JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Bab Ke Empat


__ADS_3

Kelelawar itu jatuh bebas dari ketinggian setelah kedua sayap lebarnya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Dua garis asap hitam mengikuti tubuhnya yang meluncur deras dan berhenti setelah menapak tanah.


Kelelawar itu sama sekali belum mati. Hanya sayapnya yang habis terbakar, namun tubuhnya yang lebih mirip kadal daripada kelelawar biasa itu tak terluka sama sekali.


Ketika di tanah, tinggi kelelawar itu tak lebih dari se lutut orang dewasa saja. Tapi, itu juga sudah termasuk terlalu besar untuk ukuran seekor kelelawar.


Gentayu segera melesat dengan kepalan tangannya, menyerang langsung ke arah kelelawar itu.


‘BUM!’


Bunyi tumbukan terdengar saat tubuh kelelawar itu terpelanting menabrak batang pohon di belakangnya. Meninggalkan bekas gosong dan membuat pohon itu layu seketika. Itu adalah pohon randu hutan, dengan duri tajam yang seharusnya mampu menembus kulit. Tapi pohon itu kini membentuk cekungan gosong berbentuk tubuh kelelawar.


Kelelawar itu diam tak bergerak.


Entah karena sudah mati, atau karena ingin mengecoh lawan. Tak pasti.


Gentayu segera mengeluarkan dua ekor kadal api yang dirampasnya dari dua orang pendekar kakak beradik dari pulau Padi Perak, Pandan Wungu dan Panunggul Sewu.


Dua larik sinar keluar dari gelang gerobok, berubah menjadi wujud dua ekor kadal raksasa yang sekarang berwarna hijau. Kedua kadal itu segera mengerti tugas mereka karena fikiran Gentayu kini memrintah mereka.


Salah satu dari keduanya menerkam ke arah kelelawar yang tengah memejamkan mata. Seekor lainnya bersiap untuk menyemburkan api sebagai jaga-jaga. Koordinasi kedua hewan melata itu cukup baik.


Tepat ketika moncong kadal pertama menyentuh kulit kelelawar itu. Tiba-tiba tubuh kadal api raksasa tersebut mengejang. Tampak menahan sakit! Ternyata, kelelawar itu sengaja mengecoh dengan memejamkan mata untuk mempersiapkan sebuah serangan terakhir. Serangan itu adalah sengatan energi listrik!


Energi listrik itu sendiri berasal dari pengumpulan seluruh kekuatan terakhir sang kelelawar. Setelah serangan energi listrik itu dilepaskan, dan kadal raksasa itu mati hanya dalam lima tarikan nafas, tubuh kelelawar raksasa tiba-tiba menggembung.


Seluruh udara di sekitarnya tersedot ke arah kelelawar itu, sebelum..


‘BUM!!’


Tubuhnya meledak, menghancurkan apapun dalam radius dua puluhan meter darinya.


Kadal raksasa yang tengah bersiap menyemburkan apinya langsung hancur. Berubah menjadi kabut darah dan daging. Sementara Gentayu yang berjarak cukup jauh tetap terhempas walaupun tidak terlalu jauh.


Areal hutan di sekitarnya terbakar, termasuk pohon barus yang melindungi mereka sebelumnya.

__ADS_1


Kerasnya suara ledakan itu membuat burung-burung di atas meraka berhamburan terbang menjauh. Begitu pula hewan-hewan biasa pada hutan di belakang Gentayu, mereka kocar-kacir menyelamatkan diri karena terkejut.


Bila hewan lain ketakutan dan berlari menjauh, tidak demikian dengan seekor serigala berkaki perak yang ditugaskan kawanannya untuk berpatroli di wilayahnya. Areal pertarungan Gentayu ini memang wilayah teritorial kawanan serigala berkaki perak ini.


Serigala ini bermaksud mendekat untuk memeriksa keadaan.


Ketika dilihatnya sosok Gentayu berada di sana, matanya berkilat-kilat dan liurnya segera menetes.


Serigala biasanya adalah hewan sosial. Hewan ini biasanya hidup berkelompok dalam kawanan. Namun, tampaknya aturan tersebut tidak terlalu ketat berlaku di sini. Serigala itu, jelas ingin menyantap daging tubuh Gentayu sendirian.


Daging Bhakta, yaitu manusia yang menjalani laku mandiwata adalah favorit semua siluman. Lebih dari hewan apapun, daging manusia ini mampu mempercepat peningkatan kekuatan siluman sesuai dengan tingkat kependekarannya. Semakin tinggi tingkatnya, semakin kuat dan semakin baik kemampuan dagingnya mempercepat peningkatan kekuatan para siluman.


Sadar dirinya diincar, Gentayu tak punya pilihan lain selain melawan. Toh, tujuannya berada di hutan ini adalah berburu. Dan serigala kaki perak di depannya, kemampuannya hanya setara dirinya. Tidak terlalu tinggi selisih kekuatan keduanya.


Manusia, biasanya mampu mengalahkan seekor siluman yang kekuatannya setingkat di atasnya, pada alam pendekar yang sama. Dan jelas, a srigala ini memancarkan aura setara pendekar bumi.


‘Peluang!’ fikir Gentayu. Dan serigala, memang tidak mungkin lebih cerdas dari manusia.


