
“Kalian tidak keberatan ‘khan kalau semua ini kuambil untukku sendiri?” Kata Gentayu, berpaling ke arah Putri Nakano dan Ryutaro.
Tidak menunggu jawaban keduanya, Gentayu dengan cepat memindahkan kelima kantong Buana milik pimpinan perompak itu ke dalam gelang gerobok miliknya.
Menyaksikan gerak cepat Gentayu mengklaim harta rampasan sisa pertempuran membuat Ryutaro geleng-geleng.
Pemuda hebat yang telah dia ikuti sejauh ini tidak berubah sama sekali sikapnya ketika berjumpa dengan harta seperti ini.
Tak jauh darinya, rahang putri Nakano tanpa sadar jatuh mengungkapkan mulutnya yang melongo.
Matanya tanpa sadar berkedut saat hatinya berkata
‘Bukankah kau meminta izinku sebagai seorang putri kaisar? Tidak, tidak, tidak.. sebagai orang yang ikut melumpuhkan para perompak..
Setidaknya walau tidak menghormatiku, berbasa-basilah sedikit, aku ini perempuan cantik! Ok? Atau minimal biarkan aku mengangguk dahulu sebelum kau melakukannya tanpa malu-malu..’
Putri Nakano hanya menghela nafas panjang tak berdaya. Sedangkan Ryutaro sudah tidak terlalu heran melihat perangai pemuda di hadapannya.
“Kalian boleh mengambil semua yang ada di dalam kapal. Sepertinya ada sangat banyak peti-peti harta di sana..” Kata Gentayu selanjutnya ketika melihat raut muka masam Ryutaro dan Putri Nakano.
Mendengar itu, Putri Nakano dan Ryutaro hanya saling pandang sekilas sebelum keduanya menelan ludah dan tersenyum dengan getir.
“Hehehe.. kami mungkin tidak membutuhkannya..” Putri Nakano menyahut sambil nyengir, memaksakan dirinya untuk tersenyum.
‘Harta apa? Bukankah kau tahu bahwa para perompak itu orang-orang serakah? Harta mereka jelas semuanya berada di tangan pimpinan mereka. Kau ingin kami memunguti pakaian kotor, sisa makanan, dan senjata tidak berguna mereka? Huh! Pemuda tak tahu malu ini..’
Muka putri Nakano berubah-ubah merah dan hijau saat fikiran marah namun tak berdaya ini melintas.
Gentayu secara alami tidak menyadari umpatan dan sumpah serapah dilontarkan dalam hati Puri Nakano terhadapnya.
Tanpa merasa bersalah Gentayu kemudian melangkah ke arah kerumunan warga desa yang telah keluar kembali dari rumah masing-masing setelah yakin suara pertempuran benar-benar berhenti.
Memanggil tabib Mamoto, Gentayu menyerahkan beberapa botol obat-obatan untuk diberikan kepada Hideki yang masih terluka dan menjalani perawatan di rumahnya.
Tabib Mamoto menerima seluruh botol obat-obatan itu dengan mata berbinar. Bahkan, persediaan obat yang dimiliki di rumahnya selama ini tak pernah sebanyak yang diterimanya dari Gentayu.
‘Para perompak itu benar-benar kaya!’
__ADS_1
Dengan penuh syukur dan terimakasih, tabib Mamoto bermaksud hendak bersujud kepada Gentayu namun segera dicegah pemuda itu.
“Tidak perlu berterimakasih. Di sana ada putri Nakano, putri dari Kaisar generasi leluhurmu. Aku yakin, kau dan Pendekar Hideki akan mendapatkan manfaat besar bila bersedia mengikutinya” Gentayu menepuk pundak tabib Mamoto sebelum berpaling ke arah Ryutaro dan Putri Nakano.
“Panglima Ryutaro, Putri Nakano! Sebelum berpisah, bagaimana kalau kita minum-minum dulu? Tuan Kepala Desa pasti akan kecewa bila kita pergi begitu saja tanpa memberinya kesempatan menjamu kita, bukan?”
Kepala desa yang mendengar ucapan Gentayu yang disuarakan dengan cukup keras terhenyak.
Lamunannya yang tengah memikirkan betapa beruntungnya dirinya sebagai kepala desa akan mendapatkan sisa kekayaan yang ditinggalkan para perompak, segera buyar entah kemana.
Dia segera menoleh dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan menemukan bahwa pandangan semua orang tertuju kepadanya. Tak terkecuali Putri Nakano dan Ryutaro.
Dengan tergopoh-gopoh disertai wajah ketakutan, kepala desa buru-buru menghampiri dan segera membungkukkan badan di hadapan ketiganya dari jarak tak kurang dari seratus meter.
