JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Bumi Bergetar


__ADS_3

Tetua De wu menemui Gentayu keesokan paginya. Pagi-pagi sekali, saat itu matahari belum muncul.


Gentayu membuka pintu kamarnya setelah pintu itu diketuk. Agak terkejut pemuda itu mendapati ternyata di luar hari masih cukup gelap untuknya kedatangan tamu.


“Oh, tetua Wu. Silakan masuk” sapanya mempersilakan.


Tetua Wu sebenarnya termasuk tipe orang yang tidak banyak bicara bila tidak ada hal penting. Maka Gentayu jadi penasaran, tentang hal penting yang ingin dibicarakan salah satu keturunan Ryu itu sepagi ini.


“Maafkan kedatanganku sepagi ini, tuan Gentayu. Tapi, kedatanganku aku ingin tahu kemana roh kakekku saat ini berada? Kenapa aku sekarang tidak bisa mendeteksi energinya seperti saat terakhir kalian di sini? Apakah dia baik-baik saja? Pedang Kembar itu, apakah masih bersamamu?” rentetan pertanyaan segera memberondong Gentayu saat dirinya menanyakan maksud kedatangan tetua itu.


“Oh, tuan Ryu.. dia masih bersamaku. Pedang itu juga aman bersamaku. Hanya saja sekarang tuan Ryu sedang berusaha meningkatkan kekuatannya. Kami baru mendapatkan pencerahan bahwa roh sepertinya masih mungkin bertambah kuat sekalipun tidak menggunakan tubuh fisik. Apa tetua berminat menjadi penjaga pedang kembar ini?” kata Gentayu sembari mengeluarkan pedang kembar, tempat di mana Ryu yang dalam wujud roh bersemayam.


“Oh, tidak, tidak.. terimkasih. Aku rasa, pedang itu beserta kakek lebih baik bersamamu saja. Syukurlah kalau beliau baik-baik saja. Tapi.. ini benar-benar tidak bisa dideteksi energinya” Tetua Wu segera menyerahkan pedang kembar itu kembali.


“Rencananya, setelah urusanku di Pulau Emas Besar ini selesai aku akan pergi menjemput tubuh tuan Ryu untuk kembali disatukan dengan ruhnya. Semoga...” Gentayu belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena dari arah pintu suara Matriark Lim memotong.


“Apa? Kau mau kemana? Negeri Hidama itu jauh sekali dari sini..” kata matriark Lim menyela bahkan sebelum dirinya memasuki pintu.


“Matriark..!”


Serentak Gentayu dan Dewu berdiri memberi hormat.


“Sepagi ini, tetua Wu sudah bertamu..” kata perempuan itu yang langsung duduk pada salah satu kursi kosong yang tersedia tanpa permisi.


“Ehem.. bukankah matriark juga...” jawab tetua tidak menyeleaikan ucapannya melihat mata Matriark Lim sedikit melotot kepadanya.


“Tetua lupa? Aku ini matriark di sini. Jadi aku bebas kemanapun di tempat ini..” Jawab wanita itu sedikit ketus sambil menyilangkan kakinya.


Gentayu yang melihat tingkah Matriark Lim hanya bisa menggaruk kepalanya. Dia sudah cukup banyak melihat tingkah kekanak-kanakan dari wanita itu selama tinggal di sekte ini beberapa waktu lalu. Jadi sudah tidak terlalu heran.

__ADS_1


“Tuan Gentayu, aku penasaran. Siapa orang yang akan datang sebentar lagi demi segel tersebut?” Matriark Lim bertanya. Kali ini wajahnya sedikit serius. Kepalanya dicondongkan ke arah Gentayu sehingga jarak wajah keduanya hanya tinggal beberapa jari tangan saja.


“Orang tua itu tidak menjelaskan secara detail. Beliau hanya mengatakan, bahwa aku harus segera kembali ke tempat ini mengamankan segel-segel iblis ini. Yang jelas, tidak akan lebih dari seminggu, seharusnya” jawab Gentayu.


“orang tua itu? Siapa maksudmu?” tetua Dewu justru yang sekarang penasaran.


“Ah, dia.. bisa dikatakan dia adalah guruku..” Jawab Gentayu seadanya.


“Oooo...” kata itu keluar serentak dari kedua orang di hadapan Gentayu.


“Oh iya. Lalu, apa maksud kedatangan matriark dan tetua Wu sepagi ini kemari?” Gentayu mengingatkan kedua tamunya mengenai maksud kedatangan mereka.


