
Episode 94
Klalo aku gak bisa melakukan itu, tapi Samsudin dengan
cueknya melakukan tanpa beban begitu. Aku jadi kagum dengan sahabatku itu.
Meski kelihatan agak culun dihadapanku tapi keberanianya gak bisa diremehkan.
“Ini kan mau buat acara pernikahan kamu dan temen kamu itu
?”jawab penabuh gamelan itu.
“ Haah sapa yang mau nikah pak ? ya kit amah sudah punya
Istri semua ?” protes Samsudin.
“Gak bisa, ini temanten putrinya juga sebentar lagi dating,
kalin segera siap kesini.” Kata orang itu.kemudian aku dan samsudin di dudukkan
di dua kursi pelaminan yang berhadapan. Sesaat kemudian kulihat dua orang gadis
diiring untuk disandingkan denganku dan Samsudin.
Yang kami heran dua gadis itu adalah, Fatimah istriku dan
Eis istrinya Samsudin. Tapi Fatimah tidak kelihatan hamilnya, apakah di tutupi
biar gak kelihatan atau bagaimana ini ? aku diam terheran heran. Belum habis
heranku bertambah kaget lagi aku dan Samsudin,. Karena justru aku disandingkan
dengan Eis, sementara Samsudin disandingkan dengan Fatimah istriku. Aku
berontak tidak terima, namun seakan akan aku kehilangan kekuatanku. Demikian
juga Samsudin, dia juga terkuali lemas tak berdaya.
Sementara itu sosok yang menyerupai Eis justru tampak
tersenyum padaku, aku memalingkan muka memandang Fatimah dia juga tampak
terenyum menatap Samsudin yang tak berdaya. Samsudin pun jengah dengan tatapan
Fatimah dan berpaling memandangiku. Sehingga tatapan kami bertemu, tatapan mata
antara aku dan Samsudin menyadarkan kami. Saat itu sedang dalam ritual yang
dibimbing kang Salim lenyaplah semua penampakan yang tadi terlihat.
Kami kembali tersadar jika sedang berada disamping rumahku,
dan kang Salim membuka pembicaraan.
“Sudah saling mengikhlaskan sekarang, sudah saling menerima
kenyataan jika jodoh kalian sekarang adalah istri kalian masing masing ?” Tanya
kang Salim.
“Iya kang, sebenarnya apa yang terjadi dengan kami tadi.
Mengapa mengalami sesuatu yang aneh kang ?” tanyaku pada kang Salim.
“Itu tadi gambaran jiwa kalian yang masih belu bisa menerima
seutuhnya kenyataan. Masih ada sedikit ganjalan tentang jodoh kalian. Kuharap
mulai saat ini tak ada lagi. Terimalah semua takdir yang kamu terima.” Kata
kang Salim.
“Iya kang Salim, memang kita mengakui butuh proses untuk
itu. Jadi tujuanya mala mini untuk itu kang Salim ?” tanyaku lanjut.
“Bukan, kalian akan tahu sebentar lagi.” Ucap kang Salim.
Samsudin dan aku kemudian disuruh berdiri, dan disuruh focus
meandang kerarah utara kea rah gunung Merapi.
Aku melihat disebelah utara kira kira jarak 30 meter dari
tempat kami berdiri, ada seperti bangunan istana. Padahal itu adalah kebun
kosong yang tidak terawatt.
“Itulah Istana makhluk Astral yang selama ini mengganggu
kamu !” kata kang Salim memberitahuku.
“Lantas apa yang harus aku lakukan kang Salim ?” tanyaku.
“Seperti saat di tempatku dulu, kamu harus kalahkan
pemimpinya. Tapi kali ini kamu didampingi Samsudin. Dan kamu gak perlu secara
fisik datang kesana, lakukan cara seperti tadi, ini sebentar lagi aalah waktu
yang tepat untuk kalian masuk kesana.” Kata kang Salim.
Kemudian aku dan Samsudin kembali duduk berhadapan seperti
tadi sambil melafalkan doa khusus dibantu kang Salim. Seperti yang terjadi
sebelumnya kami seperti masuk dalam pusaran angin, dan tahu tahu sudah berada
didalam Istana mekhluk Astral itu.
“Kita dimana Yasin, kok tahu tahu ditempat seperti ini.”
Tanya Samsudin padaku.
“seperti yang dibilang kang Salim tadi, kita berada
didimensi lain, dimensi mahluk Astral atau mahluk ghoib.” Kataku.
“Aku sebenarnya gak mau kayak begini, malas berurusan sama
yang namanya jin Yasin.” Kata Samsudin.
“Kamu pikir aku seneng apa berurusan msama mereka.” Jawabku.
