Isyaroh

Isyaroh
Margono di penjara


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Ini sih sudah keterlaluan malah berani nyuruh Rendy yang baru sakit, kayak raja aja bener bener harus dikasih pelajaran kalo begini Sih, kataku  dlam hati.


“Udah mas gak usah diperpanjang kenapa ? urusan kita masih lebih banyak.” Ucap Fatimah.


‘Gak bisa begitu, mereka sudah sangat keterlaluan rendy yag masih sakit malah disuru suruh bukanya mita tolong anggota rombongan merka.” Jawabku pada Fatimah yang membuat semua jadi tertunduk


“Yaudah Zain kita sholat dulu habis itu kita samperin saja mereka, kayaknya memang harus kita yag turun tangan. Mungkin pikiran mereka beku jadi harus kita pukuli biar pikraya agak encer.” Kta Rofiq penuh emosi. 


“Hayuk lah sholat dulu saja, Rendy kamu sekalian ikut shoal aja dulu.” Ajakku pada Rendy dan semua.


“Terus mereka bagaimana lek ?” Tanya Rendy.


“Itu nanti saja yang penting Sholat dulu saja.” Ulangku pada Rendy.


Kami segera melaksanakan Sholat seperti biasanya, setelah Sholat dilanjutkan wirit jamaah.


Setelah itu aku bilang pada Fatimah mau mengantar Rendy pulang.


“Aku mau mengantar Rendy dulu, kamu gak usah mikir macem macem.” Kataku pada Fatimah.


“Jangan sendirian mas, buka apa apa soalnya mereka kayaknya bar bar dan rombongan begitu.” Ucap Fatimah.


“Ok, aku ajak Rofiq dan Ardian Rofiq sebagai sahabat lamaku dan Ardian sebagai pihak yang berwajib agar bisa menjadi penengah dan saksi jika terjadi sesuatu.” Jawabku pada Fatimah.


“Yaudah kalo begitu, tapi tetap hati hati.” Ucap Fatimah sambil mencium tanganku sebagai bentuk hormatnya pada suami.


Kami segera berangkat, aku bersama Rendy dengan motor Rendy dan Rofiq bersama Ardian berboncengan. Aku masih tetap menggunakan pakaian sholatku lengkap dengan peci dan surban.


“Zain,lo gak ganti dulu kalo misal harus kontak fisik gimana nanti. Atau bawa apa buat senjata, takutnya mereka juga bawa senjata juga.” Kata  Rofiq berbisik.


“Tenang bang, cukup bawa ini saja.” Jawabku sambil mengambil dua  batu kerikil seukuran biji salak kemudian kuikat di ujung ujung serbanku.


“Lo mau pakai jimat itu batu ?” Tanya Rofiq.


“Lihat saja nanti bang, jimat ini bisa bikin mereka lari ketakutan kalo berani macam macam.” Ucapku santai.


“Terserah lo lah, aku ikut saja.” Ucap rofiq.


Tak berapa lama kami pun sampai dirumah Rendy, ternyata cukup banyak yang datang dan nongkrong di depan Rumah Rendy. Melihat gaya dan penampilan mereka bukan seperti orang yang mau minta maaf untuk damai tapi seperti orang yang mau ngajak tawuran pikirku.


“Lama amat ditungguin dari tadi juga…!” Ucap Margono lagaknya udah kayak jagoan merasa banyak pendukungnya. Sepintas aku mencium aroma kahs yang sudah hafal banget dengan aroma itu. iya benar ini adalah Aroma alcohol, orang orang itu menenggak alcohol dulu sebelum kesini pikirku.


Sudah begitu aku melihat beberapa orang dari mereka malah membawa parang. Wah ini sih ngajak tawuran bukan mau ngajak damai apalagi mau minta maaf, pikirku. Naiklah kalo itu mau kalian, boleh lah sedikit bermain main tanganku juga udah gatal rasanya.


Alu mendekati Ardian dulu sebelum menyapa mereka.


“Ardian kayaknya mereka memang sengaja cari ribut, biarlah aku dan Rofiq melayani permainan mereka sebentar. Kamu jangan buru buru mengaku kalo kamu polisi.” Bisikku pada Ardian.


“Siap pak, kayaknya memang mereka juga perlu diberi pelajaran. Sayang saya anggota polis, kalo tidak saya juga pingin ikut bermain.” Jawab Ardian.


Cocok nih anak ini karakternya aku suka banget dengan karakter Ardian ini. berani dan tegas tapi tetap mengedepankan aturan.


