JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sayembara I


__ADS_3

Manik Baya kembali melayang turun menuju panggung dengan tenang.


Tatapan semua hadirin tertuju padanya dan mengikuti setiap gerak-gerik lelaki botak ini.


Mereka sampai tidak menyadari cahaya menyilaukan matahari yang meliputi lelaki tua saat berada di sekitar kepala patung telah menghilang. Kembali ke langit sebelah timur di posisi matahari berada saat ini.


Tatapan heran dan penasaran meliputi semua yang hadir. Terutama para peserta sayembara. Mereka bertanya-tanya, tantangan apalagi yang harus mereka taklukkan. Apakah mereka harus mengecat patung? Memanjat patung? Atau yang lain?


Berbeda dengan para hadirin yang penasaran, raja Jayadilaga justru tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala, seolah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Manik Baya selanjutnya.


Manik Baya sekali lagi menganggukkan kepala pada prabu Jayadilaga, namun lelaki tua botak itu tidak segera kembali ke tempat duduknya setelah sang raja membalas anggukannya.


Lelaki tua yang dikenal sebagai begawan itu justru melangkah menuju sisi lain panggung kehormatan, melewati barisan para tamu perwakilan kerajaan lainnya. Manik baya ternyata menuju deretan kursi keluarga raja berada.


Di sana,pada deretan kursi khusus itu terdapat para selir dan para pangeran. Manik Baya menemui seorang gadis cantik jelita berpenampilan anggun di samping pangeran Jatilaga, dialah putri Cendrawani.


Melihat Manik Baya berjalan ke arahnya, putri Cendrawani buru-buru bangkit berdiri menunjukkan sikap hormatnya. Demikian juga pangeran Jatilaga di sampingnya.


Melihat itu, Manik Baya mengangkat sedikit tangannya, memberi isyarat untuk mereka kembali ke tempat duduknya.


Manik Baya lalu mendekati putri cendrawani dan membisikkan sesuatu di telinga sang putri.


Putri Cendrawani, awalnya terlihat kebingungan. Namun, setelah beberapa saat kemudian gadis tercantik di antara yang hadir itu terlihat mengangguk sedikit ragu. Sebelum akhirnya mengangguk pasti saat Manik Baya mengakhiri bisikannya.


Begitu melihat Putri Cendrawani memahami maksudnya, Manik Baya segera beranjak dan kembali ke tempat duduknya. Lalu menyerahkan secarik catatan kepada patih mangkubumi selaku pemimpin acara hari ini.


Kening patih mangkubumi langsung berkerut saat menerima catatan dalam selembar daun lontar tersebut. Catatan itu hanya berbunyi : ”mulai acara setelah putri Cendrawani setuju”.


Patih Mangkubumi yang sedikit bingung akhirnya menoleh ke arah junjungannya berada, Prabu Jayadilaga. Raja tersebut hanya mengangguk pelan ke arahnya. Entah apakah sang raja telah mengetahui maksudnya ataukah justru menyerahkan segalanya ke pundaknya.


Patih mangkubumi menghela nafas pelan. Lalu menoleh ke deretan kursi di mana putri Cendrawani berada. Seperti sang ayah, gadis cantik itu juga hanya menganggukkan kepala padanya, disertai dengan acungan jempol.

__ADS_1


Melihat tanda jempol sang putri, fahamlah sang patih bahwa sekarang adalah saatnya rangkaian sayembara dimulai.


Tapi, dirinya sedikit bingung karena tidak mengetahui tantangan apa yang akan diberikan pada para peserta untuk diumumkan. Putri Cendrawani yang melihat patih mangkubumi sedikit kebingungan segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri tangan kanan ayahandanya tersebut.


“Putri..” sapa sang patih, sambil sedikit membungkukkan badan.


Sang putri berhenti di sisi patih Mangkubumi, memberikan salam penghormatan pada ayahnya sebelum berbicara dari atas panggung tersebut dan ditujukan pada para peserta.


“Aku menginginkan cincin yang diletakkan Eyang Manik Baya di atas kepala patung leluhur itu, paman. .” katanya seraya menoleh pada sang patih. Suasana menjadi hening setelahnya.


“Siapapun yang berhasil mengambilnya, dia berhak menikahiku.. Tak peduli dia pangeran, atau bukan. Bangsawan atau bukan. Bahkan pedagang pasar juga boleh berpartisipasi selama dia tidak beristri…” Kata-kata putri cendrawani tidak terlalu lantang diucapkan, namun cukup keras untuk bisa didengar seluruh peserta dan sebagian penonton.


Bermacam reaksi muncul setelahnya. Kegaduhan baru segera tercipta karena kelonggaran persyaratan yang diajukan sang putri.