“Terus apa yag harus kita lakukan sekarang ?” Tanya
Samsudin.
“Kita harus kalahkan pimpinan jin disini, tadi dibekali apa
sama kang Salim ?” tanyaku pada Samsudin.
“Gak ada ya, gak dikasih apa apa, kalo kamu dikasih apa ? “
Tanya Samsudin.
“Cuma di bekali tasbih yang kemarin kena peluru itu, tapi
aku ngerasa ini bukan tasbih aku ?” kataku pada Samsudin.
“Lalu dengan apa kita bisa mengalahkan mereka nanti ?” Tanya
lanjut Samsudin.
“Yah kita hadapi saja, kang Salim pasti sudah mengukur
kekuatan lawan dan kemampuan kita.” Jawabku.
“Iya sih, tapi bingung juga Aku nih. Kan belum pernah yang
beginian> kata Samsudin.
“Udah tenang saja nanti juga akan tahu harus bagaimana.”
Jawabku.
Kami berdua berputar putar mengndap, menghindar para
prajurit jin yang berpatroli.
Sampai akhirnya kami ketahuan juga sebelum dapat menemukan
pemimpin jin disitu.
“Siapa Kalian, mengapa masuk kesini tanpa diundang ?” Tanya
jin prajurit itu.
“Kami hendak bertemu rajamu, dan ingin melakukan
pembicaraan.” Jawabku.
“Kalian tunggu dulu disini, jangan ada yang bikin ulah. Aku
akan laporan ke raja kami dulu.” Sahut jin prajurit itu.
__ADS_1
kami ditinggalkan ditempat itu beberapa saat. Dan kulihat Samsudin agak
gelisah, mungkin agak khawatir tepatnya.
“Santai saja Din, mereka itu gak se ngeri yang orang
kebanyakan pikirkan.” Kataku.
“Takut sih gak, Cuma males saja urusan sama begituan tuh,
mereka licik penuh tipu daya.” Kata Samsudin.
“Ya kita juga harus licik dan bisa memperdaya mereka, jangan
kita yang diperdaya.” Jawabku enteng.
“Ah, itukan kamu aja Yasin, kamu kan dulu pernah dihukum
wirit I makam tiap malam. Jadi udah sering ngalamin hal kayak gini, kalo aku
kan belum pernah.” Ucap Samsudin.
“Makanya ini nanti buat pengalaman biar suatu saat bisa
berguna, jika diperlukan.” Kataku.
Saat kami sedang bercakap, tiba tiba prajurit jin yang tadi
bersama kawanya.
“Hmm kalian kenapa datang kemari, apa yang kalian cari
disini ?” Tanya pimpinan Prajurit nya.
“Gak ada yang kami cari disini, hanya ingin bertemu dengan Raja kalian.” Jawabku.
Pimpinan prajurit itu memandangi aku cukup lama, kemudian
kembali bersapa.
“Aku tahu kamu, dan aku tahu apa yang akan kamu lakukan
disini. Bukankah kamu yang membawa kunci pembuka dua dimensi itu ?” Tanya
pimpinan prajurit itu.
“Iya, dan gak Cuma itu aku juga bawa pemukul gong simo ludro
dan cambuk kyai Pamuk.” Kataku menggertak.
Kemudian kuliht sosok sosok itu berembuk sebentar.
“Kami tidak ada urusan denganmu, kenapa kamu mau mengganggu
kami ?” Tanya pimpinan Prajurit jin itu.
“Siapa bilang kamu gak ada urusan denganku, kemarin beberapa
kali pasukanmu menyatroni rumahku. Dan jika aku tidak dipertemukan dengan
rajamu maka aku terpaksa membuat rusuh disini.” Kataku.
Sementara kulihat Samsudin hanya terdiam dari tai, mungkin
ini pengalaman baru baginya. Sehingga lebih banyak mengamati saja.
“Itu bukan semua rakyat kami, sebagian besar datang dari
beberapa tempat. Gak hanya satu tempat saja.” Jawabnya.
“Mau semua mau sebagian tetap saja mereka bikin onar
dirumahku. Dan yang aku tahu sebagian adalah rakyat disini.” Kataku.
“Tidak semua, yang dilakukan bangsa kami menjai tanggung
jawab kami. Bisa saja dia bersekutu dengan lainya, atau bahkan bersekutu dengan
bangsa manusia sepertimu.” Kata pemimpin prajurit itu.
“Begini saja deh, aku gak mau tahu alas an kamu. Yang jelas,
ada bangsamu yang tinggal di wilayah istana ini buat onar ditempatku. Kalo mau
menyerahkan mereka, aku pulang tapi kalo tidak ya akan aku cari dan tangkap
sendiri.” Gertakku.
