JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pertarungan di Puncak Air Terjun Ke Tiga


__ADS_3

Padepokan Lentera Langit menghilang begitu saja ketika istana diserbu oleh kekuatan aliansi aliran hitam.


Padepokan ini termasuk padepokan penting bagi kerajaan. Hampir seluruh pangeran dari trah kakek buyut keluarga Prabu Menang mendalami kepandaian bela diri mereka dari padepokan ini.


Terakhir, pangeran Lokajaya yang merupakan putra mahkota juga belajar di tempat ini sebelum dijemput oleh Benduriang. Tak lama kemudian, padepokan ini menghilang tanpa kabar.


Tak begitu jelas, apakah padepokan itu telah dimusnahkan seperti padepokan pendukung raja yang lain ataukah bersembunyi seperti sekte Naga Merah.


Sampai suatu ketika sebelum aliansi aliran putih Bintang Harapan terbentuk, terdengar kabar bahwa padepokan itu belum musnah. Mereka bersembunyi dan menutup diri dari dunia luar. Keberadaan mereka tak terlacak.


Kenyataannya, padepokan tersebut ternyata memindahkan lokasi padepokannya sekaligus menyamarkan diri. Bukan sebagai padepokan, namun sebagai sebuah kelompok usaha dagang besar.


Mereka mendirikan ‘rumah herbal’. Sebuah aliansi dagang yang menyediakan berbagai tanaman berkhasiat dan obat yang dibutuhkan para pendekar.


Padepokan Lentera Langit memang termasuk padepokan yang paling kaya saat ini dibandingkan padepokan aliran putih lain. Keberadaan para bangsawan yang menjadi bagian dari padepokan tersebut adalah alasan mengapa padepokan itu menjadi yang terkaya. Bisa dikatakan, padepokan tersebut adalah padepokan kalangan ningrat atau kelas menengah ke atas.


Mereka tidak mendirikan markas utama di perkotaan layaknya sebuah usaha dagang. Namun justru membangun markas mereka di tempat terpencil. Alasannya karena lebih dekat dengan bahan baku. Mereka hanya membangun cabang-cabang kecil sebagai perwakilan penjualan di perkotaan.


Namun hari itu, saat para pimpinan cabang sedang berkumpul di markas utama, tanah tempat mereka berpijak terasa bergetar.


“Apa ini? Gempa??” kata salah satu kepala cabang yang hadir.


“Bukan. Ini jelas bukan gempa. Gempa tidak seperti ini. Getarannya semakin kuat dan kian terasa!” Kata yang lainnya.


“Ganto! Cepat periksa apa yang terjadi! Gunakan cermin sakti!” Perintah sang guru, Ki Sabrang Giri kepada salah satu pemimpin cabang.


Setiap pemimpin cabang adalah pendekar sakti sehingga bisa menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh cermin sakti untuk melihat dunia dalam radius hingga maksimal 25 kilometer persegi.


Namun, belum lama pemimpin cabang itu beranjak, tiba-tiba terdengar ledakan..


‘BHUM!’


Disusul dengan ledakan-ledakan berikutnya.


‘BHUM!’

__ADS_1


‘BHUM!’


‘BHUM!’


“Apalagi itu? Suaranya dari arah Air terjun!”


Salah satu sesepuh wanita yang mengurusi persediaan dan gudang berseru.


“Apakah air terjun itu runtuh??” tanya pemimpin yang menangani urusan pengiriman.


“Baiklah! Kita periksa ke sana! Dua dari kalian harus menjaga tempat ini. Yang lain ikut aku!” Seru Ki Sabrang Giri, sang Guru Besar segera melesat diikuti oleh sebelas orang lainnya.


+++ +++ +++ +++ ++++


Di atas puncak salah satu tebing lembah tujuh curup, pada air terjun ke tiga.


Gentayu sedang disibukkan oleh semburan-semburan api dari para Kadal. Sekalipun api mereka tidak mampu membakar Gentayu berkat penguasaan Perisai Naga Api-nya yang semakin sempurna, namun api yang terkadang membungkusnya sangat menghambat pergerakannya.


Ketika sepuluh pimpinan Sekte Naga Merah datang, Gentayu telah berhasil menghabisi sebelas ekor di antaranya.


Secara alami, kadal sangat takut dengan api. Namun di sini, api adalah bagian dari nafas para kadal sendiri. Mana mungkin menakuti kadal yang nafasnya menyemburkan api dengan api?


“Mereka ini adalah bagian dari kelompok Sembilan Iblis Darah dari pulau Padi Perak! Mereka pasti datang karena hendak merebut kembali segel iblis yang berhasil diambil oleh tim mendiang tetua Shou waktu itu. Tak kusangka mereka bisa menemukan kita di sini!” Matriark Lim mencerna situasi dihadapannya.


