JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Apa Bisa?


__ADS_3

Di dalam kamar yang disediakan oleh tabib Mo, Gentayu belum bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganggu fikirannya. Dia ingin perjalannya ini tidak mengalami hambatan berarti. Setidaknya semua hambatan harus telah diantisipasi. Penyerangan kelompok-kelompok aliran hitam terhadap kelompok-kelompok aliran putih semisal yang terjadi di Padepokan Matahari Emas sepertinya masih akan terus berlangsung beberapa waktu ke depan. Namun hingga saat ini dia belum menemukan akar masalah dari penyerangan ini. Mungkinkah tetua Shou keluar dari sekte karena masalah ini?


Dibukanya pembungkus kain dari benda yang diberikan tetua Shou. Isinya adalah sebuah kotak kecil berukir Naga Merah. Namun dia tak ingin membuka dan sama sekali tidak penasaran terhadap isinya. Baginya, ini adalah amanah. Kepercayaan yang harus dijaga dengan jiwanya sekalipun sebagai sikap ksatria.


“Tuan Ryu. Apa kau kembali tertidur? Kenapa aku tidak mendengar suaramu sejak di penginapan?” Gentayu bermaksud mendiskusikan masalah penyerangan kelompok aliran hitam ini lebih lanjut bersama Ryu sang roh harimau.


“Aku di sini, Genta. Aku sengaja tidak bersuara, karena tetua Shou itu berasal dari Sekte Naga Merah. Dia akan bisa mendengarku saat aku bicara. Aku justru berfikir bahwa engkau harus menguasai sendiri jurusku itu. Ada masa di mana roh sepertiku, akan menjadi sangat lemah bahkan saat tidak sedang bertarung. Aku takut, hal itu terjadi saat engkau sedang sangat membutuhkan kekuatanku..”Ryu menjawab rasa penasaran Gentayu.


“Oh ya? Kenapa bisa begitu? Maksudku, kenapa makhluk roh sepertimu bisa melemah?” Gentayu makin penasaran


“Tentu saja. Karena hakekatnya roh sepertiku juga membutuhkan makanan. Dan kami menyerap energi dari lingkungan sekitar sebagai sumber nutrisi. Saat energi yang berelemen berlawanan dengan elemen dasarku mendominasi udara untuk waktu yang lama, maka saat itulah kondisiku melemah. Sebaiknya, kita tidak menunda lagi. Aku ingin kau menguasai jurus terkuatku, jurus naga api. Untuk pendekar di tingkat sepertimu, aku yakin tidak butuh waktu lama..” Ryu memberi penjelasan dan sedetik kemudian, hawa hangat kembali terasa mengalir di lengan kanan Gentayu.


“Jangan dilawan. Aku sedang mentransfer pengetahuanku ke dalam setiap sel tubuhmu. Setelah itu aku akan tidur untuk waktu yang lama dan engkau bisa melatihnya sendiri. Bermeditasilah..” Ryu memberi petunjuknya dan segera dilaksanakan oleh Gentayu.


Tidak lama setelah bermeditasi, tampak asap putih tipis mengepul dari atas kepala Gentayu. Itu menandakan bahwa proses transfer pengetahuan dari Ryu kepadanya telah selesai. Gentayu membuka matanya dan merasakan kekuatan baru telah mengisi setiap sel tubuhnya. Karena Kekuatan ini berelemen api, maka sifatnya adalah memperkuat penguasaan Gentayu terhadap jurus-jurus yang dikuasainya sebelumnya, yaitu Jurus Matahari Emas dan Jurus Bulan Perak.


“Tuan Ryu.. tuan Ryu..” Gentayu memanggil-manggil sang roh harimau, namun tak ada jawaban.


‘Dia sudah tidur’ gumamnya. Padahal ada sesuatu yang ingin disampaikan dan baru terfikirkan saat meditasi mendalamnya selesai.


Tidak menunggu lama, Gentayu segera mengambil batu hitam pemberian gurunya dari dunia tepi danau yang akhirnya diberinya nama 'Batu Bulan Perak' sebagai penghormatan untuk gurunya.

