JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana III


__ADS_3

‘Karang Setan’ mendapatkan julukannya bukanlah tanpa alasan. Dia dipercaya sebagai pendekar terkuat sekaligus tertua di tataran Dipantara saat ini. Maka, jelas saja tak mungkin pendekar legendaris dari aliran hitam ini bisa dikalahkan begitu saja dengan mudah.


Ketika rantai yang membelitnya mulai memancarkan cahaya keemasan, saat itulah cahaya putih keuanguan dari tubuh Karang Setan terlihat semakin lama semakin terang bercahaya. Dan dengan sekali gebrak, rantai itu hancur tercerai berai berjatuhan ke bawah.


Tidak berhenti sampai di sana, setelah rantai yang membelitnya berhasil dihancurkan, secepat kilat tangan Karang Setan bergerak menangkap celurit kembar yang terus menerus menyerangnya dan telah berhasil menggores beberapa bagian tubuhnya.


‘ZAP!’


Kedua celurit kembar kini telah berada di tangannya. Dengan gerakan nyaris tak terlihat, salah satu celurit dilemparkan kembali ke arah pendekar Lengan Seribu dan satu lagi dilesatkan ke arah Pendekar Tiung Perak.


Pendekar Lengan Seribu dengan gesit menghindari senjatanya yang kini berbalik melesat ke arahnya. Selama kurang lebih dua detik, dirinya kehilangan kendali atas kedua senjatanya. Beruntung, antisipasi dari Pendekar Lengan Seribu cukup akurat. Celurit itu melesat melewati area pinggangnya dan terus melesat ke bawah, menancap pada tanah kering.


Sebaliknya, Pendekar Tiung Emas sedikit kerepotan menghindari celurit yang tiba-tiba berdesing menyasar ke arahnya. Nyaris saja lehernya terpenggal andaikan celurit itu tidak membentur serpihan rantai yang berhamburan sehingga membelokkan sedikit arahnya, melewati bagian depan leher dan hanya berjarak setipis rambut untuk nyawanya tercabut.


Saat itulah, Tungkal Anom atau Pendekar Indung Imau melayangkan tinju terbangnya ke arah wajah Karang Setan.


‘BHUM!’


Pukulan tangannya berhasil mengenai tepat di wajah bagian depan Karang Setan. Karena kuatnya pukulan tersebut, tubuh Karang Setan terbanting cukup keras menghunjam ke tanah.


‘GEDEBUG!’


Debu berhamburan ke udara saat tubuh Karang Setan jatuh terhempas menabrak tanah.


Tubuh Pendekar legendaris itu bahkan melesak beberapa sentimeter dari permukaan tanah.


Sebuah bola api melesat menghajar permukaan tanah di mana tubuh Karang Setan berada.


‘BAM!!’


Bola api itu memperlebar cekungan tanah berbentuk tubuh Karang Setan yang tercetak jelas. Menghanguskan dan meninggalkan bekas gosong di permukaan tanah itu.


Namun Karang Setan sudah tidak berada di tempatnya lagi. Dia menghilang.


‘BHAMM!!’

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah ledakan besar lain terdengar. Bola api yang meledak di udara membentuk seperti cendawan raksasa. Ledakan kali ini diiringi dengan gelombang kejut dahsyat dan berhasil menghempaskan keempat lawan Karang Setan ke berbagai arah.


Ledakan itu bahkan terdengar hingga keluar benteng kerajaan.


“Hahahahahahahahahahaha.....!!!”


Terdengar tawa keras Karang Setan yang kini telah berdiri di angkasa, tepat pada bekas ledakan yang dibuatnya dan masih menyisakan cahaya terang di langit malam.


Bagaimana bisa? Bukankah lelaki itu seharusnya sedetik lalu masih berada di permukaan tanah? Kini tiba-tiba telah berada di angkasa kembali. Bukan saja sekedar berada di angkasa, namun juga membuat musuh-musuhnya terlempar cukup jauh.


+++++++++++


Pertarungan tak kalah sengit juga terjadi di istana raja dan keputren (Komplek berdiamnya ratu dan keluarga raja, termasuk para selir).


Istana raja itu ternyata dijaga ketat oleh para pendekar sakti aliran hitam yang tersisa. Tak tanggung-tanggung, Ki Lipan Raja, Nyi Mawar Arum dan Bratakala langsung turun tangan menghadang para pendekar dari regu merpati. Regu merpati datang dengan tugas untuk menculik atau membunuh Tulung Selangit, raja berkuasa saat ini.


Dengan terbunuhnya Tulung Selangit, maka keabsahan kepemimpinan kerajaan oleh para Pendekar aliran hitam akan banyak mendapat penentangan dari rakyat secara langsung.


Bagaimanapun, dalam budaya feodal para raja-raja, seorang raja wajib memiliki garis keturunan atau trah dari raja-raja sebelumnya. Begitulah kepercayaan dan keyakinan rakyat selama ini.


Ada sembilan orang yang ditugaskan dalam misi di komplek utama istana raja ini.


Ketika melihat seratusan prajurit mengepung mereka, salah satu orang di antara sembilan orang itu maju untuk menghabisi para prajurit ‘wiraraja’ itu.


