
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, senior?” Dana Setraterlihat cemas. Khawatir mereka tidak menemukan solusi untuk membebaskan para pendekar di dalam kantong buana.
“Aku akan menemui saudara seperguruanku untuk menyelesaikan masalah ini. Dia harus memberikan penjelasan atas musibah kemanusiaan ini..” Jawab Lou Shi San dengan mata yang berkilat penuh keyakinan.
“Kalau perlu, aku akan memaksanya menghentikan produksi buah kristal terkutuk ini!” lanjutnya, sambil meneguk arak merah di meja yang telah disediakannya sebelumnya.
Dana Setra dan Montawiraba hanya menelan ludah melihat kelakuan Lou Shisan tersebut.
“Senior, lalu bagaimana dengan ribuan pendekar yang sedang terpenjara ini?” Kata Dana Setra seraya menunjuk Kantong di tangan kiri Lou Shisan.
“Oh iya. Aku hampir melupakan mereka!” seru Lou Shisan sambil menepuk keningnya karena melupakan hal sepenting itu.
“Tapi, aku yakin aku bisa membebaskan mereka, kemudian menjadikan kristal merah itu sebagai bahan pembuat arak lagi, hahahahaha..” lanjut Lou Shisan seolah barusan menemukan harta karun baru.
“Tapi, itu akan sangat merugikan mereka. Kekuatan mereka akan berkurang hingga separuhnya, bahkan mungkin tingkatan kependekaran mereka juga akan jatuh. Aku memiliki sebuah rencana, itu kalau tuan berdua setuju..” Lou Shisan kini berkata dengan nada sedikit rendah, nyaris berbisik.
“Rencana bagaimana maksud senior?” tanya Dana Setrasemakin tak mengerti arah pembicaraan pria berambut panjang di hadapannya ini.
“Aku akan menjadikan mereka Pendekar Bhakta. Dengan begitu, mereka akan seperti kita, menjalani praktik mandiwata..” Lou Shisan menjelaskan dengan yakin.
“Berarti, mereka harus tinggal di dunia kita?” tanya Dana Setra ingin diyakinkan.
“Iya. Setidaknya selama setahun. Dengan begitu banyak pendekar yang setidaknya berada di level pendekar bumi, perlindungan kita terhadap dunia ini kurasa tidak akan terlalu diperlukan lagi.
Artinya, kita bisa pulang... Hahahahaha...!” Lou Shisan tertawa lepas seolah baru saja berhasil menemukan jalan keluar sebuah persoalan yang berat.
Dana Setra dan Montawiraba terdiam mendengar penjelasan Lou Shisan. Namun mereka mengakui, ide pendekar tabib di hadapan mereka benar-benar brilian!
Keduanya sebenarnya setuju dengan rencana tersebut, karena dengan meningkatnya kekuatan pendekar di Dipantara, berarti penugasan para pendekar dari berbagai Marga untuk membendung kekuatan hitam yang berupaya memperluas pengaruh tidak lagi diperlukan.
“Kami, menurut saja, senior. Yang penting nyawa mereka semua dapat diselamatkan. Dan aliran hitam tidak merajalela di kemudian hari” Kata Dana Setra mewakili Montawiraba setelah beberapa saat.
“Baiklah. Mari kita berangkat...” kata Lou Shisan sembari beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Lou Shisan menghentakkan kakinya dengan kuat ke lantai.
Lantai segera bergetar cukup keras dan lama sebelum suara berderak terdengar, dan sebuah medali raksasa melayang di udara menimbulkan suara dengung di telinga.
Medali melayang itu memancarkan sinar yang semakin terang seiring waktu semenjak kemunculannya.
Dalam waktu sepuluh tarikan nafas, sinar medali itu telah menjadi sangat menyilaukan. Dana Setra, Montawiraba, bahkan Lou Shisan sendiri harus menghalau cahaya menyilaukan itu memasuki mata mereka dengan telapak tangan memayung di depan mata.
Diikuti dana Setra dan Montawiraba, Lou Shi Shan segera melompat masuk ke dalam berkas cahaya menyilaukan tersebut.
Secara ajaib, energi menghisap segera dirasakan ketiganya di balik cahaya terang menyilaukan itu. Dan dalam sekejap mata, cahaya menyilaukan itu menghilang bersama dengan tubuh ketiga pendekar legendaris tersebut.
Yang tersisa di ruangan itu hanyalah sisa jamuan berupa arak merah dan beberap makanan belum tersentuh.
+++++++
Di tempat lain, Gentayu mulai mendalami kembali Bab Lanjutan dari Kitab Api Abadi pemberian Gola Ijo.
Di Goa Batu bawah tanah, dirinya dengan tekun mempelajari bagian perbagian dari lempengan emas tersebut. Hanya butuh waktu dua dua jam bagi Gentayu untuk membuat naskah bab ketiga menghilang dari lempengan dan memunculkan bab ke empat.
Bagaimanapun, antara dunia Dipantara dan Dunia Danyang memang memiliki perbedaan dalam tingkatan kependekaran. walau begitu, prinsip-prinsip dasar kependekaran dua dunia tidak terlalu jauh berbeda.
Kekuatan Gentayu di dunia danyang sebelum menembus level pendekar bumi awalnya memang hanya setara manusia biasa, namun dirinya tetaplah seorang pendekar. Dia tetaplah menjadi yang terkuat di antara manusia biasa di dunia ini, sekalipun pada saat yang sama menjadi yang paling lemah di antara para pendekar bhakta.
