
‘Sesuatu’ itu ternyata adalah sebuah botol kecil dari tembikar yang langsung pecah saat bersentuhan dengan benda yang keras. Lebih tepatnya meletup.
‘Blup!’
Dan dalam waktu sepersekian detik, asap putih dan tebal segera menyelimuti udara di sekitar dua orang anggota Kelabang Hantu yang tersisa.
Salah satu wanita yang terlibat dalam pertarungan tersebut menyadari apa yang terjadi.
“Mundur! Awas Racun!” teriaknya lantang dan diiringi dengan gerakannya yang secepat kilat melemparkan senjata-senjata kecil ke arah kabut asap tebal di tempat kedua pendekar kelabang Hantu itu berada.
‘Zhink..Zhink..Zhink.. !
‘Dar..! Dar..! Dar..!’
Desingan terdengar saat senjata tersebut meluncur dari tangan wanita itu. Kemudian disusul dengan rentetan suara ledakan. Tampaknya tiga buah senjata yang dilemparkan wanita itu mengenai sasaran di balik asap tebal itu.
Dua sesepuh Bambu Hijau, Gentayu dan kedua wanita tersebut sama-sama menjauhi asap yang makin menebal tersebut. Salah satu wanita tersebut memang cukup memahami cara kerja racun asap sekaligus mampu memberikan respon yang tepat dengan sangat cepat.
Racun asap tersebut digunakan sebagai pengalihan sebelum melarikan diri. Di balik asap yang tebal itu, biasanya para penggunanya memanfaatkan kesempatan untuk kabur sembari memberikan serangan kejutan sebelum kabur. Namun tampaknya kali ini pendekar Kelabang Hantu tersebut kalah cepat dari lawannya. Bila di negeri ini barangkali trik seperti itu akan efektif karena belum banyak dikenal sebagai trik mengecoh lawan, tapi tidak bagi kedua pendekar wanita itu. Di Negeri asal mereka, senjata racun asap bahkan dikuasai oleh para pendekar pemula.
Saat asap tersebut mulai menghilang, dua mayat tambahan terlihat telah terkapar di tempat tersebut. Satu mayat dengan kondisi bagian wajah hancur dan hangus, di kedua tangannya terdapat dua buah pisau lempar yang belum sempat dilemparkannya karena didahului oleh lawannya. Satu lagi tertelungkup dengan bagian belakang tubuhnya, tepat di pinggang, hancur meninggalkan lubang menembus ke bagian depan tubuhnya. Tampaknya orang ke-dua ini telah siap untuk melarikan diri andai tidak kalah cepat dari senjata lawannya.
Gentayu dan kedua sesepuh Bambu Hijau saling berpandangan. Mereka takjub dengan cara bertarung dan kesigapan para wanita yang bersama mereka saat ini. Mereka memiliki pemahaman baru, bahwa racun ini efektif melumpuhkan lawan tapi para penggunanya memiliki kekebalan terhadap racun itu sendiri. Sebabnya, mungkin karena mereka telah menelan penawarnya.
Malam mulai semakin gelap saat mereka meyakinkan diri masing-masing bahwa semua musuh telah dihabisi. Gentayu tanpa permisi segera memungut semua senjata dari keempat lawannya
‘Senjata yang cukup bagus. Sayang kalau tidak dimanfaatkan’ batin Gentayu seraya memasukkan senjata-senjata tersebut seolah-olah ke balik pakaiannya, tapi sebenarnya senjata-senjata tersebut masuk ke ‘Gelang Gerobok’nya.
Dia kemudian melanjutkan untuk memeriksa mayat-mayat mereka. Mengambil semua benda yang ada di balik pakaian mayat-mayat tersebut.
__ADS_1
‘ Ternyata mereka kaya juga’ gumam Gentayu saat mendapati dari masing-masing mayat itu beberapa koin emas dan perak, obat-obatan berharga dan beberapa jenis racun berikut penawarnya.
Melihat tingkah anak muda tersebut, tentu saja membuat kedua sesepuh Bambu Kuning mengumpat dalam hati karena mereka kalah cepat dan terlalu ‘sopan’ sebagai orang tua.
“Tuan Pendekar, dan paman berdua, terimakasih telah menolong kami berdua. Saya Yumiko, dan ini adalah adik seperguruan saya Kasuza. Terima kasih sekali lagi atas bantuannya” Kedua wanita tersebut menyela aksi 'penjarahan' Gentayu dan kedua sesepuh Bambu Hijau yang masih melongo melihatnya. Kedua pendekar wanita itu lalu sedikit membungkuk memberi hormat kepada Gentayu, Kardak dan Winamar.
Kardak dan Winamar segera tersadar dari plonga-plongo mereka. Mereka tersenyum dengan muka merah karena malu, Kardak bahkan sampai mengelap sudut mulutnya karena khawatir ada liur yang menetes.