“Kalian ini datang kesini sudah gak menghormati waktu maghrib, datangnya mabuk bawa senjata lagi. Kalian mau ngajak damai atau mau ngajak twuran sih ?” aku langsung pada inti permasalahan. Sementara Rendy aku suruh bersama Ardian biar aman, aku berdua dengan Rofiq menghadapi mereka.


“Bukanya kamu yang minta kami datang semua yang waktu itu ikut datang kesini, kenapa sekarang malah ketakutan ?” teriak Margono. Wah malah makin kurang ajar ni orang, sasaran utamaku harus margono yang kuberi pelajaran pertama,pikirku.


“Hmm kayaknya gak ada yang ketakutan tuh, setahu aku yang kemarin koar koar gak ada yang ditakuti kamu. Tapi ternyata keberanianmu hanya dimulut saja. Karena saat sidang kemarin kamu macem tikus got yang kesiram air, kedinginan dan menggigil. Nah sekarang mumpung disini kamu maunya apa ?” tanyaku langsung untuk memancing emosi Margono agar lebih dulu menyerangku, disaksikan Ardian dan lainya.


“Kamu gak usah sombong, mentang mentang kamu dulu banyak bergaul dengan preman preman terminal. Tapi aku juga belum pernah fight denganmu juga, kalo mau dibuktiin saja sekarang.” Kata Margono.


“Ya memang belum pernah untungnya, kalo sudah pernah mungkin mulut kamu gak akan bisa sesumbar begitu.” Kataku memancing amarah Margono.


Dan berhasil membuatnya sangat marah, tanpa berkata langsung mengeluarkan golok yang dia selipkan disamping jok motornya.


Aku bersiap dengan kuda kuda dan tanganku memegang surbanku yang dikedua ujungnya sudah aku ikat batu kerikil yang cukup keras untuk sekedar member pelajaran pada Margono itu.


“Kamu yakin Zain gak pakai senjata ?” bisik Rofiq.


“Tenang saja bang, lihat saja nanti, dia akan terkencing kencing dengan tipuan kecilku ini.” balasku berbisik.

__ADS_1


“Hei mana senjatamu jangan bilang nanti kalah karena kamu  gak bawa senjata.” Teriak Margono.


“Aku pikir buat melawan kamu aku gak butuh senjata, karena aku tahu hanya mulutmu yang besar, kalo gak minum dulu juga kamu gak akan berani melawan aku.” Pancingku sambil mengawasi gerakan kaki dan sorot mata margono.


Begitu kulihat kakinya seperti menghentak hendak melompat menyerang dan gerakan tangan yang siap mengayunkan goloknya. Aku segera menggeser mundur tubuhku dan surbanku kuputar kuarahkan ke kepala margono. Dan ujung serban yang sudah kuikat batu tepat mengenai pelipis Margono sehingga dia kesakitan dan goloknya sampai terlepas. Karena reflek tangan margono memegang pelpisnya yang berdarah akibat terkena surban yang bersi batu kerikil tadi.


Tak member kesempatan aku memutar kembali surbanku kali ini bukan menyamping tapi kuputar keatas dan kuarahkan kebawah tepat mengenai kepala Margono yang saat itu sudah tertunduk dan memgangi pelipisnya yang sudah berdarah.


Aku yakin rasa pening yang sangat dirasakan Margono saat itu, karena pelipisnya seperti dihantam batu dengan kecepatan tinggi.


Sudah begitu aku tambah dengan pukulan kedua kearah ubun ubun Margono, meski gak sekeras pukulan pertama tapi cukup membuat Margono jatuh terkapar. Golok yang sudah jatuh ku ambil untuk aku amankan. Namun bebara orang salah sangka dikira akan aku gunakan untuk melukai Margono. Sehingga beberapa orang berteriak dan berlari mau mengeroyokku.


Untunglah disaat yang tepat Ardian memberikan tembakan peringatan dan berteriak.


“Diam ditempat, POLISI…!!!”


Akhirnya semua berhenti, dan meletakkan senjatanya masing masing. Kemudian beberap orang menggotong  Margono untuk di singkirkan.


Dengan di damping Ardian, setelah menyita semua senjata tajam milik mereka yang diamankan Rofiq. Aku mendekati Margono yang duduk bersandar pada tembok rumah Rendy.


“Bagaimana sudah puas atau belum ?” tanyaku pada Margono.


Mrgono tak berani menatapku, hanya mengangguk saja.


“Bilang saja kalo belum pus mau dilanjutin kapan lagi juga gak papa.” Kataku kemudian.


Sesaat kemudian beberapa tokoh masyaraakat di Desa  kami datang dan mendekati aku dan Margono. Termasuk ada pak lurah juga hadir disitu.