Gentayu mengawali dunia kependekaran dari tingkat dasar, bahkan sangat dasar untuk ukuran para bhakta di dunia ini. Karenanya, meskipun sama-sama berada di tahapan Pendekar Bumi level awal, namun pemahaman dan kemampuan Gentayu akan menjadi yang terbaik dari sesama pendekar bumi level awal di dunia ini.
Gentayu telah mampu menggunakan tenaga dalam hingga level peubahan jenis, misalnya mampu menghasilkan petir dari tenaga dalam berunsur api. Sehingga, saat menjalani kehidupan pendekar
Dunia Danyang ini, yang diperlukan hanyalah beberapa penyesuaian saja terkait sumber energi yang diolah tubuh dan kesiapan tubuhnya terhadap jumlah energi yang jauh lebih besar itu. Selebihnya, bagi Gentayu adalah sama saja.
Maka, bahkan bab keempat yang berisi teknik tingkat tinggi berkaitan dengan pemulihan dan pengobatan akibat cedera pertempuran menggunakan unsur api itupun segera dilahapnya tanpa kesulitan.
Semua isi Bab ke empat berhasil dilahap dan diselesaikan dalam waktu tiga hari saja.
__ADS_1
Tampaknya, pemahamannya terhadap Kitab Bulan Perak serta warisan petir di tubuhnya mempercepat pemahamannya di tahap ini.
Bab Ke empat segera menghilang berganti dengan bab ke lima.
Sayangnya, bab Kelima ini masih belum bisa difahaminya, karena membutuhkan prasyarat pembentukan kristal dalam tubuhnya.
Bab kelima, memang berisi petunjuk mengenai bagaimana pembentukan kristal dalam tubuh dewa api dan tubuh lain selain tubuh dewa api, sekaligus penggunaan segala potensi tubuh dewa api di level pembentukan kristal ini.
“Ahh.. tampaknya aku harus kembali berlatih dan mengumpulkan energi dath unsur api sebanyak mungkin hingga cukup untuk menembus tingkat keempat level Pendekar Bumi!” Gentayu berbicara pada kepalan tangannya sendiri sebelum bangkit.
Gentayu, memang baru berada di tingkat ke tiga level Pendekar Bumi. Termasuk sebagai tingkat awal, karena tingkat menengah dimulai dari tingkat ke empat, sedangkan penanda tingkat akhir pendekar bumi adalah tingkat 7 dengan puncaknya di tingkat 9.
Gola Ijo pernah memberikan satu petunjuk penting kepada Gentayu, bahwa penyerapan energi langsung dari matahari hanya efektif untuk mengisi ulang energi yang kosong pasca pertempuran. Namun, untuk memperbanyak dari ketiadaan sebelumnya, diperlukan sumber-sumber lain.
Daging siluman sejauh ini diketahui memiliki kemampuan meningkatkan serapan energi Dath dalam tubuh seorang pendekar, tapi untuk diekstrak menjadi unsur tertentu masih memerlukan proses yang tidak sebentar.
Energi unsur Api, biasanya banyak dimiliki oleh hewan-hewan siluman yang bertempramen ganas sebagai pemburu puncak. Beberapa memang memiliki elemen api dalam tubuhnya semisal kadal api raksasa milik Gentayu.
Yang terbaik adalah bila berhasil menemukan ‘Adi shakti’, yaitu energi dewa yang mengkristal dalam wujud apapun. Terkadang dalam wujudnya sebagai kristal energi, terkadang menyaru dalam rupa buah dan tumbuhan aneh, atau benda apapun termasuk mustika siluman sekalipun.
Di Dunia Danyang, energi dewa dalam wujud Kristal-kristal energi ini memiliki nilai ekonomi dan berfungsi sebagai nilai tukar selayaknya uang di kalangan para pendekar.
‘Aku tak punya satupun kristal energi. Lebih baik, aku berburu saja hewan-hewan kecil untuk meningkatkan energiku. Tak masalah walaupun akan sangat lambat. Setidaknya, aku bisa melatih kemampuanku dengan bertarung melawan siluman’ Gentayu kemudian meninggalkan goa batu untuk menuju hutan sebelumnya, di mana dia bertemu Sempati untuk pertama kali.
Sempati sendiri pertumbuhannya sangat mengejutkan. Dalam tiga hari terakhir, bobotnya telah naik lima kali lipat seiring pesatnya pertumbuhan fisiknya. Bulu-bulu halus kini telah tumbuh merata di seluruh tubuhnya. Paruhnya, juga terlihat lebih tajam daripada saat terakhir Gentayu melihatnya.
Semuanya, berkat daging-daging siluman yang dikonsumsi Sempati terus menerus selama tiga hari ini. Hewan Suci itu ternyata memiliki nafsu makan dan tingkat kerakusan yang sulit dicari bandingannya di dunia. Persediaan makanan yang seharusnya cukup untuk sebulan, telah habis separuhnya hanya dalam waktu tiga hari saja.
Gentayu hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat hewan kontraknya tersebut. Setidaknya, untuk mengganti jumlah tumpukan daging yang dihabiskan sempati itu, Gentayu harus berburu siang-malam selama seminggu penuh!
Nb. Maafkan.
Saya baru pulih dari demam hampir empat hari.
__ADS_1
Update segini dulu, besok baru bisa normal lagi.
Segini juga sih,... hahahahaha...