
Mereka segera meninggalkan dasar jurang itu setelah gentayu menjelaskan beberapa hal kepada Ryutaro. Termasuk dalam penjelasan Gentayu adalah mengenai temuannya tentang cara kerja tombak Kristal.
Awalnya, Gentayu berniat mencari tahu lebih dalam mengenai tombak kristal di tangannya. Namun karena sepertinya Ryutaro yang telah pulih itu tak memiliki cukup informasi mengenai benda itu, Gentayu berhenti mengajukan pertanyaan.
Ryutaro memang berasal dari masa lalu. Walaupun begitu, sangat masuk akal bila dia menyatakan tidak mengetahui apapun tentang tombak kristal.
Andaikan dia telah mengetahuinya sebelumnya, tidak mungkin dia akan berprasangka bahwa jubah pemisah kehidupan miliknya sebagai sebab berpisahnya rohnya dari jasad selama kurun tiga ratusan tahun lalu.
Menyadari fakta itu, Gentayu memilih untuk mencari informasi menganai tombak kristal seorang diri di masa depan. Setidaknya, salah satu fungsi dari tombak kristal itu telah dikeahuinya, termasuk cara menggunakannya. Walaupun Gentayu meyakini, bahwa benda itu tidak mungkin sesederhana itu.
Menggunakan ilmu Halimunkasa, dalam sekejap mata keduanya telah tiba kembali di kediaman Mamoto, tabib yang merawat Hideki.
Pemandangan tak biasa terlihat di rumah tabib itu. Tampak kerumunan besar masyarakat desanya berkumpul memenuhi halaman rumah besar tersebut.
“Mamoto! Bagaimana kalian akan mempertanggungjawabkan bila kelompok lebih besar dari perompak itu membalas dendam?”
“Apa yang bisa kita lakukan bila mereka kembali menyerbu desa untuk balas dendam?”
“Bagaimana kau melindungi desa ini dari kemarahan mereka?”
“Habislah kita..”
“Kalian membawa masalah lebih besar ke desa ini!”
Berbagai teriakan dilontarkan warga ke arah rumah Mamoto. Sepertinya mereka marah didasari rasa takut yang teramat besar.
Sekilas, Gentayu dapat menyimpulkan bahwa kumpulan warga desa ini menyalahkan tindakan Hideki membantai kawanan perompak. Hal itu, menurut mereka akan memicu kemarahan dan serbuan skala lebih besar dari para perompak ke desa mereka.
__ADS_1
Dan Mamoto mereka anggap bertanggungjawab karena telah merawat Mamoto, alih-alih menyerahkannya.
Rupanya, pagi itu sepucuk surat ancaman disampaikan pimpinan perompak melalui seorang kurir kepada kepala desa. Dalam suratnya, pimpinan perompak mengancam akan membantai seluruh warga desa bila tidak menyerahkan pembunuh kawanan perompak.
Kepala Desa yang bukan seorang pendekar langsung gemetar menerima gertakan tersebut. Mengumpulkan warga, mereka lalu bermusyawarah. Warga yang juga ketakutan akhirnya justru mendesak agar Hideki diserahkan kepada para perompak untuk menghindari pembantaian warga desa lainnya.
“Fikiran konyol macam apa ini?” Gentayu yang mendengar cerita lengkap dari salah satu penduduk menjadi geram. Demikian juga dengan Ryutaro.
Mereka akhirnya menyadari, bahwa masalah terbesar warga desa ini bukanlah pada ketidakmampuan mereka melindungi diri, namun pada mental mereka yang egois, lemah dan pengecut.
Wajah Ryutaro memerah karena kecewa. Sebagai seseorang yang pernah bergelar pahlawan perang di masa lalu tentu saja dia tak pernah membayangkan bahwa setelah sekian lama, terjadi penurunan mental ksatria pada bangsanya. Ironis!
Tanpa mempedulikan kerumunan itu, Gentayu dan Ryutaro segera menerobos masuk. Beberapa warga awalnya tidak memberi mereka jalan, namun melihat penampilan Ryutaro yang aneh namun berwibawa, mereka segera menyingkir.
Di dalam rumah Mamoto, tampak kepala desa tengah membujuk Mamoto untuk menyerahkan Hideki guna menebus nyawa seluruh penduduk. Tapi sebagaimana diduga, Mamoto tak bergeming.
“Kau bahkan bukan warga asli desa ini, Mamoto! Jadi wajar saja kau tidak mengkhawatirkan nyawa kami! Tapi kami telah hidup di desa ini sejak nenek moyang kami. Kami memiliki keluarga dan anak-anak yang harus mempertahankan hidup mereka!” Kata kepala Desa tak kalah keras.