“Loh kenapa ini, kok malah jadi seperti ini ?” Tanya Pak Lurah.


“Mungkin salah informasi atau salah pengertian pak saya gak tahu.” Jawabku.


“Maaksutnya salah pengertian bagaimana mask ok sampai ada yang terluka seperti ini ?” Tanya Pak Lurah lagi.


“Yang saya minta kan mereka datang untuk minta maaf kepada Rendy, bukan datang mengajak ribut seperti ini.” kataku.


“Saya juga bilangnya mereka saya suruh minta maaf. Memang mereka membut ribut disini ?” kata pak Lurah.


Kemudian aku memanggil Rofiq untuk menunjukkan senjata tajam yang mereka bawa yang sudah disita.


“Ini pak buktinya mereka kesini membawa senjata tajam dan dalam posisi mabuk. Udah gitu pas waktuya orang sholat maghrib lagi.” Jawabku pada pak Lurah.


Kemudin Ardian datang member kesaksian bahwa mereka memang datang dengan menakut nakuti dan tidak beritikat baik. sehingga singkatnya sampai terjadi keributan dan Margono menyerang duluan dengan senjata tajam miliknya. Brulah pak Lurah percaya, kahirnya malam itu juga akhirnya Margono yang diamankan di polsek dengan tuduhan membuat keonaran serta menghasut massa.


Meski dlam hati aku tertawa mendengar itu, lantaran  mereka hanya tidak tahu rahasia batu kerikil yang aku ikat diujug surban yang aku pakai itu. Dasar orang orang tolol kebnyakan halu semua selalu dikaitkan dengan hal hal metafisik atau supra natural. Meskipun aku kadang juga berurusan dengan hal hal supranatural tapi tidak pernah meninggalkan logika,batinku.


Stelah semuanya clear Margono sudah tak lagi sesumbar,bahkan rombonganya sudh sangat ketakutan. Selain ketakutan tersangkut urusan polisi jugaa ketakutan denganku yang dianggap mempunyai tenaga dalam sehingga mampu melukai kepala Margono hanya dengan surban.


Semua kembali kerumah masing masing, termasuk aku dan Ardian juga Rofiq. Setelah berpamitan dengan Rendy dan ibunya, Motor Reendy aku pinjam untuk pulang karena Rendy juga belum sehat betul.


Sesampai dirumah Rofiq langsung mendekatiku sebelum masuk ke rumah.


“Jadi maksut lo jimat itu tadi kayak gitu Zain ?” Tanya Rofiq.


“Wkakaka… iya bang, mungkin mereka pikir aku sakti bisa melukai margono hanya dengan surban saja. Padahal kuncinya ada di batu yang kuikat diujung surban tadi.” Bisikku pada Rofiq.


“lo emang bisa aja Zain, dapet ide dari mana bisa kayak gitu ?” Tanya Rofiq penasaran.


“Wah rahasia perusahan kalo itu sih bang, wkakaka,,,,!” jawabku bercanda.


“Kampret lo dari dulu masih saja suka begitu.” Gerutu Rofiq.


“Yaudah masuk dulu, ngobrolnya di dalam rumah saja sambil ngopi.” Ajakku pada Rofiq.


Kemudian aku dan Rofiq melanjutkan obrolan diruang tamu, dengan didampingi Fatiamah istriku dan Isti serta Khotimah. Dimana ketiga wanita tersebut sudah menantikan kedatangan kami dengan was was.


“Kok lama amat mas, kalo Cuma proses minta maaf saja. Ini sudah hampir jam Sembilan malam.” Seru Fatimah.


“Gak papa ko, tadi kami Cuma sekalian refreshing dan olah raga ringan saja dirumah Rendy.” Jawabku santai.


“Isti dah bisa nebak, pasti ada keributan kan ?” sahut Isti.


“Gak kok, kan ada Ardian begitu mau ada keributan  Ardian bisa membubarkan karena dia Polisi.” Ucapku.


“Alasan saja kamu mas, surban kamu ketinggalan disana ?” Tanya Fatimah.


“Enggak Cuma tadi jatuh terus kotor.”Jawabku berbohong.


“Mana sekarang ?” Tanya Fatimah.


“Ada kok, kutaruh dikamar mandi tadi.” Kataku.

__ADS_1


“Serius ?” Tanya lanjut Fatimah.


“Iya ngapain bohong, Cuma surban aja sih ngapain diributin ?” kataku.


“Bukan masalah surbanya tapi Fatimah ngerasa aneh saja kok pulangnya gak pakai surban.” Kata Fatimah.


