
‘Benar-benar merepotkan!’ Keluh Gentayu di dalam hatinya. Pusaran angin puyuh itu terus ‘menelan’ kembali serpihan, bebatuan, dan apapun yang telah dipukul balik Gentayu. Bahkan termasuk debu dan air sekalipun.
Menjadi semakin besar, ternyata gerakan berputar pusaran angin itu tidak menjadi lambat, justru semakin cepat. Menelan apapun pada areal lebih luas.
Saat itu, hari sudah beranjak fajar. Semburat cahaya merah telah nampak terbit di ufuk timur, pada bagian hilir sungai. Namun, hingga detik tersebut pertarungan keduanya belum menujukkan tanda akan berakhir.
Karang Setan hanya terkekeh memainkan telunjuknya. Memperhatikan Gentayu dengan senyum mengejeknya yang khas. Masih dengan tatapan menyombngkan diri yang menyebalkan.
Pusaran angin puyuh tidak semakin mengecil namun malah terus membesar. Memaksa gentayu mengambil jarak lebih jauh seraya terus menghindar dan terus menangkis serpihan yang menyerangnya tiada henti setiap detik. Namun begitulah, setiap serpihan yang menyerang itu berhasil dipukul balik, angin puyuh akan Kembali menelan material itu masuk Kembali ke dalam pusarannya.
Saat matahari mulai menampakkan dirinya, energi hitam Gentayu mulai terkuras karena kali ini dia tidak lagi bisa menghisap energi karang Setan. Jarak mereka terlalu jauh.
Namun justru saat itulah dia melihat segalanya dengan jelas berkat sinar matahari pagi yang mulai bersinar.
‘Iblis tua ini mempermainkanku! Kurang ajar!’ gerutunya dalam hati.
Lalu secepat kilat Gentayu melompat mundur menjauh dari jangkauan pusaran angin puyuh untuk memastikan dugaannya.
Karang Setan ternyata tidak berupaya mengejarnya kali ini.
Ah, rupanya benar!
Pusaran angin berikut boneka sampah di dalamnya ternyata hanya ilusi ciptaan Karang Setan untuk mengulur waktu dan menguras energi Gentayu. Namun sekalipun hanya ilusi, beberapa kali serangan energinya lewat serpihan dalam pusaran itu sesuatu yang nyata. Benar-benar kelicikan yang dibalas kelicikan!
Tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, lebih dari dua puluh pasang mata ternyata menyaksikan jalannya pertarungan mereka sejak semalam. Mereka tak berhenti berdecak kagum melihat stamina Gentayu dan daya tahannya melawan Karang Setan.
Kini, senyum licik terkembang di bibir Gentayu.
__ADS_1
Dia Kembali ke medan pertarungan, menyongsong pusaran angin puyuh yang telah memporak-porandakan tempat tersebut. Bukan hanya mendekat, Gentayu bahkan masuk ke dalam pusaran tersebut.
Karang Setan menjadi sedikit kaget, namun dia tersenyum menyeringai. Mengira bahwa akan mudah baginya mengalahkan Gentayu Ketika pemuda itu telah berada di dalam jangkauan serangannya di dalam pusaran angin puyuhnya.
Namun, senyum Karang Setan segera menghilang saat tiba-tiba tangannya merasa seperti tersengat aliran listrik yang dahsyat. Sensasi yang selama ini belum pernah dirasakannya. Gentayu telah berdiri di luar pusaran itu kembali, dengan senjata mirip kerambit yang mengeluarkan petir dahsyat menjalar ke dalam pusaran angin tersebut.
Ternyata, Gentayu memasuki pusaran angin itu untuk memperbesar daya rusak dari pusaka Karambuik halilintar miliknya. Pemuda itu benar-benar mengarahkan kerambit halilintar itu agar menyambar pusaran angin. Dengan demikian, daya rusaknya menjadi lebih besar karena mendompleng energi dari angin puyuh tersebut.
Karang Setan terpental saat dengan cepat serangan petir menjalar ke jari telunjuknya. Separuh tubuhnya hangus. Namun, bukan karang Setan kalau dia bisa tewas dengan begitu mudah.
Karang Setan kini terguling-guling dan nyaris tercebur ke dalam air sungai seandainya tangannya tidak berhasil meraih akar ilalang yang tumbuh di dekatnya.
Lelaki tua itu tetap masih bisa bangkit dan berdiri sekalipun sudah tidak seangkuh sebelumnya. Jelas luka dalamnya bertambah parah kali ini. Niatnya memulihkan diri kembali buyar setelah triknya diketahui oleh Gentayu.
