Isyaroh

Isyaroh
Kang Salim membuka mata batin Yasin dan Samsudin


__ADS_3

Episode 94


Klalo aku gak bisa melakukan itu, tapi Samsudin dengan


cueknya melakukan tanpa beban begitu. Aku jadi kagum dengan sahabatku itu.


Meski kelihatan agak culun dihadapanku tapi keberanianya gak bisa diremehkan.


“Ini kan mau buat acara pernikahan kamu dan temen kamu itu


?”jawab penabuh gamelan itu.


“ Haah sapa yang mau nikah pak ? ya kit amah sudah punya


Istri semua ?” protes Samsudin.


“Gak bisa, ini temanten putrinya juga sebentar lagi dating,


kalin segera siap kesini.” Kata orang itu.kemudian aku dan samsudin di dudukkan


di dua kursi pelaminan yang berhadapan. Sesaat kemudian kulihat dua orang gadis


diiring untuk disandingkan denganku dan Samsudin.


Yang kami heran dua gadis itu adalah, Fatimah istriku dan


Eis istrinya Samsudin. Tapi Fatimah tidak kelihatan hamilnya, apakah di tutupi


biar gak kelihatan atau bagaimana ini ? aku diam terheran heran. Belum habis


heranku bertambah kaget lagi aku dan Samsudin,. Karena justru aku disandingkan


dengan Eis, sementara Samsudin disandingkan dengan Fatimah istriku. Aku


berontak tidak terima, namun seakan akan aku kehilangan kekuatanku. Demikian


juga Samsudin, dia juga terkuali lemas tak berdaya.


Sementara itu sosok yang menyerupai Eis justru tampak


tersenyum padaku, aku memalingkan muka memandang Fatimah dia juga tampak


terenyum menatap Samsudin yang tak berdaya. Samsudin pun jengah dengan tatapan


Fatimah dan berpaling memandangiku. Sehingga tatapan kami bertemu, tatapan mata


antara aku dan Samsudin menyadarkan kami. Saat itu sedang dalam ritual yang


dibimbing kang Salim lenyaplah semua penampakan yang tadi terlihat.


Kami kembali tersadar jika sedang berada disamping rumahku,


dan kang Salim membuka pembicaraan.


“Sudah saling mengikhlaskan sekarang, sudah saling menerima


kenyataan jika jodoh kalian sekarang adalah istri kalian masing masing ?” Tanya


kang Salim.


“Iya kang, sebenarnya apa yang terjadi dengan kami tadi.


Mengapa mengalami sesuatu yang aneh kang ?” tanyaku pada kang Salim.


“Itu tadi gambaran jiwa kalian yang masih belu bisa menerima


seutuhnya kenyataan. Masih ada sedikit ganjalan tentang jodoh kalian. Kuharap


mulai saat ini tak ada lagi. Terimalah semua takdir yang kamu terima.” Kata


kang Salim.


“Iya kang Salim, memang kita mengakui butuh proses untuk


itu. Jadi tujuanya mala mini untuk itu kang Salim ?” tanyaku lanjut.


“Bukan, kalian akan tahu sebentar lagi.” Ucap kang Salim.


Samsudin dan aku kemudian disuruh berdiri, dan disuruh focus


meandang kerarah utara kea rah gunung Merapi.


Aku melihat disebelah utara kira kira jarak 30 meter dari


tempat kami berdiri, ada seperti bangunan istana. Padahal itu adalah kebun


kosong yang tidak terawatt.


“Itulah Istana makhluk Astral yang selama ini mengganggu


kamu !” kata kang Salim memberitahuku.


“Lantas apa yang harus aku lakukan kang Salim  ?” tanyaku.


“Seperti saat di tempatku dulu, kamu harus kalahkan


pemimpinya. Tapi kali ini kamu didampingi Samsudin. Dan kamu gak perlu secara


fisik datang kesana, lakukan cara seperti tadi, ini sebentar lagi aalah waktu


yang tepat untuk kalian masuk kesana.” Kata kang Salim.


Kemudian aku dan Samsudin kembali duduk berhadapan seperti


tadi sambil melafalkan doa khusus dibantu kang Salim. Seperti yang terjadi


sebelumnya kami seperti masuk dalam pusaran angin, dan tahu tahu sudah berada


didalam Istana mekhluk Astral itu.


“Kita dimana Yasin, kok tahu tahu ditempat seperti ini.”


Tanya Samsudin padaku.


“seperti yang dibilang kang Salim tadi, kita berada


didimensi lain, dimensi mahluk Astral atau mahluk ghoib.” Kataku.


“Aku sebenarnya gak mau kayak begini, malas berurusan sama


yang namanya jin Yasin.” Kata Samsudin.