__ADS_1


Segera dialirkannya tenaga dalam kepada batu Bulan Perak tersebut. Energi menghisap yang membentuk formasi ruang dan waktu mulai terbentuk di sekitar batu hitam itu, lalu makin membesar dan akhirnya membentuk semacam portal yang bisa dimasukinya.


Setelah berada di dalam dunia tepi danau di mana dia bertemu pertamakali dengan gurunya tersebut, kembali dia dibuat takjub. Kebun yang semula berisi tanaman herbal berkhasiat telah berubah menjadi hutan kembali. Rumah gurunya bahkan telah menyatu dengan tanah menyisakan beberapa gelondong kayu bekas penyangga rumah tersebut.


' Benar-benar tempat yang bagus untuk mempelajari segala macam keilmuan dengan cepat’ fikirnya menyaksikan kondisi sekelilingnya yang berubah seperti telah ditinggalkan beberapa tahun padahal baru kemarin dia terakhir memasuki dunia ini.


Di tempat itu, selama lima hari berikutnya dia mempelajari jurus Naga Api yang diterimanya dari Ryu. Jurus Naga Api terdiri dari 3 bagian utama; 5 Tingkatan tendangan ekor naga api, 5 tingkatan Tinju Naga Api, dan 4 tingkatan penempaan kekuatan tubuh bernama Perisai Naga Api.


Tendangan Ekor Naga Api adalah serangkaian jurus yang memusatkan kekuatan pada bagian kaki dan lutut serta tubuh bagian bawah. Penguasaan jurus ini menekankan aspek kekuatan dan kecepatan karena mengandalkan penggunaan tenaga dalam yang cukup besar sehingga tidak cocok untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan rangakaian jurus Tinju Naga Api lebih sedikit menggunakan tenaga dalam karena memang diciptakan untuk sebuah pertarungan panjang tangan kosong. Penggunaan tenaga dalam cukup besar hanya saat melepaskan pukulan jarak jauh penghancur seperti yang dilakukannya saat menghancurkan kapal kelompok penyerang dan saat menghabisi Wanadri beberapa saat lalu.


Sedangkan Perisai Naga Api adalah sebuah kemampuan jurus ini melindungi tubuh pemilik jurus dari serangan senjata dan pukulan tenaga dalam tingkat tinggi sekalipun. Namun sepertinya, Ryu sendiri belum menguasai jurus ini karena yang dirasakan Gentayu hanyalah kilasan-kilasan pengetahuan yang masih ‘kosong’. Hal ini menandakan bahwa ada syarat khusus penguasaan jurus ini yang belum dipenuhi oleh Ryu. Kendati demikian, Gentayu tetap melatih jurus-jurus Perisai Naga Api yang merupakan bagian akhir dari rangkaian jurus Naga Api ini sesuai petunjuk yang terekam dalam memori sel nya.


Pada hari ke lima Gentayu berada di dunia tepi danau tersebut, akhirnya dia berhasil menguasai keseluruhan tiga bagian jurus Naga Api dengan sempurna. Diapun menemukan alasan kenapa jurus Perisai Naga Api tidak bisa dikuasai oleh Ryu, yaitu karena Ryu adalah roh tanpa tubuh yang berbeda dengan dirinya. Kenyataan ini juga menyadarkan Gentayu bahwa jurus-jurus ini didapatkan Ryu setelah dirinya menjadi roh dan terdampar di pulau Emas Besar ini. Namun dia sendiri tidak ingin mempertanyakan hal ini lebih jauh.


“Gentayu, sudah berapa lama aku tertidur? Apakah tetua Shou sudah pulih?”tanyanya.


“Ah, itu.. engkau baru saja tidur sesaat yang lalu. Belum satu jam..” Gentayu menjawab tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Tentu saja ia tidak akan bercerita bahwa roh tersebut telah tidur selama lima hari di dunia tepi danau.


“ini aneh..” Gumam Ryu dan tetap terdengar oleh Gentayu. Pemuda itu tidak menanggapi. Sesaat kemudian dengan sangat antusias Gentayu memberikan ide yang sejak awal ingin disampaikan kepada sahabat roh-nya tersebut.