Gentayu memeriksa sekeliling, memastikan bahwa serigala ini tidak sedang bersama kawanannya. Serigala di hadapannya sedikit merasa gentar ketika menyadari tatapan Gentayu. Awalnya, dia berfikir Gentayu akan sama dengan para pemburu yang dihadapinya akan ciut nyalinya ketika digertak dengan tontonan gigi-gigi tajamnya.. Bahkan, pertemuan pertamanya beberapa saat lalu menunjukkan Gentayu terlihat gentar. Iya, serigala inilah yang menyebabkan pedang satam retak terkena cakarnya.


Gentayu melompat tinggi. Dia ingin menggunakan energi Dathnya untuk mengaktifkan kembali jurus-jurus lamanya. Bila sebelumnya, jurus itu menggunakan tenaga dalam, sekarang menggunakan energi alam.


‘Tinju Naga Api!!’ Serunya sembari meninju lurus ke arah sang serigala.


Serigala itu melompat hendak menerkam Gentayu ketika sebuah cahaya putih sebesar kepala melesat secepat kedipan mata menghantam dada hewan itu!


‘DHAR!!’


Sebuah ledakan lebih besar terdengar. Suara bahkan akibatnya lima kali lebih dahsyat dari suara ledakan tubuh kelelawar sebelumnya.


Seluruh pepohonan disekitarnya berderak. Bumi bergetar karena getaran dari pepohonan merambat ke tanah. Daun-daun serta buah-buahan berjatuhan. Pohon-pohon terdekat bahkan tumbang. Sedangkan tubuh serigala itu juga hancur menjadi gumpalan daging berserakan.


“Kau berhasil melangkah ke bab kedua, Nak! Bagus!” suara serak terdengar di telinga Gentayu.


Gentayu menoleh untuk menemukan sosok Gola Ijo telah berada di belakangnya. Tersenyum menampakkan deretan gigi tajam kekuningan yang justru menambah seram penampilannya.

__ADS_1


“Berkat bimbinganmu, tuan!” Gentayu segera berbalik memberi hormat.


“Kembalilah dulu ke goa. Di sini tidak aman untukmu. Untuk burungmu itu, ini..” Gola Ijo mengibaskan tangannya, dan setumpuk daging berwarna merah lengkap dengan darah dan tulang muncul membentuk bukit kecil di depan gentayu.


Aroma anyir darah menyeruak di tempat itu.


“Ini lebih dari cukup untuk makanannya selama seminggu. Saranku, lepaskan saja semua kadal-kadalmu di hutan sebelah sana" Gola ijo menunjuk ke arah Gentayu datang sebelumnya.


"Di sana, mereka akan bisa bertambah kuat dengan memangsa hewan kecil kesukaannya. Tiga siluman peliharaanmu, buaya, kerbau, dan monyet besar itu, kau bisa mempercayakannya kepadaku untuk melatihnya.. “ Gola Ijo berkata seolah dia mengetahui semua dengan detail.


Sandu, Konga Baye dan lembu ekor api sedikit jengkel mendengarnya. Buaya? Monyet? Kerbau? Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima panggilan itu dengan muka masam.


“Sementara itu, kau fokuskan untuk memperkuat dirimu. Setidaknya, sampai minimal bab keempat. Lalu, kau boleh masuk kembali ke hutan ini…” Sambungnya.


Gola Ijo segera melakukan sebuah gerakan kecil. Dan tiga sinar berwarna hijau, merah dan ungu melesat dari bahu Gentayu, lalu berubah menjadi tiga sosok siluman.


‘Bhuzz!’


‘Bhuzz!’


‘Bhuzz!’


Mereka adalah Sandu, Konga Baye dan Lembu Ekor Api, trio siluman hasil rampasan Gentayu saat menghadapi Gandos, salah satu pimpinan pendekar aliansi aliran hitam.


“Biarkan mereka bersamaku sampai mereka lebih kuat untuk bisa melindungimu. Apa kau keberatan mereka bersamaku?” Gola Ijo seolah meminta persetujuan Gentayu.


Nyatanya, makhluk berlendir ini tidak betul-betul memerlukan persetujuan. Bahkan andai Gola Ijo memaksapun, Gentayu dan tiga siluman itu tidak akan bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


“Tuan telah mempercayakan harta yang berharga kepada hamba. Bagaimana hamba merasa pantas untuk tidak mempercayakan sekedar pelindung nyawa hamba kepada tuan?” Jawab Gentayu berdiplomasi, lalu segera memindahkan tumpukan daging pemberian Gola Ijo ke dalam gelang gerobok untuk makanan Sempati.


Daging itu jelas adalah daging siluman. Dalam daging itu bahkan bisa ditemukan empat kristal berwarna biru cerah, menandakan daging-daging itu milik empat siluman berbeda.


“Hahahahaha….!! Bagus, bagus! Kau memang memiliki bakat, anakku! Hahahaha…” Gola Ijo tertawa mendengar jawaban Gentayu, lalu melangkah pergi diikuti oleh Sandu, Konga Baye dan Lembu Ekor Api.


“Ingat pesanku, Jangan keluar sebelum menguasai bab ke empat! Waktumu seharusnya bisa lebih cepat dari setahun yang kubutuhkan!” Suara Gola Ijo jelas terdengar, sementara tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2