Isyaroh

Isyaroh
Ajar Panggiring di Penjarakan


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Tunggu, orang dulu itu biasanya melakukan perkawinan saudara. Misalnya seperti kita aku punya anak Cowok sena punya Anak Yasin karena anak anak kita bukan mahrom kemudian dinikahkan. Artinya gak terlalu sulit jiak kita mau berusaha mencari garis keturunan kita. Dan menurut aku ini buka sekedar tugas mencari garis nasab saja. Akan tetapi ini ada hubunganya dengan penyelesaian masalah yang kita hadapi. Karena kita harus mencari Gong Simo ludro untuk menghadapi musuh terbesar kita nanti. Sedangkan yang kita hadapi sekarang ini belumlah seberapa meski itupun sudah menyulitkan kita.” Kataku pada Sena dan Farhan.


“Siapa musuh terkuat nanti mas ?” Tanya Farhan.


“Dia bukan dari golongan manusia tapi Jin yang mempunyai ribuan atau bahkan puluhan ribu pengikut dan pemuja. Sehingga kesaktianya sangat besar, namanya dalang Anyi anyi, dia disertai sosok  Tujuh Naga dan Tujuh Harimau. Aku sekali mimpi bertemu denganya dan berhadapan denganya, yang sakitnya terasa meski sampai bangun tidur sekalipun.” Kataku kemudian.


“Tujuh Naga dan Tujuh Harimau….???” Tanya Sena dan Farhan berbarengan.


*****


Episode ini


“Iya betul sekali, dialah yang menebarkan pengikutnya bangsa jin untuk menggoda manusia. Dan untuk bisa melawannya kita harus bersatu mencari Gong Simo Ludro.” Kataku pada Sena dan Farhan.


“Dan untuk mendapatkan gong itu kita harus menemukan garis silsilah yang terputus itu.” jawab Farhan.


“Dari informasi yang kudapat Gong itu ada di sebuah belik tapi Gong itu tidak dapat dilihat kasat mata. Harus dikelurkan dari tempatnya dengan gabungan dari kekuatan empat arah mata angin.” Kata Sena.


“Aku dari wilayah utara, Sena dari selatan dan Farhan dari barat yang dari timur siapa ?” tanyaku.


Sena dan Farhan hanya berpandangan tidak menjawab.


“Tidak…..!” jawab Sena dan Farhan bersamaan.


“Tidak bagaimana ?” tanyaku.


Sena meminta Farhan untuk menjelaskan.


“Timur dan Barat itu symbol dari terbit dan tenggelamnya matahari sedangkan Utara dan Selatan adalah symbol dari gunung dan Samudera. Gong itu ada di tengah tengah nya. ” Kata Sena.


“Terus intinya bagaimana ?” tanyaku penasaran.


 “di tengah tengah pulau jawa tepat di tengah tengahnya, kita bisa menemukan itu atau mungkin juga tepat ditengah tengah itu kita akan mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan gong itu.” jawab Farhan.


“Pusarnya pulau Jawa adalah bukit Tidar di wilayah jawa tengah. Dan itu adalah tempat dimana Syaikh Subakir dulu membuat perjanjian dengan Sabdo Palon. Kalo itu yang dimaksut maka disana kita hanya akan mendapatkan petunjuk bukan keberadaanya disana. Karena disana adalah tempat Syaikh subakir menanam patok untuk mengunci jin jin yang dikalahkan syaikh subakir. Gak mungkin kita bisa mengambil sesuatu dari sana.” Jelasku.


Aku juga pernah mendengar cerita itu, seorang Wali yang bernama Syaih Subakir itu.


“Sudahlah itu diluar kemapuan kita semua, kita mulai saja dengan mencari garis Nasab yang terputus. Mungkin itu akan membantu kita nanti ketika kita sudah menjalankan amanah dari guru kita masing masing.” Jawabku.


Kemudian Kami bertiga sepakat memulai ziaroh dimulai dari makam orang tuaku dan kakek Sidiq Ali karena satu komplek makam. Sedangkan yang lain jaraknya agak berjauhan.