“Tentu, tentu... adalah sebuah kehormatan besar bagi kami bila tuan pendekar dan tuan putri sudi singgah di kediaman kami..”
Ucapannya dipenuhi dengan nada dan mimik muka seorang penjilat di hadapan ketiga tokoh luar biasa ini.
Kepala Desa ini sebelumnya jelas-jelas telah menyinggung Gentayu dalam insiden pengepungan rumah tabib Mamoto sebelumnya. Wajar untuknya khawatir mendapatkan sisi buruk dari Gentayu, walaupun pemuda itu saat ini terlihat ramah.
“Kalau begitu, kami akan merepotkan tuan kepala desa..” Putri Nakano menjawab kepala desa, menunjukkan sikapnya menerima ajakan Gentayu.
Bagi Putri Nakano, setidaknya dia memiliki kesempatan untuk menggali lebih jauh identitas dan perjalanan Gentayu nantinya. Dia merasa bahwa pemuda di hadapannya itu bukan pemuda biasa.
Kepala desa segera memimpin jalan menuju kediamannya. Gentayu, putri Nakano, Ryutaro dan beberapa tokoh mengikuti di sampingnya.
Tabib Mamoto tidak ikut dalam perjamuan. Dia segera kembali ke rumahnya guna merawat Hideki.
Hatinya tergerak untuk mengikuti di belakang Putri nakano sebagai pengikut bersama Hideki saat wanita itu akan meninggalkan desa ini esok hari.
Karenanya, perlu baginya membuat persiapan dan memastikan Hideki dapat mengikuti perjalanan tersebut bersama.
+++ +++ +++ +++
Suasana rumah kepala desa terlihat sibuk.
Meskipun kediaman itu tak pernah sepi sebelumnya, namun tingkat kemeriahan kali ini berbeda.
__ADS_1
Kehadiran Gentayu beserta putri Nakano dan Ryutaro menyebabkan suasana semarak dan antusias begitu terasa di desa itu.
Bagaimana tidak, desa ini cukup terpencil dan sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang hebat.
“Tuan Gentayu, aku dengar dari Panglima Ryutaro bahwa anda bermaksud untuk mendatangi Hutan Petir milik klan petir. Benar begitu?”
Suara Putri Nakano ditransmisikan ke telinga Gentayu dengan bisikan halus. Tak ada yang bisa mendengar suaranya kecuali Gentayu.
Ini adalah cara berkomunikasi yang bisa dilakukan oleh pendekar berkekuatan minimal Pendekar Bumi bila ingin pembicaraan mereka tidak didengar orang lain.
Mereka yang belum mencapai puncak pendekar langit, belum mampu menggunakan telepati untuk saling berkomunikasi secara rahasia.
Tapi tentu saja, metode komunikasi ini dengan mudah didengar tanpa kesulitan oleh pendekar yang telah mencapai kekuatan puncak pendekar langit ke atas.
Menanggapi pertanyaan itu, Gentayu hanya menganggukkan kepala. Dia hanya melirik ke arah putri Nakano yang bibirnya tampak bergetar lembut.
“Apa kamu tahu tempat apa itu sebenarnya?”
Kembali suara putri Nakano terdengar di telinganya.
“Aku hanya mendengar, bahwa Klan petir menguasai tempat tersebut sejak zaman kuno. Selebihnya, aku tidak yakin..” Gentayu menjawab sembari menggelengkan kepala, dengan ekspresi ingin tahu.
Dia menyadari bahwa dari nada bicara putri Nakano, ada sesuatu yang istimewa di tempat tersebut yang dia ingin ketahui.
“Aku juga mendengar dari Ryutaro, bahwa walaupun kamu berasal dari dunia para Danyang, tapi seluruh hidupmu sebenarnya dihabiskan di dunia ini. Kalau tebakanku tidak meleset, kamu mungkin tidak memahami hubungan antara dunia ini dengan dunia para Danyang. Apa aku benar?”
Gentayu terdiam. Matanya kali ini tidak lagi melirik ke arah putri Nakano, bahkan Gentayu memilih berdiri dan mengambil tempat duduk di sebelahnya.
“Aku ingin tahu..”
Gentayu hanya menjawab singkat. Kali ini, dia menjawab secara biasa sehingga mereka yang berada di dekatnya mendengar dan segera menoleh ke arahnya.
“Seperti dugaanku..” Putri Nakano tersenyum puas begitu mengetahui tebakannya benar.
“Ikut Aku..”
Putri Nakano berdiri dan memberi isyarat kepada Gentayu untuk mengikutinya.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Gentayu, putri Nakano telah melesat keluar menembus gelapnya malam menuju tepian pantai.