
Gentayu jatuh begitu saja dari ketinggian dan melesak ke dalam sebuah celah goa batu sebelum meluncur dan jatuh ke dalam sebuah kolam.
Tak ada suara ‘gedebug’ saat jatuh ataupun air beriak di dalam kolam. Tanpa luka. Tubuhnya menjadi ringan. Sangat ringan.
Gentayu memperhatikan sekeliling dan menyadari, bahwa tempat ini tak asing baginya.
‘ini.. bukankah ini Lembah kenangan?’ gumamnya dalam hati.
“Selamat datang kembali, Gentayu anakku..” sebuah suara berwibawa terdengar dari salah satu puncak tebing. Seorang lelaki tua berperawakan gagah dengan jubah putihnya berdiri di sana.
“Datuk.. Datuk Rajo Narako?” Gentayu segera mengenali pemilik suara tersebut dan segera memberikan penghormatan.
“Baru beberapa hari yaa.. dan kau terpaksa harus kembali kemari. Itu bagus!” Kata Datuk Rajo Narako, terlihat senang dengan keberadaan Gentayu di tempat ini.
Gentayu tak memahami, apa arti kata ‘bagus’ yang dimaksud kakek tua dalam legenda tersebut. Keningnya berkerut, mulutnya terbuka hendak mengajukan pertanyaan tapi keburu Datuk Rajo Narako melanjutkan ucapannya.
“Segel iblis itu, terlalu berbahaya untuk tubuhmu. Tubuhmu itu, bisa saja diambil alihnya andai bukan karena keberadaan tiga peliharaanmu yang menyerap energi iblis itu. Tapi mereka bertiga juga punya batasannya. Kau harus bersyukur, banyak orang-orang baik disekelilingmu.
Gentayu, setelah ini segera keluarkan iblis itu dari Gelang semesta-mu yang kau namai Gerobok itu. Gelang itu akan segera hancur kalau tidak kau keluarkan iblis itu. Masukkan kembali dia ke dalam tempat di mana seharusnya dia berada. Di dalam Permata Hitam.
Anjani, gadis yang membawamu kemari akan menuntunmu melakukannya..
Setelah itu, kau harus segera selesaikan urusanmu dan lanjutkan perjalananmu. Perkuat dirimu hingga kekuatanmu cukup untuk melakukan perjalanan pulang ke dunia kita. Ada tujuh saudaramu yang lain yang juga sedang berkelana di seluruh penjuru bumi.
Jika ada hal yang tak kau fahami, kau bisa menanyakannya pada Anjani.
Ingat, tiga hal yang harus kau lakukan selama proses memperkuat dirimu: Murnikan darahmu, perkuat ototmu, bersihkan sumsum tulangmu.
Untuk tugas-tugasmu selanjutnya, aku akan memberikan petunjukku padamu. Kemarilah..”
__ADS_1
Datuk Rajo Narako bicara cukup panjang seolah sedang memberikan khutbahnya. Gentayu sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk menyela. Bahkan saat dirinya ingin bertanya, siapa itu Anjani.
Tanpa bisa melawan, tubuh Gentayu tiba-tiba melayang naik ke udara, menuju cerukan puncak tebing di mana Datuk Rajo Narako berada. Dia sedikit heran, bagaimana tubuhnya bisa seringan ini. Dan.. kemana gelang dan seluruh senjatanya? Bahkan tato tiga siluman yaitu Sandu, Konga dan lembu ekor apipun tak ada di tubuhnya.
Karena fokus dengan fikirannya, Gentayu nyaris tak menyadari bahwa kini tubuhnya telah berada tepat di hadapan Datuk Rajo Narako itu.
“Maafkan saya, Datuk!” Gentayu tersadar dari lamunan saat telah berada di depan Rajo Narako.
Lelaki itu terlihat tersenyum ramah kepadanya. Senyum yang begitu teduh.
“Duduklah dengan posisi bersila” Perintahnya, pelan.
Gentayu menuruti perintah itu. Mengambil posisi duduk bersila menghadap sang Datuk. Lalu selang beberapa saat, dia merasakan aliran energi yang hangat mengalir ke ubun-ubunnya dan mengumpul hingga beberapa lama.
“Tenangkan dirimu..”perintah sang Datuk ketika Gentayu mulai meringis. Kepalanya terasa semakin berat dan pusing. Keringat dingin sebesar biji jagung tampak mengalir di wajahnya. Rasa hangat itu telah berubah menjadi panas untuk beberapa saat selanjutnya sebelum kembali dingin.