"Biar aku saja yang menghadapi celurut-celurut ini. Kalian, lanjutkan saja sesuai rencana.." kata Pendekar tersebut sambil tersenyum dari balik penutup wajahnya.


Dia segera melompat ke arah para prajurit yang menghadang.


Para prajurit itu merangsek dan menyerang anggota aliansi Bintang Harapan tersebut. Tentu saja kepercayaan diri pendekar itu berhadapan dengan seratusan prajurit seorang diri bukan tanpa sebab.


Seratus orang prajurit tersebut hanya setara pendekar tingkat 2 saja. Maka seharusnya, hanya dibutuhkan satu orang pendekar saja untuk menghadapinya. Delapan lainnya harus mengeroyok tiga guru besar aliran hitam yang tinggal karena tidak mau berperang.


“Sial! Bukankah seharusnya aku bersantai-santai sejenak saat Mpu Jangger dan pasukannya keluar seperti ini?” Gerutu Brata Kala sebelum terjun dan terlibat pertempuran.


Brata Kala adalah guru besar kelompok Kala Merah. Keahliannya adalah ilmu racun dan pengendalian serangga beracun. Lawan yang dihadapi ternyata adalah pendekar tangguh yang terkenal sangat merepotkan kelompok aliran Hitam selama ini.

__ADS_1


Dia adalah Maheswara, sang pendekar Seruling Emas dan Burangrang, pendekar Pedang Samudra.


Brata Kala terlihat beberapa kali berdecak kesal karena senjata-senjatanya yang seharusnya sangat mematikan dimentahkan begitu saja oleh kedua lawannya.


Maheswara, bahkan hanya dengan siulan anehnya mampu mengacaukan pasukan kalajengkin yang hendak digunakan menyerang mereka.


Alih-alih menyerang Maheswara dan Burangrang, kala jengking itu justru bergerak liar dan membunuh beberapa pendekar aliran hitam di sekitarnya yang tak menyadari datangnya para kalajengking beracun itu.


Sontak, begitu terkena sengatannya, tubuh puluhan pendekar aliran hitam dan beberapa prajurit pilihan yang berjaga di depan pintu utama istana kelojotan. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, mereka semua tewas dengan mulut berbusa dan tubuh melepuh. Lalu tubuh mereka membusuk dalam hitungan detik berikutnya. Meninggalkan ngeri di hati para prajurit lainnya yang menyaksikan rekannya tewas dengan tragis.


Tidak sampai di sana, saat berniat mengeluarkan lebah beracunnya, Brata Kala terpaksa harus membuang pusakanya tanpa sadar.


Lebah-lebah yang semula menjadi senjatanya justru berbalik menyerang pemiliknya setelah siulan panjang dari Maheswara.


Brata Kala menjadi kalang kabut dibuatnya. Lebah-lebah beracun tersebut jika ada satu saja berhasil menyentuhkan sengatnya pada kulit mangsa, maka bisa dipastikan bagian kulit yang tersengat akan mati rasa dan tidak bisa bergerak saat itu juga. Esoknya, kulit yang tersengat pasti akan membusuk dan pembusukan akan terus menyebar sebelum korbannya meninggal dunia.


Brata kala terlihat berlari lintang pukang menghindari kejaran para lebah yang menyerangnya.


Sebabnya adalah dirinya terlupa membawa anti racun olahannya sendiri. Seharusnya, dengan anti racun tersebut, racun dari lebah dan kalajengking tidak akan berpengaruh apapun.


‘Sial! Sial! Kenapa aku lupa membawanya dari padepokan?? Sontoloyo! Ampuun...’ Teriak Brata kala dalam hati seraya berlalri cepat dan menceburkan dirinya ke dalam komplek pemandian keputren.


Tentu saja dalam kondisi normal, siapapun yang melakukan hal itu harus dipenggal. Karena Keputren adalah tempat sakral yang cuma boleh dimasuki raja dan keluarganya saja berikut dayang-dayang.


Nyatanya, setelah beberapa lama menyelam di dalam kolam pemandian keputren itu, lebah ganas tersebut tidak juga sudi beranjak dari tempat itu. Mereka menunggu di atas permukaan kolam. Berdengung dan bergerombol.


Untunglah salah satu murid Brata Kala memberikan bantuan dengan menyalakan api dan asap tebal yang mengusir para lebah.


‘Hufh! Hampir saja..” gumam pendekar pengabdi iblis tersebut .


Namun, hati Brata Kala merasa kesal dan terhina. Harga dirinya serasa hancur saat itu. Bagaimana seorang guru besar justru berlari dikejar senjatanya sendiri? Namun, semua kemarahan tersebut ditelannya. Meskipun ingin rasanya dia lampiaskan kemarahan tersebut pada sosok Maheswara.


"Tunggu kau! akan kuremas-remas tubuhmu menjadi kecil dan kujadikan makanan para kalejngkingku!" Seru brata Kala dengan murka.


"Bagaimana kau bisa meremas tubuhku menjadi kecil sementara mengatasi sengatan seperti inipun tak bisa.." terdengar suara Maheswara di belakang telinganya.

__ADS_1


Menyusul kemudian rasa sakit di tengkuk akibat gigitan seekor kalajengking..


__ADS_2