“Kamu pikir aku seneng apa berurusan msama mereka.” Jawabku.


“Terus apa yag harus kita lakukan sekarang ?” Tanya


Samsudin.


“Kita harus kalahkan pimpinan jin disini, tadi dibekali apa


sama kang Salim ?” tanyaku pada Samsudin.


“Gak ada ya, gak dikasih apa apa, kalo kamu dikasih apa ? “


Tanya Samsudin.


“Cuma di bekali tasbih yang kemarin kena peluru itu, tapi


aku ngerasa ini bukan tasbih aku ?” kataku pada Samsudin.


“Lalu dengan apa kita bisa mengalahkan mereka nanti ?” Tanya


lanjut Samsudin.


“Yah kita hadapi saja, kang Salim pasti sudah mengukur


kekuatan lawan dan kemampuan kita.” Jawabku.


“Iya sih, tapi bingung juga Aku nih. Kan belum pernah yang


beginian> kata Samsudin.


“Udah tenang saja nanti juga akan tahu harus bagaimana.”


Jawabku.


Kami berdua berputar putar mengndap, menghindar para


prajurit jin yang berpatroli.


Sampai akhirnya kami ketahuan juga sebelum dapat menemukan


pemimpin jin disitu.


“Siapa Kalian, mengapa masuk kesini tanpa diundang ?” Tanya


jin prajurit itu.


“Kami hendak bertemu rajamu, dan ingin melakukan


pembicaraan.” Jawabku.


“Kalian tunggu dulu disini, jangan ada yang bikin ulah. Aku


akan laporan ke raja kami dulu.” Sahut jin prajurit itu.

__ADS_1


kami ditinggalkan ditempat itu beberapa saat. Dan kulihat Samsudin agak


gelisah, mungkin agak khawatir tepatnya.


“Santai saja Din, mereka itu gak se ngeri yang orang


kebanyakan pikirkan.” Kataku.


“Takut sih gak, Cuma males saja urusan sama begituan tuh,


mereka licik penuh tipu daya.” Kata Samsudin.


“Ya kita juga harus licik dan bisa memperdaya mereka, jangan


kita yang diperdaya.” Jawabku enteng.


“Ah, itukan kamu aja Yasin, kamu kan dulu pernah dihukum


wirit I makam tiap malam. Jadi udah sering ngalamin hal kayak gini, kalo aku


kan belum pernah.” Ucap Samsudin.


“Makanya ini nanti buat pengalaman biar suatu saat bisa


berguna, jika diperlukan.” Kataku.


Saat kami sedang bercakap, tiba tiba prajurit jin yang tadi


bersama kawanya.


“Hmm kalian kenapa datang kemari, apa yang kalian cari


disini ?” Tanya pimpinan Prajurit nya.


“Gak ada yang kami cari disini, hanya  ingin bertemu dengan Raja kalian.” Jawabku.


Pimpinan prajurit itu memandangi aku cukup lama, kemudian


kembali bersapa.


“Aku tahu kamu, dan aku tahu apa yang akan kamu lakukan


disini. Bukankah kamu yang membawa kunci pembuka dua dimensi itu ?” Tanya


pimpinan prajurit itu.


“Iya, dan gak Cuma itu aku juga bawa pemukul gong simo ludro


dan cambuk kyai Pamuk.” Kataku menggertak.


Kemudian kuliht sosok sosok itu berembuk sebentar.


“Kami tidak ada urusan denganmu, kenapa kamu mau mengganggu


kami ?” Tanya pimpinan Prajurit jin itu.


“Siapa bilang kamu gak ada urusan denganku, kemarin beberapa


kali pasukanmu menyatroni rumahku. Dan jika aku tidak dipertemukan dengan


rajamu maka aku terpaksa membuat rusuh disini.” Kataku.


Sementara kulihat Samsudin hanya terdiam dari tai, mungkin


ini pengalaman baru baginya. Sehingga lebih banyak mengamati saja.


“Itu bukan semua rakyat kami, sebagian besar datang dari


beberapa tempat. Gak hanya satu tempat saja.” Jawabnya.


“Mau semua mau sebagian tetap saja mereka bikin onar


dirumahku. Dan yang aku tahu sebagian adalah rakyat disini.” Kataku.


“Tidak semua, yang dilakukan bangsa kami menjai tanggung


jawab kami. Bisa saja dia bersekutu dengan lainya, atau bahkan bersekutu dengan


bangsa manusia sepertimu.” Kata pemimpin prajurit itu.


“Begini saja deh, aku gak mau tahu alas an kamu. Yang jelas,


ada bangsamu yang tinggal di wilayah istana ini buat onar ditempatku. Kalo mau


menyerahkan mereka, aku pulang tapi kalo tidak ya akan aku cari dan tangkap


sendiri.” Gertakku.