Tetua Wu memilih menunda mneyampaikan maksudnya karena menghargai matriark Lim. Ketika mereka hanya tinggal berdua saja, barulah matriark Lim buka suara.


“Tuan Gentayu. Selain segel dan bola 9 arwah yang kami miliki ini, satu segel lainnya dimiliki oleh Karang Setan. Apa kau ingat, lelaki tua yang kau hadapi di desa Air Ketuan?” Matriark Lim menyampaikan informasi berdasarkan penuturan tetua Sengkuang. Tetua itu yang melihat secara langsung pertarungan Gentayu melawan Karang Setan saat menelusuri jejak energi hitam dari segel yang seharusnya masih berada di sungai Muji waktu itu.


“Iya. Tentu saja aku ingat. Lelaki itu yang telah merebut pedang Satam dariku. Dia juga membunuh tetua Shou. Aku akan mengurusnya juga setelah urusan di sini selesai. Kuharap...”


“Apa yang terjadi?”


“Gempa??”


“Biar aku memeriksanya. Kalau benar tebakanku, seharusnya mereka telah ada di sekitar tempat ini!” Kata Gentayu segera keluar dan melesat ke angkasa.


Terbang??


Tentu saja pemandangan itu membuat mereka yang melihat menjadi takjub. Melihat pendekar yang mampu melayang di udara bukanlah hal baru. Tapi pendekar yang bisa terbang adalah hal berbeda.


Setelah Gentayu hilang dari pandangan, Matriark Lim segera mengumpulkan seluruh anggotanya. Terutama para tetua. Di tempat ini, kehidupan berjalan secara alami. Mereka memiliki bermacam profesi layaknya desa biasa.

__ADS_1


“Apa yang akan kita lakukan, Matriark?” tanya salah satu tetua setelah mereka berkumpul.


“Kita lihat saja. Getaran ini, jelas bukan gempa biasa. Getarannya semakin lama semakin kencang. Aku minta kita semua waspada dan siaga. Aktifkan formasi perlindungan..!” Perintah Matriark Lim.


Lima orang tetua segera bergerak ke setiap penjuru.


Mereka adalah tetua yang bertugas mengaktifkan formasi perlindungan. Sebuah formasi medan energi yang berguna membentengi sekte mereka dari serangan pihak luar. Hanya burung dan hewan tak berakal saja yang tetap bisa menerobos masuk setelah formasi diaktifkan.


Matriark Lim yakin dengan Instingnya bahwa getaran tersebut diakibatkan oleh kedatangan suatu yang mengancam. Apakah ini tamu yang dimaksud Gentayu?


Dalam ketidakpastian, tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dari atas dinding tebing di tepi desa. Tepat di sisi air terjun ke tiga.


‘BHUM!’


‘BHUM’


‘BHUM’


Suara ledakan terdengar berkali kali.


Tak lama terlihat asap putih pekat membumbung ke angkasa.


“Apa itu?” kata tetua yang baru saja tiba di tempat berkumpul.


“Mari kita ke sana! Sepertinya Gentayu telah terlibat pertempuran melawan sesuatu yang menjadi penyebab terjadinya getaran ini. Lihat, bukankah getaran berhenti?” Matriark Lim memunculkan senjatanya yang berupa sebuah selendang berwarna merah. Selendang itu adalah selendang pusaka peninggalan mendiang gurunya.


Mereka saling melihat lingkungan sekeliling. Benar! Getaran itu telah berhenti. Dan hanya muncul sesekali namun kekuatannya jauh lebih kecil nyaris tak terasa. Serentak mereka mengangguk dan mengeluarkan senjata masing-masing. Kemudian mereka melesat menuju puncak air terjun ke tiga, di mana suara ledakan dan kepulan asap putih berasal.


Ketika mereka baru menapakkan kaki di puncak pada tepian air terjun ke tiga, kesepuluh orang itu disambut dengan semburan-semburan api yang memaksa mereka berjumpalitian menghindar. Beruntung, semburan api tersebut cukup lambat sehingga sedikit mudah dihindari.

__ADS_1


Pemandangan yang terpampang di depan mata mereka membuat mereka takjub sekaligus cemas. Sedikitnya, lebih dari sepuluh ekor kadal raksasa telah tergeletak tak bernyawa dengan luka tebasan di bagian kepala. Namun, di barisan belakangnya, masih ada lebih dari tiga puluh ekor kadal raksasa yang terus berdatangan beserta para penunggang di atas punggung mereka.


Gentayu sendiri tampak tengah berada di antara lautan api yang timbul akibat semburan terus menerus oleh para kadal raksasa tersebut.


__ADS_2