
“Rupanya ada tikus-tikus kecil yang ingin main-main dengan Karang Setan! Hahahahaha....!” Suara itu sekarang terdengar makin jelas dan semakin dekat, bersamaan dengan udara yang terasa semakin berat.
Kini, bahkan 5 orang murid dengan level pendekar Madya dari Bambu Hijau sudah tidak sadarkan diri, sehinga hanya tinggal mereka bertiga saja Pendekar yang tersisa di tempat itu. Kardak dan Winamar mencoba mengingat-ingat nama ‘Karang Setan’. Kening mereka berkerut dan wajah mereka terlihat sdikit pucat begitu berhasil mengingat sosok pemilik nama tersebut. Kardak dan Winamar setidaknya sebagai pendekar yang cukup berumur tentu pernah mendengar beberapa nama pendekar legenda di dunia persilatan, termasuk nama Karang Setan.
Konon, Karang Setan bukanlah penduduk asli pulau Emas Besar. Menurut sejarahnya, orang tua Karang Setan adalah seorang panglima perang sebuah kerajaan bawahan kekaisaran Huang di benua Tengah. Orang tua Karang Setan selama puluhan tahun menjadi buron dari sekte-sekte aliran putih. Pasukan perang yang dipimpinnya dihancurkan sendiri oleh kekaisaran Huang. Penyebab utamanya adalah ayah dari Karang Setan yang bernama Wang Choi ini menggunakan kekuatan militer yang dikendalikannya untuk membuka segel salah satu makhluk iblis di Benua Tengah dan memberontak. Makhluk Iblis ini disegel dan dijaga oleh sekte aliran putih bernama Shadowless Lotus Sect , sebuah sekte rahasia.
Awalnya, Wang Choi berhasil menaklukkan dan menghancurkan sekte kecil itu. Iblis yang tersegel kemudian dilepaskan dengan maksud sebagai budak Wang Choi. Namun nahas, iblis itu ternyata tak mudah dikendalikan dan diperbudak. Kekuatan Wang Choi yang didukung para pendekar aliran hitam ternyata tidak cukup kuat menahan kekuatan Iblis itu. Bukan iblis itu yang akhirnya menjadi budak Wang Choi, namun justru sebaliknya iblis itu mengambil alih tubuhnya.
Iblis yang telah menyatu dengan Wang Choi itu membuat kekacauan. Bahkan iblis yang telah menguasai tubuh Wang Choi ini lalu memimpin pemberontakan dan berhasil membunuh raja. Raja yang meninggal karena terbunuh itu meninggalkan tiga orang anak yang kemudian berselisih dan saling berperang untuk perebutan tahta setelah Wang Choi sendiri berhasil dipukul mundur dari istana berkat pasukan bantuan dari kekaisaran Huang dan para Pendekar aliran putih menyatukan kekuatan mereka. Mereka menggunakan pusaka-pusaka lama yang pernah digunakan untuk mengalahkan kekuatan iblis itu di masa lalu. Dalam sebuah pertempuran, iblis itu kembali dapat dikalahkan. Tubuhnya berhasil dihancurkan dan kekuatannya kemudian disegel dalam sebuah pusaka berbentuk cincin.
Ternyata Wang Choi ini memiliki anak, anak inilah yang kemudian diberi nama Wang Rui dan mewarisi kekuatan ayahnya. Meskipun tanpa kekuatan iblis, sebenarnya Wang Choi sendiri termasuk salah satu pendekar terhebat di wilayah kerajaannya. Selain mewarisi kekuatan ayahnya, Wang Rui juga mempelajari kitab-kitab hasil rampasan dari Shadowless Lotus sect, salah satunya adalah kitab yang mempelajari tentang mayat hidup ini.
Wang Rui yang tidak lagi bisa hidup tenang di Benua Tengah sejak kematian ayahnya, lalu berkelana menjelajah dunia. Sepanjang perjalanannya, dia selalu meningkatkan kekuatannya dengan bertarung, karena bercita-cita menjadi penguasa dunia. Dia dikabarkan mampu menembus level Pendekar Bumi dan sedikit lagi mencapai level Pendekar Langit. Karena tabiat buruknya membuatnya bernasib sama seperti ayahnya yaitu menjadi buronan Pendekar-pendekar aliran putih. Sayangnya, sangat sedikit lawannya yang mampu menandinginya. Hingga kemudian entah bagaimana kisah sebenarnya, dikabarkan bahwa Wang Rui kehilangan separuh kekuatannya akibat bertarung dengan seekor naga. Naga adalah binatang mitos yang keberadaannya masih diragukan, namun banyak yang meyakini keberadaannya di dunia ini. Hewan ini dipercaya sebagai hewan berkekuatan dewa, sehingga kekalahan Wang Rui cukup masuk akal.
