JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pendekar Bulan Perak


__ADS_3

Waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari dan menguasai jurus-jurus Bulan Perak ternyata meleset dari perkiraan. Awalnya, Gentayu maupun Pendekar Bulan Perak memperkirakan hanya butuh waktu paling lama dua minggu untuk menguasai keseluruhan jurus. Namun ternyata proses menguasai sampai sempurna membutuhkan waktu hingga sebulan lamanya. Melesetnya perkiraan waktu tersebut disebabkan selain mempelajari dan menguasai Jurus Bulan Perak, Gentayu juga berusaha menyempurnakan penguasaan Jurus Matahari Emas miliknya.


Sebenarnya, dilihat dari bakat dan pencapaiannya dalam olah kanuragan, Gentayu tergolong sebagai jenius beladiri yang sangat langka. Betapa tidak, di usianya yang belum genap 20 tahun pemuda tersebut telah mencapai level Pendekar Sakti Mumpuni. Hanya satu tingkat di bawah gurunya, Ki Brajawana yang terkenal sebagai Pendekar Matahari Emas. Tentu saja dengan ditopang pengalaman bertarungnya yang terasah sejak belia, kemampuan dan teknik bertarungnya tidak kalah mengerikan dengan Pendekar Sakti Bergelar sekalipun.


Gentayu mengawali kehidupannya di dunia persilatan sebagai murid di sebuah perguruan kecil bernama Perguruan Pedang Tunggal pada usia 8 tahun. Perguruan tersebut tergolong perguruan kecil walaupun muridnya cukup banyak. Tak lain penyebabnya adalah karena pemimpinnya hanya seorang Pendekar Ahli dengan dibantu beberapa Pendekar Madya senior sebagai tetua.


Gentayu sendiri awalnya bergabung dengan perguruan Pedang Tunggal setelah berhasil selamat saat desanya diserbu kelompok perampok yang ternyata belakangan diketahui menjadi sayap pengumpul dana bagi sebuah organisasi aliran hitam terkenal, Kelabang Hitam. Pada usia 15 tahun dia telah berhasil mencapai level pendekar Madya dan menjadi salah satu yang terkuat bahkan bila dibandingkan dengan para tetua yang pernah menjadi gurunya sekalipun.


Merasa tak mungkin lagi berkembang di perguruan tersebut, atas saran dan nasehat dari ketua perguruan, Gentayu mulai mengembara meninggalkan perguruan guna mengasah kemampuannya bertarung. Namun kemudian dia justru berakhir dengan menjadi prajurit di kerajaan Muaro Lamahtang dengan pangkat Kapten. Sebagai kapten termuda yang dimiliki kerajaan, Kariernya sangat baik dengan prestasi di atas rata-rata. Menjabat sebagai kapten pada divisi teliksandi (intelijen) membuat kemampuan mengumpulkan informasi, menyamar, dan melakukan operasi senyap sangat terlatih. Belum pernah mengalami kegagalan dalam bertugas sehingga panglima perang kerajaan begitu menyayanginya. Namun jiwa mudanya menolak untuk terkurung dalam aturan militer kerajaan. Diapun melepaskan jabatannya dan kembali mengembara setelah dua tahun menjadi bagian prajurit kerajaan.


Pada perjalanan pengembaraannya tersebut, gentayu berjumpa dengan Ki Brajawana yang sedang bertarung dalam kondisi terluka akibat racun. Para penyerangnya sebenarnya hanya berada di level pendekar Ahli saja, namun kondisi luka parah akibat racun mematikan membuat pendekar Matahari Emas tersebut hampir kehilangan nyawa. Di saat itulah Gentayu memutuskan ikut campur walaupun menyadari lawan-lawannya berada pada level setingkat lebih tinggi darinya.


Pada pertarungan tersebut, Gentayu membuktikan bahwa level kesaktian dan kekuatan bukanlah segalanya. Dalam pertarungan, terkadang pengalaman dan teknik yang mumpuni lebih berperan. Sebagai pendekar dan mantan prajurit istana yang terbiasa bertarung antara hidup dan mati, Gentayu tidak terlalu kesulitan mengimbangi lawan-lawannya. Berkat kerjasama dengan Ki Brajawana yang terus mengamuk dengan sisa kekuatannya yang terus melemah, sembilan penyerangnya berhasil dikalahkan setelah lima diantaranya tewas dan sisanya memilih melarikan diri.


Gentayu membawa Ki Brajawana menuju tabib istana untuk mendapat pengobatan. Namun karena jenis racun yang belum dikenal oleh para tabib membuat pengobatan itu hanya bersifat menghambat racun merusak organ dalam lebih lanjut. Menyadari ajalnya makin mendekat, Ki Brajawana berniat menurunkan seluruh ilmunya kepada Gentayu karena untuk kembali ke Perguruan Matahari Emas bukanlah jarak yang dekat. Selain itu, Ki Brajawana terlanjur tertarik dengan karakter pemuda yang tanpa ragu mengulurkan pertolongan kepada yang membutuhkan itu. Selain juga karena melihat bakat yang luar biasa pada diri pemuda tersebut juga tidak bisa ditemukan di padepokannya.


