
“Apakah mata tuaku ini tidak salah lihat? Anda, anda.. apakah benar anda ini.. Datuk ALehah, kepala Marga Api yang legendaris?” Wanita tua itu, Nyi Suntari tampak tak ppercaya dengan penglihatannya. Berkali-kali dia mengucek-ngucek matanya, hanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat.
“Maaf, saya memang Alehah. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya..?” Rajo Narako mengiyakan wanita tua itu.
Bagaimanapun, seharusnya tidak banyak lagi orang yang bisa mengenalinya dalam sekali lihat. Hal ini menunjukkan bahwa wanita ini setidaknya pernah melihat patung besarnya di Kota Mulageni. Begitulah dugaan Rajo Narako saat ini.
“Maafkan atas ketidak sopanan saya tuan Datu Buana, saya sebenarnya adalah bagian dari Ancalageni. Maksud saya, nenek Saya adalah bagian dari Ancalageni. Kami sekeluarga terpaksa mengungsi seratus tahun yang lalu karena sebuah kesalahan..” Nyi Suntari menjawab keterkejutan Rajo Narako karena mengenalinya dengan sekali lihat.
“Pantas saja. Jadi, maksud saudari ini, kalian juga dulunya berasal dari Klan ku? Siapa nama nenek atau pendahulumu yang segenerasi denganku?” Rajo Narako berusaha menggali lebih dalam.
Bagaimanapun, setiap orang bisa saja mengaku sebagai siapapun bila tanpa bukti. Dan untuk setiap orang yang mengenalinya, dia wajib curiga.
“Ayah dari nenek saya, bernama Mahzar.. beliau..” kata-kata Nyi Suntari terputus karena dipotong oleh Rajo Narako.
“Tunggu, tunggu, tunggu.. Mahzar? Kau keturunan Mahzar?”Rajo Narako nampak tak mempercayai telinganya kali ini.
“Benar tuan..” Nyi Suntari menjawab singkat, lalu menunjukkan sebuah medali dan sebuah tato kecil di pergelangan tangannya bagian dalam.
Datuk Rajo Narako jelas mengenali tanda itu, dan segera percaya bahwa Nyi Suntari benar-benar dari Klan yang sama dengannya.
Mahzar, adalah sepupu jauhnya.
Mahzar dan Alehah kecil adalah teman sepermainan. Mereka pernah bersama-sama berguru selagi muda. Bedanya, Mahzar akhirnya memilih bergabung menjadi pasukan kerajaan Sindur Kuntala dan memperistri putri salah satu bangsawan kerajaan. Sedangkan Alehah tumbuh menjadi pendekar terkuat di dalam Klannya. Lalu, berhasil menjadi Datu Buana Marga Api selanjutnya.
Nama keduanya cukup mencolok saat itu. Mahzar sendiri berhasil menjadi panglima tertinggi Sindur Kuntala sebelum terjadi perang melawan pasukan iblis, Mislan Katili.
Dalam perang itu, sebagaimana anak Rajo Narako, Mahzar juga terbunuh!
Rajo Narako terlarut dalam lamunan masa lalunya. saat sesuatu menyadarkannya.
Suara cempreng seorang perempuan muda terdengar di belakang mereka.
__ADS_1
“Guru.. Aku berhasil membuatnya guru..!..” Seru suara itu mendekat.
Saat itulah, mata Rajo Narako dan wanita muda itu bertemu.
“Ah, tuan..!” wanita muda itu tak lain adalah Anjani. Dia segera berlutut di hadapan lelaki paruh baya yang kini menatapnya tak percaya.
“Apakah, tuan Datu Buana mengenali murid saya ini?” Nyi Suntari yang belum sepenuhnya memahami situasinya menjadi bingung dan salah tingkah.
Rajo Narako lalu menjelaskan siapa sebenarnya Anjani, lengkap dengan cerita tentang pencariannya terhadap Gentayu.
“Apa?? Jadi, dia.. dia putra dari Sabang Geni, cucu tuan?” Ekspresi perempuan tua itu membuat Rajo Narako gantian kebingungan.
Menyebut kata ‘Dia’ sambil telunjuknya berada di atas bahu dengan posisi miring ke belakang, menunjukkan wanita tua ini mengenal cucunya itu.
Tapi, semua bagi Rajo Narako menjadi masuk akal. Dengan keberadaan Anjani di sini, bukankah sudah bisa menjadi penanda keberadaan Gentayu juga?
“Iya, di mana dia” Kata Rajo Narako antusias, memandangi Nyi Suntari dan Anjani bergantian.
Baik Anjani maupun Nyi Suntari yang dipandangi, keduanya justru menundukkan kepala dengan kedua telapak tangan menyatu di depan , di bawah perut. Mereka menunduk seolah merasa bersalah.
“Diculik?”” Rajo Narako mengulangi kata-kata Anjani, seolah tak percaya bahwa di dunia ini kehadiran cucunya sudah menarik perhatian, sehingga seseorang telah tergerak untuk menculiknya.
Anjani akhirnya maju, dan menceritakan secara runtut kisahnya kepada Rajo Narako.
Dimulai dari pengejaran Gentayu, Hao Lim, Sakuza dan Miyako terhadap para pendekar-pendekar ‘Merah’ yang membantai para pendekar Bintang Harapan di Istana Kepatihan. Saat itu, Anjani masih berwujud senjata trisula yang digunakan Gentayu.
