunjukkan karomahnya mungkin, Ahmad Sidiq yg tadinya sama sekali gak sopan. Tiba tiba bisa menangis di depan Abah.


" Sampun pak kyai, kulo sampun kapok !" kata Ahmad Sidiq sambil menangis.


" Ngundang aku Abah, saiki aku sik ganteni bapakmu ndidik kowe !" kata Abah.

__ADS_1


( Panggil aku Abah, sekarang aku yg gantiin bapakmu didik kamu )


Kemudian Abah guru bertanya, kenapa dia sampai dipukuli orang. Ahmad Sidiq menjelaskan bahwa dia bersalah menghamili gadis pacarnya. Dia datang untuk bertanggung jawab, namun di tolak keluarga dan warga. Dengan alasan pacarnya keguguran, dan akan dinikahkan dengan orang lain.


Parahnya justru Ahmad Sidiq dihajar untuk yg kedua kalinya. Kemudian ditolong kang Salim dan dibawa ke pesantren."


Begitulah penjelasan Isti yg panjang di telpun.


" Begitulah Fat ceritanya, Isti tahu kamu syok. begitupun Isti saat dengar dari suamimu. Bahkan Suamimu sendiri syok, waktu curhat sama Isti. Dia bilang, mungkin ini kafarot harus aku bayar Is. Atas perbuatanku dimasa lalu. Yang membuat terasa berat, kenapa ini semua terjadi saat aku benar benar mencintai Fatimah. Saat aku merasa kami saling mencintai dipisahkan kondisi keamanan.


Sehingga Fatimah harus aku amankan. Aku tidak ingin dia terluka, belum berakhir itu timbul masalah baru. Ternyata Arum tidak keguguran, dan dia melahirkan anakku. Anak biologisku yg lahir diluar nikah.


Aku harus bagaimana Is, menjelaskan ke Fatimah. Supaya dia tidak sakit hati nanti. Itu curhatan suamimu pada saat awal kita bertemu kemarin." lanjut Isti.


" Kok Isti kemarin gak cerita ke Fatimah, padahal kita kan sering kontak ?" tanya Fatimah.


" Karena suami kamu yg memohon rencananya dia akan bilang setelah kamu melahirkan. Biar tidak mengganggu pikiranmu saat kamu melahirkan nanti. Dia sangat care sama kamu Fat !" jawab Isti.


" Itulah yg buat Fatimah kecewa, kenapa masih merasahasiakan itu dengan Fatimah istrinya. Kalo jujur dari awal kan gak gini jadinya Is !" seru Fatimah.


" Itu artinya,suamimu cinta kamu. Takut kehilangan kamu, makanya berpikir cara dan waktu ngomong yg tepat. Beda kalo suamimu menyembunyikan tidak punya niat bicara jujur. " jawab Isti.


Fatimah sebenarnya sudah megakui kebenaran apa yg disampaikan Isti. Namun naluri kewanitaanya yg belum bisa menerima kenyataan itu.


" Tapi tetap saja Fatimah sakit Is. Wanita mana yg gak sakit tahu suaminya punya anak dengan wanita lain Isti ?" tanya Fatimah.


" Iya Isti tahu kok, pasti sakit hati kecewa dan cemburu. Tapi kalo kita berpikir lagi, kasus suamimu itu beda Fat." jawab Isti.


" Bedanya gimana Is ?" tanya Fatimah makin penasaran.


" Suamimu pernah berzina sampai ceweknya hamil. Dia mau tanggung jawab ditolak keluarganya. Dibilang pacarnya keguguran. Kemudian suamimu taubat dan beristrikan kamu. Jadi sama aja kamu cemburu dengan masa lalu suami kamu Fat. Karena semua itu adalah masa lalunya." jawab Isti membuat Fatimah terbungkam.


" Tapi bisa saja mas Yasin masih memendam rasa sama ibunya Sidiq dan menjalin hubungan lagi Is !" sanggah Fatimah.


" Kamu tahu gak Fat, tuduhan kamu itu tidak benar sama sekali !" balas Isti dengan nada suara seperti menangis.


"Maksutnya Is ?" tanya Fatimah.


" Suamimu minta tolong aku, untuk menjodohkan Arum ibunya Sidiq bekas pacarnya itu dengan Mas Rofiq kakakku. Katanya sebagai bentuk tanggung jawabnya pada bekas pacarnya itu. Sedang terhadap Sidiq anak biologisnya, dia tetap akan memperlakukan sebagai anak." jawab Isti.


" Beneran begitu kah Isti ?" tanya Fatimah kali ini ikut menangis.


...bersambung...


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


Mohon maaf Readers yg budiman, kelanjutan Novel ini diselingi revisi. Agar lebih nyaman dibacanya, tapi tanpa merubah isi cerita.


Dikarenakan banyak typo dan kesalahan lain.


Semoga tetap bisa menghibur.

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2