
Gentayu dan Putri Nakano melangkah hati-hati saat mulai memasuki hutan. Mereka dapat merasakan bahwa seiring langkah mereka memasuki hutan rambut dan bulu di tubuh mereka mulai berdiri akibat induksi arus listrik.
"Hati-hati" kata Gentayu saat Putri Nakano buru-buru menarik kembali tangannya yang tak sengaja menyentuh pepohonan diiringi jeritan kecil.
"Awas.. pohon dan rumput di tempat ini mengandung energi petir walaupun kecil" Putri Nakano mengingatkan setelah dia mengalaminya sendiri bagaimana sengatan listrik dirasakannya saat tangannya tak sengaja menyentuh pepohonan.
Gentayu hanya tertawa kecil mendengarnya karena dia juga telah mengalaminya sendiri sebelumnya.
Mereka terus melangkah lebih dalam memasuki hutan sambil menghindari bersentuhan dengan benda apapun di dalmnya.
Tekanan terhadap energi di tubuh mereka mulai terasa saat di depan mereka terlihat pohon dan rumput memiliki benang-benang petir yang menggeliat keluar dari batang.
Namun tekanan seperti itu dirasa masih kecil dan belum menjadi ancaman bagi keduanya. Mereka hanya merasa energi di tubuh mereka bereaksi dalam bentuk fluktuasi skala ringan.
Semakin mereka menuju ke tengah, mereka perlahan mulai melihat dan menemukan benang-benang listrik semakin banyak terlihat di dedaunan pada pohon dan rerumputan.
Cukup padat karena hampir setiap pohon dan rimbunan rerumputan memiliki benang petir yang menggeliat keluar dan menghilang, lalu muncul di bagian lainnya.
Kilatan kecil seukuran benang itu menari-nari di beberapa bagian batang pohon dan rumput, namun lebih dominan di dedaunan.
Dengan sangat hati-hati gentayu dan Putri Nakano terus melangkah, mereka juga mulai menyiagakan energi di tubuh mereka guna mengantisipasi segala sesuatu tak terduga yang mungkin akan mereka temui.
'Duarr..!'
Suara letusan petir terdengar tak jauh dari telinga mereka. Gentayu sempat melihat pergerakan petir itu sebelum menyambar pohon didekatnya sehingga bisa bereaksi seperlunya.
Petir kecil Itu ternyata melompat dari satu pohon cukup jauh sebelum menabrak pohon di sisi Gentayu dan putri Nakano berdiri.
"Hanya petir kecil. Tapi tampaknya kita telah mulai bertemu dengan tuan sebenarnya dari tempat ini" kata Putri Nakano.
Gentayu hanya diam. Namun kewaspadaannya meningkat.
Mereka tidak berhenti dan terus bergerak maju hingga mencapai hampir seratus meter di depan.
Mata Gentayu melirik dan menyapu sekeliling ketika menyadari ada sedikit perubahan di lingkungannya berdiri sekarang.
Kepalanya bahkan mulai mendongak saat berjalan, dan menemukan bahwa di tempat ini, sulur-sulur energi petir mulai terlihat semakin jelas.
Ukuran riak petir di tempat ini menjadi dua kali lipat lebih besar dari semula yang hanya seukuran benang.
__ADS_1
Tak lama setelah mereka menyadari perubahan kondisi di sekitarnya, Gentayu buru-buru merunduk dan tangannya juga mendorong paksa bagian belakang kepala putri Nakano agar merunduk.
'DUARR!!'
Suara keras sambaran petir lain meledak dan menghantam pohon lain tepat di samping telinga Gentayu.
Petir ini sepertinya menargetkan Gentayu dan putri Nakano. Beruntung, respon mereka cukup cepat.
'DUARR!!'
Ledakan lain ternyat segera menyusul dan menghantam tanah di posisi kaki Gentayu. Kali ini Gentayu terpaksa menghindarinya dengan berjingkat mundur.
Yang mengejutkan, suara petir ini sedikit lebih besar dari petir pertama dan kedua yang menyerang mereka.
Gentayu menyempatkan matanya memeriksa kondisi pohon yang disambar petir kedua.
Sedikit kejutan melintas di wajahnya saat menemukan pohon itu tidak terbakar. Bahkan tidak terluka sama sekali setelah menerima sambaran petir.
Terlihat bahwa sulur sisa petir terserap ke dalam pohon menghilang.
