JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Bunga Kebenaran


__ADS_3

Pemuda itu segera menghilang begitu saja setelah berkata demikian.


Diah Rangi maupun Putik Embun beserta orang-orang Krio Dableh yang masih berlutut di pelataran sama-sama terkejut dibuatnya. Meskipun Putik Embun juga bisa melakukan hal serupa, tapi keduanya jelas berbeda.


Putik Embun bisa seolah menghilang dari satu titik lokasi ke titik lokasi karena cepatnya gerakannya berpindah. Seperti saat dirinya berpindah sebelum melenyapkan ketiga teliksandi. Namun, pemuda itu menghilang benar-benar lenyap. Jejak dan getaran energinyapun tidak terdeteksi lagi.


“Pemuda yang misterius..” Kata Putik Embun yang dibenarkan dengan anggukan oleh rekannya.


“Lalu apa yang akan kita lakukan pada mereka?” tanya Diah Rangi sambil menunjuk kepada orang-orang Krio Dableh yang masih berlutut. Dua orang lelaki yang mereka keroyok ada di belakang mereka.


“Kita serahkan saja pada dua pendekar yang dikeroyok tadi. Apapun keputusan mereka berdua. Karena sebenarnya, ini adalah masalah mereka. Hubungannya dengan kita adalah, mereka pendukung Kerajaan. Pendukung aliran hitam! Tidak lebih. Dan kukira, tangan kita sudah penuh untuk menangani hal-hal seperti ini..” Putik Embun mengusulkan.


Menurutnya, kedua lelaki yang tadinya dikeroyok itu bisa menyelesaikan masalah ini. Tentu dengan sedikit bantuan mereka.


“Aku setuju! Karena bagaimanapun, kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja” Kata Diah Rangi yang kemudian memanggil kedua pendekar di belakang orang-orang Krio Dableh.


“Maaf tuan pendekar berdua. Apa yang akan kalian lakukan pada orang-orang itu selanjutnya?” tanya Diah Rangi.


“hmm.. anu.. kami.. kami... “ Salah satu dari kedua pendekar itu menjawab dengan sedikit ragu.


“Katakan saja. Kami akan membantumu” Jawab Diah Rangi meyakinkan.

__ADS_1


“Mereka adalah bagian dari aparat desa yang tunduk pada perintah Krio atau kepala desa di sini. Mereka memang diangkat sebagai tukang pukul Krio di desa kami. Sayangnya, kepala desa kami adalah pendukung aliran hitam...” Jawab lelaki itu. Rekannya yang lebih muda hanya diam dan mendengarkan sembari menganggukkan kepala dibelakangnya.


“Kami ingin, mengganti Kepala Desa kami agar desa kami terbebas dari pengaruh aliran hitam. Makanya kami melakukan perlawanan. Kami telah menggagalkan pengiriman pemuda dan pemudi ke kerajaan karena tahu bahwa mereka hanya akan dijadikan budak. Sama seperti pemuda desa lainnya. Sayangnya, justru kami yang sekarang diburu karena kami tidak cukup kuat..” Lelaki itu mulai berkisah.


“Baik. Aku faham posisimu. Apakah hanya kalian berdua di desa kalian yang melawan kepala desa?” Tanya Diah Rangi memotong cerita lelaki di hadapannya.


“Mmmm..mmmm..begini, nyo.. nyonya..” Lelaki yang lebih muda sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tetapi jelas dia terlihat ragu-ragu. Sesekali menoleh ke belakang, ke arah orang-orang Krio Dableh yang masih berlutut menunggu nasib.


“Katakan saja. Jika mereka macam-macam..” Ancam Putik Embun sambil mengeluarkan busurnya dan diarahkan ke orang-orang di pelataran. Merekaserentak bersujud ngeri membayangkan anak-anak panah menembus tubuh mereka tanpa bisa menghindar sebelum terbakar.


“Kami tidak dengar..!” teriak salah satu di antara mereka yang kini bersujud semakin dalam dengan kedua tangan menutup lubang telinga.


“Sebenarnya, kami adalah bagian dari sebuah organisasi perlawanan bernama ‘Bunga Kebenaran’. Tapi, kami memang tidak cukup kuat. Ketua kami yang paling kuat diantara kami, hanya seorang pendekar ahli... Beliau ditangkap oleh prajurit kerajaan seminggu lalu.. Lalu anggota kami menyebar di setiap desa untuk melakukan perlawanan secara berpencar..” Berkata lelaki yang lebih muda dengan setengah berbisik.


Diah Rangi mencabut pedangnya ketika mendatangi kerumunan orang-orang yang sedang berlutut tersebut. Tentu saja tindakannya membuat kepanikan para pendukung Krio Dableh itu. Mereka serentak mundur sambil berlutut menyebabkan saling tabrak dengan sesama di belakangnya.


