JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Ujian Murid


__ADS_3

Butuh waktu lima hari berikutnya bagi Gentayu untuk pulih sepenuhnya. Selama masa itu, Anjani telah diangkat sebagai murid resmi oleh tabib Suntari. Gadis itu akan mempelajari ilmu pengobatan dari wanita tua tersebut.


Sementara Gentayu, tabib Suntari atau yang lebih dikenal sebagai Nyai Suntari telah mengajukan permohonan kepada ketua padepokan Pinang Mas agar bisa menjadikan Gentayu sebagai murid padepokan. Gentayu memang disetujui untuk menjadi murid padepokan, namun sebagaimana calon murid lainnya, dia juga harus melewati masa percobaan selama dua tahun.


Sebenarnya, ada mekanisme tahunan untuk menerima murid inti padepokan, yaitu melalui seleksi lewat ujian pertarungan. Sayangnya, masa pelaksanaan seleksi tahunan tersebut baru saja berakhir sebulan lalu. Akhirnya, Gentayu menerima menjadi murid luar selama dua tahun.


Selama masa dua tahun tersebut, status Gentayu adalah sebagai murid luar padepokan. Karena status tersebut, membuat Gentayu dan juga sekitar lima puluhan calon murid lainnya harus bekerja sebagai pelayan bagi murid-murid inti padepokan.


Hampir semua pekerjaan pendukung padepokan dikerjakan oleh para murid luar ini. Mulai dari mengumpulkan kayu bakar, memasak, membersihkan padepokan, hingga mengurusi ternak dan kebun milik padepokan.


Adapun Anjani, karena langsung diambil murid oleh Nyai Suntari, dia tidak perlu melewati seleksi apapun. Bahkan, Anjani menjadi murid satu-satunya dari ahli obat terbaik padepokan tersebut. Nyai Suntari, memang tidak pernah memiliki murid lagi sejak puluhan tahun terakhir. Murid terakhirnya berasal dari Marga Tanah dan saat ini telah menjadi sosok penting bagi klannya.


Dua hari setelah diangkat sebagai murid, Anjani langsung dilibatkan dalam sebuah misi bersama gurunya, Nyai Suntari. Misi itu adalah menyembuhkan putri salah satu pangeran kerajaan Sindur Kuntala bernama Putri Padma Sari.


Saat hendak berangkat itulah, Anjani teringat dengan sosok penunggu kolam teratai yang memaksanya menelan racun berwarna putih. Racun mengerikan yang bisa membuat ledakan berantai bersama makhluk hidup di sekitarnya.


‘Apakah aku harus menceritakan hal ini pada guru?’ gumam Anjani dalam kebimbangannya.


Sebagai murid, dirinya tak boleh merahasiakan apapun dari Nyai Suntari. Jika sebelumnya Anjani bungkam, itu lebih karena Anjani merasa sungkan merepotkan orang yang telah menolongnya.


Sebabnya, dia merasa belum melakukan apapun untuk sekedar membalas kebaikan Nyai Suntari. Perasaan itulah yang membuatnya merahasiakan kejadian di kolam teratai itu dari Nyai Suntari.

__ADS_1


Namun saat ini, kondisinya berbeda.


Nyai Suntari adalah gurunya walaupun baru dua hari mereka secara resmi menjadi guru dan murid. Sebagai murid, tidak boleh ada rahasia antara mereka apalagi berkaitan dengan keselamatan nyawa. Akhirnya, Anjani dengan mantap bermaksud menemui gurunya di komplek padepokan di bagian lembah dari gunung di mana rumah goa yang ditempatinya bersama Gentayu berada.


Melesat cepat di atas perkebunan herbal milik Balai Pengobatan padepokan, tak butuh waktu lama sebelum Anjani tiba di depan gerbang padepokan. Ini adalah kali kedua dirinya memasuki komplek padepokan Pinang Emas ini. Dua hari sebelumnya, peresmiannya sebagai murid Nyai Suntari berlangsung di aula padepokan bersama dengan para murid luar yang diresmikan menjadi murid inti setelah masa dua tahun mengabdi.


Menunjukkan lencana resmi murid padepokan, Anjani masuk melewati penjagaan para pendekar penjaga tanpa hambatan. Hanya mata para pendekar penjaga itu yang sulit lepas memandangi kecantikan wajah dan tubuh Anjani. Bahkan hingga gadis itu menghilang di ujung jalan, di sebuah belokan.