Sampai subuh kami mengobrol kemudian dilanjutkan dengan Sholat subuh berjamaah. Sementara kami sholat Farhan sebelumnya masuk ke kamar Ajar Panggiring dan menotoknya agar tidak dapat berbuat Aneh aneh.


*****


Dilokasi padepokan Joyo Maruto.


Author POV


Saat Ajar Panggiring sudah dibawa pulang oleh Yasin, Sena dan Farhan ditempat lain Joyo Maruto sampai ke lokasi pertempuran Ajar Panggiring dengan Yasin. Namun disitu tak diketemukan jejak jejak Ajar Panggiring. Maka mereka pun pulang ke pedepokan joyo maruto.


Sesampai di padepokan Joyo Maruto merekapun sama juga tidak bisa tidur karena kehilangan salah satu murid Joyo Maruto.


“Ajar Panggiring kehilangan ilmu andalannya, pasti dia sudah tertangkap, untuk itu kita harus memperdalam lagi ilmu yang kalian pelajari. Terutama ilmu kelabang Sayuto sebagi  ilmu penggempur andalan perguruan ini.” ucap Joyo Maruto.


“Ampun Guru, berapa lamakah untuk bisa memperdalam ilmu tersebut. Rasanya saya sudah tidak sabar ingin membalas kekalahan ini kepada anak muda tersebut guru.” Kata Mento Rogo.


“Aku juga rasanya sudah ingin menghadapi langsung anak itu, rasanya sudah ingin menghancurkan tulang tulang anak itu dengan ilmu giling wesiku.” Sahut Maheso Suro.


“Jangan Gegabah, anak itu seperti memiliki pelindung gaib yang selalu datang tiba tiba. Aku saja saat itu hampir bisa membunuhnya, tapi tiba tiba datang penolongnya yang membuat aku terpental jauh.” Ucap Joyo Maruto.


“Bagaimana dengan ilmu Panggiring Sukma Guru, apa masih bisa digunakan untuk mempengaruhi anggota keluarganya agar menuruti kita dan membunuh Yasin saat tidur. Hingga tak perlu menggunakan tangan kita ?” Tanya Mento Rogo.


“Saat ini pagar gaib di rumahnya sangat kuat gak bisa ditembus oleh prewangan prewangan yang ada. Kecuali ada yang bisa mengambil potongan rambut atau  kuku salah satu keluarganya dan dengan proses sesaji Tumbal Agung.” Jawab Joyo Maruto.


“Ampun Guru bolehkah Murid menantang Anak itu duel untuk mendapatkan potongan Rambut atau kukunya “ Tanya Mento Rogo.


“Aku sangsi kamu bisa melakukan itu, sepertinya anak itu masih terlalu kuat untukmu.” Jawab Joyo Maruto.


“Bagaimana jika saya juga ikut membantunya ki ageng ?” sahut Maheso Suro.


“Kalo ilmu kalian digabung artinya kalian berdua sama sama memiliki ilmu tameng wojo dan giling wesi mungkin baru bisa menghadapi anak itu. tapi jika satu punya giling wesi satunya tameng wojo itu bisa dengan mudah dapat dihancurkan oleh anak itu.ditambah dengan kelabang sayuto, karena anak itu punya ajian lembu sekilan.” jawab Joyo Maruto.


“Saya siap untuk menggabungkan ilmu tersebut ki Ageng !” ucap Maheso Suro.


“Saya juga demikian Guru.” Sahut ajar Panggiring.

__ADS_1


“Baiklah kalo begitu, mulai nanti malam kalian gabungkan ilmu kalian agar mampu menghadapi Yasin dan setelahnya baru aku akan banti tingkatkan ilmu kelabang Sayuto kalian semua. Dan untuk kamu Soma, perkuat saja teluhmu karena sekarang ada bala bantuan di pihak Yasin yang khusus menangani santet dan lainya.” Ucap Joyo Maruto.


“Baik Guru.” Jawab Mento Rogo dan Soma.


“Siap ki Ageng.” Maheso Suro menimpali.


Kemudian mereka berangkat tidur ketika sudah selesai berbincang bincang.