Wang Rui yang terluka dan kehilangan sebagian kekuatannya itu kemudian terdampar di Kepulauan Dipantara ini, tepatnya di pulau Emas Besar. Sepak terjangnya selama puluhan tahun cukup menggegerkan dunia persilatan. Di tangannya, banyak guru-guru besar aliran putih yang binasa berikut padepokan dan murid mereka. Konon, orang ini memiliki banyak harta peninggalan ketika matinya yang merupakan hasil penjarahan dan rampasan dari padepokan dan pendekar sakti yang dibinasakannya. Namun tidak ada yang tahu persis di mana pendekar sesat ini menjalani hidup di akhir hayatnya. Tapi sekarang, setelah tidak terdengar kiprahnya selama lebih seratus tahun dan dikabarkan telah mati, monster tua itu ternyata justru muncul di desa terpencil ini.
“Hei tua busuk! Aku tidak peduli, mau kau ini karang setan, karang iblis, karangan bunga sekalipun aku tidak takut! Turun kau!” Gentayu tentu saja tidak mengenali dan tidak pernah mendengar nama Karang Setan ini. Dengan polos pemuda ini justru menantang monster tua dihadapannya yang jelas-jelas kekuatannya jauh di atas dirinya.
‘Whuzzzzzzzzz.........!!’
__ADS_1
Tiba-tiba Gentayu terpelanting ke udara begitu saja saat Karang Setan yang tetap melayang di udara itu mengibaskan tangannya. Pemuda itu memang mampu mendarat dengan baik sehingga tidak mengalami cedera karenanya, namun sebuah kilatan cahaya hitam tiba-tiba melilit tubuhnya. Cahaya hitam itu perlahan-lahan membentuk seperti tali yang mengikat tubuhnya. Lilitan tali yang terbuat dari energi hitam itu mengangkat tubuh Gentayu, lalu menariknya mendekati tempat Karang Setan berdiri.
“Besar juga nyalimu, bocah! Kau pasti belum mengenal aku karena usiamu terlalu muda!.. Baiklah, mari kita berkenalan...” Karang Seta menyeringai saat menatap wajah Gentayu.
Sesaat kemudian, energi hitam yang menjadi seperti tali itu bercabang menjadi tiga dan dua diantaranya menangkap Kardak dan Winamar yang hendak melompat menyerangnya. Kedua Pendekar sesepuh Bambu Hijau ini bernasib sama seperti halnya Gentayu, tak bisa berkutik. Nafas mereka semakin sesak saat lilitan tali energi hitam ini melakukan gerakan seperti meremas tubuh mereka.
“Kalian tampaknya pernah mendengar namaku, bukan? Hehehehe... Aku akan memberi kalian kehormatan untuk mati di tanganku” Karang Setan berkata demikian saat lilitan energi hitam itu membawa kedua sesepuh Bambu Hijau itu mendekat ke arahnya.
“Hei tua busuk! Sok kuat, sok jago! Beraninya sama orang yang tidak berdaya! Pendekar hebat macam apa ini? Memalu...kkkkkaaaaan!” Gentayu menyelesaikan kalimatnya dengan lilitan energi hitam yang mencengkram tubuhnya lebih kuat.
“Bocah banyak omong!” Bentak Karang Setan.
‘Bum!’
‘Bum!’
‘Bum!’
‘Brak!!’
__ADS_1
Tiga kali suara ledakan terdengar saat energi hitam yang disarangkan ke tubuh Gentayu bersentuhan dengan kulitnya dan diakhiri dengan suara robohnya pohon randu besar itu akibat tertabrak tubuh Gentayu.
Lagi-lagi Gentayu berhasil mendarat dengan mulus sebelum tiga kilatan energi lainnya menyusul menghantam ke arahnya..
‘BUM! BUM! BUM!’
Serangan itu berhasil dihindari Gentayu dengan susah payah.
Gentayu cukup beruntung, karena sejauh ini dirinya belum menerima luka yang berarti di tubuhnya berkat jurus Perisai Naga Apinya. Namun tentu bukan hal baik bila membiarkan dirinya terus menerus dihajar seperti ini. Gentayu memutar otak untuk mulai melakukan perlawanan, namun tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali.
Gentayu melihat ke bawah kakinya. Tampak sulur-sulur hitam telah menangkap kedua kakinya. Bukan hanya menagkapnya, bahkan Gentayu merasakan energinya terhisap oleh sulur-sulur hitam tersebut.
Nb. Wah, tak terasa sudah sampai lebih 25 episode nih. Terimakasih buat para pembaca yang sudah kasih kritik, saran, like, komen, dan Vote bahkan terimakasih juga buat yang sudah sudi sekedar mampir.
Semoga tetap betah membaca cerita JAGA BUANA ini hingga tuntas yaa..
Mohon maaf, kadang karena penulis sok sibuk jadi kadang buka aplikasi sekedar untuk setor tulisan, terus tutup lagi..😁
Untuk komen, kritik dan saran yang belum direply mohon dimaafkan deh..🙏
__ADS_1