'Luar biasa! Bukankah itu berarti pohon dan rumput di tempat ini mampu menyerap energi petir?'
Putri Nakano hanya bereaksi sedikit tak biasa ketika tangan Gentayu meraih pergelangan tangannya sebelum akhirnya memilih pasrah saat Gentayu mulai menariknya ke depan setengah menyeretnya.
Mereka telah berdiri di antara pepohonan raksasa. Rambut dan bulu tubuh mereka saat ini benar-benar sepenuhnya berdiri akibat pengaruh energi listrik tempat ini.
'Awas!!'
Gentayu mendorong putri Nakano ke sisi kanan sementara dia membuang tubuhnyanke sisi kiri ketika sebuah kilat petir seukuran jari menyambar ke arah mereka.
'DUAR..!!'
Petir itu juga berakhir menghantam tanah dan lenyap. Meninggalkan hangus kecil di atas permukaannya.
Gentayu baru hendak meminta maaf karena mendorong putri Nakano barusan, namun lebih dari lima petir tiba-tiba melesat ke arah mereka berdua dari segala sisi.
"Ini tidak baik!!"
Gentayu mengumpat sebelum dia dan putri Nakano kembali menghindari serangan petir-petir itu dengan berjingkat dan sesekali melompat.
__ADS_1
Tapi lima utas petir itu bukanlah yang terakhir. Ketika lima kilat petir iti gagal menemui sasarannya, puluhan kilat petir lainnya menyusul dan menyerang mereka.
Suara ledakan akibat sambaran petir terus terdengar berkali-kali tanpa jeda setelahnya.
Baik Gentayu maupun putri Nakano sepertinya tak memiliki ide lain saat ini selain menghindari petir-petir tersebut saat ini.
"Mundur! Ayo mundur! Kita harus kembali ke tepi sekarang!!" Putri Nakano melihat situasinya tidak menguntungkan mereka lalu mengajak Gentayu bergegas mundur.
Gentayu tidak menolak. Dia sama sekali tidak memiliki ide apapun difikirannya saat ini untuk menghadapi petir-petir ini.
Dia dan putri Nakano segera berbalik dan berubah menjadi dua cahaya berbeda yang melesat cepat ke arah tepian hutan, di titik awal mereka masuk sebelumnya.
" Benar-benar konyol untuk masuk ke hutan ini tanpa persiapan! Adik kecil, sebaiknya kau sampaikan sekarang idemu menghadapi petir-petir itu atau lupakan niatmu membantu kami dan rencana berlatihmu di sini!"
Putri Nakano meledak dalam kemarahan saat menyadari mereka akan berakhir dalam kondisi tak berdaya jika terus bergerak seperti tadi.
Mendengar putri Nakano mulai memakinya, Gentayu hanya menggosok hidungnya sebelum akhirnya berkata, "Aku pasti punya rencana untuk diriku sendiri. Tapi aku sungguh tak bisa melakukan apapun, bila harus dipaksa melindungimu lagi!"
"Melindungiku katamu??!" Putri Nakano naik pitam mendengar jawaban Gentayu.
Menurutnya, mereka bergerak bersama dan saling mengingatkan bahaya, bagaimana mungkin Gentayu berani menyatakan bahwa dia melindungi putri Nakano?
Gantayu tidak menjawabnya. Alih-alih menjawab, dia justru melompat maju ke arah mereka melarikan diri sebelumnya.
Kedatangan Gentayu langsung disambut petir-petir kecil di bagian tepi hutan itu yang menyambarnya.
Namun kali ini Gentayu tidak mengelak. Justru dia melangkah lebih dalam dan membiarkan dirinya seolah mandi serangan petir kecil seukuran benang yang dengan semangat menghantam tubuhnya berkali-kali.
Mata putri Nakano terbuka saat melihat Gentayu benar-benar tidak menghindar. Petir-petir kecil dengan bunyi ledakan lemah saat menghantamnya sama sekali tidak membahayakannya.
Hanya rambut dan bulu tubuhnya saja yang berdiri akibat pengaruh energi petir itu.
Gentayu sama sekali tidak terluka!
"Bb.. bagaimana mungkin?"
Putri Nakano seolah menyadari bahwa ucapan Gentayu yang membuatnya marah sebenarnya sangat memiliki dasar yang kuat.
Dengan wajah memerah karena malu, putri Nakano untuk pertama kali merasa kagum dengan kemampuan Gentayu yang sesaat lalu dipanggilnya sebagai bocah kecil.
__ADS_1