JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Bukit Laba-laba II


__ADS_3

Kelima orang yang semula mengepung bangkai siluman laba-laba raksasa segera berlompatan kembali menuju rekan-rekannya. Demikian juga lelaki kekar bersenjata kapak yang barusan menghabisi siluman laba-laba itu juga tak mau ketinggalan. Wajah mereka menjadi panik.


“Cepat! Pergi dari sini! Selamatkan pangeran, aku akan menahan mereka semampuku!” teriak lelaki kekar itu kepada keduapuluh lima orang pengawal di belakangnya. Sementara dirinya telah bersiap menyambut sergapan para laba-laba yang terus merangsek penuh amarah.


“Tidak, paman! Aku akan tetap di sini, bertarung bersama paman!” lelaki muda yang dipanggil sebagai pangeran itu bersikeras menolak arahan pimpinan pengawalnya.


“Pangeran! Pergi sekarang atau tidak akan ada lagi kesempatan! Cepat! Kita tak mungkin menang!” Saat mengatakan ini, sang pimpinan pengawal telah melayang menyambut serbuan para laba-laba hitam.


Kapaknya dilemparkan ke depan. Senjata itu berputar-putar laksana baling-baling dan membabat kaki-kaki laba-laba yang jumlahnya mencapai ratusan itu.


‘Crak!’


‘Crak!’


‘Crak!’


‘Crak!’


‘Crak!’


‘Crak!’


Puluhan tulang kaki-kaki belalang beterbangan terkena tebasan dari kapak milik lelaki kekar itu. Kapak yang semula menyerang para laba-laba telah terbang kembali lagi ke tangan pemiliknya. Seolah memiliki fikirannya sendiri.


“Cepat, Pangeran!! Pergi!” teriak sang pimpinan pengawal meminta pangeran di belakangnya agar segera pergi meninggalkan tempat itu.


Seorang pengawal terdekat dengan sang pangeran akhirnya memberanikan diri untuk berpendapat mendukung sang pimpinan.


“Pangeran, yang dikatakan gusti Senopati benar adanya. Keberadaan kita di sini hanya akan jadi beban bagi beliau. Beliau mungkin mampu melindungi dirinya sendiri. Tapi, untuk sekaligus melindungi pangeran juga…” kalimat pengawal itu tidak selesai. Sang pangeran segera melangkah setengah berlari dan memerintahkan para pengawalnya agar mundur bersamanya, meninggalkan tempat tersebut.


Para pengawal segera menyusul sang pangeran.


Dari atas pohon, Gentayu mengamati setiap kejadian di bawahnya dengan waspada.

__ADS_1


Bukan apa-apa, tapi sang senopati sepertinya telah menyadari kehadirannya. Terlihat bahwa pimpinan pengawal itu menoleh ke arahnya sepintas sebelum melayangkan kembali kapaknya ke arah kerumunan laba-laba hitam.


Dalam pengamatan Gentayu, sang Senopati memiliki aura seorang pendekar langit. Kekuatannya terasa jauh lebih besar bila dibandingkan dengan dua banaspati yang terbunuh di tangannya dua minggu sebelumnya.


Sang senopati bertarung dengan sengit menggunakan kapaknya yang terus terbang mengelilinginya. Kapak terbang itu efektif mencegah para laba-laba mendekat ke arahnya, sekaligus juga membunuh beberapa ekor yang terlanjur berada terlalu dekat dan membahayakan nyawanya.


Sementara itu, ketika kapaknya meninggalkannya dan bergerak menghabisi laba-laba di sekelilingnya, telapak tangan lelaki kekar itu bergerak cepat. Kedua telapak tangannya telah dilapisi energi dengan elemen logam, mengubahnya menjadi setajam pedang.


‘Dia menguasai elemen logam? Ini tidak akan menguntungkan baginya..’ Gentayu mencerna dan menganalisis situasi yang dihadapi sang senopati.


Satu, dua, lima, sepuluh ekor, dua puluh ekor laba-laba mulai beterbangan menjadi bangkai ketika kombinasi kapak terbang dan telapak tangan sang senopati menghabisi mereka satu persatu.


Cipratan darah berwarna hijau kehitaman muncrat ke mana-mana. Mengubah rerumputan, tanah dan bebatuan di sekitarnya tertutup oleh cairan hitam kehijauan yang kental.


Setengah jam segera berlalu.


Tumpukan bangkai para laba-laba hitam raksasa telah membentuk sebuah bukit kecil mengelilingi tubuh sang senopati. Dilihat dari atas, akan tampak seolah-olah sang senopati berada di dalam sebuah lubang.


Pakaian, tubuh, bahkan wajah sang senopati telag berubah menjadi berwarna hijau kehitaman akibat terkena cipratan darah para laba-laba.


Kapak sang senopati sudah mulai tidak lagi akurat menyerang lawannya. Senjata itupun kini terbang semakin rendah dengan rotasi putaran semakin melemah. Demikian juga dengan pedang yang diciptakan dari energi di tangannya, perlahan-lahan mulai menyusut.


