JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Menghimpun Kekuatan II


__ADS_3

Kota Bandar Agung cukup ramai sebagaimana biasanya. Yang membedakannya adalah hari itu para pekerja sebuah penginapan bernama Teratai biru Nampak sangat sibuk. Kamar penginapan mereka yang berjumlah kurang dari tiga puluh kamar itu tidak biasanya terpesan habis. 


“Sepertinya, hari ini banyak orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru ke kota ini ya, bang?” bertanya seorang pencari kayu bakar yang keheranan kepada rekannya. kayu bakar yang dipesan kepada mereka dari rumah makan di seberang penginapan Teratai biru ini bahkan meningkat tiga kali lipat dari hari biasa.


“Benar dik. Sepertinya begitu..” rekannya menjawab singkat sambal meneruskan pekerjaannya menyiangi ikan siap bakar di tepi dapur rumah makan itu.


Hari itu memang hari yang disepakati untuk dilakukannya pertemuan. Meskipun pertemuan ini bersifat rahasia, namun kehadiran sekitar seratus orang asing di sebuah kota kecil seperti Bandar Agung ini tentu saja tetap akan disadari oleh beberapa orang. 


Tuan rumah dari pertemuan tersebut sebenarnya adalah Pendekar Indung Imau, julukan bagi guru besar perguruan Imau Gading. Indung Imau berarti induk harimau, karena perguruan ini dianggap telah melahirkan banyak harimau-harimau muda dunia persilatan. Pendekar Indung Imau bersedia menjadi tuan rumah karena mulai gerah dengan sepak terjang para prajurit Lamahtang yang akhir-akhir ini semakin meresahkan di wilayah sekitar kota Bandar Agung.


“Wajar saja mereka berbuat ulah dan meresahkan masyarakat. Menindas bukannya melindungi. Mereka tak lain adalah para perampok dan penjahat yang berseragam! Sekali perampok tetaplah rampok sekalipun berseragam!” itulah kalimat yang diucapkan oleh sang Guru Besar sebagai sambutan dihadapan sekitar seratus orang pendekar yang sedang berkumpul di aula padepokannya.


“Maafkan kami, jika tidak mampu menyambut para pendekar sekalian dengan layak. Semata-mata karena keterbatasan tempat yang kami miliki” ucapnya kemudian mengakhiri sambutan yang berapi-api dan membakar semangat para pendekar tersebut.


“Tuan-tuan sekalian.. kita berkumpul hari ini adalah dalam rangka menyatukan kekuatan kita. Musuh kita sama. Musuh kita jelas. Mari kita kesampingkan dahulu kepentingan kita dalam rangka menghadapi musuh yang sama ini. Tentu kita sepakat bahwa, kelompok aliran hitam ini sangat membahayakan bagi masa depan negeri ini! Masa depan anak dan cucu kita!” Kalimat berapi-api ini diucapkan oleh Benduriang yang memang terkenal jago bicara. 


Panjang lebar mantan senopati ini berbicara. Namun, setiap ucapannya selalu saja mewakili apa yang dirasakan setiap pendekar yang hadir. Tidak ada yang membantah. Setiap kalimat yang diucapkannya mampu membakar dada setiap pendengarnya untuk bergerak melakukan perlawanan.


“Sebuah kelompok tanpa pemimpin disebut gerombolan. Dan gerombolan tidak akan menghasilkan apapun yang berarti selain jumlah mereka yang banyak! Tentu kita bukan sekedar Gerombolan. Kita ingin agar dari pertemuan kita hari ini, kita bisa bergerak secara efektif! Kawanan kerbau itu sebenarnya lebih kuat dari seekor harimau, tapi sekawanan kerbau selalu dikalahkan hanya oleh seekor harimau karena kerbau hanya bergerak sendiri dan tidak terorganisir!” Kata-kata Benduriang kali ini serasa menampar wajah mereka yang hadir.


Bagaimana selama ini mereka seolah hanya diam tidak peduli saat satu persatu kelompok aliran putih dihancurkan.

__ADS_1


Bagaimana kemudian kini bahaya yang sama  telah dan sedang mereka alami. Mereka setuju, bahwa sikap egois mereka selama inilah salah satu penyebab makin kuatnya kelompok aliran hitam!


