
Gentayu sengaja memilih kedai makan di ujung desa itu karena letaknya berada di tepi jalanan utama desa. Dia yakin bahwa seharusnya kedai makan tersebut biasa dikunjungi oleh para penduduk yang berlalu lalang, bila beruntung barangkali juga akan ada pelancong yang mampir. Tentu saja tujuannya adalah mengumpulkan informasi terkait ‘kematian misterius’ yang sedang dihadapi oleh desa ini. Entah kenapa, dia menjadi sangat tertarik untuk ikut mengungkap misteri di desa ini.
Sore itu, Gentayu cukup beruntung karena kondisi kedai makan itu sedang ramai pengunjung. Hampir semuanya adalah laki-laki kecuali seorang wanita yang duduk di sudut kedai bersama rekan prianya. Keduanya memakai seragam yang sama dengan para penjaga yang ditemuinya di gerbang desa siang tadi. Mereka adalah pendekar yang berasal dari padepokan Bambu Hijau.
Banyak mata yang menatap menyelidik saat Gentayu memasuki kedai. Namun semuanya kembali fokus pada kesibukannya masing-masing setelah gentayu telah duduk di dalam kedai. Seorang lelaki tua menghampirinya. Dia adalah pemilik kedai.
“Maaf, tuan. Mau pesan makanan apa?” pak tua itu bertanya dengan ramah.
“Oh, iya pak. Saya pesan menu unggulan di kedai ini satu porsi, pak. Minumannya, jahe hangat saja, pak” Gentayu menyebutkan pesanannya dan segera disiapkan pemilik kedai.
Kedai ini memiliki dua orang pekerja wanita bersama pemilik kedai. Kedua wanita itu sepertinya adalah istri dan anak gadisnya pak tua sang pemilik kedai sendiri. Tak lama kemudian, pesanan Gentayu telah siap dan dihidangkan. Gentayu segera menyantap makanannya dengan perlahan, karena tujuan utamanya di tempat ini hanyalah untuk menguping pembicaraan para pengunjung kedai guna memperoleh informasi yang mungkin berguna. Namun hingga seluruh pengunjung telah berganti dengan orang-orang lainnya, Gentayu belum juga mendapatkan yang diinginkannya.
Selama waktu itu, beberapa kali saat kedai agak sepi Gentayu bertanya kepada pemilik kedai. Sebelumnya Gentayu memperkenalkan diri sebagai keluarga jauh Lestini dan adiknya dari kota Sei Asin. Pemilik kedai percaya saja karena memang kedua orang tua lestini bukan penduduk asli desa tersebut. Dari keterangan pemilik kedai, Gentayu mendapatkan tambahan keterangan selain yang telah didengar sebelumnya dari para penjaga di gerbang siang tadi. Menurut pemilik kedai, selama hampir dua minggu keberadaan anggota padepokan Bambu Hijau di desa ini, bahkan kematian misterius tidak berkurang.
Saat merasa usahanya sia-sia dan ingin meninggalkan kedai untuk berkeliling desa, Gentayu mendengar dari seorang pencari kayu bakar yang baru saja mengantarkan kayu bakar untuk kedai ini dari hutan desa. Pencari kayu bakar ini mengatakan bahwa ada beberapa orang asing berpakaian hitam-hitam dan terdapat garis gambar kelabang hitam di bagian punggung yang dia temui berlompatan di atas pepohonan hutan. Mendengar hal ini, Gentayu segera beranjak dari kedai untuk menuju hutan desa yang dimaksud pencari kayu bakar. Dia curiga, kehadiran kelompok aliran hitam seperti Kelabang Hitam ini berkaitan dengan misteri kematian misterius para penduduk desa.
++++++ ++++++++++ +++++++++++
Sedang terjadi pertarungan sengit antara Sundari, pimpinan kelompok lima orang anggota Kelabang Hantu melawan kedua wanita buruannya. Kedua wanita itu jelas tidak ingin mengambil resiko menunggu datangnya anggota komplotan Kelabang Hantu yang jelas-jelas akan membuat mereka dalam kesulitan. Mereka kemudian berinisiatif untuk menyerang sebelum anggota kelabang hantu lainnya tiba. Segera saja, tepian sungai itu berubah menjadi area pertempuran yang menegangkan.
Ketiganya berada dalam level kekuatan yang sama, yaitu level Pendekar Sakti. Namun dalam pertarungan ini, terlihat jelas bahwa kedua wanita itu lebih unggul dibandingkan Sundari. Lelaki dari Kelabang Hitam itu terus terpojok, sekalipun sebenarnya lawannya sedang dalam kondisi tidak begitu baik.
