JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Ular Hitam dan Garuda


__ADS_3

Di dalam rerimbunan semak, terlihat jelas pergerakan kasar dari dua ekor hewan yang tengah bertarung. Seekor ular hitam dengan besar tubuh seukuran separuh tubuh orang dewasa dan panjang lebih dari enam meter tengah berusaha memangsa seekor hewan berparuh.


Hewan yang tengah diincar sang ular adalah burung yang belum tumbuh bulunya. Sepertinya, itu adalah anakan burung yang belum lama menetas. Namun, dilihat dari ukurannya saat ini yang sudah sebesar kepala orang dewasa, jelas bahwa anakan burung itu adalah keturunan dari jenis burung raksasa.


Gentayu menonton adegan pertarungan tersebut dengan antusias.


Anakan burung tanpa bulu itu tampak jelas kewalahan menghadapi serangan dari sang ular hitam. Tapi, poin menariknya bagi gentayu adalah bahwa burung yang terlihat seperti baru menetas itu sanggup mengimbangi sang ular besar itu di usianya yang baru beberapa hari, sekalipun akhirnya pihak yang menang dan kalah semakin jeas terlihat.


Pada saat kritis, ketika sang ular berhasil membelit tubuh si burung dan siap menjadikannya makan malam, Gentayu melesat dan menghantam kepala ular besar itu dengan pukulan energinya.


Itu adalah jenis serangan dasar paling sederhana menggunakan energi dewa atau dath. Sejauh ini, di tingkat 1 level pendekar bumi memang hanya mampu menggunakan energi dath itu apa adanya secara langsung.


Pukulan Gentayu sebenarnya cukup kuat untuk membunuh seorang pendekar sakti seketika itu juga. Namun ular besar hitam itu hanya terpelanting beberapa meter, sebelum dengan beringas berbalik untuk menyerang Gentayu. Anakan burung yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya berhasil bebas meskipun untuk beberapa lama tidak mampu bergerak.


Gentayu memilih mencabut pedang satam. Dia ingin melihat, sedahsyat apa kekuatan pedang itu ketika dipegang oleh seorang Pendekar Bumi. Yang jelas, kekuatan pedang tersebut terus bertambah seiring peningkatan kekuatannya selama ini.


Gentayu menyambut serangan ular hitam besar itu dengan bergerak maju. Ular itu sendiri kini dalam posisi seolah terbang dengan meliuk-liukkan tubuh membentuk pola dua kali hurup ‘S’ di udara.

__ADS_1


‘CraSh!’


‘Whossss!’


‘Trank!’


Gentayu menyabetkan pedang ke arah kepala si ular. Tapi nahas, pada saat yang sama ular itu ternyata menyemburkan api hitam ke arah wajahnya.


Sontak Gentayu membanting tubuhnya ke samping beberapa kali guna menghindari api panas tersebut. Api hitam langsung membuat segala sesuatu yang terkena semburannya berubah menjadi abu.


Sedangkan Tebasan Gentayu barusan, sekalipun tidak selesai dengan sempurna nyatanya berhasil mengenai tubuh si uar. Suara dentingan seperti dua logam bertemu terdengar saat tebasan itu mengenai bagian kepala si ular.


“Kali ini, kau akan jadi makan malamku...!”teriak Gentayu sembari menyongsong si ular dengan pedang satamnya.


Si ular lagi-lagi tak terpengaruh dengan kilatan energi pedang satam. Bahkan, ketika pedang itu menyentuh bagian kulit kepala sang ular, pedang itu seolah mengeluarkan bunyi retakan.


“Apa?? Pedangku... retak??” Gentayu memandangi bilah pedangnya. Serasa tak percaya, pedang andalan kesayangannya retak saat digunakan menebas kepala ular lawannya ini.

__ADS_1


Nyaris tak mempedulikan si ular yang kembali menyerangnya, Gentayu justru masih sibuk memandangi pedangnya yang terlihat menyedihkan.


Ketika jarak mereka semakin dekat, ular itu membuka mulutnya lebar-lebar dan memamerkan deretan gigi-gigi tajamnya, bersiap memangsa Gentayu. Saat itulah, selarik sinar putih kebiruan menyambar kepala sang ular.


‘CROSSSSHH...!’


Kepala ular itu hancur seketika dan tubuhnya terlempar ratusan meter.


“Jangan biarkan perasaanmu mengambil alih konsentrasimu saat bertarung.. atau kau harus menukarnya dengan nyawamu!” Suara serak terdengar di belakang tubuh Gentayu. Nadanya seperti marah.


Suara itu adalah milik Gola Ijo, si Ibis gagal berwarna hijau berlendir.


Ketika suara Gola Ijo terdengar, anakan burung yang semula ditolong Gentayu melompat ke bahu Gentayu. Entah karena ketakutan atau hal lainnya, namun keanehan menimpa Gentayu.


Dia seakan terhubung dengan anakan burung itu. Dia bahkan tiba-tiba bisa memahami kehendak burung itu. Malah saat ini, burung itu berkata padanya untuk berhati-hati menghadapi monster hijau yang baru datang tersebut.


“Burung itu memilihmu menjadi tuannya. Bagus! Padahal selama ini, belum terdengar ada garuda yang mau jadi hewan kontrak manusia..” Gola Ijo kini memperhatikan dengan seksama si anakan burung di bahu Gentayu.

__ADS_1


“Garuda? Hewan Kontrak?” kata Gentayu memastikan.


“Benar. Jangan bilang kau baru mendengar istilah hewan kontrak..” Gola Ijo berdiri bermaksud meninggalkan Gentayu. Tapi diurungkanya niat tersebut saat mendengar Gentayu seolah benar-benar baru mengetahui fakta dan seluk beluk dunia para danyang ini.


__ADS_2