 “Cemburu ya, takut aku berikan sama yang lain ya ?” godaku pada Fatimah.


“Gak gitu mas, sekarang Fatimah mau denger ceritanya tadi bagaimana disana. Tapi Fatimah maunya yang cerita mas Rofiq bukan kamu mas.” Kata Fatimah.


“Wah mau bikin aku cemburu ya kamu, malah mau dengerin kakaknya Isti gak mau dengerin aku.” Godaku.


“Bodo, soalnya mas suka bohong kalo ceerita suka dipelintir pelintir biar yang dengerin gak faham.” Jawab Fatimah.


“Yaudah, bang kamu aja yang cerita aku gak laku nih.” Candaku.


“Iya memang tadi aa keributan kecil karena mereka pada mabuk, tapi bisa diselesaikan dengan baik sama suami kamu Fatimah. Dan akhirnya Margono yang ditangkap polisi.” Ujar Rofiq.


“Nah itu mas yang buat Isti curiga, mas yasin tadi bilang ada olah raga kecil. Pasti mas Yasin berantem lagi tadi ?” ucap Isti. Cukup jeli juga ni orang, pikirku.


“Iya soalnya tadi Margono tiba tiba nyerang Yasin, dia mempertahankan diri saja kok.” Jawab Rofiq.


“Beneran begitu mas Rofiq ?” Tanya Fatimah.


“Iya Fat, memang begitu ceritanya kok.” Ucap Rofiq.


“Iya jujur tadi surbanku aku jadikan senjata bertahan jadi memang ada bercak darahnya Margono sedikit. Maaf aku gak bermaksut bohong, hanya gak mau kalian jadi khawatir saja.” Tambahku.


“Surban jadi senjata ? maksutnya gimana mas Fatimah malah bingung gak faham.!” Tanya Fatimah.


“Udah kalo itu urusan lelaki yang jelas aku gak papa, dan juga gak ada niatanmau ribut kok. Mendingan bikini kopi gih, kita belum ngopi nih. Dan mala mini kau akan mulai membaca doa untuk memagari rumah ini dari awal lagi.” Kataku pada Fatimah.


“Biar Khotimah yang bikinin, ma Rofiq juga mau kopi ?” Tanya Khotimah.


“Boleh Khot, makasih sebelumnya.” Jawab Rofiq.


“Jadi apa yang mas lakukan itu sekedar membuat mereka jera saja agar tidak berbuat seenaknya. Menindas orang yang lemah, jadi mas juga terpaksa menggunakan jurus jurus yang pernah diajarkan kang Salim dulu. Tapi tidak untuk balas dendam atau menyakiti sekedar untuk member pelajaran saja. Dengan demikian mereka gak akan semena mena lagi dengan orang lain. Bisa dibuktikan setelah ini, Insya Allah mereka akan berubah gak kayak dulu dulu lagi. Karena ada yang berani, dan mereka akhirnya terbukti bersalah.” Jawabku.


Belum lagi selesai Khotimah membuat kopi untuk kami, tiba tiba datang seorang petugas kepolisian bersama pak Lurah.


“Asslalaamu’alaikum “ suara pak Lurah.


“Wa’alaikummussalaam, masuk pak mari silahkan duduk kebetulan kami juga baru mau nggopi. Mau kopi atau the pak.” Tawarku pada pak Lurah dan satuan Polisi dari Polsek.


“wah kebetulan kami juga belum ngopi baru habis dari kantor polisi, kopi boleh mas.” Ucap pak Lurah kayaknya lagi bahagia, batinku.


“Iya pak, sekalian saja ngopi bareng disini sekali sekali.” Ucapku.


“Boleh pak, tapi sambil nunggu ngopi kita mau bahas masalah pak Margono tadi pak.” Ucap pak Lurah.


“Silahkan pak apa yang sekiranya bisa saya bantu ?” tanyaku.


“Intinya, pak margono sekarang ditahan dikantor polisi. Tapidari pihak keluarga mohon perkara ini dicanut pak berapapun ganti rugi yang bapak minta mereka akan sanggup untuk membayar.” Kata pak lurah.


“Maaf pak, sepeserpun saya tidak akan minta ganti rugi. Jadi kalo keluarga Margono mengira saya bisa dibeli dengan uang itu salah. Biar saja keluarganya menangis kalo perlu semua yang terlibat membawa senjata tajam tadi ditahan semuanya.” Kataku dengan agak emosi. Tiap kali disinggung dengan sebuah penyelesaian yang mengukur semuanya dengan uang memang aku selalu emosi.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


 


__ADS_2