Akhirnya Gentayu menjadi murid kelana (murid di luar perguruan) Ki Brajawana. Setiap hari Gentayu berlatih dengan giat di bawah bimbingan gurunya tersebut secara langsung. Ki Brajawana bahkan mewariskan pusaka Pedang yang sebenarnya merupakan keris panjang kepada Gentayu bernama Pedang Satam beserta Kitab Matahari . Pedang satam sendiri adalah pedang sakti yang ditempa dari batuan langit (batu meteor) yang karena ditempa dengan teknik yang tinggi, maka kekuatannya bahkan sepuluh kali lipat dari baja terbaik. Pedang itu adalah pedang turun temurun pemimpin padepokan Matahari Emas.


Genap tiga bulan setelah menjadi guru dan murid, utusan dari padepokan Matahari Emas yang terdiri dari beberapa tetua datang ke kediaman tabib istana untuk menjemput gurunya. Dalam perjalanan pulang itulah, sang guru akhirnya meninggal.


Gentayu sendiri saat itu tidak berada di tempat karena sedang mencarikan bahan-bahan obat yang diminta tabib istana. Dia terkejut dan merasa menyesal karena tidak berada di tempat saat gurunya dijemput. Namun dia berfikir bahwa di padepokan, tentu banyak murid berbakat yang bisa memberikan perawatan kepada gurunya itu. Hingga tiga bulan kemudian, dia baru mendengar dari para pendekar pengelana bahwa gurunya tersebut telah meninggal dalam perjalanan dari rumah tabib istana menuju padepokan.

__ADS_1


Rasa kesal dan sedih membuat Gentayu bertekad untuk mengunjungi makam gurunya di padepokan. Namun kedatangannya justru disambut dengan pemandangan kehancuran padepokan milik gurunya..


Kini dia menemukan kembali guru sakti lainnya.


Tentu dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyempurnakan ilmu dan teknik bertarungnya. Selain itu, diapun mempelajari kebijaksanaan-kebijaksanaan ala gurunya ini. Tak terasa, sebulan telah berlalu. Gentayu kini telah berada pada level setingkat lebih tinggi dari saat sebelum dia bertemu Pendekar wanita ini. Waktu sebulan tetaplah waktu yang luar biasa cepat untuk menguasai ilmu tingkat tinggi.


Memang benar, bahwa fase terberat seorang pendekar terletak pada fase awal, yaitu pendekar Pemula. Fase ini adalah fase penempaan fisik meliputi tulang, otot dan mental. Kecepatan pencapaian pada tahap selanjutnya tergantung pada tahap ini. Selanjutnya fase penentu yang juga berat ada pada saat seorang pendekar berada di level pendekar ahli untuk naik menjadi level pendekar sakti. Selebihnya, seorang pendekar cenderung lebih mudah untuk menguasai keilmuan setingkat lebih tinggi apalagi level di bawahnya untuk jenis ilmu berbeda dari dasar yang diasah sejak awal.


Gentayu bagaimanapun adalah pendekar sakti di tingkat mumpuni. Tidak sulit untuk mempelajari ilmu lain dari tingkat dasar hingga selevel dengan tingkatannya. Dan hanya butuh sedikit bimbingan gurunya untuk naik ke level lebih tinggi dalam penyempurnaan keilmuannya. Waktu sebulan bahkan masih terlalu cepat untuk menguasai ilmu tingkat tinggi.


Saat menjelang berpisahpun tiba. Gentayu harus berpamitan dengan gurunya untuk melanjutkan tugas-tugasnya sebagai penerus dua aliran dari keilmuan dengan elemen dasar api ini. Saat itulah, Pendekar Bulan perak menyampaikan beberapa wejangan dan hal-hal penting serta rahasia-rahasia lain yang perlu diketahui Gentayu.


“Gentayu. Aku tahu bila saat ini kita bertarung, engkau pasti akan mengalahkanku tanpa kesulitan lagi. Namun fahami dan ingatlah satu hal ini: seorang guru, selamanya adalah guru. Ucapannya bertuah sebagaimana tuahnya perkataan ibu dan bapak. Jangan pernah engkau berkeinginan mendurhakai gurumu, atau ilmu yang engkau pelajari darinya menjadi sia-sia. Gurumu, tidak harus orang yang lebih hebat darimu, tapi mereka haruslah orang yang dapat memberimu inspirasi dan petunjuk. Aku wariskan kepadamu gelang bulan ini. Gelang kecil ini adalah senjata berbahaya. Maka berhati-hatilah..” sang guru melepaskan gelang berwarna hitamnya kepada Gentayu yang diterima Gentayu sambil berlutut.


“Satu lagi. Bukankah engkau lihat seluruh tanaman ini seperti dipanen? Semua tanaman di kebun ini adalah tanaman obat. Aku pernah belajar ilmu tentang obat dan racun dari salah satu pendekar medis murid penerus dari sekte Panda Bambu di tanah kekaisaran Huang bernama Liu Tong. Seluruh ilmunya tertuang dalam sebuah Kitab. Kitab itu berikut hasil panen tanamanku hari ini, semuanya kuserahkan padamu untuk kau pelajari. Seluruhnya, termasuk kubus wasiat itu ada di dalam sini...” Pendekar wanita itu menyerahkan gelang lainnya berwarna putih gading yang diterima Gentayu dengan wajah kebingungan.


