JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kembalinya Para Tetua


__ADS_3

Gentayu tinggal di lingkungan sekte ‘Tujuh Tirai’ tersebut hingga kurang lebih sebulan lamanya. Selama masa itu, banyak hal yang berhasil dipelajarinya dari para tetua sekte kecil ini. Selama masa itu, Gentayu menajamkan dan memperdalam pengetahuannya tentang pengobatan, terutama untuk luka non-fisik. Bagaimanapun, sekte Naga Merah terkenal bukan karena kemampuan tempurnya namun karena pendalaman mereka mengenai hal-hal berkaitan dengan kekuatan roh dan spiritual.


Level terendah dari pendekar sekte ini bahkan bisa bekerja sebagai pengusir hantu yang mumpuni dan sulit dilakukan oleh manusia biasa. Selain itu, Sekte ini juga menguasai berbagai macam teknik penyegelan kekuatan dan segel roh, perjalanan raga sukma dan sejenisnya serta hal-hal bersifat gaib lainnya yang sangat sukar dicari tandingannya di seantero Pulau Padi Emas. Hal ini membuat Gentayu teringat kisah hidup Ryu yang akhirnya bisa menempati raga beberapa hewan berkat bantuan dari sekte ini di masa lalu.


Tentu saja Gentayu tidak mampu mendalami semuanya secara tuntas. Namun pengetahuan dan penguasaannya terhadap dasar-dasar keilmuan sekte ini jelas masih jauh lebih baik dibandingkan murid biasa sekte ini pada umumnya.


Sebagai kontribusinya terhadap sekte Tujuh Tirai, Gentayu membantu para murid dan beberapa guru di sekte ini untuk meningkatkan kemampuan ilmu dan teknik beladiri mereka. Anggota sekte yang belajar kepadanya dengan antusias ternyata sangat banyak setelah mengetahui kekuatan dan sepak terjangnya selama ini. Gentayu mengajarkan kepada mereka ilmu dan teknik bela diri sesuai dengan karakter masing-masing.


Para murid dibaginya dalam beberapa kelompok, yaitu yang menekuni teknik pertahanan diri diajarkan ilmu Perisai Naga Api, kelompok pengguna senjata khususnya pedang diberikan ilmu Pedang Tunggal dan beberapa penyempurnaan teknik yang mereka kuasai, serta kelompok wanita yang secara khusus mempelajari ilmu warisan dari Pendekar Bulan Perak.


Mereka semuanya dibawa secara bergantian menuju dunia tepi danau demi alasan waktu. Bagaimanapun, waktu yang dimiliki Gentayu sangat sedikit, sedangkan banyak hal harus dilakukan dan dikuasai oleh anggota sekte. Pilhan terbaik adalah mengajari mereka semua di tempat di mana waktu bisa dihemat dengan hasil yang maksimal.


Kabar gembira datang setelah dua minggu sekte ini menempati markas barunya tersebut.Para tetua yang bertugas di luar sekte untuk menyelamatkan dua buah segel dan satu ‘bola arwah’ ternyata semuanya selamat kecuali tetua Shou dan timnya yang bertugas di pulau padi perak.


Tetua Sengkuang, tetua Min dan tetua Shin disambut sukacita saat mereka kembali ke markas baru sekte mereka, sekalipun tetua Sengkuang harus pulang dengan tangan kosong.


Tetua Ming dan tetua Shin yang bekerjasama sebagai tim cukup beruntung karena berhasil merebut ‘Bola Arwah’ dari kelompok penjelajah berkulit putih pemburu harta karun. Bola arwah sendiri berwujud kristal hitam yang memancarkan aura dingin namun mengerikan sehingga kelompok penjelajah berniat menjual segel tersebut kepada seorang pejabat Istana, yaitu pangeran Ketiga atau adik tiri Prabu Menang, Pangeran Selangit. Saat tetua Ming dan tetua Shin datang dan menjumpai mereka, kelompok ini tengah dalam perjalanan menuju istana. Karena menolak untuk dibeli secara baik-baik dan justru melukai tetua Ming, akhirnya mereka merebutnya secara paksa.


Belakangan barulah diketahui setelah keduanya bertemu dengan tetua Sengkuang, bahwa Pangeran Ketiga ini adalah dalang sekaligus sponsor bagi kelompok-kelompok aliran hitam. Dari Pangeran Selangitlah Sumber dana dan sumber daya mengalir dalam jumlah besar untuk aliran hitam ini guna bergerak menyerang dan menghancurkan kelompok aliran lurus, termasuk sekte mereka.

__ADS_1


Tetua Sengkuang sendiri segera mengenali Gentayu sebagai pemuda sakti yang berhadapan dengan sosok pemegang salah satu segel yang gagal didapatkannya, yaitu Karang Setan. Tetua Sengkuang pulalah yang menyadari keberadaan roh Ryu di lengan Gentayu. Sengkuang kemudian menjelaskan kepada Gentayu bahwa kondisi roh Ryu sedang terluka. Rupanya, luka itu didapatkannya saat mereka bertemu Karang Setan juga.


“Tentu saja kau tidak menyadarinya. Setelah ini, lebih baik sahabatmu itu ditempatkan di salah satu senjata saja. Ketika berada di jasad hidup, roh apapun akan ikut merasakan sakit saat tubuh yang didiaminya sakit atau terluka. Sebaliknya, saat roh itu terluka tubuh yang didiaminya justru tidak merasakannya. Karakter seperti ini yang membuatnya lebih baik ditempatkan pada senjata saja. Terutama senjata pusaka. Pusaka itu akan mampu melindunginya, sekaligus kekuatan roh tersebut bisa meningkatkan kekuatan senjata...” Tetua Sengkuang yang menjelaskan kondisi Ryu ternyata adalah ahli ilmu berkaitan dengan roh.