Kedua wanita itu bertarung dengan segenap kemampuan terbaiknya karena ingin segera mengakhiri pertempuran dan bila memungkinkan akan segera kabur sebelum komplotan lawan berdatangan. Sedangkan Sundari justru berusaha mengulur waktu dengan terus menghindari setiap serangan kedua wanita itu dan sesekali memberikan serangan balasan. Namun, langkah tersebut ternyata adalah sebuah kesalahan fatal bagi Sundari.
__ADS_1
Setiap detik begitu berharga bagi kedua wanita yang menjadi lawan Sundari, sehingga mereka berusaha menyerang dengan kemampuan tertinggi seefektif mungkin. Pimpinan kelompok ini masih mungkin dikalahkan dengan cara mengeroyoknya, namun akan berbeda ceritanya bila teman-temannya telah muncul, mungkin begitulah fikiran keduanya. Sehingga tanpa ragu, mereka terus melambari setiap serangannya dengan tenaga dalam tingkat tinggi dalam jumlah yang cukup besar. Andai pukulan itu diarahkan pada seekor gajah, maka gajah itu akan langsung terbunuh dalam sekali pukulan dengan tulang-tulang dan organ bagian dalam dipastikan hangus. Itulah kehebatan mereka yang telah mencapai level pendekar Sakti.
Mereka sadar bahwa menyerang dengan cara ini akan menguras tenaga, tapi seharusnya hasilnya juga akan signifikan. Serangan kedua wanita tersebut sekalipun bisa dihindari Sundari, namun energi yang menyertai setiap gerakannya memberikan tekanan tersendiri di tubuh Sundari. Sebaliknya, walaupun setiap pukulan itu bisa ditangkis, namun setiap tangkisan yang dilakukan Sundari, selalu saja membuat tangan atau kakinya mengalami kebas bahkan nyeri akibat penggunaan tenaga dalam yang kalah besar dari lawannya.
Luka lebam terlihat mulai menghiasi tubuh Sundari setelah pertarungan berlangsung puluhan jurus , sedangkan bantuan yang diharapkan belum juga datang. Sundari mulai frustasi dan berniat untuk mulai mengubah strategi pertarungan walau sedikit terlambat. Tapi kedua wanita ini sepertinya tidak memberikannya celah bahkan untuk sekedar sedikit menjauh guna mengambil nafas sejenak.
Kedua wanita itu menyadari kegelisahan Sundari. Mereka memanfaatkan ketidak fokusan Sundari dan karenanya mereka berkali-kali berhasil menyarangkan pukulan-pukulan bertenaga besar ke tubuh lawannya. Dalam serangan yang ke sekian kali, ternyata Sundari benar-benar lengah, hantaman pukulan sakti mengantam dadanya secara beruntun tanpa ampun, dan diakhiri dengan sebuah suara keras saat telapak salah satu wanita itu menghantam dada Sundari.
‘Dagh..! Dagh! Blar..!!’
Sebuah kilatan seperti petir menghantam dada Sundari dan melemparkannya puluhan meter ke belakang. Sundari jatuh terhempas ke tanah setelah menabrak sebuah batang pohon. Dia segera berusaha bangkit dengan berpegangan pada sebatang pohon perdu di dekatnya.
Masih bisa bangkit setelah terkena pukulan sedahsyat itu, jelas kemampuan pendekar ini sebenarnya cukup mengerikan bagi pendekar-pendekar biasa. Namun sayang sekali, belum sempat dirinya berdiri dengan sempurna, dua buah kilatan petir lainnya yang lebih besar menghajar kepala di bagian wajahnya..
Sundari terlambat untuk menghindar ataupun membuat perisai energi untuk menangkis kedua pukulan petir tersebut. Tubuhnya kembali terpental dan jatuh dengan bagian kepala terlebih dahulu.
Aroma daging hangus segera tercium dari tempat itu. Kepala itu hancur menghitam dan gosong!
Kedua wanita yang telah berhasil mengalahkan lawannya tersebut langsung jatuh berlutut di tanah setelah memeriksa kondisi tubuh Sundari dan yakin bahwa lawannya telah benar-benar tewas. Mereka kehabisan tenaga. Mengalahkan pendekar berlevel Pendekar Sakti ternyata benar-benar menguras tenaga. Melihat daya tahan tubuh lawannya terhadap pukulan sakti mereka yang seharusnya bisa membunuh seorang pendekar level Pendekar Ahli dengan sekali pukulan, membuat mereka merasa bahwa kemenangan mereka kali ini hanya sebuah keberuntungan. Merekapun bertanya-tanya, kenapa bala bantuan Kelabang Hantu yang seharusnya telah datang sedari tadi belum juga muncul?
