
“Tuanku ingin agar kita bergerak lima hari dari sekarang” Utusan itu memberi penjelasan isi surat tersebut.
“Lima hari? Apakah itu tidak terburu-buru?” Mpu Jangger, Nampak kurang sependapat.
“Betul. Kita juga butuh waktu untuk menghimpun ke lima kelompok yang akan bergabung. Kekuatan kami sendiri sebenarnya cukup, hanya saja aku tidak terlalu yakin untuk saat ini. Tuan sendiri lihat, Paman Karang sedang terluka, jadi Padepokan Rambut Iblis sendiri tidak mungkin bisa menggerakkan seluruh kekuatannya. Setidaknya, kita mengantisipasi kemungkinan terburuk” Utusan dari Kala Merah mengajukan pendapat memperkuat pendapat Mpu Jangger. Intinya, mereka menganggap waktu lima hari tidaklah cukup dan terlalu terburu-buru untuk mempersiapkan segalanya.
“Aku mengerti. Tapi, menunda lebih lama lagi membuat kita akan kehilangan kesempatan emas. Sebuah peluang yang sedang menganga lebar. Saat ini pihak kerajaan sedang sibuk menghadang serangan dari suku Kahubu, suku pengendali hewan buas dari utara. Jadi kami fikir, kekuatan Kerajaan tidak akan cukup cepat untuk menghadang kita atau memberikan bantuannya terhadap sasaran kita!” Utusan itu menjelaskan maksud tuannya meminta mereka bergerak dalam lima hari.
“Baiklah kalau begitu keadaannya. Kami menerima tugas ini” Mpu Jangger akhirnya menyetujui tugas yang diberikan untuk kelompok koalisi tersebut.
Tak lama kemudian utusan itupun pamit setelah memberikan penghormatan kepada ketiga sesepuh pimpinan koalisi aliran hitam tersebut.
Selepas utusan itu pergi, ketiga pendekar sesepuh perwakilan koalisi segera berembuk Kembali. Mereka Kembali membentangkan lembaran daun lontar yang mereka terima dari utusan tersebut.
Isinya tak lain adalah sebuah peta dengan beberapa titik berwarna merah, dan beberapa titik berwarna hijau. Peta itu adalah peta titik-titik serangan berikutnya setelah kelompok ini berhasil menghancurkan padepokan Matahari Emas. Warna merah, berarti terdapat pasukan kerajaan di sekitar tempat tersebut. Sedangkan warna hijau diartikan titik serangan relatif aman.
“Berarti, serangan terdekat adalah Bambu Hijau. Tak kusangka akan secepat ini, hehehehe….” Karang Setan Nampak antusias saat mengamati titik-titik pada peta tersebut.
Walaupun dia tidak akan turun tangan dalam serangan terdekat, namun sorot mata penuh kebencian tampak jelas di matanya. Ya, tentu saja. Perguruan Bambu Hijau adalah kekuatan aliran putih sekutu kerajaan dengan jumlah murid lumayan besar. Menghancurkan kelompok ini, berarti mengurangi secara signifikan kekuatan sekutu kerajaan.
Ketiganya berembuk untuk menentukan strategi penyerangan. Disepakati bahwa mereka akan menggunakan kekuatan dari padepokan Rambut Iblis sebagai pendobrak pertahanan lawan sekaligus untuk menguras energi mereka. Kemudian kelompok lainnya akan menyerbu secara bergelombang dari ke empat penjuru.
__ADS_1
Setelah rencana mereka cukup matang, mereka segera berpisah untuk meyiapkan kekuatan masing-masing. Dua orang murid padepokan Rambut Iblis diutus untuk mengabarkan kepada kelompok Kelabang Hitam dan Mawar Upas yang sedang mendirikan kemah tidak jauh dari kaki bukit Seguntang tersebut. Sedangkan wakil dari Kala Hitam segera Kembali ke padepokannya. Anggota segoro geni sendiri sejak awal memang telah berada di padepokan Rambut Iblis ini untuk menunggu perintah selanjutnya. Bagaimanapun, waktu lima hari itu sangat sempit untuk persiapan penyerbuan.
+++ ++++ ++++ ++++ ++++ ++++ +++++ ++
Sementara itu, jauh di kotaraja, pusat pemerintahan Kerajaan lamahtang, pagi itu seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian khas pejabat kerajaan tampak sedang memikirkan sesuatu saat sebuah anak panah melesat ke arahnya.
Lelaki itu tidak menghindar karena menyadari panah tersebut bukan ditujukan untuk membunuhnya melainkan digunakan sebagai pengantar sebuah pesan yang diikatkan di ujungnya. Anak Panah tersebut menancap pada dinding tak jauh dari sisi kanan dari bahu lelaki yang tak lain adalah Panglima Wiratama, sang Panglima perang kerajaan Lamahtang.
Segera saja panglima perang tersebut mencabut anak panah yang menancap di dinding tersebut. Di ambilnya gulungan daun lontar yang terikat pada ujungnya. Dan dibacanya sebuah pesan:
" Ada pengkhianat di antara pembesar kerajaan. Pangeran ketiga dibantu Bhupati Talang Tengah. Mendalangi beberapa penyerbuan terhadap perguruan dan sekte aliran putih sekutu kerajaan oleh aliansi Aliran hitam. Padepokan Matahari Emas telah musnah. Menyusul selanjutnya Bambu Hijau dan perguruan lainnya" Pesan yang sangat singkat namun mudah difahami. Yang tidak cukup jelas justru maksud dari pemberi kabar, apakah bermaksud mengancam dengan surat ini atau justru memberi khabar?