*****


Di rumah Yasin


Yasin POV


Usai sholat subuh sebenarnya aku masih mengantuk, namun melihat Jafar yang senyum senyum dan teriak teriak seakan mengajak bercanda kantukku jadi hilang. Anak ini benar benar sehat dan cepat sekali perkembanganya. Saat gedong nya di buka ( ikatan selendang melilit tubuhnya agar hangat ) tangan dan kakinya bergerak terus tidak berhenti sambil memanyun manyunkan bibirnya mengeluarkan suara tidak jelas dengan teriakan kahs bayi. Kadang juga seakan mengajak berbicara.


Ini anak belum selapan hari kenapa sudah begitu aktif pikirku.


“Mas gak tidur lagi ?” Tanya Fatimah Padaku yang sedang bercanda dengan Jafar Anakku.


“Gimana mau tidur lihat Jafar malah ngajak ngobrol begini.” Jawabku. Karena tiap aku ajak bicara seakan mengerti dan hendak ikut bicara dengan memanyun manyunkan bibirnya meski suaranya gak jelas. Hanya eeee aaa dan sebagainya.


“Iya emang gitu mas Jafar sekarang sudah tahu kalo dia lagi diajak bicara kayak yang mau ikut ngomong aja.” Sahut Fatimah.


“Jangan dikasih minuman atau makanan Lain, cukup ASI saja.” Kataku.


“Iya ibuk juga dah bilangin begitu kok. Makanya Fatimah disuruh banyak makan sayuran hijau yang segar.” Jawab Fatimah.


“Udah di gedong lagi aja, aku mau gendong Jafar mumpung ibu kepasar nanti takut gak boleh kalo ibu dating.” Kataku pada Fatimah.


“Bukan gak boleh mas, maksut ibu biar ibu dulu sementara yang rawat Jafar mumpung disini. Maklum ini kan cucu ibu pertama yang sudah lama dinanti nanti.” Protes Fatimah menganggap aku marah sama ibuk.


“Iya aku juga ngerti kok, lagian kan aku juga Cuma bercanda saja Fat. Masak iya ibuk sejahat itu nglarang aku gendong Jafar anakku sendiri.” Kataku.


“Enak aja anak sendiri, berdua dong mas…!” gurau Fatimah.


“Owh iya deh, ngalah aja kalo sama kamu.” Balasku.


Kemudian Jafar diletakkan di kedua Kaki Fatimah untuk digedong kemudian diserahkan ke aku. Aku langsung gendong Jafar yang sudah dalam gedongan. Sehingga hanya gerak gerakkan kaki seakan mau protes minta dilepaskan ikatanya.


“Jafar di gedong dulu ya, biar hangat jalan jalan sama ayah lagi yuk !” kataku pada Jafar.


Kemudian aku mengajak Jafar jalan jalan sambil menunggu neneknya pulang dari pasar. Pasti nanti akan segera diminta dan di gendongnya jika beliau pulang.


Kemudian aku mengajak Jafar ke tanah yang cukup Lapang di belakang rumahku. Yang biasa kami gunakan untuk latihan pencak silat dan olah raga ringan.


Saat sedang tengah tengahnya aku menggendong jafar tiba tiba perutku terasa basah.


“Hei Jafar pipis ya, ni ayah jadi basahkan ?” kataku pada jafar seakan memarahi dia.


Sungguh tak kuduga Jafar jadi Nangis kenceng seakan tahu kalo dimarahin ayahnya. Cepet cepet aku kasihkan ke Ibunya biar di susuin dulu, batinku. Yang gak bisa bikin JAfar diem.


“Jafar Nangis nih gak mau diem, mungkin risih karena ngompol tadi.” Kataku pada Fatimah.


“ah biasanya juga gak gitu kok kalo kelamaan baru dia nangis karena risih. Pasti tadi mas marahin ya ?!?” ucap Fatimah. Dalam hati aku berkata, “kok tahu ?”


“Gak kok kok aku apa apain.” Jawabku bohong.


“Alaah mas bohong, Jafar tu perasa ngerti kalo diomong orang gak usah berkilah.” Kata Fatimah.


“he he he kan Cuma pura pura masa nangisnya beneran gitu.” Kataku.


“Udah cup cup nak, ayah nakal ya ?” kata Fatimah sambil menyusui Jafar. Begitu Menyusu ibunya Jafar langsung diem.