“Apakah itu murid Nyai Suntari yang kemarin diceritakan para senior?” tanya penjaga bertubuh gempal kepada rekannya.


“Iya betul! Itu memang dia. Aku turut hadir saat peresmiannya dan memang itu adalah orang yang sama!” jawab rekannya dengan yakin.


Ternyata, kabar Nyai Suntari mengangkat murid setelah puluhan tahun berhasil menyita perhatian seluruh penghuni padepokan. Bukan hanya karena Nyai Suntari terkenal sangat ketat dalam memilih calon murid, namun juga karena kabar bahwa murid Nyai Suntari sangat cantik dengan kemampuan beladiri yang tidak bisa diremehkan.


Bisik-bisik bahkan ucapan menggoda dari para murid lelaki sama sekali tak digubrisnya. Cemoohan dan tatapan iri para murid wanita juga tak dihiraukannya.


Anjani terfokus berjalan menuju sebuah bangunan cukup besar yang mengeluarkan aroma obat memenuhi lingkungan sekitarnya. Plang nama terukir dengan huruf kawi bertuliskan “Balai Obat” menunjukkan identitas bangunan tersebut.


Seorang wanita terlihat berumur empat puluhan tahun menghadang langkahnya. Wanita berseragam warna hijau dengan lambang tiga pinang itu tersenyum tipis, lalu menatap Anjani dengan tajam.


“Ini area terbatas. Hanya murid tingkat tiga ke atas yang boleh masuk..” Katanya dengan senyum mengembang, namun sorot matanya tetap tajam.

__ADS_1


“Maafkan saya, senior. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan guru saya, Nyai Suntari..” Anjani menyahut dengan tenang.


Wajah perempuan di hadapannya langsung berubah saat Anjani menyebut nama Nyai Suntari. Terlihat tatapan tidak senang di matanya tertuju pada Anjani, namun sepertinya wanita itu tidak memiliki nyali untuk membuat kesulitan bagi murid Nyai Suntari.


Wanita itu mundur dua langkah, memberikan ruang kepada Anjani untuk melangkah melewatinya. Tanpa kata. Namun, ketika Anjani bermaksud melewatinya, wanita itu buru-buru mencegah.


“Biar aku saja yang menyampaikan kedatanganmu pada Nyai Suntari. Kau bisa menunggunya di sini..”Wanita itu segera berbalik menuju ke dalam bangunan balai obat tanpa menunggu reaksi dari Anjani. Anjani sendiri memilih menurut dan menunggu di tempatnya berdiri saat ini.


Tak lama kemudian, sosok wanita tersebut telah keluar kembali dari bangunan balai obat bersama Nyai Suntari.


Anjani segera menghampiri gurunya, membungkuk hormat lalu mencium tangannya.


“Maafkan saya guru, karena mengganggu waktu bekerja guru..”Anjani merasa bersalah melihat wanita tua itu keluar dengan pakaian kerjanya. Sebuah pakaian berlapis yang tercium bau obat yang pekat serta bekas cairan obat di sana-sini.


“Apa kau tidak bisa menungguku kembali ke rumah goa seminggu lagi hingga menyusulku hari ini? Ada apa sebenarnya?” Nyai Suntari segera mengajak Anjani menuju sebuah pohon beringin besar dengan balai bambu di bawahnya.


Nyai Suntari segera duduk di balai bambu itu, dan meminta Anjani duduk di sebelahnya. Berdampingan.


“Terimakasih, nek..” Anjani kembali memanggil Nyai Suntari dengan panggilan ‘nenek’ bukan guru. Itu adalah permintaan dari Nyai Suntari sendiri. Saat hanya mereka berdua saja, maka Anjani dilarang memanggilnya dengan sebutan lain.


“Seminggu lagi, seharusnya kita berangkat menuju istana Sindur Kuntala ‘khan nek?” Anjani mengawali maksudnya dengan bertanya. Memastikan bahwa rencana keberangkatan mereka tidak akan dibatalkan atau ditunda.

__ADS_1


“Iya.. kenapa? Apakah ada yang membuatmu tidak bisa ikut nenek?”Nyai Suntari langsung bisa menebak arah pembicaraan Anjani.


__ADS_2