Mampu menemukan lokasi mereka yang tersembunyi, bahkan dengan identitas yang sudah disamarkan sungguh suatu kemampuan hebat tersendiri. Menunjukkan betapa berbahayanya kekuatan kelompok ini.


Wajah sembilan tetua, terutama tiga tetua baru pengganti tim tetua Shou yang tewas saat misi mereka ke pulau Padi Perak menjadi lebih tegang setelah mendengar nama kelompok itu.


Mereka menyadari bahwa kadal api hanyalah salah satu dari sembilan faksi yang ada dalam kelompok tersebut. Berarti, kemungkinan akan ada gelombang berikutnya andaipun para kadal ini berhasil dikalahkan.


Begitulah analisa mereka semua.


“Terserah apapun itu! Kita harus mengusir penyerang dan melindungi tempat tinggal kita! Penyembah iblis itu harus dikalahkan bagaimanapun caranya! Atau, bumi ini berubah menjadi neraka di tangan mereka!” Matriark Lim berseru sebelum melompat terjun ke kancah pertarungan.


Matriark Lim mengingatkan para tetua agar jangan sampai terkena semburan api dari makhluk-makhluk melata tersebut.

__ADS_1


Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menyerang bagian kepala kadal tersebut segera setelah mereka menyemburkan apinya. Kadal-kadal itu akan membutuhkan jeda beberapa saat sebelum dapat kembali menyemburkan apinya yang super panas itu.


“Ingat! Serang bagian moncong dan kepala bagian atas! Seperti yang dilakukan Gentayu!” Perintah Matriark Lim sebelum mereka memulai pertarungan.


Sembilan tetua sekte mengikuti matriark mereka. Mereka menyebar ke seluruh medan pertempuran. Bergerombol melawan musuh yang mampu menyemburkan api jelas bukan ide yang bijak. Terlebih api yang dihasilkan dari semburan para kadal tersebut jauh lebih panas dari api alami biasa.


Mereka bersepuluh terlihat melenting ke sana kemari. Terkadang bertukar posisi dengan rekan-rekannya yang lain saat menghindari semburan api para kadal. Mereka mengikuti petunjuk Matriark Lim, untuk menyerang dan fokus dengan bagian kepala dan moncong mereka saja.


Tetua bernama Ching Yue, baru saja berhasil menebaskan kapaknya pada moncong salah satu kadal yang dijadikan target serangannya.


Pada saat yang sama, dua ekor kadal di belakang dan samping kanannya menyemburkan api secara bersamaan.


Tetua Ching Yue yang gendut itu segera bersalto di udara menghindari dua semburan sambil mencabut kapaknya dari moncong kadal.


Sebuah lubang luka yang dalam terlihat menganga pada bagian depan moncong kadal yang diserangnya. Darah kadal itu menyembur seperti air mancur dan mengenai penunggang kadal lainnya yang sedang bertarung melawan tetua perempuan lainnya, Yin Xui.


Yin Xui terpaksa harus meladeni serangan dari penunggang kadal tersebut karena dua kali upayanya menundukkan hewan itu dihalangi oleh penunggangnya dengan anak panah.


Karena mengancam nyawanya, maka serangannya kini diarahkannya pada penunggangnya yang hanya berada pada level pendekar Ahli tersebut.


Yin Xui yang tidak terbiasa bertarung di atas tubuh kadal agak kewalahan menghadapi lawannya. Walaupun dalam kondisi normal sebenarnya lelaki penunggang kadal itu bisa dengan mudah dikalahkan.


Sang penunggang kadal kehilangan kendali atas kadalnya setelah terkena semburan darah dari kadal di sampingnya. Saat itulah Yin Xui menebaskan pedang kembarnya ke leher lelaki tersebut, mengantarkannya menuju kematian.


Begitu tuannya tewas, Kadal tersebut menjadi liar dan berlari ke sana kemari sambil menyemburkan apinya secara membabi buta.


Tanpa pengendali di punggungnya lagi, kadal itu memang tidak mungkin diarahkan. Dua orang pengendali kadal lainnya tewas terpanggang semburan apinya saat kadal liar itu mengamuk di tengah pertempuran.


Begitu juga dengan kadal mereka. Tubuh mereka seketika hangus terbakar menjadi abu.


Kadal yang menjadi liar itu baru tenang Kembali setelah penunggang kadal lain yang telah kehilangan tunggangannya mengendalikan kadal itu lagi. Namun, penunggang baru itupun tewas tidak lama kemudian.


Sebuah pisau terbang menembus batang lehernya. Dua orang gadis lainnya muncul di tengah pertempuran.


Mereka jelas bukan bagian dari Sekte Naga Merah atau Tujuh Tirai.

__ADS_1


__ADS_2