Ternyata tanpa sadar, mereka juga memiliki andil dalam kehancuran negeri  mereka ini oleh ulah kelompok aliran hitam. 


“Untuk itu, kita embutuhkan seorang pemimpin untuk meyatukan kita!” Kalimat tersebut mengakhiri pidato Panjang Benduriang sebelum pria itu Kembali duduk di tempatnya. 


Suara riuh segera memenuhi aula yang terbuat dari anyaman bambu dengan atap dari daun rumbia tersebut. Mereka semua sepakat dengan pernyataan Benduriang, namun kesulitan untuk menentukan pemimpin yang tepat. 


Beberapa nama sempat muncul, termasuk Benduriang dan Rambang Dangku serta ki geringsing sendiri. Namun, ki Geringsing merasa tidak pantas sehingga mengundurkan diri.


Rambang Dangkupun mengundurkan diri dari pencalonan karena menyadari bahwa ketidakcakapannya sebagai Mahapatih memiliki andil dalam jatuhnya kerajaan ke tangan aliansi aliran hitam, sekalipun hal ini tidaklah benar. Benduriang tentu tidak berani mengintervensi keputusan mantan pemimpinnya itu. Bahkan, mantan Mahapatih itu mengancam Benduriang agar tidak ikut-ikutan mundur dari pencalonan sebagai ketua aliansi.


“Aku memiliki ide. Bagaimana kalau kepemimpinan aliansi ini kita serahkan saja kepada Pendekar Indung Imau atau Ki Tungkal Anom? Beliau yang terkuat, dan menurutku kita semua mengakui kepemimpinan beliau atas perguruan ini saja sudah lebih dari cukup sebagai bukti kemampuannya..” Berkata seorang sesepuh di tengah hadirin. Dia adalah seorang pendekar kelana berjuluk Rubah Emas.


“Aih.. aku sudah terlalu tua untuk jadi pemimpin, sebaiknya yang muda sajalah!..” Tungkal Anom menolak.


“Saya mewakili kaum muda, menyerahkan mandat kami kaum muda kepada Ki tungkal Anom!” Berkata seorang pendekar muda dari sudut yang lain. “Yang tidak setuju, silakan berdiri..” lanjutnya. Tidak ada pendekar muda yang berdiri.


Suara riuh kembali memenuhi ruangan sebelum kemudian mereka serentak menyebut-nyebut  nama Indung Imau berkali-kali di ruangan tersebut. Tepatnya mengelu-elukannya.


Akhirnya, dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa ki Tungkal Anom atau Pendekar Indung Imau sebagai Pemimpin aliansi Pendekar aliran Putih. Kelompok baru itu menamai diri sebagai kelompok ‘Bintang Harapan’.

__ADS_1


Kelompok Bintang Harapan yang sekarang diketuai oleh Pendekar Indung Imau atau Tungkal Anom resmi terbentuk hari itu. Beberapa pendekar hebat terpilih untuk mengepalai bagian-bagian atau divisi-divisi dengan tugas khusus. Selebihnya, mereka menjadi anggota dari divisi dan bagian yang dibentuk tersebut.


Setidaknya, Bintang Harapan kini terbagi dalam lima bagian atau divisi dengan tugas khusus. Sekalipun kesemua divisi itu memiliki misi tempur, namun pembagiannya menjadi lima bagian itu tidak lain agar mereka bekerja secara terfokus dan efisien.


Benduriang, sang mantan Senopati yang selalu berurusan dengan dunia intelijen dipercaya mengepalai divisi Informasi. Mereka terdiri dari para pendekar muda. Sekalipun muda, tetap saja mereka termasuk dalam level pendekar-pendekar sakti sehingga kemampuan mereka dalam bergerak tidak perlu diragukan lagi.


Tugas utama mereka adalah mengumpulkan informasi penting yang dibutuhkan aliansi serta menjadi penghubung antar divisi atau bagian. Jumlah pendekar yang tergabung dalam divisi ini adalah 27 orang dan 16 di antaranya adalah pendekar wanita. Karenanya, divisi ini menamai diri dengan sebutan Regu Merpati.