Pimpinan prajurit itu menyuruh anak buahnya menyusul Raja
mereka, yang aku pernah berkomunikasi dengan salah satu petinggi Jin disekitar
dia.” Kataku dalam hati.
Cukup lama kami menunggu, akhirnya datang juga raja jin di
istana itu.
“Ternyata kamu yang bikin heboh disini.” Ucap sang Raja Jin
itu.
“Aku gak bikin heboh, tapi aku datang dengan baik baik. Tapi
prajuritmu yang gak sopan pada kami.” Kataku.
“Apa tujuan kamu kesini ?” langsung dia menayakan tujuanku.
Kemudian aku ceritakan seperti cerita pada pimpinan prajurit
jin tadi.
“Kami tidak pernah mengganggu ataupun menyuruh mengganggu.
Jadi itu semua bukan tanggung jawab kami.” Kata Raja Jin itu.
“Gak bisa begitu, kamu pimpinan mereka harus ikut tanggung
jawab atas anak buahmua.” Jawabku.
Di dekat sini juga ada kerajaan lain, mungkin dari sana juga
bisa gangguan itu datang.” Ucap raja Jin itu.
“Maksutmu yang disebelah selatan dan ada padepokan itu ?”
tanyaku.
“Iya, mungkin dari sana yang bikin onar di tempatmu.” Kata
Raja rin itu.
“Gak bukan dari sana, tapi jelas dari sini.” Bantahku.
raja jin itu tampak berdiam sejenak, aku membisikan pada Samsudin.
“Hati hati dengan serangn tiba tiba mereke sangat licik.” Bisikku pada
Samsudin.
“Iya, aku dari tadi terus melafalkan khizip juga. Semoga kita bisa selamat dari
ereka.” Ucap Samsudin.
“Jadi bagaimana ini, mau menyerahkan atau kami harus mencari
sendiri nih ?” ucapku dengan menaikan intonasi agar mereka jera.
“Selama ini hubungan diantara kita baik baik saja, dari
mulai kakek buyutmu. Hanya saja sejak kehadiran beberapa pendatang baru kemarin
memang beberapa kaumku terpengaruh olehnya.” Penjelasan Raja jin tersebut.
“Kamu gak usah sebut sebut kakek buyutku dalam hal ini.
Kakek buyutku sudah lama pergi, aku sendiripun hanya mendengar ceritanya. Tidak
bertemu wajah secara langsung.” Kataku.
“Demi menghormati beliau, justru kami tidak menahanmu, karena
darah yang mengalir pada dirimu adalah perpaduan antara darah jafar Sanjaya
dan Sidiq Ali. Kami akan menindak kaum
kami yang mengganggu kaum kalian, terutama keluarga kalian. Kami bangsa jin
yang juga beribadah sama denganmu. Hanya dibedakan oleh ruang dan waktu saja.
Bangsa kami pun ada yang ikut berjamaah dengan bangsamu, hanya saja tak
terlihat oleh bansa kalian. Dulu hanya kakek buyutmu yang bisa melihat kami,
dan sekarang mungkin kamu, Sidiq cucu Sidiq. Meskipun kamu diberi nama oleh
__ADS_1
gurumu dengan nama Yasin. Tapi kami tahu kamu cucu Sidiq Ali dan namamu Ahmad
Sidiq dan anakmu pun bernama Sidiq juga.” Penjelasan Raja jin itu.
Lalu lamat lamat aku mendengar alunan bacaan Al Quran,
apakan benar ini kelompok jin Muslim. Atau jangan jangan dia mengecoh aku.
“Aku butuh bukti jika kamu juga beribadah kepada Allah sama
seperti aku.” Sahutku.
Kemudian aku diajak kesebuah ruangan, yang bentuknya mirip
Mushola.
“Inilah tempat kami beribadah, sama seperti di tempat kamu
beribadah, menghadap qiblat juga. Hanya waktu yang berbeda. Dan kamu bisa
Saksikan mereka yang sedang beribadah. Saat ada ta’lim di bangsamu pun kami
ikut hadir. Hanya saja…?” katanya terpenggal.
“Hanya apa ?” tanyaku.
“Hanya saja seperti bangsamu juga, tidak semua dari kami mau
beribadah. Dan yang begitu itulah, yang paling sering mengganggu manusia bangsa
mu.” Katanya.
“kenapa mereka bisa berbeda, atau tidak mau beribadah
seperti yang lain ?” tanyaku.
