
Siasat Rambang Dangku berjalan sempurna.
Dua hari tepat setelah kepergian prajurit Lamahtang gadungan anggota aliansi Bintang Harapan, para prajurit penarik upeti kerajaan benar-benar mendatangi kadipaten Ujung Jambe.
Ya, hari itu adalah jadwal biasanya para petugas penarik pajak dan upeti mengambil upeti dari kadipaten Ujung Jambe. Adapun para prajurit gadungan yang datang sebelumnya, mereka mendahului dari waktu yang biasa ditetapkan.
Adipati Suro Langun percaya saja karena memang kondisi kerajaan belum sepenuhnya kondusif sehingga mungkin berpengaruh pada perubahan jadwal penarikan upeti. Begitu fikirnya. Dan kedatangan prajurit asli kali ini mengagetkan Suro Langun karena lebih cepat lima hari dari perjanjian sebelumnya.
Bukankah suro langun diberikan tenggat waktu selama seminggu untuk mencukupi kekurangan jumlah upeti yang dibayarkan?
Kenapa baru dua hari mereka sudah datang? Bukankah ini menyalahi perjanjian?
Namun begitu, Suro Langun tetap menyambut para tamunya tersebut. Sayangnya, para prajurit yang kelelahan karena mendapat banyak gangguan sepanjang perjalanan itu bersikap tidak sopan di hadapan sang adipati. Karakter dasar mereka memang para penjahat jalanan, sehingga berbasa basi bukanlah keahlian mereka.
“Tuan-tuan, bukankah terlalu cepat? Bukankah seharusnya kalian datang kemari lima hari lagi?” tanya adipati ketika para prajurit itu menanyakan upeti yang seharusnya disetorkan.
“Kondisi Kerajaan sedang sangat kacau! Jadi, Mahapatih Karang Setan menginginkan penarikan upeti itu tanpa mengulur waktu. Setidaknya, kami akan tahu siapa saja adipati yang mendukung kami dan siapa yang membelot!” Kata pimpinan rombongan prajurit tersebut tegas.
Sebagai prajurit baru, tentu dia tidak tahu pasti jadwal biasanya penarikan upeti dilakukan. Sedangkan bagi adipati, ucapan tersebut adalah ancaman baginya agar tidak meminta penundaan.
Adipati Suro Langun menelan ludah . Dia sudah memperhitungkan kemungkinan harus berbenturan dengan para prajurit ini. Suka tidak suka, sepertinya memang begitulah yang harus terjadi.
‘Selalu begini kalau melayani penjahat, diberi hati, minta jantung!’ batinnya dalam hati dengan kesal.
“Maafkan kami tuan-tuan, tapi kami memang tidak bisa menyiapkannya hari ini. Bisakah kalian datang lagi lima hari lagi?” Kata Suro Langun mencoba bernegosiasi.
Bagaimanapun, utusan kepercayaannya yang diminta untuk mengambil simpanan hartanya sebagai upeti baru akan tiba besok siang. Lokasinya menyimpan harta memang sangat jauh, tersembunyi di sebuah perkampungan. Tidak mungkin baginya memenuhi kewajiban upetinya hari ini seperti permintaan para prajurit.
‘BRAK!!’
Kali ini bukan suara meja digebrak. Tapi meja yang ditendang hingga menabrak dinding dan pecah berkeping-keping.
“Kalian fikir kami ini penagih cicilan hutang rentenir??!” pimpinan prajurit berkata dengan keras. Tampak nada tidak senang dalam ucapannya.
Para prajurit yang berjumlah dua puluhan orang itu segera mengepung adipati.
__ADS_1
Namun, para pengawal adipati kemudian mengurung mereka semua. Para prajurit itu kalah jumlah dari pasukan pengawal.
“Kalian berani menentang kami??” Berkata prajurit lain di samping pemimpin rombongan.
“Bukankah kalaupun kami menurut, tetap saja kami ditindas??” Suro Langun berkata dengan sorot mata dingin. ‘Kepalang basah, mandi sekalian’ ujarnya membatin.
Kemudian dengan mengibaskan tangannya, segera saja para pengawalnya mendahului menyerang para prajurit Lamahtang di hadapan mereka. Bentrokan tak terhindarkan dalam ruangan yang sempit tersebut.
++++++ +++++ ++++++ ++++++
Di pusat kerajaan Lamahtang, Karang Setan segera mengumpulkan para pembantunya.
Kabar pembantaian para prajuritnya yang bertugas menarik upeti rutin di kadipaten Serelo Pualam yang diduga dilakukan oleh para pengawal adipati Bayang Keling, membuatnya naik pitam. Saat sedang memimpin pertemuan untuk menindak tegas adipat Bayang Keling, seorang senopatinya meminta izin untuk masuk ke ruangan pertemuan.
Begitu diizinkan masuk, ternyata senopati tersebut melaporkan bahwa telah terjadi bentrokan yang menewaskan hampir semua prajuritnya di Ujung Jambe. Seorang prajurit berhasil selamat setelah ditolong seorang pendekar misterius bertopeng. Prajurit yang selamat itulah yang menyampaikan berita tersebut.
“Kurang Ajar! Secepatnya kita harus buat perhitungan dengan dua orang adipati itu! Jangger, kerahkan orang-orangmu dan ***** habis mereka yang berontak! Sepertinya kita harus menunjukkan taring sejati kita!” Karang Setan memberikan instruksinya pada pertemuan tersebut.
