JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Telegu Merah dan Rumah Pohon


__ADS_3

“Hmm.. kemana mereka? Aku yakin tadi mendengar orang bercakap-cakap dari tempat ini. Bagaimana mereka menghilang begitu cepat? Bahkan, sisa pancaran energi merekapun tidak ada..” pemuda itu bicara pada dirinya sendiri. Matanya nanar menyapu setiap sudut hutan untuk menemukan yang dicarinya.


pemuda itu adalah murid dari Telegu Merah, sebuah kelompok aliran hitam yang menjadi penguasa atas hutan tersebut. Mereka adalah kelompok pemburu yang menjalani lelaku menuju mandiwata dengan memburu hewan-hewan danyang, lalu mengambil kristal mereka untuk meningkatkan kekuatan. Hutan itu sendiri bernama hutan Telegu karena banyaknya telegu atau sigung yang hidup di hutan itu. Jauh lebih banyak dari tempat lain. Tentu saja bukan telegu biasa.


Pemuda itu berada di level pendekar bumi tingkat 4 dari 9 tingkatan. Kedatangannya adalah atas perintah gurunya untuk menyusul adik seperguruannya yang kabur dari perguruan dengan membawa salah satu kaca pintas. Kaca pintas adalah pintu gerbang yang menghubungkan dunia ini dengan dunia di mana Gentayu dan lainnya hidup.


Saat kedatangannya di lokasi yang ditunjukkan gurunya, pemuda bernama Salidoni ini hanya menjumpai kebakaran hebat akibat kelinci yang bertarung melawan Gentayu. Salidoni segera memadamkan api itu, berharap dapat menemukan kaca pintas yang menjadi misinya, namun ternyata dirinya gagal menemukannya.


Saat memadamkan api itulah, telinganya yang tajam mendengar suara orang bercakap-cakap tak terlalu jauh dari lokasi kebakaran, namun kini pemilik suara yang diyakininya didengar dari lokasinya berdiri saat inipun tidak berhasil dijumpai.


‘Tampaknya, hari ini bukan hari keberuntunganku. Ah, sebaiknya aku kembali saja. Semoga guru tidak menghukumku lagi seperti kemarin karena gagal menemukan adik Centini’ Salidoni segera berbalik dan melentingkan tubuhnya ke udara, di antara pucuk-pucuk pepohonan. Gerakannya nyaris tak terlihat saking cepatnya. Dalam dua helaan nafas, pemuda itu sudah menghilang di balik rimbunnya pepohonan.


“Hoohhhh...!’ tiga orang yang sedari tadi menahan nafas agar tidak terendus keberadaannya oleh Saidoni akhirnya bisa kembali bernafas dengan lega.


Sebenarnya, andai terjadi bentrokan sekalipun, Anjani masih bisa mengatasi pemuda dari Telegu Merah tersebut. Namun saat ini kondisinya sedikit berbeda. Mereka belum memahami sama sekali situasi dan kondisi di dunia baru ini. Salah langkah sedikit saja, nyawa mereka bisa terancam. Untuk itulah mereka harus berupaya sedapat mungkin untuk tidak terlibat pertikaian dengan siapapun.


“Kau tahu, siapa pemuda itu, Anjani?” Gentayu segera menanyakan identitas pemuda yang memaksa mereka harus menderita sesaat karena menahan nafas itu.


“Entahlah. Aku sama sekali tidak mengenali pakaiannya...” jawab Anjani.


Gadis itu kemudian melesat ke udara, dan hinggap di pucuk daun tertinggi pohon di dekatnya. Tidak lain, tujuannya adalah menemukan jalan keluar dari hutan ini.


‘Tap!’

__ADS_1


Gadis itu telah kembali menapak tanah.


“Kita ikuti sungai kecil di depan kita. Yaah.. berharap saja kita tidak akan melewati markas kelompok aliran hitam atau sejenisnya. Kalau beruntung, kita bisa bertemu dengan perkampungan penduduk. Yang jelas, kita harus secepatnya keluar dari hutan ini sebelum malam tiba” Anjani memberikan hasil pengamatan singkatnya. Akhirnya mereka bertiga sepakat menyusuri sungai menuju hilir untuk keluar dari hutan.


Berada di hutan yang kelincinya saja mampu membuat hutan terbakar bukanlah ide yang baik. Apalagi saat malam. Sudah tentu hewan pemburu akan berkeliaran dan mengancam nyawa mereka.


Anjani memimpin perjalanan di depan, sementara Gentayu berada di belakang Hao Lim dan Anjani. Ketiganya berjalan dengan kewaspadaan tinggi. Gentayu berjalan dengan pedang kembar terhunus di kedua tangannya.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka berhasil menemukan aliran sungai yang dimaksud Anjani. Sungai itu hanyalah sungai kecil, namun airnya begitu jernih. Dasar sungai yang tertutup endapan dedaunan yang rontok terlihat jelas dari permukaan. Kendati menarik, mereka tidak bermaksud untuk menyusuri sungai dengan menceburkan diri, tetapi memilih untuk menyusuri tepian sungai saja.