“Ini dikenal sebagai 'Gelang Grobok'. Disebut grobok karena fungsinya mirip grobok (lemari penyimpan). Ada banyak jenis dan macam benda sejenis ini, tapi ini bukanlah yang terburuk..” kembali pendekar perempuan itu tersenyum.


Sebuah senyum yang diartikan berbeda oleh sang guru yang memiliki maksud dan sang murid yang mendapati senyum itu. Sang Guru sebenarnya berat melepas gelang itu karena nilai sejarah gelang itu sendiri. Sedangkan sang murid berfikir bahwa gurunya ini tidak enak hati karena memberi muridnya ‘barang murah’. Andai gurunya tau apa yang difikirkan gentayu tentangnya saat ini, pasti benjol di kepala muridnya akan bertambah. Namun tanpa disadari justru karena fikiran inilah Gentayu merasa harus menaruh hormat lebih tinggi pada gurunya ini.


“Kau cukup hanya dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam pada gelang tersebut untuk mengaktifkannya. Maka engkau akan menemukan medan energi ruang dan waktu dari gelang tersebut. Saat medan energi itu terbuka, kau dapat menyimpan dan mengambil benda apapun di dalamnya. Gelang itu menghentikan waktu. Sehingga makanan tidak akan basi meskipun disimpan bertahun-tahun. Tapi makhluk hidup tidak bisa kau simpan di dalamnya..” gurunya menjelaskan.

__ADS_1


“Satu lagi... sebelum kau pergi, bawalah batu yang membuat perahumu tersangkut di pinggir danau. Masukkan dalam gelang itu saja. Kalau ada waktu, coba lakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada gelang. Mengerti?” Perempuan itu mengakhiri petuahnya dengan sebuah perintah.


“Murid mengerti, guru..” Jawab gentayu.


“sekarang, berangkatlah..” gurunya memberi perintah terakhir. Disambut oleh Gentayu dengan bersujud, lalu mencium tangan gurunya sambil berterimakasih sebelum berbalik untuk melanjutkan perjalanan.


Pemuda itu tidak sama sekali menoleh kembali. Dia berjalan lurus tanpa ragu menuju ke danau tempat perahunya disembunyikan. Sebulan sudah berlalu. Hampir tiap dua hari sekali selama ini dia mondar-mandir dari perahu mengangkut perbekalan makanan untuk di makan bersama gurunya. Beberapa bahkan ditinggalkannya untuk gurunya karena dia berfikir lebih baik gurunya tidak perlu repot mengolah hasil kebunnya dulu untuk makan. Setidaknya bisa disimpan gurunya untuk kebutuhannya.


Gentayu telah sampai kembali di perahunya. Kali ini, mungkin dia tak akan kembali ke tempat ini seperti kemarin. Ada perasaan berat meninggalkan gurunya, namun ditepisnya.dia menyadari ada tugas besar dipundaknya. Dipandangnya sekilas gubuk gurunya yang hanya terlihat seperti titik kecil dibalik rerimbunan tanaman kebunnya sebelum melangkah memasuki air. Dia tahu tujuannya adalah menyusuri tepian danau, menemukan sungai yangmengalir menuju danau atau sebaliknya keluar dari danau untuk melanjtkan tugasnya. Sebelum mendorong perahunya ke tengah perairan, diambilnya batu hitam seukuran kepala orang dewasa berbentuk lonjong yang sebulan lalu ditabraknya di tepi danau.


Begitu batu dinaikkan ke perahu dan disimpan dalam gelang groboknya, keanehan terjadi.


Pemandangan di tepi danau, berikut jalan dan tumbuhan bahkan bentuk tanah di tepi danau yang dilihat dan dilewatinya berubah. Benar-benar berubah. Dan kini, dia telah berada di tepian sungai. Sungai yang sama yang dilaluinya sebulan yang lalu. Bahkan, haripun masih fajar, bukan pagi menjelang siang seperti tadi saat ia berpamitan dengan gurunya.


“Apakah ini aku bermimpi?” gumamnya tidak percaya sambil meraba pergelangan tangannya memeriksa dua buah gelang yang masih ada di lengannya.


Hanya satu penjelasan atas apa yang dialaminya. Gentayu telah memasuki dunia yang berbeda..


“Tuan, tuan...” tiba-tiba terdengar suara roh harimau memanggilnya.


“ternyata tuan sudah bangun.. maafkan saya tertidur tuan. Entah bagaimana saya bisa tertidur. Seharusnya kami roh ini tidak butuh tidur kecuali bermeditasi.. maafkan tuan.. Eh, kenapa kita berhenti tuan?”

__ADS_1


Gentayu celingukan. Bingung harus bicara apa. Dia segera naik ke perahu untuk menenangkan diri sejenak sebelum meneruskan perjalanan.


__ADS_2