Mpu Jangger sebenarnya diberikan jabatan sebagai panglima perang oleh raja Tulung Selangit, namun Karang Setan tidak menyetujuinya. Menurutnya, posisi Panglima sebaiknya langsung dipegang oleh Mahapatih agar tidak terjadi dualisme dalam tubuh prajurit. Ide itu diterima raja Tulung Selangit.
Mpu Jangger sebenarnya ingin menangis saat ini.
‘Bagaimana mungkin seorang Mahapatih diperintah oleh penasehat raja?’
Akhirnya Mpu Jangger hanya mengangguk saja. Mengiyakan perintah Karang Setan.
Belum selesai pertemuan tersebut, senopati yang baru saja keluar setelah melapor perihal bentrokan di Ujung Jambe kembali masuk ke ruangan. Kali ini dengan wajah lebih pucat.
“Apa lagi, Sanca!” Hardik Mpu Jangger.
Senopati itu bernama Sanca, adalah anggota dari padepokan Segoro Geni. Wajah Mpu Jangger nampak kesal melihat bawahannya tersebut.
“Maaf Mpu....” Senopati itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Mpu Jangger buru-buru menendang wajahnya dengan keras.
‘Brak!!’
__ADS_1
Tubuh Senopati Sanca membentur tiang pada aula pertemuan.
“Biasakan memanggilku, Gusti Mahapatih! Camkan itu!” Kata Mpu Jangger sedikit membentak.
Karang Setan tersenyum menertawakan kekonyolan yang terjadi dihadapannya. Sementara para Senopati dan hulu balang lain menundukkan kepala. Meyakinkan diri agar tidak mengulangi kebiasaan memanggil Mpu Jangger dan mungkin para petinggi lain seperti biasanya saat sebelum menjadi pejabat kerajaan.
“Sekarang Katakan! Ada apa?” Perintahnya kepada
“Dua puluh empat orang prajurit kita di Tulang Mesuji, dihabisi orang suruhan adipati..” Lapor sang senopati sambil meringis menahan sakit pada tulang belakangnya akibat benturan dengan tiang.
Kali ini bukan hanya Mpu Jangger yang meradang, Karang Setan yang semula duduk bahkan kembali berdiri dengan wajah merah padam. Tangannya mengepal, dan nampak asap putih keluar dari sela kepalan tangan tersebut.
“Habisi Mereka semua!!” Bentaknya kepada seluruh yang hadir di aula itu.
Mereka semua buru-buru beringsut pergi meninggalkan balai pertemuan kerajaan sebelum menjadi sasaran luapan emosi setan tua itu. Mpu Jangger sendiri segera menuju kediamannya. Mengumpulkan para anak buahnya untuk bersiap melakukan penyerangan menumpas ketiga adipati yang dianggap memberontak.
+++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ ++
Sementara itu di dasar lembah bernama Lembah Kenangan, Gentayu telah mendapatkan beberapa pencerahan.
Rajo Narako menjelaskan bahwa sebenarnya di balik alam dunia yang terus berkembang ini, ada alam lain yang berjalan paralel. Alam dunia ini hanyalah satu di antara sekian banyak alam yang terdapat di semesta raya. Bahkan, alam kematian itu sendiri juga salah satu alam lain yang berjalan bersamaan dengan berjalannya alam dunia ini. Berpisahnya nyawa dari jasad adalah portal memasuki alam kematian tersebut.
Sedangkan keberadaan Rajo Narako selama ini berada di alam dengan waktu yang berjalan berbeda dengan waktu dunia fana ini. “Bukankah kau juga memilki alam kecil lain pemberian dari wanita itu?” begitulah kata-kata Rajo Narako menyinggung alam tepi danau dalam gelang gerobok pemberian Pendekar Bulan Perak.
Menurut Rajo Narako, Pendekar Bulan Perak dan Pendekar Jari Petir adalah dua pendekar sakti yang berasal dari alam lelembut. Mereka telah berumur ribuan tahun. “Mereka bisa melihatmu, namun kau tidak bisa melihat mereka tanpa kemampuan khusus. Namun begitu, saat mereka memasuki duniamu, maka pada tubuh mereka juga akan berlaku hukum sebagaimana makhluk hidup pada alam ini hidup. Mereka bisa menjadi sangat lemah, sehingga terkadang harus mengambil rupa dan bentuk hewan tertentu untuk menyamarkan diri..” Rajo Narako menjelaskan kemudian.
Lalu pada alam seperti apa Rajo Narako ini hidup? Rajo Narako sama sekali tidak menyinggung maupun menjelaskannya. Dia hanya menjelaskan, bahwa sebenarnya Gentayu juga bukan berasal dari alam manusia ini. Dia adalah salah satu sosok yang berasal dari dunia yang sama dengan Rajo Narako. Sengaja dititipkan ke alam manusia untuk melaksanakan satu tugas besar di masa depan.
Sebelum ini, juga banyak orang-orang seperti Gentayu di setiap periode kehidupan. Setelah misinya selesai, mereka bisa pulang kembali ke alam asal leluhurnya jika memiliki kemampuan. Atau tetap menjalani hidupnya sebagai manusia biasa seperti saat ini.
Mendengar semua ini, Gentayu membutuhkan waktu selama empat hari berikutnya untuk menenangkan dirinya dari keterkejutan.
Nb. Terus dukung karya ini yaaa..
Jangan lupa tinggalkan Like, komen, dan rate bintang 5.. Syukur kalo punya poin bolehlah di Vote 😅
__ADS_1