“Owh haus berarti dia tadi Fat.” Kataku.


“Gak juga sebenarnya kan tadi udah mimik sebelum di gedong.” Jawab Fatimah.


Ditengah obrolan kami ibu mertuaku masuk ke kamar ku dan Fatimah.


“Kenapa kok cucuku nangis, diapaain tadi ?” Tanya Ibu mertuaku.


“Dimarahin Ayahnya bu, karena Pipis di gendonganya.” Jawab Fatimah mengadu.


“Dih gak kok bu Cuma bercanda aja kok tadi gak marah beneran kok.” Jawabku.


“Kamu ini kalo gak mau diompolin ya jangan gendong bayi..!” bentak ibu mertuaku.


“Iya bu, gak papa kok saya juga kebetulan belum mandi kok.” Kataku.


“Yaudah mandi dulu sana, biar Jafar tu aku aja yang gendong kamu besuk saja kalo udah selapan hari baru boleh gendong Jafar.


Kemudian aku segera keluar kamar dan menuju amar mandi dari pada kena omelan ibu mertua batinku.


Selesai mandi aku ke depan rumah, sengaja minum kopi disitu sambil merokok. Kalo di dalam rumah pasti kena damprat ibu mertua, batinku.


Saat sedang menikmati dan rokok tiba tiba pak yadi datang sudah berbaju Dinas lengkap untuk menjemput Ajar Panggiring.


“Assalaamu’alaikum Pak..!” sapa pak Yadi.


“Wa’alaikummsalaam pak Yadi, mari ngopi ngopi dulu pak.” Ajakku pada pak Yadi.

__ADS_1


“Makasih pak, tapi saya sedang buru buru, mau jemput Ajar Panggiring. Sudah jadi dimusnahkan kan ilmunya pak ?” Tanya pak Yadi.


“Alhamdulillah pak sudah selesai semalam. Sekarang insya Allah sudah tidak berbahaya lagi.” Jawabku pada Pak Yadi.


“Syukurlah kalo begitu ijinkan saya membawanya sekarang, soalnya semalam saya mengeluarkan peluru logistic dan dalam laporan sudah menyebut nama tersangka Ajar Panggiring.” Seru pak Yadi.


“Baik pak tunggu sebentar, biar saya panggilkan dulu.” Jawabku sambil mempersilahkan pak Yadi duduk di teras depan Rumahku.


Kemudian aku masuk mencari Sena dan Farhan untuk menyerahkan Ajar Panggiring kepada pihak yang berwajib. Agar kasusnya diselesaikan secara hukum yang berlaku. Tugasku dan pak Yadi juga Sena dan Farhan adalah sekedar membantu menangkap saja.


Kemudian dengan kawalan kami Ajar Panggiring kami serahkan ke pak Yadi.


“Sekarang Insya Allah sudah tak bisa melepaskan diri dari borgol seperti semalam pak.” Ucapku pada pak Yadi.


“Terimakasih atas kerja samanya pak, saya mohon pamit dulu. Dan kemungkinan akan nada rencana penggerebekan ke markas mereka dalam waktu dekat ini. jadi saya masih minta bantuan pak Yasin dan saudara saudara pak Yasin.” Kata pak Yadi.


“Insya Allah pak, sebagai warga Negara saya siap membantu semampu saya pak. Ini termasuk Nahi Munkar atau mencegah kebathilan ( Kejahatan) dan secara hukum Polisi seperti bapak yang berwenang, saya dan adik adik saya hanya sekedar membantu pak.” Jawabku pada pak Yadi.


“Yaudah pak saya permisi dulu.” Kata pak Yadi sambil menggandeng tangan Ajar Panggiring yang sudah terborgol tanganya.


Selepas pak Yadi pergi, kami bertiga melanjutkan pembicaraan kami semalam untuk mencari garis Nasab yang terputus.


“Nanti malam jadi kita mulai dari Ziaroh ke makam Eyang Sidiq Ali dan kedua orang tua kamu mas…!” ucap Farhan yang belum tahu nama kedua orang tuaku.