Ketiganya jelas maklum, di balik tenangnya arus sungai kecil yang mungkin hanya selebar tiga depa itu, tetap memungkinkan menyimpan bahaya di dalamnya.


Mereka terus berjalan setengah berlari dengan ilmu meringankan tubuh menyusuri setiap kelokan sungai. Sesekali, mereka terpaksa harus melakukan lompatan saat melewati pertemuan arus sungai itu dengan anak sungai lain, ataupun terpaksa mendaki tebing mengandalkan ilmu meringankan tubuh mereka.


Para wanita dan anak-anak terlihat tengah beraktivitas di tepi dan tengah sungai saat ketiganya tiba. Sungai itu memang sudah jauh lebih besar di bagian lebih hilir seperti saat ini, namun airnya tetap jernih.


“Hoh..! Syukurlah, akhirnya kita bertemu dengan pemukiman penduduk. Aku sudah lelah. Butuh istirahat..” Hao Lim mengeluarkan keluhannya dan membungkuk dengan kedua lengan bertumpu pada lutut, sebelum kembali berdiri.


Ternyata, bukan hanya dirinya sendiri yang kelelahan. Stamina dan energi mereka bertiga cukup terkuras dalam perjalanan ini. Setidaknya, mereka telah menempuh perjalanan mengandalkan tenaga dalam sejauh lebih dari 15 mil tanpa istirahat untuk mencapai tempat ini.


Kehadiran mereka bertiga membuat ketakutan para wanita dan anak-anak yang tengah beraktivitas di sungai. Mereka pasti mengira bahwa ketiganya adalah orang jahat, awalnya. Namun ketika menyadari kecantikan Anjani dan Hao Lim yang sulit dicari bandingannya, juga wajah Gentayu yang cukup rupawan itu, kekhawatiran dan kecurigaan mereka segera memudar. Berganti rasa takjub.


“Permisi, ibu. Kami adalah para pengelana. Bisa berikan kami petunjuk di mana rumah kepala desa di sini? Tenang.. kami bukan orang jahat. Kami hanya bermaksud untuk menginap barang semalam di desa ini, tentu saja setelah diizinkan kepala desa..” Gentayu bertindak sebagai juru bicara, menanyakan kepada seorang ibu yang tengah memandikan anak-anaknya di sungai itu.

__ADS_1


Sang Ibu yang awalnya menampakkan wajah sedikit cemas kemudian mencoba tersenyum, lalu menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki yang disebut kepala desa.


“Kami memiliki kepala dusun, yang kami sebut dengan sebutan kepala rombong. Rumahnya, ada di bagian atas, rumah yang paling besar..” Perempuan itu menjelaskan sembari tangannya menunjuk ke suatu arah, pada bagian atas.


Gentayu mengikuti arah telunjuk perempuan tersebut, dan menemukan bahwa rumah yang dimaksud oleh perempuan itu ternyata berada di atas pohon. Gentayu tak menyadari sebelumnya, karena bentuk rumah-rumah itu nyaris tertututp rimbunnya daun.


Gentayu berpamitan setelah mengucapkan terimakasih, lalu ketiganya melanjutkan perjalanan. Mereka menyusuri jalan setapak menuju ke bagian atas dari tepian sungai. Akhirnya, mereka menemukan jalan setapak itu bercabang-cabang. Masing-masing berakhir pada rumah-rumah pohon.


“Kemana para lelaki di kampung ini, ya?” Gentayu menggaruk kepalanya karena sejauh matanya memandang, dia tidak berhasil menemukan kaum lelaki dalam pemukiman tersebut. Semua yang dilihatnya hanya para wanita. Laki-laki yang dijumpainya dan dilihatnya, semua adalah anak-anak berusia kurang dari 12 tahun.


Anjani menepuk bahu Gentayu dan menunjuk ke suatu arah, membuatnya menoleh.


“Perhatikan rumah itu! Bukankah itu rumah terbesar di sini? Mungkin saja itu rumah kepala desa yang dimaksud wanita tadi, bukan?” Anjani berkata, tapi matanya justru mengarah ke tempat lain.


“Hei, apa yang kau temukan?” Kini Hao Lim yang penasaran atas sikap Anjani, berkata setengah berbisik.


“Sepertinya, mendatangi masalah lagi..” Anjani berkata sambil menghembuskan nafas yang berat.


Hao Lim dan Gentayu serentak mengalihkan pandangan ke arah Anjani memandang.


Dari tiap rumah pohon itu, berlompatan para lelaki yang semula seolah tidak ada di kampung itu. Mereka hanya mengenakan celana terbuat dari kulit hewan, meskipun beberapa memakai pakaian terbuat dari bahan kain sebagaimana manusia biasa. Bagian atas tubuh mereka tanpa balutan pakaian apapun, bertelanjang dada.


Mereka datang dengan pedang dan tombak yang terhunus, seolah siap mencincang tubuh Gentayu dan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2