JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Buah Lava Hitam


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat saat matahari terbit Gentayu terlihat mulai menunjukkan tanda-tanda siuman.


Anjani yang menungguinya semenjak dinihari bahkan malamnya, segera berlari keluar dari rumah Goa untuk menemui tabib Suntari.


Wanita tua itu, tengah memanen beberapa jenis tanaman obat dari kebunnya. Melihat Anjani berlari ke arahnya, segera saja dihentikannya aktivitas memanennya dan tanpa bertanya lagi, langsung bergegas kembali ke rumah goanya.


Setibanya di depan rumah goa itu, tabib Suntari tidak langsung masuk. Sebaliknya, dia meminta Anjani untuk meminukan ramuan dalam botol terbuat dari tanduk di tangannya. Ramuan obat tersebut, adalah larutan yang dikerjakannya sehari sebelumnya.


Tabib Suntari menyatakan, bahwa dengan ramuan tersebut proses pemurnian darah Gentayu akan berlangsung lebih lancar. Selain itu, sisa metabolisme yang menghambat pada jalur meridian di tubuhnya juga bisa dibersihkan sehingga akan memaksimalkan upayanya dalam penyerapan energi dath di masa mendatang.


Sebelumnya, Gentayu memang mengalami hambatan dalam pelatihannya di lembah kenangan bersama Datuk Rajo Narako.


Hambatan itu, ternyata berkaitan dengan kondisi tubuh Gentayu yang tak mampu menyerap energi dewa atau dath dengan sempurna. Akibatnya, Gentayu hanya mampu mencapai puncak level Pendekar Sakti bergelar dan hanya selangkah lagi menembus level pendekar bumi.


Dengan kemampuan itulah, dia akhirnya berhasil mengalahkan Karang Setan. Sang Pendekar terkuat di Lamahtang, bahkan mungkin Dipantara.


Sedangkan di dunia para Danyang ini, walaupun kemampuan Gentayu di antara manusia biasa adalah yang terkuat. Namun, bila dihadapkan dengan mereka yang telah mencapai tahap awal pendekar-pendekar mandiwata sekalipun , jelas Gentayu akan benar-benar terlihat lemah. Tidak ada apa-apanya.


Hal itu karena di dunia para danyang ini, tingkatan pendekar bumi adalah tingkatan terendah seseorang bisa dianggap sebagai pendekar sejati.


Mereka adalah Pendekar yang menempuh jalan menuju mandiwata atau keabadian. Pendekar yang di dunia lama Gentayu akan dipuja sebagai dewa karena kemampuannya yang tidak manusiawi.


Dan, nyatanya Itu juga level kependekaran yang gagal dijangkau oleh Gentayu sebelumnya.


Untuk menuju tahapan selanjutnya itulah, pemurnian darah, tulang dan otot harus dilakukan. Itu juga yang dinasihatkan terakhir kali oleh Rajo Narako saat Gentayu berpamit.


Sebagai langkah awal, keberuntungan tampaknya berpihak kepada Gentayu dengan kehadiran tabib Suntari. Karena pembersihan jaur meridian tubuh adalah pondasi dari seluruh langkah menembus level pendekar bumi itu sendiri.


Tabib Suntari tidak segera masuk ke dalam rumah goa. Dia tampak melakukan sedikit gerakan tangan, lalu menghentakkan kakinya ke bumi di depan mulut rumah goa. Goa bergetar sebentar, lalu sebuah retakan muncul di atas permukaan tanah.

__ADS_1


Tabib wanita itu maju ke tengah retakan dan menghentakkan kakinya sekali lagi.


Saat itulah, suara berderik seperti gesekan bebatuan terdengar. Kembali getaran di atas tanah terasa, sebelum dari dalam retakan tanah muncul sebuah tungku api lengkap dengan sesuatu seperti kuali besar yang tertutup.


Tungku dan kuali itu muncul dari dalam tanah. Suara berderik menghilang begitu tungku dan kuali itu stabil di posisinya.


Tabib Suntari melangkah menghampiri tungku. Api tungku seketika menyala ketika dia mengibaskan tangannya. Api berwarna biru yang sangat panas, membakar kuali di atasnya.


Tak lama kemudian, Anjani telah keluar memapah Gentayu.


Lembaran bambu obat yang menyelimuti tubuhnya telah seluruhnya sudah dilepas. Tulang-tulang tubuhnya, termasuk tulang punggung yang semula patah-mematah dan membuatnya tak bisa berdiri sepertinya hampir pulih.