“Mas Farhan sudah tahu nama kedua orang tua mas Yasin belum ?” Tanya Sena. Kalo Sena memang sudah tahu karena dulu sering diajak bapaknya karena bapaknya dulu ngaji sama kakekku. Dan masih sering silaturahim kepada orang tuaku selagi masih hidup.


Hanya saja waktu itu gak pernah bertemu aku, karena aku dulu ngajinya di pos ojek atau terminal alias main kartu. Baik dengan uang ataupun sekedar iseng belaka.


“Belum sih, mau nanya malu soalnya, takut di katakana katanya ngaku saudara kok gak kenal orang tuanya. Soalnya mas yasin itu kan orangnya suka gitu.” Kata Farhan dengan polosnya.


Aku hanya senyum senyum saja tidak menjawab, biarin sesekali orang seperti Farhan aku isengin, batinku.


“Mas Yasin kok diem saja, tuh mas Farhan pingin tahu nama orang tua mas Yasin.” Kata Sena.


“Ah gak kok, Farhan gak bilang gitu kayaknya ?” jawabku godain Sena dan Yasin.


“Wah mas Yasin ngelamun ya tadi, jelas jelas mas Farhan bilang belum tahu gitu kok !” ucap Sena.


“Iya memang bilang belum tahu, tapi kan gak Nanya. Sapa tahu memang gak pingin tahu.” Gurauku.


“Wah mas Yasin ni bener bener deh, sifat usilnya udah mendarah daging kayaknya gak bakalan hilang.” Gerutu Sena dongkol.


Lah orang jawa itu kan JAWAB e ( tergantung jawabnya ) dia gak nanya masak aku suruh cerita.” Candaku ke Farhan dan Sena.


“Udah udah Farhan ngalah deh, nama bapak dan ibu mas Yasin siapa biar kita nanti saat mendoakan bisa sebut nama beliau ?” Tanya Farhan.


“Nah kalo gitu aku baru jawab, kalo gak nanya aku bilangin nanti dikira nyuruh kamu mendoakan orang tuaku kan gak enak. Bapaku bernama Azzam bin Sidiq Ali dan ibuku Ningsih binti Jafar Sanjaya.” Kataku pada Farhan.


“Yang sabar mas FArhan, menghadapi mas Yasin kalo gak sabar malah repot sendiri.” Kata Sena.


“Wkakakaka…. Gak lah aku kan Cuma bercanda saja jangan dimasukin ke hati, kalo dimasukin ke hati malah bisa jatuh cinta kamu kan repot aku, wkakaka….!” Gurauku pada saudaraku berdua itu.


Singkat cerita malam harinya kami bertiga pun berangkat ke makam kakek Sidq Ali dan nyai Salamah istrinya dan makam kedua orang tuaku.


Entah kenapa waktu itu hatiku sedih karena saat aku mempunyai anak Jafar, kedua orang tuaku sudah tiada. Terutama ibuku, kalo masih ada beliau pasti bangga putraku kuberi nama dari nama dua kakeknya.


Hingga tak terasa aku sampai mengeluarkan air mata.


“Mas kenapa menangis, ini di makam gak boleh menangis begitu ?” ucap Farhan.


“Aku bukan menangis meratapi kepergian mereka, hanya menyesali masa laluku yang membuat mereka semua malu…!?” jawabku.


“Sudahlah mas, itukan asa lalu memang tugas kamu berat karena punya masa lalu yang suram. Namun Farhan Yakin mas bisa kok. Buktinya mas sudah berubah sekarang kan.” Kata kata Farhan menghiburku.


Namun belum sepenuhnya membuat aku lupa akan kesedihanku. Dan bayangan wajah anakku Jafar dan Sidiq justru terlintas di hadapanku. Bagaimana aku mendidik mereka nanti. Jangan  sampai mereka tahu masa lalu ayah mereka, agar tidak beranggapan kesalahan itu biasa. Meski pintu taubat masih terbuka, namun siapa yang bisa menjamin kita sempat untuk bertaubat.


Akupun makin terisak membayangkan itu semua, sehingga Farhan dan Sena terpaksa menunggu aku tenang sebelum mulai mendoakan kedua orang tuaku dan kakek nenekku…


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2