Untuk tugas melemahkan kekuatan ekonomi aliran hitam, bahkan kekuatan ekonomi istana kerajaan secara umum maka dibentuklah divisi ekonomi yang dinamai Regu Pemetik.


Tugas utama regu Pemetik adalah merebut dan melumpuhkan jalur-jalur ekonomi istana atau aliansi aliran hitam. Beberapa tambang emas, jalur perdagangan, serta para petugas penarik upeti dan pajak adalah sasaran utama operasi Regu Pemetik ini. Selain itu, mereka juga bertugas membantu rakyat mengatasi kemiskinan dan kelaparan dengan dana yang berhasil mereka kumpulkan dari aksi mereka nantinya. Tugas ini kemudian dipercayakan kepada Rambang Dangku, sang mantan Mahapatih Kerajaan untuk mengurusinya.


Rambang Dangku menerima dengan senang hati tugas ini. Baginya, ini adalah kesempatan berbuat yang terbaik secara langsung kepada rakyat Lamahtang. Dulu saat menjabat sebagai Mahapatih, Rambang Dangku sebenarnya cukup perhatian dan peduli dengan nasib rakyat jelata di wilayah Lamahtang. Sayangnya, dia harus bergerak sendiri menjadi induk semang bagi beberapa desa. Usulannya membentuk semacam kementerian khusus yang menangani kemiskinan ditolak oleh Pangeran Ketiga yang saat itu belum sama sekali menunjukkan gejala hendak memberontak. Dengan tugas baru ini, Dangku berharap akan banyak hal bisa dilakukannya.


Dibentuk pula dalam aliansi tersebut satu divisi khusus menangani masalah kesehatan. Divisi itu bertugas merawat dan mengobati para pendekar yang terluka dalam tugas, membuat bermacam obat serta menetralisir racun yang banyak digunakan oleh aliansi aliran hitam untuk menekan desa-desa dan menindasnya untuk kepentingan mereka.


Mereka menamai kelompok kecil ini dengan nama Regu Bunga Murni, sesuai nama Pendekar pemimpin regunya. Bunga Murni adalah seorang tabib perempuan sakti. Dalam regunya, hanya ada enam orang saja sebagai anggota. Seluruhnya kebetulan para pendekar tabib wanita berasal dari berbagai penjuru. Salah satunya adalah istri mendiang tabib Mo You.


Tak lupa, untuk memperbesar organisasi sekaligus menjaga estafet perjuangan mereka, dibentuk pula sebuah divisi yang menangani perekrutan dan pelatihan bagi anggotanya. Divisi ini dipercayakan kepengurusannya oleh para pendekar perguruan Imau Gading. Tidak memiliki nama, dan tidak memiliki ketua sebagai penanggungjawab. Setiap anggota divisi lain memang bertanggungjawab secara tidak langsung untuk merekrut anggota baru dengan syarat ketat, di antaranya adalah harus berada pada level di atas Pendekar Madya.


Regu terakhir disebut regu Sapu Jagat. Tugasnya adalah membantu seluruh divisi yang membutuhkan bantuan. Selain itu, tugas utamanya adalah membersihkan desa-desa terdekat dari kelompok aliran hitam anggota aliansi. Berisi para pendekar senior dan kenamaan semisal Pedang Hantu dan Pendekar Rubah Emas. Ki Geringsing sendiri juga merupakan anggota dari regu Sapu Jagat ini.

__ADS_1


Usai pertemuan, mereka kemudian berikrar setia untuk saling melindungi, saling menjaga, dan senantiasa berpihak pada kebenaran dan keadilan serta selalu memperjuangkan kepentingan rakyat sebagai jalan pendekar. Ikrar tersebut diikuti dengan hikmat oleh seluruh pendekar yang hadir. Bahkan langit seolah merestui mereka dengan memperdengarkan gelegar guntur yang mengiringi hujan deras seusai ikrar diucapkan.


Hari itu, sebuah harapan baru kembali muncul di benak para pendekar. Bahwa mereka mampu mengatasi kemelut dan bencana akibat berkuasanya aliran hitam.


__ADS_2