Pimpinan prajurit itu menyuruh anak buahnya menyusul Raja


mereka, yang aku pernah berkomunikasi dengan salah satu petinggi Jin disekitar


dia.” Kataku dalam hati.


Cukup lama kami menunggu, akhirnya datang juga raja jin di


istana itu.


“Ternyata kamu yang bikin heboh disini.” Ucap sang Raja Jin


itu.


“Aku gak bikin heboh, tapi aku datang dengan baik baik. Tapi


prajuritmu yang gak sopan pada kami.” Kataku.


“Apa tujuan kamu kesini ?” langsung dia menayakan tujuanku.


Kemudian aku ceritakan seperti cerita pada pimpinan prajurit


jin tadi.


“Kami tidak pernah mengganggu ataupun menyuruh mengganggu.


Jadi itu semua bukan tanggung jawab kami.” Kata Raja Jin itu.


“Gak bisa begitu, kamu pimpinan mereka harus ikut tanggung


jawab atas anak buahmua.” Jawabku.


Di dekat sini juga ada kerajaan lain, mungkin dari sana juga


bisa gangguan itu datang.” Ucap raja Jin itu.


“Maksutmu yang disebelah selatan dan ada padepokan itu ?”


tanyaku.


“Iya, mungkin dari sana yang bikin onar di tempatmu.” Kata


Raja rin itu.


“Gak bukan dari sana, tapi jelas dari sini.” Bantahku.


raja jin itu tampak berdiam sejenak, aku membisikan pada Samsudin.


“Hati hati dengan serangn tiba tiba mereke sangat licik.” Bisikku pada


Samsudin.


“Iya, aku dari tadi terus melafalkan khizip juga. Semoga kita bisa selamat dari


ereka.” Ucap Samsudin.


“Jadi bagaimana ini, mau menyerahkan atau kami harus mencari


sendiri nih ?” ucapku dengan menaikan intonasi agar mereka jera.


“Selama ini hubungan diantara kita baik baik saja, dari


mulai kakek buyutmu. Hanya saja sejak kehadiran beberapa pendatang baru kemarin


memang beberapa kaumku terpengaruh olehnya.” Penjelasan Raja jin tersebut.


“Kamu gak usah sebut sebut kakek buyutku dalam hal ini.


Kakek buyutku sudah lama pergi, aku sendiripun hanya mendengar ceritanya. Tidak


bertemu wajah secara langsung.” Kataku.


“Demi menghormati beliau, justru kami tidak menahanmu, karena


darah yang mengalir pada dirimu adalah perpaduan antara darah jafar Sanjaya


dan  Sidiq Ali. Kami akan menindak kaum


kami yang mengganggu kaum kalian, terutama keluarga kalian. Kami bangsa jin


yang juga beribadah sama denganmu. Hanya dibedakan oleh ruang dan waktu saja.


Bangsa kami pun ada yang ikut berjamaah dengan bangsamu, hanya saja tak


terlihat oleh bansa kalian. Dulu hanya kakek buyutmu yang bisa melihat kami,


dan sekarang mungkin kamu, Sidiq cucu Sidiq. Meskipun kamu diberi nama oleh

__ADS_1


gurumu dengan nama Yasin. Tapi kami tahu kamu cucu Sidiq Ali dan namamu Ahmad


Sidiq dan anakmu pun bernama Sidiq juga.” Penjelasan Raja jin itu.


Lalu lamat lamat aku mendengar alunan bacaan Al Quran,


apakan benar ini kelompok jin Muslim. Atau jangan jangan dia mengecoh aku.


“Aku butuh bukti jika kamu juga beribadah kepada Allah sama


seperti aku.” Sahutku.


Kemudian aku diajak kesebuah ruangan, yang bentuknya mirip


Mushola.


“Inilah tempat kami beribadah, sama seperti di tempat kamu


beribadah, menghadap qiblat juga. Hanya waktu yang berbeda. Dan kamu bisa


Saksikan mereka yang sedang beribadah. Saat ada ta’lim di bangsamu pun kami


ikut hadir. Hanya saja…?” katanya terpenggal.


“Hanya apa ?” tanyaku.


“Hanya saja seperti bangsamu juga, tidak semua dari kami mau


beribadah. Dan yang begitu itulah, yang paling sering mengganggu manusia bangsa


mu.” Katanya.


“kenapa mereka bisa berbeda, atau tidak mau beribadah


seperti yang lain ?” tanyaku.