Mereka telah terlibat dalam perdebatan sejak beberapa saat lalu. Kepala Desa beserta empat orang tetua kampung terlihat menatap Hideki dengan tatapan penuh kebencian. Entah apa yang ada dalam fikiran mereka.
Bukankah Hideki harus terbaring tak berdaya selama dua hari ini karena berusaha menyelamatkan nyawa mereka? Inikah balasan yang harus diterima lelaki malang itu?
“Kalian bukan sedang menyelamatkan nyawa penduduk desa kalian! Tapi, kalian tengah menggali kubur sendiri agar mempermudah pekerjaan para perompak menghabisi kalian!” Sebuah suara dengan nada berat terdengar saat dua orang lelaki memasuki ruang tamu tabib Mamoto.
Gentayu dan Ryutaro memasuki arena perdebatan yang lebih pas disebut penghakiman tersebut. Kemarahan tampak di mata keduanya, terutama Ryutaro.
Ucapan barusan adalah kata-kata Ryutaro. Kalimatnya berhasil membuat para tetua dan kepala desa menjadi lebih marah. Telinga mereka menjadi merah setelah dikritik oleh orang asing. Namun, semuanya langsung tertegun saat mengamati penampilan dan fisik Ryutaro.
__ADS_1
Ryutaro, memiliki fisik yang tinggi besar.
Badannya kekar, nampak sangat perkasa. Hanya rambutnya yang sangat penjang menggimbal tak terurus membuatnya tampak seram, jauh dari kesan berwibawa sekalipun suaranya terdengar berwibawa sebelumnya.
Kepala Desa, para tetua bahkan Mamoto terkejut melihat kehadiran lelaki dengan penampilan aneh di ruangan ini.
Dilihat dari Jirah yang menjadi pakaiannya, Ryutaro terlihat seperti pasukan perang sebuah kerajaan besar yang perkasa. Namun tentu saja mereka tidak mengenali pakaian tentara tersebut karena seragam sejenis tidak lagi dipakai di zaman sekarang.
“Siapa kau, orang aneh?” Seorang tetua kampung tak tahan untuk segera menanyakan identitas Ryutaro yang tiba-tiba menginterupsi pembicaraan mereka.
“Orang aneh??” Ryu mengernyitkan kening sebelum melanjutkan.
“Aku Ryutaro Senju. Panglima.. ehm.. mantan panglima perang Hidama dari Era tiga ratus tahun yang lalu...” Ryutaro berkata dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya seraya berjalan pelan di sekitar ruangan. Penampilannya seharusnya berwibawa, andai rambut panjang gimbalnya tidak merusak suasana.
‘Eh, kenapa? Apakah kalian telah melupakan aku?’ Melihat ekspresi para hadirin tampak biasa saja, bahkan cenderung kebingungan, Ryutaro merasa ada yang salah. Bukankah mereka seharusnya sedikit menunjukkan sikap hormat terhadap seorang legenda? Seorang panglima yang hebat?
“Ehm! Barangkali, generasi kalian telah melupakanku. Itu wajar! Masa tiga ratus tahun, bahkan buyut kalian juga belum lahir waktu itu.. baiklah” Akhirnya Ryutaro pasrah. Perjuangannya di masa lalu sepertinya sudah dilupakan generasi saat ini.
“Tapi seharusnya, kalian pernah mendengar tentang Artefak hidup bukan?” Lanjut Ryutaro setelah diam beberapa detik. Mengambil jeda.
Pertanyaan Ryutaro yang terakhir berhasil menyita perhatian kepala desa dan seluruh hadirin dalam ruangan itu. Bahkan, Mamoto yang sejak awal menerka-nerka identitas lelaki aneh di hadapannya tiba-tiba matanya berbinar.
“Akulah sang artefak hidup itu! Dan karena akulah, alasan sebenarnya para perompak itu mendatangi kalian. Untuk itu, kalian pulanglah. Aku berjanji, bahwa mereka tidak akan berdaya mengacau di desa ini lagi!” Ryutaro bicara sambil mengeratkan kepalan tangannya, urat di dahinya bahkan terlihat keluar saat ini. Marah? Iya!
Mendengar itu, kepala desa dan para tetua kampung terhuyung. Lutut mereka tiba-tiba menjadi lemas.
“Ryu.. ryutaro Senju, Panglima Kerajaan? Legenda, legenda itu? Nyata??” Berbeda dengan para tetua yang gemetar, Mamoto justru segera bangkit dari tempat duduknya dan berlutut di hadapan Ryu.
__ADS_1