“Tuan! Aku akan sangat berterimakasih kalau tuan sudi membantu situasi ini!” tiba-tiba sang senopati berteriak lantang.


Gentayu segera mengedarkan pandangannya guna memeriksa sekitar tempat itu, namun sepertinya hanya dirinya yang ada di sana saat ini.


‘Ah, rupanya benar! Dia sudah mengetahui keberadaanku..’ Gentayu merasa sia-sia bersembunyi. Dihadapan pendekar yang lebih kuat, memang terkadang sebuah trik akan tidak berguna sama sekali, fikirnya.


Tak menunggu lama, Gentayu segera melayang turun.


Sebelum mencapai tanah, tubuh Gentayu berubah menjadi api membara yang sangat panas. Dalam wujud manusia api, dirinya segera melesat cepat ke arah kerumunan laba-laba di dekat sang senopati.


‘Krrrkkkkk!!’

__ADS_1


‘Krrrkkkk!’


Para siluman laba-laba itu segera buyar ketakutan ketika dalam sekejap, lebih dari dua puluh rekan mereka telah mati terbakar.


Bukan hanya itu, hawa panas yang terpancar dari tubuh Gentayu ternyata mampu mengacaukan sensor berbentuk bulu-bulu halus di bagian kepala mereka. Akibatnya, mereka meringkik ketakutan dan memilih mundur.


Tapi, Gentayu tidak membiarkan mereka. Masih dalam wujud manusia api, dirinya terbang menyambar setiap tubuh belalang raksasa yang berhasil dijangkau.


Efektif! Setiap gerakan geentayu berhasil membunuh sedikitnya dua ekor laba-laba sekaligus, membuat jumlah mereka menyusut dengan cepat. Kali ini, bangkai hewan arthropoda itu tidk lagi terkonsentrasi di satu titik seperti sebelumnya. Tetapi menyebar luas karena Gentayu melakukan pengejaran terhadap mereka.


Gentayu baru menghentikan pesta pora tersebut setelah jumlah laba-laba hanya kurang dari dua puluh ekor saja. Itupun mereka telah meninggalkan medan pertempuran dan kembali ke balik bukit di sisi utara.


Kebakaran-kebakaran kecil memenuhi hutan tersebut sekali lagi. Terdapat lebih dari seratus titik api di dalamnya. Bedanya, kali ini kebakaran itu diawali dari tubuh laba-laba hitam sebagai bahan bakar.


Gentayu tidak bekerja sendiri.


Para kadal raksasa dan Sempati bekerja sama mengurangi jumlah para laba-laba sekaligus mencegah meluasnya kebakaran hutan itu lebih lanjut.


Senopati yang telah terselamatkan tampak melongo ketika menyadari dirinya ditolong oleh seorang pendekar bumi. Yang lebih menyesakkan hatinya, pendekar itu terlihat masih sangat muda ketika telah kembali dalam wujud aslinya!


Ada rasa malu terbersit di hatinya, namun di sisi lain akal sehatnya membenarkan bahwa menghadapi kerumunan makhluk seperti laba-laba ini memang api lebih baik daripada senjata logam. Akhirnya, dia menepis perasaan itu dan berbesar hati bahwa dirinya memang tertolong berkat Gentayu.


“Maafkan saya, tuan.. ijinkan saya membersihkan tumpukan bangkai yang belum terbakar ini..” Gentayu tiba-tiba muncul kembali di sisi senopati yang tengah memperhatikan bangkai-bangkai gosong bergelimpangan memenuhi hutan.


Tentu saja, bau gosong itu lebih baik daripada bau darah kental mereka.


Tanpa menunggu persetujuan sang senopati, tumpukan bangkai laba-laba hitam yang mengurung tubuh senopati hingga menyerupai bukit kecil segera menghilang berpindah ke dalam gelang gerobok.


Bahkan, sisa-sisa laba-laba yang gosong juga tetap dimasukkan ke dalam gelang gerobok dengan sangat cepat. Semuanya dilakukan Gentayu sembari melayang santai menghampiri setiap gundukan bekas terbakar. Tentu saja, yang diselamatkan Gentayu adalah kristal-kristal silumannya, bukan arang.


Sang senopati yang menyaksikan aksi Gentayu nyaris mimisan dibuatnya. Bagaimana mungkin pemuda itu mengambil semua kristal siluman laba-laba itu dan tak menyisakan satupun untuknya? Ingin dia mengatakan ‘Hei anak muda, sisakan sedikit untukku!’, tapi kalimat itu hanya tersangkut di tenggorokannya.


“Ah, terimakasih tuan senopati. Setidaknya dengan daging siluman laba-laba itu, semua peliharaanku bisa makan kenyang hingga sebulan mendatang..” kata Gentayu enteng tanpa beban, membuat senopati di hadapannya ingin mengumpat namun ditahannya.

__ADS_1


Nb. Kalau ada sisa poin, gak nolak kok diberi vote.


__ADS_2