“Saat ada manusia yang memujanya, bersekutu denganya menjadi


pengikut atau budaknya itu ibarat menaikan level dia diantara jin lainya. Ada


persaingan antar mereka untuk menyesatkan bangsamu, karena semakin banyak yang


disesatkan bagi mereka adalah prestasi. Ibaratnya semakin mereka di puja


semakin bertambah kekuatanya. Sehingga banyak yang bersaing untuk menyesatkan


manusia diantaranya yang sampai meninggalkan istana ini adalah dalang anyi


anyi.” Katanyanya.


Aku agak terperanjat kaget, mendengar dia menyebut nama


dalang Anyi anyi. Karena aku pernah bertarung denganya meski hanya dialam mimpi


rasanya.


“apakh yang kau sebut dalang anyi anyi itu adalah yang punya


Aji gundolo sosro, dan diikuti tjuh naga dan harimau ?” tanyaku.


“Iya benar, hanya cambuk kyai pamuk dan gong simo ludro yang


bisa menghentikan dia.” Kata raja Jin itu.


“Apakah ada hubungan kamu dengan pimpinan jin yang bergelar


Mustofa yang juga ada disekitar sini ?” tanyaku.


“Tidak, dia datang dari sebrang dulunya adalah prajurit yang


lari kesini. Tapi meski tidak ada hubungan kami saling kenal. Dia ada pengikut


juga, yang dididik keprajuritan.” Katanya.


“untuk apa belajar keprajuritan, apakah bangsa kalian juga


ada perang seperti bangsa manusia ?” tanyaku heran.


“Jelas ada, bahkan sering kali kami harus berperang. Sama


seperti bangsa manusia berebut tahta dan kekuasaan menjadi pemicu peperangan.”


Penjelasan sosok itu justru membuatku bingung.


Diantara bangsa jin juga ada perang ? apa yang diperebutkan


mereka ? aku bertanya dalam hati.


“Kalo dengan Trowalik yang menunggu sumur batu apa


hubunganmu ?” tanyaku, ini harus aku korek sebanyak mungkin biar jelas.


“Tidak ada secara khusus, tapi saat ini dia baru ketakutan


dengan dalang itu.” Katanya menyebut dalang Anyi anyi dengan sebutan dalang


saja.


Lama merenung, tampaknya apa yang disampaikan itu memang


benar. Aku baru ingat bahwa jin dan manusia diciptakan hanya untuk beribadah.


Jadi jika manusia ada yng membangkang tidak mau beribaa, dengan bangsa jin pun


seperti itu. Manusia mengenal perang, merekapun juga saling berperang.


Sulit sekali dicerna akal. Namun aku juga tak mempunya argumentasi


buat menyanggah.


Akhirnya aku berpamitan padanya. Setelah meminta agar jangan


membuat onar di wilayahku, dan Raja itu berjanji unutuk menghukum kaumnya yang


melanggar atau dihukum ratusan tahun katanya.


Aku dan Samsudin diantarkan sampai kepintu gerbang menurut


penglihatanku. Dan akhirnya aku dan Samsudin kembali tersadar disampaing


rumah,yang ditungguin oleh kang Salim.


“Bagaimana kang, apakah sudah bertemu dengan pimpinananya ?”


Tanya kang Salim.


“Sudah kang, tapi dia hanya berjanji untuk menghukum anak


buahnya yang melanggar, jika ada manusia yang melanggar maka dia akan menyuruh


anak buahnya untuk mencaridan menghukum.”  Jawabku.


“Jadi selama ini yang mengganggu kami kebanyakan mahluk


atral yang lagi kang.” Jawabku masih terengah.


Rumit juga urusanya, tapi suatu saat pasti akan terkuak


rahasia kehidupan para jin itu seperti apa.


“Iya memang, tapi ada juga yang dari situ.” Kata kang Salim.


Aku hanya terdiam, kang Salim ternyata menyimpan rahasia


besar selama ini.


“Terusnya akau harus bagaimana kang Salim ?” tanyaku.


”Ya sekarang kamu harus selalu siap untuk melindungi


keluargamu.” Kata Kang Salim.


Aku terdiam sesaat, apakah aku harus bekerja ekstra keras,


menghadapi masalah begini ? jelas susah untuk Fokus.


Tiba tiba kang Salim berkata.


"Apa yang kita lakukan, adalah untuk membuka hijab kalian agar terbuka mata batin kalian.


coba kamu perhatikan sekeliling kalian sekarang." kata kang Salim.


kami pum memandang sekeliling, dan betepa kagetnya kami, ketika dengan mata telanjang kami dapat melihat beberapa mahluk Astral yang nampak oleh kami.


 


bersambung


Mohon dukungan, berupa


Like


Komen


dan

__ADS_1


Vote nya.


Terimakasih.


__ADS_2