Lalu, pertemuannya dengan Hang Kelana yang berujung Gentayu hampir kehilangan Nyawa, Hao Lim yang sekarang entah kemana, dan pertemuan mereka dengan Nyi Suntari beberapa waktu yang lalu.
Anjani kemudian menjelaskan sosok Gola Ijo yang disebutnya sebagai siluman ‘Antu Banyu’ sebagaimana para sesepuh Pinang Emas menamai makhluk itu, berikut perjanjiannya ketika mengambil teratai bulan.
Nyi Suntari tampak terpukau menyadari kehebatan dan peran Gentayu dalam perang melawan aliran hitam di Lamahtang dari cerita Anjani ini. Sebelum ini, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dia telah menolong seorang pahlawan besar di dunia berbeda.
__ADS_1
Sedangkan Rajo Narako, lebih tertarik dengan sosok Pendekar Merah yang diperkirakan Nyi Suntari sebagai kelompok Telegu Merah.
Baginya, menyusupnya kelompok ini ke Dipantara adalah sebuah bahaya besar. Tapi dari cerita Anjani, Rajo Narako berkesimpulan bahwa kelompok ini hanya terdiri dari kelompok kecil saja.
‘Setidaknya, Saudara Dana Setra akan bisa mengamankan situasi di sana..’ kata hatinya, berharap.
Sosok kedua yang cukup menarik dari cerita Anjani tentu saja sosok ‘Antu Banyu’ yang menculik Gentayu sendiri.
Dari sekilas cerita Anjani yang mengatakan bahwa dirinya telah diberikan sebutir pil obat dan membuatnya mencapai puncak kekuatan aslinya kembali, bukannya racun sebagaimana ancamannya di awal pertemuan, Rajo Narako bisa memastikan bahwa sosok hijau itu bukanlah makhluk yang jahat.
Meskipun begitu, narasi sedikit berbeda diutarakan Nyi Suntari terkait makhluk hijau si Antu Banyu tersebut.
Menurutnya, Antu Banyu itu adalah iblis yang telah disegel selama ratusan mungkin juga ribuan tahun oleh liga pendekar sebelum kemunculan Padepokan Pinang Emas.
Liga Pendekar sendiri adalah pasukan elit kerajaan yang dibentuk untuk mengatasi masalah-masalah keamanan masyarakat. Dan Antu Banyu ini, menurut legenda dikenal sebagai makhluk penyebar hawa iblis. Menjadikan manusia sebagai makanan, dan menyisakan yang lainnya sebagai pengikutnya setelah terkontaminasi racun hawa iblis miliknya.
Anjani yang baru pertama kali mendengar kisah tentang legenda Antu Banyu ini tentu terkejut. Gambaran yang disampaikan oleh Nyi Suntari berbeda jauh dengan yang kesan dari pertemuan yang dialaminya. Namun begitu, dia tidak bersuara sama sekali, bagaimanapun Gola Ijo si Antu Banyu merupakan misteri dan tak banyak diketahui kebenarannya.
“Sebentar lagi malam tiba. Jika Tuan Datu Buana berkenan, sudilah untuk bermalam di sini. Aku akan mengundang para sesepuh untuk melakukan penyambutan terhadap tuan..” Nyi Suntari sedikit membungkuk saat mengatakannya.
“Nyi Suntari tak perlu repot. Akan lebih baik bila semakin sedikit orang yang mengetahui keberadaanku. Bagaimanapun, kondisi sekarang sedang serba tidak pasti. Aku berterimakasih karena kalian telah merawat cucuku” Rajo Narako kali ini sedikit membungkuk berterimakasih, meskipun hal ini justru membuat Anjani dan Nyi Suntari menjadi serba salah. Bagaimanapun, Rajo Narako adalah kepala Marga, setingkat raja kecil.
“Dan untuk nak Anjani..” lanjutnya, “ aku telah membebaskanmu dari hukuman Marga. Sekaligus aku juga melepasmu dari tanggungjawab sebagai pelayan. Kau bebas sekarang. Tapi, kalau boleh berharap, aku ingin kau tetap membantu Gentayu”
Anjani yang mendengar ini segera berlutut dan bersimpuh. Selama ini, gadis itu tidak merasa menjadi pelayan keluarga Gentayu. Gentayu sudah layaknya sahabat. Bahkan lebih. Tangisnya segera pecah meskipun ditahannya. Entah dia menangis karena apa, gadis itu tidak tahu.
“Aku meyakini, dia baik-baik saja saat ini. Bukankah tadi Nyi Suntari bilang bahwa saat ini Gentayu berhasil memiliki tubuh Dewa Api?” Rajo Narako kembali menatap Nyi Suntari, menunjukkan rasa terimakasihnya dengan membungkuk sekali lagi.
Nyi Suntari yang tidak enak hati segera membungkuk lebih rendah, bahkan dia harus berlutut memohon agar Rajo Narako tidak melakukannya. Bagaimanapun, rasa hormatnya pada sang Datu Buana itu sangatlah besar.
Akhirnya, Rajo Narako tidak menolak tawaran untuk tinggal dan bermalam di rumah Goa milik Nyi Suntari, namun dia tetap ingin agar kehadirannya tidak banyak diketahui oleh orang lain.
__ADS_1
Hari memang sudah menjelang malam saat itu. Udara dingin mulai menyelimuti lingkungan di sekitar, bersamaan dengan kabut yang mulai turun menutupi puncak dan lembah pegunungan.
Malam itu, adalah malam purnama..