Berkat sinar Matahari, Gentayu mengetahui bahwa hanya ada bayangan Karang Setan dan angin puyuh kecil saja yang tampak di atas bebatuan tersorot matahari. Tidak ada Boneka Sampah dan lainnya.
“Seharusnya, aku menyadari sejak awal. Karena kau sedang terluka parah, seharusnya tidak ada angin puyuh sedahsyat itu.. hahahahaha…” Gentayu tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
Bagi pendekar lainnya, serangan petir Gentayu pasti sudah membuat mereka tewas. Tapi entah kenapa, Karang Setan belum juga tewas setelah serangan petirnya.
“Kau.. tidak.. hakan.. bisa membunuhku.. dengan.. serangan seperti.. hituh… hehehe…” masih dengan terkekeh. Karang Setan merasakan nyeri di seluruh tubuhnya setelah tersengat petir. Ini adalah pertamakalinya sebuah petir menyambarnya. Andai dalam kondisinya yang prima, serangan petir ini pasti akan mudah ditangkisnya.
“Kau.. kau aa..kan.. kau hakan membayar mahal untuk ini, bocah!!” Seru Karang Setan yang kini dipenuhi amarah.
Tiba-tiba dia membuka bajunya.
Sebuah tato bergambar manusia dengan kepala kambing bertanduk Panjang yang lurus terpampang di punggungnya. Itu adalah Tato bergambar salah satu iblis terkuat, Baphomet!
__ADS_1
“Akuu mengundangmu.. Aku memanggil kehadiranmu, Tuanku..!!” Karang Setan berseru lantang.
Telapak tangannya kini telah menggenggam sesuatu, membentang ke atas menengadah ke langit.
Sebuah permata hitam berbentuk heksagram atau bintang bersegi enam tampak mulai bercahaya di tangan Karang Setan. Cahaya berwarna ungu kebiruan menyala semakin terang lalu mulai mengeluarkan asap berwarna hitam.
Gentayu segera melesat cepat untuk merebut permata hitam di tangan Karang Setan. Dia mengenali, itulah segel iblis! Satu di antara tiga segel yang ada di seluruh Dipantara ini.
Namun terlambat! Sebuah tawa keras telah terdengar. Bergema membahana di seluruh wilayah tersebut.
“Hahahahahahaha….!! Aku Bebas…!!”
Gentayu terbelalak. Niatnya untuk merampas permata hitam itu gagal. Terlambat hanya beberapa langkah saja. Dia berdiri pada jarak tak lebih dari dua meter saja dari karang Setan. Pendekar tua itu ternyata telah berhasil melepaskan segel salah satu makhluk iblis!
‘Ini tidak bisa dibiarkan!’ batin Gentayu.
Dengan seluruh kekuatannya yang terkumpul sepenuhnya pada kedua telapak tangannya, Gentayu menghantam lelaki tua yang masih terkekeh melihat ke arah asap hitam yang terus keluar dari permata hitam di tangannya.
‘DHAR!!’
Terdengar suara ledakan keras sekali. Bahkan, bumi terasa bergetar saat itu.
Bersamaan suara ledakan mengerikan itu, tubuh Karang Setan telah terlempar jauh hingga menabrak dinding batu di sisi seberang sungai di seberang sana. Tubuhnya hancur enjadi beberapa bagian. Bukan karena menabrak batuan tersebut, namun saking kerasnya serangan yang diterima. Bisa dipastikan, nyawa Karang Setan tidak mungkin lagi tertolong.
Secepat kilat, setelah menghabisi Karang Setan, tangan Gentayu meraih permata hitam yang masih mengeluarkan asap hitam tersebut. Berniat menghancurkannya. Setidaknya membuangnya ke dalam dimensi Gelang gerobok atau ke dunia tepi danau, lalu menghancurkan gerbangnya.
Namun, hal di luar dugaan terjadi.
__ADS_1
‘Aaaaaakhk….!!’ Kali ini terdengar teriakan kesakitan dari diri gentayu. Tubuhnya ambruk ke bebatuan sungai.
Menyaksikan hal tersebut, dua puluhan pendekar yang memperhatikan dari jauh serentak keuar bermaksud memberikan pertolongan kepada Gentayu. Pemuda itu kini terlihat berkelojotan di atas bebatuan. Memegangi tangannya yang mulai menghitam.