Memakai jubah tipis satu lapis yang baru saja dipakaikan Anjani, Gentayu dipapah menuju ke tungku perapian.


Semua, sesuai dengan petunjuk sang tabib, Suntari.


Tabib Suntari membuka penutup kuali. Asap panas berwarna putih tebal mengepul ke udara. Aroma obat begitu pekat tercium dari asap uap panas tersebut.


Ragu-ragu, Suntari berhenti tepat di depan mulut kuali.


“Tak apa.. masukkan saja. Dia tidak akan apa-apa. Apa kau fikir, aku bermaksud menjadikan sop daging manusia??” tabib Suntari sedikit mengoceh. Kesal karena Anjani seperti meragukannya.


“Mmma.. maaf nek.. “ Anjani kembali melangkah dengan memapah Gentayu.


“Cairan ini panas dan dapat melelehkan tumbuhan serta melarutkan khasiat obat. Cairan merah Ini adalah beberapa butir batuan bintang yang telah direbus bersama dengan tanaman obat selama berbulan-bulan dan meleleh.


Tapi, cairan ini sebenarnya tidak akan berbahaya bagi tubuh manusia. Itu karena, aku telah menambahkan ini..” Tabib Suntari menunjukkan buah berwarna hitam mengkilat.


“Buah ini, disebut buah Lava Hitam. Cairan sepanas apapun di dunia ini, termasuk lava pijar gunung berapi sekalipun, ketika telah melarutkan buah ini, maka makhluk bernyawa tidak akan merasakan panasnya..” jelasnya, sambil memasukkan tangannya sendiri ke dalam kuali.

__ADS_1


“Lihat..” tambahnya, memperlihatkan tangannya yang terlihat biasa saja setelah terendam beberapa lama di dalam cairan panas.


Mengangguk, Anjani segera membimbing Gentayu memasuki cairan panas.


Gentayu yang masih sangat lemah terlihat mengatupkan rahangnya saat hendak memasuki cairan panas tersebut. Namun ekspresi kelegaan muncul di wajahnya saat seluruh tubuhnya terendam sempurna di dalam kuali besar tersebut.


“Benar, tidak panas..”Ucap gentayu lirih sambil memejamkan mata, lalu mengambil posisi meditasi dengan tubuh berbaring di dalam rendaman cairan merah yang bergolak itu.


Sekitar sepuluh nafas kemudian, tampak asap tipis berwarna hitam mulai terlihat keluar dari seluruh bagian tubuh Gentayu.


Asap tipis berwarna hitam itu, lama kelamaan bahkan semakin pekat.


Seiring keluarnya asap hitam, cairan panas yang merendam tubuh Gentayu juga terlihat mulai menyusut perlahan. Seolah diserap oleh tubuh Gentayu, dan keluar sebagai asap hitam.


Selang sejam kemudian, asap hitam yang keluar semakin berkurang, warnanya juga kini semakin memudar. Hingga kemudian, yang keluar adalah uap panas biasa, berwarna putih tipis.


Selama masa itu, Anjani dan tabib Suntari terus menerus menambahkan bermacam bahan ke dalam kuali. Mereka baru menghentikan kegiatannya ketika melihat asap hitam telah sepenuhnya berubah menjadi putih dan tipis.


“Baik, selesai..” tabib Suntari berkata sembari mengangkat tangan kanannya, membuat Anjani berhenti terus memasukkan tumpukan tanaman obat ke dalam kuali. “Gentayu..”lanjutnya sambil menyeka keringat, lalu mengibaskan tangannya. Api di tungku segera padam “ Silakan keluar dari dalam cairan itu.. “perintahnya pada Gentayu.


Gentayu membuka matanya.


Wajahnya tampak lebih cerah. Matanya juga terlihat lebih terang. Tampaknya benar-benar pulih.


“Aku merasakan, tubuhku jauh lebih kuat dari saat terakhir aku melihat matahari saat menuju istana Lamahtang..”Katanya sembari melompat keluar dari kuali.


“Aaaww..!” Anjani tiba-tiba terpekik.


Dengan cepat dia menutup wajahnya dengan sepuluh jari tangannya, lalu berpaling dan membalikkan tubuh.

__ADS_1


“Kau Jorok! Pakai Celanamu!” Kata Anjani, dengan muka bersemu merah saat Gentayu melompat keluar dari dalam kuali.


__ADS_2