“Saat ada manusia yang memujanya, bersekutu denganya menjadi
pengikut atau budaknya itu ibarat menaikan level dia diantara jin lainya. Ada
persaingan antar mereka untuk menyesatkan bangsamu, karena semakin banyak yang
disesatkan bagi mereka adalah prestasi. Ibaratnya semakin mereka di puja
semakin bertambah kekuatanya. Sehingga banyak yang bersaing untuk menyesatkan
manusia diantaranya yang sampai meninggalkan istana ini adalah dalang anyi
anyi.” Katanyanya.
Aku agak terperanjat kaget, mendengar dia menyebut nama
dalang Anyi anyi. Karena aku pernah bertarung denganya meski hanya dialam mimpi
rasanya.
“apakh yang kau sebut dalang anyi anyi itu adalah yang punya
Aji gundolo sosro, dan diikuti tjuh naga dan harimau ?” tanyaku.
“Iya benar, hanya cambuk kyai pamuk dan gong simo ludro yang
bisa menghentikan dia.” Kata raja Jin itu.
“Apakah ada hubungan kamu dengan pimpinan jin yang bergelar
Mustofa yang juga ada disekitar sini ?” tanyaku.
“Tidak, dia datang dari sebrang dulunya adalah prajurit yang
lari kesini. Tapi meski tidak ada hubungan kami saling kenal. Dia ada pengikut
juga, yang dididik keprajuritan.” Katanya.
“untuk apa belajar keprajuritan, apakah bangsa kalian juga
ada perang seperti bangsa manusia ?” tanyaku heran.
“Jelas ada, bahkan sering kali kami harus berperang. Sama
seperti bangsa manusia berebut tahta dan kekuasaan menjadi pemicu peperangan.”
Penjelasan sosok itu justru membuatku bingung.
Diantara bangsa jin juga ada perang ? apa yang diperebutkan
mereka ? aku bertanya dalam hati.
“Kalo dengan Trowalik yang menunggu sumur batu apa
hubunganmu ?” tanyaku, ini harus aku korek sebanyak mungkin biar jelas.
“Tidak ada secara khusus, tapi saat ini dia baru ketakutan
dengan dalang itu.” Katanya menyebut dalang Anyi anyi dengan sebutan dalang
saja.
Lama merenung, tampaknya apa yang disampaikan itu memang
benar. Aku baru ingat bahwa jin dan manusia diciptakan hanya untuk beribadah.
Jadi jika manusia ada yng membangkang tidak mau beribaa, dengan bangsa jin pun
seperti itu. Manusia mengenal perang, merekapun juga saling berperang.
Sulit sekali dicerna akal. Namun aku juga tak mempunya argumentasi
buat menyanggah.
Akhirnya aku berpamitan padanya. Setelah meminta agar jangan
membuat onar di wilayahku, dan Raja itu berjanji unutuk menghukum kaumnya yang
melanggar atau dihukum ratusan tahun katanya.
Aku dan Samsudin diantarkan sampai kepintu gerbang menurut
penglihatanku. Dan akhirnya aku dan Samsudin kembali tersadar disampaing
rumah,yang ditungguin oleh kang Salim.
“Bagaimana kang, apakah sudah bertemu dengan pimpinananya ?”
Tanya kang Salim.
“Sudah kang, tapi dia hanya berjanji untuk menghukum anak
buahnya yang melanggar, jika ada manusia yang melanggar maka dia akan menyuruh
anak buahnya untuk mencaridan menghukum.” Jawabku.
“Jadi selama ini yang mengganggu kami kebanyakan mahluk
atral yang lagi kang.” Jawabku masih terengah.
Rumit juga urusanya, tapi suatu saat pasti akan terkuak
rahasia kehidupan para jin itu seperti apa.
“Iya memang, tapi ada juga yang dari situ.” Kata kang Salim.
Aku hanya terdiam, kang Salim ternyata menyimpan rahasia
besar selama ini.
“Terusnya akau harus bagaimana kang Salim ?” tanyaku.
”Ya sekarang kamu harus selalu siap untuk melindungi
keluargamu.” Kata Kang Salim.
Aku terdiam sesaat, apakah aku harus bekerja ekstra keras,
menghadapi masalah begini ? jelas susah untuk Fokus.
Tiba tiba kang Salim berkata.
"Apa yang kita lakukan, adalah untuk membuka hijab kalian agar terbuka mata batin kalian.
coba kamu perhatikan sekeliling kalian sekarang." kata kang Salim.
kami pum memandang sekeliling, dan betepa kagetnya kami, ketika dengan mata telanjang kami dapat melihat beberapa mahluk Astral yang nampak oleh kami.
bersambung
Mohon dukungan, berupa
Like
Komen
dan
__ADS_1
Vote nya.
Terimakasih.