JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tak Ada Jalan Untuk Lari


__ADS_3

Hao Lim tercengang mendapati serangan berkekuatan hampir serratus persen miliknya hanya menimbulkan efek gosong pada pakaian sang pengawal pendek yang melayang di depannya. Sama sekali tidak menimbulkan luka apapun pada kulit lawannya.


“Tidak perlu kalian ikut campur! Biar aku saja yang mengurusi perempuan ini!” Pengawal pendek mendengus sengit lalu segera menerjang ke arah Hao Lim. Tiga pengawal lain yang sudah melangkah maju kembali mundur ke belakang perempuan berjubah merah.


Suara lantai berderak, tanah dan debu menghambur ke udara saat tapak kaki pengawal pendek mendarat di lantai, menghantam titik bekas Hao Lim berdiri sebelumnya. Hao Lim berhasil menghindar pada saat-saat kritis. Jantungnya berdetak cepat saat dia menoleh ke arah lantai batu yang kini membentuk cekungan akibat terjangan pengawal pendek itu.


‘Apa jadinya kalau serangan itu mengenaiku?’ sedikit cemas, Hao Lim berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam.


Tapi, tentu saja pengawal pendek yang telah diselimuti nafsu membunuh itu tidak membiarkan Hao Lim benar-benar bisa mengambil nafas sejenak. Secepat kedipan mata, tangan kekar lelaki pengawal pendek telah menghantam ke arah wajah Hao Lim. Nyaris saja kepalan tangan besar itu mengenai wajah ayunya jika saja Hao Lim terlambat sepersekian detik untuk memundurkan wajahnya.


Senyum mengejek muncul pada sudut bibir lelaki itu, lalu tanpa sempat diantisipasi Hao Lim, entah bagaimana caranya tangan kiri lelaki itu telah berhasil mencengkram leher Hao Lim dengan keras.


Merasakan bahaya, Hao Lim segera menendang wajah pengawal pendek itu secara reflek. Kemudian tubuhnya bersalto di udara untuk mengambil jarak dari pengawal pendek tersebut. Sayangnya, kecepatan dan kekuatannya memang tidak sebanding dengan lawannya.


Tendangannya pada wajah pengawal pendek sebenarnya berhasil mendarat sempurna, namun tak cukup untuk membuat lawannya terluka. Pengawal pendek hanya mundur satu Langkah dan melepaskan cengkeramannya karena sedikit terkejut dengan reaksi yang diterimanya.


Saat Hao Lim baru saja mendarat kembali di lantai, sebuah pukulan kepalan tangan mendarat di dadanya.


‘BRAG!!’

__ADS_1


Terdengar suara seperti tulang patah saat kepalan tangan yang nyaris tak terlihat kelebatnya itu mendarat di dada Hao Lim, disusul tubuh Hao Lim terlempar ke belakang menabrak dinding dan membuat dinding itu roboh bersamanya.


Darah menyembur dari mulut Hao Lim. Perempuan itu jelas menderita luka dalam.


Berusaha bangkit di antara reruntuhan dinding kepatihan dengan nafas tersengal, mantan Matriark itu roboh kembali. Tak berdaya.


“Hahahahahaha….!! “ Suara tawa wanita berjubah merah dengn suara melengking terdengar “Ternyata benar, para pendekar dari dunia primitif ini semuanya lemah! Dalam dua hari, kita telah mengalahkan hampir seratus orang terkuat mereka… Hahahahahahaha…!! Pandak Lima, Cepat masukkan perempuan itu ke keranjang awan!” lanjutnya memberi perintah.


Sang pengawal pendek melangkah menghampiri tubuh Hao Lim yang terkulai lemah dengan noda darah di sekitar bagian atas tubuhnya. Tanpa perlawanan berarti, orang yang dipanggil dengan nama Pandak Lima itu mencengkeram rambut Hao Lim dan melemparkannya ke arah rekannya, pengawal bertubuh gempal dengan tato bulan sabit darah di dekat matanya. Lelaki bertato bulan darah menyambutnya dengan mengeluarkan sebuah benda berbentuk kantong seukuran tak lebih dari dua kali telapak tangan orang dewasa, membukanya lebar dan…


‘Zuuuuut!’


Tubuh Hao Lim lenyap bersamaan dengan kantong yang sepertinya terbuat dari kulit macan itu bersinar terang, lalu kembali seperti semula. Kantong kulit macan yang terihat biasa.


