JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Gandini II


__ADS_3

Gentayu bahkan tidak lagi bisa melihat apa yang terjadi dengan tubuhnya ketika ledakan dahsyat terakhir terdengar. Sebuah tangan kekar menyambarnya sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, tepat saat ledakan paling besar terdengar.


Ledakan terakhir itu menghasilkan gelombang kejut lainnya yang dahsyat memporak-porandakan seluruh areal hutan. Namun, sang pemilik tangan kekar sama sekali tidak tersentuh bahkan oleh salah satu ledakan yang dihasilkan gelang-gelang cahaya raksasa tersebut.


Tangan kekar tersebut, rupanya milik makhluk berwarna hijau yang tengah menghadapi sosok perempuan bernama Gandini.


Sedetik sebelum ledakan terakhir itu mencapai tubuh makhluk hijau tersebut, tubuh makhluk berwarna hijau itu melesat dan berubah menjadi cahaya hijau ke arah Gentayu. Menyambar tubuhnya dan menghilang begitu saja. Lenyap ke dalam ruang hampa, seolah keduanya tidak pernah ada di tempat itu sebelumnya.


Belasan gelang-gelang cahaya raksasa hanya menghantam titik bekas di mana sosok hijau itu berada sebelumnya, namun hanya menghantam lumpur kolam yang mengering. Mengubahnya menjadi kawah dengan asap pekat mengepul.


Wanita di angkasa yang bernama Gandini tampak mendengus kesal melihat buruannya menghilang begitu saja. Sosok tersebut hanya menoleh sesaat ke arah padepokan pinang mas berada sebelum melesat cepat meninggalkan tempat itu. Berubah menjadi berkas cahaya putih di kejauhan.


Dalam waktu kurang dari dua puluh nafas berikutnya, tampak delapan orang berpakaian seragam hijau mencirikan padepokan Pinang Mas mendarat di tempat tersebut. Mereka dibuat kaget melihat parahnya kerusakan di tempat itu, namun tidak menemukan seorangpun di sana.


“Apa-apaan ini?? Apa yang terjadi??” Seorang lelaki tua kurus denga rambut dan janggut putih tak dapat menahan kegugupannya melihat kondisi di hadapannya. Dia adalah Jalamanik, ketua padepokan sekaligus guru besar Pinang Mas saat ini.


Seumur hidupnya, hanya perang besar yang mampu menciptakan kehancuran sedemikian parah. Namun kini, dihadapan mereka semua tersaji pemandangan kehancuran dan tak terlihat seorangpun di sana.


Tak hanya lelaki tua itu saja yang ternganga, tujuh orang lainnya yang bersamanya juga tak bisa berkata-kata. Hanya Nyai Suntari yang sepertinya memahami sesuatu. Tak lain, hal itu karena penjelasan Anjani sebelumnya tentang sosok makhuk penghuni kolam teratai di tengah hamparan luas rawa ini.


‘Apakah terjadi pertempuran? Siapa lawannya, dan kemana mereka sekarang?’ Nyai Suntari, sekalipun memiliki informasi lebih banyak dari yang lain, tetap saja dibuat bingung.


Dia mendekati bekas kolam teratai yang kini telah menjadi kawah dengan asap mengepul guna memastikan sesuatu.


Apa yag dilakukan sang tabib andalan padepokan itu jelas mengundang ketertarikan dan rasa ingin tahu dari yang lain. Namun, mereka tetap sibuk dengan fikiran masing-masing, mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi.

__ADS_1


“Aku yakin, baru saja terjadi pertarungan kekuatan nyaris setara dewa di tempat ini. Kalau dugaanku tidak meleset, salah satunya adalah tokoh penting di antara kekuatan utama Sindur Kuntala, bahkan mungkin Lemuria..” seorang sesepuh yang terlihat terpelajar memberikan pendapatnya, memecahkan kesunyian di antara mereka.


Yang lain hanya menoleh sambil mengerutkan dahi dan menyipitkan mata ke arahnya. Sesepuh wanita lainnya bahkan maju, dan..


‘PLAK!’


Sebuah tepukan ujung telapak tangan wanita itu mampir di kening sang sesepuh terpelajar tersebut.


“Tugasmu memang menjaga perpustakaan, tapi kenapa bodohmu tidak menghilang??” katanya lagi sambil berlalu.


“Semua kita juga tahu, di sini bekas terjadi pertempuran.. yang jadi masalah adalah, siapa mereka dan kemana mereka sekarang??” lanjut wanita itu dengan mata melotot ke arah sang sesepuh terpelajar.