Tanpa berbicara apapun, Diah Rangi menebaskan pedangnya ke udara di atasnya membentuk pola tertentu. Tiba-tiba sebuah petir kecil tercipta di udara pada bekas tebasan pedang Diah Rangi dan langsung menyambar semua orang-orang Krio Dableh.


Mereka semua terpental menerima sambaran petir kecil itu. Beberapa mengerang kesakitan, yang lainnya langsung kehilangan kesadaran.


“Kalian dengar! Aku sengaja tidak membunuh kalian! Tadi itu, adalah petir kejujuran! Petir itu tetap bersemayam di dalam darah kalian mulai saat ini. Setiap kali kalian melakukan kejahatan yang membuat penderitaan orang yang tidak berdaya, maka petir itu akan melukai kalian lebih lanjut dari dalam! Jantung kalianlah kuncinya! Selama kalian berbuat baik, maka petir itu tidak akan melakukan apapun! Tapi ketika kalian melakukan lagi kejahatan walaupun sekedar mendukungnya, maka jantung kalian akan langsung hancur!” Diah Rangi berkata sedikit berteriak agar suaranya dapat didengar dengan jelas sekaligus menujukkan keseriusannya.

__ADS_1


Setelah mengambil jeda sebentar dan melihat sedikit kepanikan di wajah orang-orang itu, dia melanjutkan “ Kebaikan pertama yang harus kalian lakukan adalah berhenti menjadi pengikut Krio Dableh! Artinya, dengan tangan kalian, kalian harus membuat Krio Dableh dihukum atas kejahatannya dan kalian harus mendukung penggantinya selama dalam kebaikan! Faham??”


Serentak, mereka mengannggukkan kepala. Beberapa wajah mereka nampak pucat dan sesekali melihat ke arah rekannya yang kehilngan kesadaran.


“Tidak usah cemas. Bawa rekan kalian pulang. Besok kondisinya akan membaik. Ingat pesanku. Berbuat baiklah. Maka petir di tubuh kalian akan menjadi salah satu kekuatan kalian..”Diah Rangi seolah mengerti wajah cemas orang-orang itu. Dia mengakhiri ucapannya dan memberikan isyarat agar mereka segera pergi dari tempat itu.


Tanpa menunggu lagi, setelah diizinkan pergi semua pengikut Krio Dableh buru-buru meninggalkan tempat itu. Mereka memboyong tiga mayat rekannya beserta tubuh pingsan bersama-sama. Setelah semuanya menghilang dari tempat itu, Putik Embun menghampirinya.


“Apakah sebegitu hebat jurus pedang petirmu?” Putik Ebun bertanya dengan penasaran.


“Tentu saja tidak. Aku hanya membual. Tapi, memang petir di tubuh mereka tetap bisa kukendalikan sampai kapanpun sebelum aku sendiri yang menghilangkannya..” Kata Diah Rangi sambil tersenyum lebar. Berbohong tak pernah se-menyenangkan seperti ini, batinnya. “Jadi, apa mereka setuju?” lanjutnya.


“Iya, mereka setuju. Hari ini juga mereka berdua akan bergerak menghubungi seluruh rekannya yang tersebar di beberapa kabupaten. Jumlahnya ternyata lumayan banyak. Lebih dari enam puluh orang pendekar kelas dua dan Madya...” Jawab Putik Embun sambil menoleh kepada dua orang lelaki yang kini tengah berjalan juga ke arah mereka.


Rencana mereka adalah membawa seluruh anggota ‘Bunga Kebenaran’ ke Kota Bandar Agung. Mereka adalah tambahan tenaga yang cukup berharga bagi aliansi Bintang Harapan mendatang. Tugas Indung Imau dan padepokan Imau Gadinglah untuk melatih dan meningkatkan kemampuan mereka lebih jauh. Tentu saja setelah selesainya misi penyerbuan Lamahtang ini selesai.


Saat ini, bantuan paling penting yang bisa mereka lakukan adalah menghambat pasukan yang akan dikirim Lamahtang saat pasukan itu kembali begitu mendengar berita penyerbuan terhadap istana. Sederhananya, mereka hanya harus membuat perangkap dan jebakan pada jalur kembali pasukan Lamahtang nantinya guna mengurangi jumlah musuh sebelum tiba kembali ke istana.


Rencana ini sebenarnya telah dibicarakan oleh para pimpinan Bintang Harapan. Sayangnya karena kekuarangan tenaga, maka rencana itu tidak mungkin terlaksana.


“Kalau begitu, kita bisa berangkat sekarang?” Kata Diah Rangi kepada kedua pendekar rekan baru mereka.

__ADS_1


Mereka berempat kemudian segera melaju menuju salah satu desa terdekat dengan menunggang kuda-kuda yang ditinggalkan pasukan Lamahtang. Diah Rangi dan Putik Embun sebenarnya bisa lebih cepat menempuh perjalanan dengan ilmu meringankan tubuh, namun kedua rekan barunya jelas tidak akan sanggup mengimbangi.


__ADS_2