“Maaf, nona dan Pendekar muda. Bagaimana kalau kita ke desa saja dulu. Hari sudah malam. Andai nona berdua dan tuan pendekar hendak beristirahat, kukira kita bisa istirahat di rumah kepala desa saja. Sekalian kita bisa berbincang-bincang lebih jauh di sana. Bagaimana?” Kardak, sang wakil ketua padepokan mengingatkan.
“Ah iya.. benar. Kakek.. eh, maksud saya.. paman!. Saya Gentayu. Mohon maaf malam ini saya sepertinya tidak bisa memenuhi undangan paman berdua. Saya akan bermalam di rumah saudara saya saja di desa nanti. Nona berdua, sebaiknya istirahat saja malam ini. Bisa pilih, mau istirahat di rumah kepala desa atau di gubuk saudara saya. Kebetulan, saudara saya ini perempuan juga..” Gentayu menolak secara halus ajakan kedua sesepuh Bambu Hijau tersebut. Sebaliknya dia malah mengajak kedua wanita yang ditolongnya untuk juga singgah dan bermalam di kediaman Lestini, orang yang dimaksud sebagai saudaranya di desa.
“Oh, bagitu. Jadi tuan pendekar muda ini memiliki keluarga di desa Air Ketuan juga? Baiklah kalau begitu. Saya harap tuan pendekar sudi berbagi cerita esok pagi. Kami adalah sahabat dari Ki Brajawana juga.. hahaha..” Kardak tidak lagi memanjangkan cerita.
Lebih baik malam ini mereka beristirahat karena besok mereka harus menemukan pelaku penganiayaan salah satu pendekar yang juga pernah jadi murid terbaik mereka, Kulais. Mereka tidak lagi berbasa-basi kepada Kasuza dan Yumiko, karena merasa tidak memiliki kepentingan apapun. Niat awal mereka menolong Gentayu adalah memang karena Gentayu pasti murid ki Brajawana. Itu saja dan tidak lebih. Masalah lainnya, jelas mereka tidak ingin ikut campur selama tidak berkaitan dengan padepokan mereka.
Keduanya segera melesat pergi begitu saja.
Kedua wanita ini awalnya ingin menolak untuk ikut ke desa. Mereka ingin meneruskan perjalanan mereka malam ini juga. Namun kelalahan pada tubuh dan fikiran mereka memang perlu diistirahatkan. Mereka terlalu lelah untuk melanjutkan misi mereka. Akhirnya mereka bertiga pun berjalan bersama menuju desa.
Belum jauh berjalan, saat sudah hampir tiba di tepi hutan, ketiganya telah disambut oleh kepala desa yang datang bersama pembantunya. Sebelumnya kepala desa telah diberitahu oleh Kardak dan Winamar tentang Gentayu dan kedua wanita tersebut. Kepala desa kembali menawarkan uluran tangannya untuk menjamu ketiganya bersama dua sesepuh bambu kuning tersebut. Namun Gentayu menolaknya dengan alasan dia akan datang ke rumah kepala desa pagi harinya saja. Gentayu masih harus melakukan sesuatu kepada kedua adik angkatnya, Lestini dan Jasri malam ini.
Lagipula, alasan utamanya berada di desa ini adalah karena rasa penasarannya terhadap misteri kematian warga desa yang terjadi hampir tiap malam. Dan akan lebih baik bila beberapa pertanyaannya diungkapkan saja kepada kepala desa sambil berjalan. Mereka berlima berjalan kaki menelusuri kegelapan malam dengan bantuan penerangan obor yang dipegang pembantu kepala desa. Namun hingga kelimanya berpisah, informasi yang diterima Gentayu dari kepala desa tidak lebih banyak dari yang didapatnya dari para penjaga gerbang desa siang tadi.
Setelah beberapa lama berjalan akhirnya rombongan itu berpisah. Kepala desa dan pembantunya pamit untuk berbelok jalan menuju rumahnya, sementara Gentayu, Sakuza dan Yumiko melanjutkan perjalanannya Kembali menuju ke kediaman Lestini di belakang bekas pasar desa.
Saat Gentayu, Sakuza dan Yumilo tiba, rupanya Jasri tengah menunggunya di depan pintu gubuknya. Dia mengetahui bahwa Gentayu akan Kembali malam itu karena kakaknya, Lestini yang mengatakannya saat dirinya pulang dari bermain dan mencari gentayu. Dia menunggu Gentayu sudah sejak sore hari. Bocah itu menolak untuk tidur seperti biasanya saking antusiasnya ingin bertemu dengan Gentayu lagi. Senyum sumringah bocah itu merekah melihat Gentayu datang Bersama dua orang wanita yang tak dikenalnya.