“Tuan Putri, sepertinya di dunia primitif ini kita tidak akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan kita. Apakah tidak sebaiknya kita kembali saja ke Lemuria? Lagipula, energi Dath di tempat ini sangat tipis” seorang pengawal, lelaki tua berambut putih di belakang wanita berjubah merah mengajukan pendapatnya.


“Tidak perlu. Lagipula, kita tidak bisa pulang sebelum cermin pintas itu selesai memperbaiki diri. Sebaiknya, kita melanjutkan perburuan kita. Kita perlu mengumpulkan sebanyak mungkin pendekar di dunia ini. Sesuai tujuan awal, aku ingin membuktikan kepada ayah bahwa beternak pendekar lebih menguntungkan daripada memburu hewan liar di hutan!” Sanggah sang tuan putri dengan tegas.


Mereka adalah bagian dari kelompok Telegu Merah. Wanita yang dipanggil ‘tuan putri’ itu tak lain adalah Centini, sosok yang sedang dicari-cari oleh Salidoni, kakak seperguruannya. Centini sendiri adalah putri kandung sekaligus murid dari ketua Telegu Merah.

__ADS_1


Kelima orang ini sempat mendengar, bahwa beberapa penjahat besar dari Lemuria dikhabarkan melarikan diri ke dunia yang mereka sebut sebagai dunia primitif ini. Hal itu, membuat Centini meyakini, bahwa dunia primitif yang sering digambarkan sebagai tempat pelarian itu pastilah memiliki banyak sumber daya yang mereka butuhkan dalam menjalani lelaku mandiwata.


‘Nyatanya, bahkan tempat ini kekuarangan energi dath!’ keluh Centini Ketika menyadari pilihannya berpetualang ke dunia ini tidak sepenuhnya benar.


Centini, berasumsi bahwa permata dewa dan permata siluman akan lebih menguntungkan jika dihasilkan dari ‘peternakan’ para pendekar. Tentu saja, pendekar yang dimaksud Centini adalah pendekar aliran hitam.


Wawasan Centini tidak terlalu luas tentang dunia pendekar, sehingga dia beranggapan bahwa semua pendekar meningkatkan kekuatan dengan menghisap esensi dari permata siluman atau permata dewa saja. Menurutnya, selama seseorang pendekar ditanamkan permata siluman pada dirinya, setelah tahap pembentukan kristal terlewati, maka panen dapat dilakukan. Lebih praktis dan tentu saja lebih murah dan mudah. Menurutnya.


Mengabaikan fakta bahwa manusia bukanlah hewan yang tidak terlalu pandai bersiasat. Suatu saat, centini akan menyadari kekeliruannya dan menyesali sepanjang hidup.


+++++


Sementara itu, di Lemuria, Anjani berusaha untuk meloloskan diri dari Hang Kelana. Lelaki tua kurus itu sepertinya tak ingin melepaskan Anjani dan Gentayu begitu saja sebelum keduanya mati. Tidak setelah Hang Kelana merasa keduanya mengganggu dan merusak seluruh rencana dan persiapan matang yang telah disusun bertahun-tahun.


Dengan memanggul tubuh Gentayu yang sudah tidak lagi sadarkan diri, Anjani terus berusaha memperlebar jarak dengan Hang Kelana.


Tak peduli dengan perbedaan kekuatan antara mereka, sekuat tenaga Anjani melesat ke atas, menembus kabut pekat yang menutupi pandangan. Bukan untuk benar-benar kembali ke tempat semula, karena Anjani menyadari dengan kekuatannya saat ini pasti Hang Kelana akan segera menyusulnya.


Sebenarnya, Anjani hanya sedang memainkan trik untuk meloloskan diri dari kematian, setidaknya untuk sementara waktu. Dengan sedikit trik, akhirnya Anjani berhasil mengecoh lelaki tua kurus tersebut.

__ADS_1


Anjani memang melesat ke atas, namun setelah di dalam kabut, Anjani membelokkan arahnya menuju sisi lain tebing dan segera meletakkan Gentayu di atas sebidang batuan lebar yang terdapat di salah satu cerukan tebing. Sengaja tidak menggunakan ilmu menghilangnya, karena pasti jalur energi yang dilepaskannya akan terdeteksi lawannya.


Hang Kelana yang memang tak dapat mendeteksi aura energi keduanya segera saja kehilangan jejak. Namun lelaki itu tidak mau menyerah. Berubah menjadi cahaya putih, tubuhnya melesat meninggalkan jurang itu bermaksud mengejar Anjani dan Gentayu yang dikiranya telah kembali ke atas jurang.


__ADS_2