“Ah, itu yang ingin aku lakukan sebenarnya. Sekaligus, bila diizinkan aku ingin berguru pada tetua..” Gentayu menjawab dengan sebuah permohonan dan antusias.


Sejak saat itu, Gentayu tekun mempelajari ilmu penyegelan dari Tetua Sengkuang. Tentu saja ilmu itu adalah ilmu tingkat tinggi yang harus dipelajari dari level dasar. Tapi selama Gentayu bisa mempelajarinya di dunia tepi danau, waktu bukanlah masalah.


Akhirnya, setelah satu bulan kemudian berlalu, Gentayu sekali lagi mberhasil meningkatkan kemampuannya. Bukan hanya kemampuannya secara pribadi, bahkan pemuda itu berhasil meningkatkan kemampuan seluruh anggota sekte secara signifikan.


Kini, sepertiga anggota sekte senior telah muncul sebagai pendekar sakti mumpuni yang baru, hampir setara dengan para tetua. Dan tidak ada lagi anggota junior sekalipun yang saat ini masih berada di bawah level pendekar Ahli. Dengan kekuatan baru ini, Sekte Tujuh Tirai akan mampu menghadapi gempuran dari gabungan kelompok aliran hitam sekalipun. Kalaupun sekte kalah, tapi setidaknya kelompok aliran hitam penyerangnya akan butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih. Benar-benar sebuah kekuatan dahsyat dari sesuatu bernama : Waktu!.


Dalam waktu itu juga, Gentayu berhasil memulihkan kondisi Ryu. Luka yang diterima roh tersebut dari Karang Setan ternyata cukup fatal. Andai tetua Sengkuang terlambat menyadari, barangkali roh itupun saat ini sudah musnah.


+++ +++ +++ +++ +++ +++ +++


Sementara itu, aliansi aliran hitam yang semula hendak menyerang markas sekte Naga Merah kecele karena menjumpai bekas markas tersebut telah ditinggalkan dalam kondisi hancur dan hangus terbakar. Hawa panas sisa terbakarnya markas di bawah tanah itu masih bisa dirasakan hingga seminggu kemudian sejak kedatangan sosok Jubah Perak, Panunggul Sewu.


Aliansi aliran hitam itu bahkan tidak tahan lebih dari lima menit di tempat yang pengap dan panas tersebut.

__ADS_1


“Setan Alas! Bagaimana mereka bisa hancur begini? Apa ada kelompok lain yang bergerak selain kita?” Berseru Mpu Jangger tidak sabar kepada para ketua perguruan yang mengiringinya.


“Ah! Peduli setan! Yang penting sekte ini sudah hancur! Dan kita tinggal melaporkan pada pangeran. Tak peduli siapapun yang menghancurkan, yang jelas tugas kita jadi lebih ringan bukan? Hahahahaha...” Pendekar paruh baya bernama Gandos atau Pendekar Belati Setan, mewakili Rambut iblis menimpali dan disambut gelak tawa keempat pimpinan kelompok lainnya.


“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Mari kita segera menemui pangeran dan bersiap untuk mengambil alih istana dengan kekuatan penuh!” Pendekar Kala Merah tampak bersemangat.


Tiba-tiba.. di tengah diskusi yang dilakukan di atas kuda para pimpinan perguruan tersebut, dari barisan belakang pasukan mereka terdengar jeritan-jeritan kematian yang terus bertambah banyak dan ramai.


“Siapa yang berani menyerang kita? Apakah kita dijebak?” Demikian pemikiran Mpu Jangger.


Situasi barisan belakang pasukan menjadi semakin kacau. Suara dentingan senjata dan ledakan energi mulai terdengar mengiringi jeritan dan pekik kematian anggota kelima kelompok tersebut. Kelima pimpinan aliansi, yaitu Mpu Jangger dari Segoro Geni, Gandos dari Rambut Setan, Kalapati dari Kala Merah, Dewi Mawar Hitam dari Mawar Upas, dan Piyut atau pendekar Kelabang darah dari Kelabang Hitam serentak melompat dari atas kuda dan melayang di atas kepala pasukannya menuju sumber kekacauan di sisi belakang pasukan.


Namun, kedatangan mereka segera disambut oleh ratusan bola-bola api yang meluncur sangat cepat dan sulit diikuti oleh mata manusia biasa.


‘Whuzz.. Whuzz..!’


‘Whuzz.. Whuzz..!’


Kelimanya terpaksa berjumpalitan dan melakukan beberapa kali flip di udara menghindari serangan bola-bola api tersebut.

__ADS_1


Bola-bola api tersebut gagal mengenai sasarannya dan mengantam pucuk-pucuk pohon di sekitar tempat tersebut. Pohon-pohon yang terkena bola-bola api tersebut segera terbakar dan menjadi abu begitu saja, sedangkan hawa panas yang hanya melewati tubuh lima pimpinan kelompok aliansi tersebut ternyata mampu untuk menghanguskan pakaian mereka.


“AAAUWWW...!” terdengar pekik kepanikan dari Dewi Mawar Hitam.


__ADS_2