Gentayu kemudian memperkenalkan Yumiko dan Sakuza, lalu menceritakan secara singkat kejadian yang di alami ketiganya. Lestini begitu kagum mendengar cerita Gentayu tentang kedua wanita perkasa tersebut. Tiba-tiba terbersit keinginannya untuk bisa menjadi sekuat kedua wanita tersebut. Gentayu bercerita sesuai dengan yang didengarnya langsung dari Sakuza bahwa mereka berdua adalah orang-orang dari Kekaisaran Hidama, Jauh di benua Tengah. Mereka dating ke wilayah ini karena sedang menyelesaikan misi dari sekte tempat mereka berasal.
__ADS_1
Setelah selesai dengan ceritanya, Gentayu bermaksud menuju perapian untuk menyiapkan makan mala bagi semuanya, namun niat itu diurungkannya karena di atas meja semua bahan makanan yang ditinggalannya ternyata telah dalam kondisi siap makan. Gentayu menoleh kepada Lestini dan gadis cilik itu tersenyum sambil mengangguk. Lalu Lestini selaku tuan rumah mengajak semua penghuni rumah tersebut untuk makan sebelum beristirahat.
++++++++ ++++++ ++++++ ++++
Malam itu, setelah memeriksa kondisi fisik Lestini dan meracikkan beberapa tanaman obat lainnya untuk diminum Lestini, Gentayu tidak berniat untuk tidur. Kedua pendekar Wanita dari kekaisaran Hidama juga tak banyak bercerita. Mereka memilih untuk beristirahat dan segera tidur di salah satu sudut kamar yang kondisinya memang memprihatinkan itu. Gentayu sendiri memilih bermeditasi untuk memulihkan fisik dan kekuatannya setelah yakin bahwa kondisi adik angkatnya semakin membaik sehabis mengkonsumsi obat racikannya.
Saat malam semakin larut, Gentayu menghentikan meditasinya. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi di desa malam ini. Maka, tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera keluar secara diam-diam agar tak mengganggu istirahat kedua kakak beradik beserta tamunya tersebut.
Gentayu melompat ke atas atap dan bayangannya berkelebat di antara atap-atap rumah penduduk. Tujuan Gentayu hanya satu, menemukan petunjuk atau apapun terkait kematian setiap malam dari para penduduk. Saat ini adalah bulan ke dua terror kematian yang dialami warga desa Air Ketuan ini. Berarti sudah lebih 50 orang menjadi korban. Gentayu bertekad untuk membantu desa ini sekuat tenaga agar teror kematian bisa segera diatasi.
Gentayu memilih untuk menunggu. Dia memilih tempat dengan mengandai-andai dirinya adalah orang yang mengendalikan hantu-hantu untuk menyerang. Maka seharusnya orang tersebut akan mengendalikan makhluk-makhluk itu dari tempat tersembunyi namun tetap bisa melihat semuanya. Maka dipilihlah tempat yang paling tinggi namun tersembunyi dari pandangan.
Satu jam, dua jam, hingga tiga jam Gentayu mengintai dari atas sebuah pohon kelapa yang tinggi di tengah desa, tiba-tiba matanya yang tajam menangkap sebuah pergerakan lainnya di atas atap rumah-rumah warga. Tiga bayangan hitam seperti melayang dari atap yang satu ke atap lainnya tak jauh dari tempat persembunyiannya. Gentayu segera melayang turun mengikuti pergerakan ketiga bayangan tersebut tapi dengan tetap menjaga jarak. Ketiga bayangan itu terus melayang di antara rumah rumah warga dengan Gerakan yang cepat.
Tiba-tiba bayangan itu berhenti pada atap sebuah rumah penduduk pemilik peternakan ayam. Di tengah kesunyian malam itu, ketiganya melakukan serangkaian gerakan-gerakan seperrti sebuah jurus. Tak lama kemudian, bermunculan satu, dua, tiga, enam, Sembilan… dan terus bertambah banyak sosok-sosok berwarna putih melayang-layang mengitari ketiganya.
‘Hmmm… Mereka ini rupanya yang disebut-sebut sebagai pengendali hantu oleh para penjaga gerbang tadi siang..’ Gentayu teringat ucapan penjaga gerbang desa siang tadi tentang pertarungan melawan para hantu-hantu yang sepertinya dikendalikan.
Sosok-sosok putih itu semakin bertambah banyak. Kemudian dengan tangan kanannya, salah satu dari ketiga bayangan hitam itu menunjuk ke langit, lalu telunjuknya menunjuk ke satu arah. Semua 'hantu' itu bergerak mengikuti arah gerak tangan dari bayangan hitam itu menuju ke sebuah rumah penduduk.
'Wezzzzz....!'
Gentayu baru saja hendak bergerak menghadang pergerakan 'hantu-hantu' itu saat dari arah lain melesat kilatan-kilatan energi yang menghantam kumpulan 'hantu' yang membentuk seperti awan putih tebal yang sedang berarak..
'BAM!'
'BAM!'
'BAM!'
__ADS_1
Suara ledakan terdengar saat lesatan energi tersebut bersentuhan dengan kumpulan 'hantu' itu.