Padepokan Matahari Emas selama ini berkontribusi positif dan cukup besar bagi Kerajaan Lamahtang. Keberadaannya cukup kuat membentengi wilayah Selatan Kerajaan Lamahtang, bahkan pulau Emas Besar dari serangan, baik oleh Kerajaan lain maupun kelompok aliran hitam yang mengacau di wilayah sekitar padepokan tersebut.
'Sepertinya, penyerangan terhadap padepokan-padepokan, termasuk serangan dari Suku Kahubu ini didalangi oleh orang yang sama. Mereka ingin kekuatan kerajaan melemah dan terpecah dengan adanya pemberontakan oleh suku Kahubu ini. Situasi ini, apakah aku harus melapor kepada paduka Raja?' Panglima Wiratama berfikir keras.
Masalah perguruan silat yang diserang dan dimusnahkan seharusnya bukanlah masalah yang terlalu berpengaruh bagi kelangsungan hidup kerajaan. Namun saat ini, situasi dalam negeri sedang penuh dengan gejolak. Mulai dari penyerangan suku Kahubu yang paling besar, konflik perbatasan dengan Kerajaan Lambah Barapi, belum lagi riak-riak kecil perebutan pengaruh antar-pangeran penguasa negeri-negeri bawahan, kini ditambah dengan penyerangan padepokan pendukung Kerajaan yang sangat aktif membantu menghadapi serangan dari manapun saat dibutuhkan.
'Aku harus menghadap paduka Yang Mulia. Jika dugaanku benar, seharusnya penyerangan terhadap Suku Kahubu tidak perlu menggunakan kekuatan penuh kerajaan' akhirnya panglima Wiratama memutuskan untuk menghadap raja.
Panglima Wiratama segera beranjak meninggalkan kediamannya yang cukup besar. Bangunan rumah semacam rumah dinas Panglima itu dibangun tepat di tengah-tengah barak-barak dan kamp tantara kerajaan. Tanah seluas lebih dari sepuluh hektar itu dihuni oleh ratusan ribu prajurit lengkap dengan fasilitas berlatih tempur dan beladiri. Dengan menunggangi kuda kesayangannya, panglima Wiratama menuju ke Istana kerajaan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Panglima yang pasukannya terkenal tidak pernah terkalahkan itu telah sampai di gerbang istana. Delapan pranurit penjaga gerbang membungkuk memberi hormat saat melihat panglima mereka memasuki gerbang istana. Sebuah pelataran yang luas dengan bermacam tanaman buah dan bunga menghampar di hadapan beberapa bangunan megah. Bangunan-bangunan itulah istana raja. Panglima Wiratama masuk dari pintu gerbang kecil lain di sisi sebelah kiri komplek istana itu.
Setelah menunggu cukup lama di ruang pertemuan raja, akhirnya sang keluar menemuinya.
“Hormat dan sembah hamba, yang mulia!” Panglima Wiratama berlutut dan memberikan sembah penghormatan kepada sang Raja, Prabu Menang. Raja itu mengangkat tangan kanannya sejajar bahu, da panglima wiratama segera berdiri.
“Ada apa kakang?” Sang Raja menanyakan maksud kedatangan panglima kesayangannya yang mendadak tersebut. Mereka adalah teman sepermainan sejak kecil, dengan usia terpaut beberapa tahun saja.
“Maafkan kedatangan hamba yang mendadak ini, yang mulia. Adahal penting yang harus hamba laporkan. Sekira tiga bulan lalu hamba menerima kabar bahwa Ki Brajawana telah mangkat, gusti. Namun bukan itu letak hal penting yang ingin saya laporkan pada yang mulia. Padepokan Matahari Emas bahkan telah musnah oleh sebuah penyerangan, dan hari ini, hamba menerima surat misterius ini. Mohon yang mulia berkenan membacanya..” Panglima Wiratama segera menyerahkan daun lontar yang didapatnya lewat anak panah pagi itu.
Kening sang raja Nampak berkerut saat membacanya. Tak lma kemudian, dia menarik nafas Panjang sebelum mengeluarkannya Kembali sebagai desahan. ‘Fuuh..!’
“Masalah ini, pasti tidak sesederhana ini, bukan?” Sang raja cukup cerdas memahami situasinya. Dia meminta pendapat panglima Wiratama tentang kondisi tersebut.
Panglima Wiratama menjelaskan pandangannya, bahwa penyerangan terhadap kelompok aliran putih pendukung kerajaan adalah bagian dari upaya melemahkan kerajaan Lamahtang itu sendiri. Tentu ada tujuan tersembunyi di belakang itu. Sayangnya, Panglima itu belum mengetahui ada apa di balik semuanya ini. Bahkan, mungkin penyerangan dan kerusuhan oleh suku Kahubu juga berkaitan dengan upaya pelemahan ini juga. Bukan tidak mungkin, serangkaian kekacauan ini digerakkan sebagai upaya perebutan kekuasaan. Tapi oleh siapa?
“Itulah yang aku fikirkan , kakang. Aku setuju dengan pandanganmu mengenai kemungkinan itu. Oleh karena itu, kuminta kakang jangan lengah. Kuminta awasi para senopati yang bertugas saat ini di wilayah selatan. Jangan lupa juga, mereka yang kakang curigai, tugaskan saja di wilayah suku Kahubu. Selebihnya, kakang bisa membuat sebuah kegiatan yang melibatkan perguruan-perguruan pendukung kita agar mereka semua keluar dari markas mereka…”
“Tapi, Yang mulia…”
Panglima Wiratama hendak memberikan masukan kepada sang raja saat tiba-tiba seorang prajurit tergopoh-gopoh memasuki ruang pertemuan.
__ADS_1
Nb. Terus dukung karya ini ya..