Rasa penasaran mereka terjawab, ketika dalam keremangan senja yang mulai menuju malam itu mereka mendengar beberapa suara ledakan energi. Sepertinya ada pertarungan lain tidak jauh dari tempat mereka bertarung saat ini.
Mereka segera mengambil beberapa butiran obat di balik pakaian mereka. Itu adalah obat-obat pemulih tenaga yang selalu mereka bawa kemanapun. Setelah mengkonsumsinya dan merasakan tenaga mereka berangsur pulih secara perlahan-lahan, keduanya segera beranjak menuju sumber suara ledakan-ledakan energi berasal. Suara ledakan terus terdengar dengan jeda tidak terlalu lama antara satu dengan lainnya.
__ADS_1
Mereka kaget sekaligus takjub melihat pemandangan dihadapannya.
Seorang pemuda sedang dikeroyok oleh empat orang berakaian hitam dengan lambang kelabang di belakang punggung mereka. Seragam yang sama dengan Sundari, dan jelas mereka adalah empat orang anggota kelabang hantu lainnya. Ternyata mereka tidak segera datang membantu ketua kelompoknya karena dihadang oleh pemuda ini. Iya, pemuda itu tak lain adalah Gentayu.
Dilihat dari bekas-bekas pertarungan yang mulai samar-samar terlihat karena gelapnya malam mulai turun menyelimuti hutan itu, jelas bahwa pertarungan terjadi tidak lama setelah pertarungan kedua wanita itu dengan Sundari. Pepohonan di sekitar tempat itu bertumbangan menciptakan sebuah tanah lapang yang luas. Sebagian besar pohon roboh dalam kondisi hangus, sebagian lagi patah di dekat pangkal entah karena senjata maupun hantaman energi yang besar.
Gentayu memang segera beranjak dari kedai setelah mendapat informasi keberadaan orang-orang yang dia perkirakan sebagai orang-orang Kelabang Hitam. Salah satu kelompok aliran hitam yang harus dia musnahkan. Selain karena merekalah yang memusnahkan desa kelahirannya berikut penduduk termasuk keluarganya, kelompok ini juga terlihat terlibat dalam penyerangan padepokan Matahari Emas beberapa waktu lalu. Kalaupun tidak bisa memusnahkan mereka secara langsung, mengurangi jumlah mereka juga sudah cukup baik, begitu fikir Gentayu.
Kedua wanita ini masih terpukau dengan pertempuran yang terjadi dihadapannya.
Gentayu seorang diri melawan empat orang pendekar yang terlihat kemampuannya setara dengan Sundari. Bedanya adalah Sundari saat bertarung tadi tidak fokus sehingga bisa dikalahkan cukup cepat. Sedangkan keempat orang yang dilawan Gentayu tampak bertarung dengan kekuatan maksimal. Jurus dan pukulan-pukulan disertai energi dahsyat yang tidak sempat dikeluarkan Sundari dapat dilihat mulai dikeluarkan oleh keempat orang tersebut. Kadang Gentayu terdesak, namun di lain waktu giliran keempat lawannya yang kalang kabut. Pertarungan benar-benar berlangsung sangat cepat dan sulit diikuti mata.
“Adik, andai tadi lelaki yang berhasil kita kalahkan bertarung dengan kemampuan maksimalnya, apakah kita tetap bisa mengalahkannya?” Wanita yang terlihat lebih senior bertanya kepada rekannya yang lebih muda, sekedar meyakinkan dirinya.
“Tentu saja bisa kakak. Tapi mungkin saat ini pertarungan kita seharusnya belum selesai dan mungkin juga kita tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat..” Rekannya yang lebih muda mengungkapkan pengamatannya.
“Lalu, apakah kita akan membantu pemuda itu, kak?” giliran sang senior yang ditanya.
“Ya, kita memang harus membantunya. Bagaimanapun, kita berhutang nyawa kepadanya. Kalau saat ini aku yakin Pemuda itu masih bisa mengimbangi mereka. Tapi hasil akhirnya aku tak yakin. Sebaiknya, segera kita pulihkan diri sebelum membantunya. Lebih cepat lebih bagus. Malam bukanlah sahabat bagi kita..” Sang senior segera mengambil posisi duduk bersila diikuti rekannya.
Mereka segera bermeditasi memulihkan diri dan memaksimalkan penyerapan khasiat obat yang baru saja mereka konsumsi.
Sementara itu pertarungan antara Gentayu dan keempat lawannya semakin sengit.
__ADS_1
Gentayu bahkan telah mengeluarkan senjatanya, yaitu pedang Satam. Di sisi lain, lawan-lawannya sendiri sudah sejak beberapa saat lalu menghunus senjata masing-masing.