“Buka matamu..” terdengar kembali suara sang Datuk.
Jelas dia mengenali Sakuza dan Yumiko, tapi tidak mengenali seorang gadis lainnya. Gentayu menyipitkan matanya karena merasa wajah wanita asing itu familiar baginya.
“Syukurlah kau sudah sadar” Suara sang nenek, si Tabib Mak Payung menyadarkan Gentayu dari keheranannya.
Hao Lim tampak merona merah pipinya saat Gentayu memandanginya. Dadanya berdebar, karena ini pertamakalinya seorang lelaki menatapnya dengan begitu lama.
Namun berbeda dengan Gentayu. Dia menatap lekat wajah Hao Lim karena yakin, bahwa sepertinya dia mengenali wanita cantik di hadapannya. Tapi di mana mereka pernah bertemu.
Yumiko dan Sakuza sebaliknya. Keduanya tampak cemberut melihat Gentayu dan Hao Lim saling bertatap sangat lama. Seolah melupakan kehadiran tiga orang lainnya di tempat tersebut.
“Ehem! Ehem!” Sakuza berdehem seolah batuk dengan suara keras. Bahkan, Mak Payung yang berada di hadapannya harus mengelap mukanya karena terpercik semburan dari mulut gadis cantik itu.
__ADS_1
‘Plok!’
Kipas di tangan Mak Payung mempir di kening Sakuza. Membuatnya mengaduh sambil memegangi keningnya.
Gentayu dan Hao Lim tersadar dari saling pandang yang berlangsung cukup lama itu.
Hao Lim bersemu merah pipinya, sedangkan Gentayu mengernyitkan kening dan menoleh ke arah Sakuza dan Yumiko. Dengan jari jempol mengarah ke belakang kepalanya menunjuk Hao Lim, Gentayu seolah ingin bertanya pada kedua gadis itu, ‘siapa dia?’
Sakuza, Yumiko, bahkan Hao Lim dan Mak Payung tertawa terbahak melihat tingkah Gentayu.
Gentayu jelas tak mengenali Hao Lim karena saat perubahan terjadi pada wajahnya, keduanya tidak bertemu hingga Gentayu ‘pingsan’ dan barusan sadar.
“Kau tak mengenalinya?? Hahahahaha... dia Matriark Lim..” Yumiko menjelaskan identitas Hao Lim yang terasa asing bagi Gentayu. Dia ingin meminta Hao Lim sendiri yang bercerita, namun diurungkannya ketika melihat Gentayu bergegas bangkit.
Dia segera bagkit dan mendapati segalanya selain Hao Lim belum banyak berubah. Gelang Gerobok dan tato itu masih ada di tangannya. Tapi dia merasakan sesuatu yang beda saat ini.
Tubuhnya terasa lebih segar dan lebih bertenaga. Tak hanya itu, saat ini dia telah mendapatkan suatu pemahaman baru yang tergambar jelas di benaknya. Apakah Datuk Rajo Narako menanamkan suatu ingatan ke dalam kepalanya? Entahlah.
Hal pertama yang dilakukan selanjutnya justru buru-buru mengambil sebuah botol batu giok dari Gelang Geroboknya. Botol giok itulah yang digunakan Ratna Mangali untuk menghisab dan menyegel sementara Iblis yang hendak keluar dari segel permata hitam.
“Nona Lim, tolong berikan segel iblis itu...” Gentayu meminta kepada Hao Lim. Kali ini dengan perasaan lebih ikhlas daripada waktu-waktu sebelumnya.
Hao Lim menyerahkan segel iblis tersebut. Tanpa bertanya. Wajahnya masih saja bersemu merah. Gentayu menerimanya, namun lagi-lagi tubuhnya kembali menunjukkan reaksi saat memegang segel iblis tersebut. Tapi kali ini, tangan kirinya telah berada sejajar telinganya, dengan menggenggam botol giok berwarna hijau.
Gentayu mengalirkan energi yang sangat kuat ke tangan kananya, dan sesaat kemudian segel berbentuk permata hitam itu menyala terang. Warnanya kali ini berubah-ubah, antara hitam keunguan, putih kekuningan, putih terang, lalu merah kembali.
Lalu energi dahsyat keluar dari dalam permata hitam. Menghisap kuat sesuatu yang terikat di dalam batu Giok, Sosok Iblis.
“AAAAAAAkkkkkk!!....”
__ADS_1
Suara makhluk yang kesakitan keluar dari dalam botol giok tersebut.