Beberapa bangsawan terlihat keberatan dengan longgarnya persyaratan baru tersebut karena khawatir kemunculan para pendekar yang lebih hebat dari para pangeran mereka, akan membuat para pangeran dikalahkan dengan mudah.


Sebaliknya, sambutan antusias ditunjukkan di antara para hadirin. Beberapa perwakilan kerajaan, para senopati yang belum menikah bahkan para penonton terlihat tertarik untuk ikut serta dalam sayembara.


Semuanya benar-benar di luar perkiraannya.


Tapi dia tidak berkeinginan mencegah putrinya. Bagaimanapun, sejak kecil gadis itu dikenal sebagai sosok yang cerdas sekaligus keras dengan pendiriannya, sehingga Jayadilaga hanya pasrah dan mempercayai pilihan putrinya adalah yang terbaik.


Sekalipun syaratnya terlihat longgar, nyatanya tidak satupun ada peserta tambahan dari kalangan di luar bangsawan yang hadir. Hanya terlihat beberapa senopati muda menunjukkan antusiasnya, disertai nafsu yang mulai menguasai akal sehat mereka.


Suara gong tanda dimulainya sayembara terdengar di antara riuhnya suara hadirin.


Begitu gong ketiga selesai dibunyikan, pertarungan segera pecah di bawah kaki patung setinggi lebih dari seratus meter tersebut.


Mereka adalah para pengeran dan bangsawan yang menjadi peserta sayembara sejak awal, dan Gentayu di dalamnya.


Mereka terlibat pertarungan karena sama-sama beranggapan tantangan kali ini lebih mudah daripada sebelumnya. Para peserta itu tentu saja berebut untuk saling mendahului mendapatkan cincin tersebut. Akibatnya, kerumunan para peserta itu segera berubah menjadi ajang pertempuran sesama peserta.

__ADS_1


Korban pertama segera jatuh di antara peserta sayembara.


Seorang pangeran dengan rambut gimbal melesat, setengah terbang menuju puncak patung. Namun, baru saja dirinya mencapai lutut patung setinggi 20 meteran itu, puluhan serangan energi jarak jauh mengarah kepadanya dari puluhan orang di bawahnya.


‘BREBEBEBEBUMMMM…!!’


Tak mungkin menghindari serangan serentak sebanyak itu, tubuh pangeran itu meledak di udara dan menyemburkan kabut darah dan daging ke arah peserta di bawahnya.


Bersamaan dengan tewasnya pangeran gimbal, di atas panggung, kericuhan lain hampir saja pecah.


Bangsawan pendamping pangeran gimbal itu bangkit berdiri hendak mengamuk, namun tatapan tajam Manik Baya menghentikan aksi mereka. Dengan jentikan kelingkingnya, sang bangsawan dan pengawalnya jatuh dalam posisi berlutut. Tak bisa bergerak.


Tatapan tak percaya bangsawan itu mengarah pada Manik Baya.


Dia adalah senopati yang bertanggungjawab pada keselamatan pangeran gimbal itu. Kemampuannya juga tidak buruk, berada di puncak level pendekar langit. Namun Manik Baya menundukkannya hanya dengan menjentikan jarinya saja.


Peristiwa di panggung itu cukup menyita perhatian. Sekaligus berhasil menciutkan nyali para utusan pendamping peserta yang berniat hendak memanfaatkan kondisi kacau balau itu untuk keuntungan kerajaannya maupun kelompoknya.


Mereka memang awalnya sempat berfikir, untuk meminta kompensasi andaikan sesuatu terjadi pada para pangeran mereka dalam sayembara ini. Namun, kini fikiran mereka berubah. Mereka harus berfikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari gerbang kerajaan ini dengan selamat.


Pertarungan di bawah patung terus berlanjut. Setelah pangeran gimbal tewas, peserta lainnya harus berfikir puluhan kali untuk mencoba terbang di udara dalam kondisi saat ini. Apalagi, di antara para peserta, yang paling tinggi kemampuannya hanya di level pendekar langit, tidak lebih.


Perisai energi mereka tidak akan cukup untuk menghalau serangan serentak puluhan peserta ini.


Pangeran Karangwangge yang awalnya merasa percaya diri untuk terbang tanpa harus terlibat pertarungan juga akhirnya mengurungkan niatnya.


Semuanya kini berfikir untuk mengalahkan seluruh peserta lainnya sebelum terbang dengan aman mengambil cincin di puncak kepala patung.


Dalam waktu kurang dari setengah jam berikutnya, beberapa peserta mulai berjatuhan. Mereka tumbang dengan kondisi luka serius, namun tidak ada yang tewas.


Para pendamping utusan segera buru-buru menyelamatkan pesertanya untuk menjalani perawatan. Terlambat sedikit, barangkali akan ada serangan nyasar lainnya yang mereka terima dan bisa berakibat fatal.

__ADS_1


__ADS_2