“Tuan Ryu. Aku memiliki pedang pusaka pemberian guruku yang terbuat dari batuan meteor. Pedang Satam. Apa pendapatmu, jika engkau saja yang menjadi roh penghuni pedang tersebut? Yaaaah.. ini kufikir daripada dirimu harus bolak-balik mengalami kematian dari raga yang tidak cukup kuat. Bukankah itu hanya akan membuatmu terbatas?” Gentayu akhirnya mengungkapkan fikirannya kepada Ryu.

__ADS_1


“Menghuni sebuah pedang? Apa kau menguasai teknik segelnya?” Ryu balik bertanya. Baginya menjadi roh pedang, roh harimau, roh pohon sekalipun tidak masalah selama tetap bisa bertahan hidup dan bermanfaat ikut serta menumpas kelompok-kelompok aliran hitam.


“Oh, jadi begitu ya?” Kembali terlihat Gentayu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba seperti gatal.


“Jangan bilang kau belum tau bahwa untuk mendiami benda mati kami harus terikat dengan benda tersebut, Genta..” Ryu ternyata menangkap makna garuk-garuk kepala yang ditunjukkan Gentayu barusan.


“Hehehe... iya.. aku tadipun hanya sekedar ingin tahu saja, apakah sosok roh sepertimu juga bisa menjadi penghuni sebuah pusaka. Jadi bisa ya?” Gentayu nyengir seolah-olah tidak bersalah.


“Ya bisa-lah. Pada dasarnya, setiap pusaka disebut pusaka karena memiliki keuatan tertentu. Baik karena kekuatan alami yang dimiliki pusaka tersebut maupun kekuatan tambahan dari unsur di luar bahan pembuatnya. Kekuatan luar itu bisa saja berasal dari tenaga dalam, ataupun karena hadirnya sosok roh dalam pusaka tersebut...” Akhirnya Ryu harus membuktikan diri bahwa dirinya adalah roh yang telah menjalani hidup ratusan tahun dengan pengetahuan yang seharusnya memang lebih luas dari Gentayu.


Gentayu hanya manggut-manggut mencerna penjelasan Ryu. Dia mengakui bahwa sebagai anak yang baru saja ‘menetas’, banyak hal di dunia ini yang belum diketahuinya terlepas dari tingginya kemampuan bertarungnya saat ini. Dunia memang menyimpan banyak misteri, dan banyak hal yang masih harus dipelajarinya. Lebih banyak dari yang telah diketahuinya saat ini. Begitulah kira-kira fikiran Gentayu dalam perenungannya.


“Baiklah, Tuan Ryu. Utnuk sementara kita tunda dulu pembahasan mengenai senjata pusaka. Apakah Tuan tahu bahwa saat dirimu tertidur sesaat tadi, aku telah berhasil menguasai jurus-jurus Naga Api?” kembali Gentayu seperti hendak membanggakan pencapaiannya kepada sang mantan panglima kekaisaran Hidama itu. Tentu saja Ryu tidak mengetahui bahwa ‘sesaat tadi’ itu bisa bermakna hingga lima hari bagi Gentayu.


“itu mustahil.. akupun mendalami ilmu itu hampir dua bulan lamanya..” Ryu tersungut tidak percaya.


“Baik, bagaimana aku membuktikannya?” tantang Gentayu membusungkan dadanya, namun dalam hatinya dia justru tertawa terkekeh-kekeh karena berhasil mengerjai sahabat rohnya tersebut.


“Tahap terakhir jurus tersebut adalah Perisai Naga Api. Seharusnya tubuhmu sudah kebal terhadap pukulan tenaga dalam maupun senjata. Kenapa tidak kau minta tabib tua itu untuk menyerangmu? Katakan padanya, engkau ingin menguji apakah kemampuanmu masih ada atau telah menghilang. Jangan katakan bahwa engkau baru mempelajari ilmu baru..” Ryu memberi petunjuknya.


Dalam kondisi inilah, baik Gentayu maupun Ryu sama-sama bingung. Sebenarnya siapa yang jadi tuan siapa, dan siapa membantu siapa. Yang jelas keduanya kini bisa saling berbagi dan bertukar pengetahuan, kecuali untuk masuk ke dunia tepian danau.

__ADS_1


.


__ADS_2