Sesepuh terpelajar itu bernama Tangkil Juma, bagian dari balai senjata atau balai pusaka. Dirinya memang ditugaskan membawahi urusan perpustakaan dan administrasi sederhana padepokan.


Wanita itu, meskipun terlihat masih muda namun berumur sudah hampir seratus tahun. Menunjukkan bahwa kemampuan ilmu kanuragannya demikian tinggi sehingga mampu melawan penuaan sel-sel tubuhnya.


Dia adalah Primawati , pendekar wanita terkuat di padepokan saat ini, sekaligus sesepuh yang mengurusi balai ksatria khusus putri. Mawar Ungu adalah julukan yang diperolehnya karena kecantikannya sewaktu muda.


“Iblis itu telah bangkit!”


Semua mata ketujuh orang itu segera beralih dan tertuju kepada sumber suara. Nyai Suntari berkata sambil berdiri di bibir kawah, memandangi asap yang mengepul dari dasar kawah.


Tabib tua itu kemudian berbalik menghadap semua orang. Terdengar nafasnya berat saat menarik nafas dalam-dalam seelum bicara melanjutkan.


“Muridku, Anjani.. menceritakan bahwa dia bertemu dengan sosok Hijau di tempat ini. Menurut dugaanku, sosok yang ditemuinya adalah Gola Ijo yang telah berhasil membebaskan diri..!” Ucapnya dengan yakin, membuat wajah semua yang hadir menjadi semakin buruk, kecuali seorang sesepuh dengan pedang di punggungya.

__ADS_1


Ekspresinya justru tampak kebingungan. Sesepuh itu, bahkan menoleh keheranan ke arah rekan-rekannya yang menunjukkan wajah cemas.


“Ketua... Bisa anda jelaskan kepada saya apa itu Gola Ijo?” tanyanya polos tanpa berusaha menutupi ketertinggalannya dalam informasi tentang Gola Ijo ini.


“Gola Ijo, disebut-sebut sebagai Iblis gagal oleh beberapa pihak. Iblis gagal, berarti kekuatannya nyaris setara iblis sejati, namun dia gagal mencapai salah satu titik penting untuk memiliki kekuatan iblis sejati. Bahkan, dahulu di masa guruku masih hidup, disebut-sebut bahwa kekuatan Gola Ijo tersegel di salah satu bagian dari bumi Sindur Kuntala ini.


Sayangnya, Nyai Suntari mungkin benar. Aku diberitahu oleh guruku bahwa kekuatan Gola Ijo sebenarnya terkunci di dalam rawa ini...” terang Jalamanik, membuat nafas ketujuh orang bawahannya menjadi berat.


Gola Ijo adalah legenda iblis di Sindur Kuntala. Kekuatannya, seharusnya adalah yang terkuat di antara mereka yang belum mencapai tingkat akhir mandiwata. Bahkan, Mislan Katili disebut-sebut bisa sangat kuat karena bantuan dari Gola Ijo ini.


Sepak terjang Gola Ijo di daratan Lemuria berlangsung sejak ratusan tahun terakhir. Mencapai kekuatannya dengan mengkonsumsi esensi hidup pendekar lain adalah jalannya memperkuat diri.


Namun, sebagaimana Mislan Katili sebelumnya, Gola Ijo juga akhirnya menjadi buronan seluruh pendekar yang bernaung dalam padepokan.


Kurang dari tiga ratus tahun yang lalu, terdengar kabar Gola Ijo telah tersegel. Lokasi dan siapa yang menyegelnya masih misterius. Namun tidak bagi Padepokan Pinang Mas. Guru sekaligus pendiri awal Pinang Mas adalah orang yang telah menyegel Gola Ijo.


Dan Gandini, disebut-sebut sebagai selir dari sang Guru pendiri Pinang Mas yang berhasil menaklukkan Gola Ijo tanpa pertarungan.


Nampaknya, kemampuan merayu Gandini sangat mupuni sehingga bangsa iblispun terpikat sehingga mudah dikalahkan.


Namun kemudian, kenyataan tentang Gola Ijo itu hampir dilupakan orang. Bahkan, seratus tahun terakhir, nyaris tak pernah dibahas atau didengar apapun tentang Gola Ijo di dalam padepokan.


Para guru, para sesepuh bahkan para pendahulu padepokan yang masih hidup juga tidak pernah membahas sama sekali. Seolah Gola Ijo benar-benar telah dilupakan.


Karena kabar Nyai Suntari ini, suasana di antara merek berubah menjadi tegang.

__ADS_1


__ADS_2