JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Anjani III


__ADS_3

“Apa maksudmu Anjani?” Gentayu menatap Anjani penuh tanda tanya.


“Maksudku, seluruh orang di marga Api telah tertipu oleh Datuk Buana periode ini!..” Anjani menyatakan kalimat itu dengan yakin. Matanya indahnya tampak berkilat saat kepalanya mengangguk dengan yakin. Melangkah pelan menjauhi Gentayu.


“Tertipu? Tertipu bagaimana maksudmu?” Gentayu makin tak mengerti arah pembicaraan Gentayu. Apalagi ini bersangkut paut dengan ayahnya.


“Apa pendapatmu, jika di dunia ini ada orang atau kelompok yang mampu berubah wujud dan menyamar menjadi orang lain dengan sempurna? Bukan hanya wajahnya, tapi juga.. kemampuannya?” Anjani yang semula berjalan menjauhi Gentayu kini berbalik. Kembali menatap mata pemuda itu.


“Tentu saja itu berbahaya.. tapi bukankah dengan kekuatan yang dimiliki orang-orang di dunia ini, hal seperti itu akan mudah diketahui?” Gentayu berpendapat seolah menyangkal disampaikan Anjani.


”Itu hanya bisa terjadi kalau yang melakukannya hanya orang dengan kemampuan sekelas dirimu atau lebih rendah saja. Namun, di dunia ini.. Kejahatan dan kebenaran, tumbuh berkembang lebih kuat bersamaan.. Seiring bertambah kuat dan bertambah tingginya posisi manusia, tingkat kesempurnaan kejahatannya juga semakin tinggi...”


“Apakah maksudmu, mereka yang di Marga Api saat ini bukanlah orang-orang Klan Api yang asli?


Maksudmu, mereka adalah orang lain yang menyamar?” Gentayu mencoba menangkap maksud di balik perkataan Anjani.


Gadis itu hanya mengangguk, sorot matanya tajam menunjukkan keyakinan dan kejujuran ucapannya.


“Lalu, apa kau punya buktinya, Anjani?” Gentayu memang tidak mungkin mempercayai begitu saja ucapan gadis cantik di hadapannya ini. Bagaimanapun, gadis ini masih dipenuhi banyak misteri baginya.


“Tentu saja aku punya buktinya! Kau fikir, kenapa aku bisa berakhir di tempat menyedihkan di dipantara?” Anjani berkata demikian sambil matanya sedikit melotot dan wajahnya didekatkan ke wajah Gentayu, membuat pemuda itu termundur.


“Aku adalah anak dari pelayan kakekmu yang terbunuh oleh Mislan Katili” Anjani kemudian berbalik memunggungi Gentayu. Lalu berjalan perlahan menjauh, mengitari pohon kecapi sembari melanjutkan ceritanya.


Sebagaimana orang tuaku, akupun kemudian meneruskan pekerjaan mereka, sebagai pelayan keluarga Datuk Buana Marga Api generasi ini.


Aku memiliki kemampuan mengingat apapun yang kubaca dalam sekali lihat, namun tidak ada yang mengetahui kemampuan istimewaku ini. Maka, saat membereskan kamar sang Datuk Buana, aku seringkali membaca sepintas halaman perhalaman dari kitab-kitab yang sedang dibacanya. Ringkasnya, aku mencuri ilmu. Bahkan, selama tiga tahun mengabdi, aku telah membaca dan menyelesaikan lebih banyak kitab bacaan daripada sang Datuk Buana.

__ADS_1


Tapi ada hal yang mengganjal hatiku setelah ikut membaca kitab-kitab itu selama tiga tahun.


Awalnya, kitab-kitab itu adalah kitab-kitab untuk ilmu tingkat tinggi yang hanya boleh dipelajari oleh para petinggi Marga dan Datuk Buana saja. Tapi, setahun terakhir, yang kutemukan dan kubaca justru kitab-kitab dasar. Bahkan terlalu dasar.


Semua pertanyaan dan keganjilan itu akhirnya terjawab pada bulan-bulan terakhir pengabdianku. Sebelum aku diasingkan ke Dipantara” Anjani terlihat mengambil jeda, menarik nafas dalam dalam kemudian kembali menghembuskannya. Ini adalah caranya untuk tidak terbawa emosi yang membuatnya kembali harus mengingat betapa tersiksanya saat dirinya hanya berwujud seonggok batu berbentuk trisula. Sendirian dalam sepi.


“Malam itu, aku diminta untuk mendampingi tamu datuk buana. Dia, si tamu ini datang dengan membawa banyak upeti kepada Datuk Buana. Aku baru tahu belakangan, sesaat sebelum terbuang ke Dipantara bahwa ternyata orang ini adalah pengikut Mislan katili, dari Faksi Tengkorak Merah..” Terlihat Anjani mengepalkan tangannya keras saat menyebut kata ‘Tengkorak Merah’.


“Lalu, apa yang kau temukan?” Gentayu menanyakan hal itu sembari tangan kananya menempel di bahu kiri Anjani. Sang pemilik bahu menoleh ke bahunya, membuat Gentayu segera menarik kembali tangannya.


“Aku menemukan sebuah fakta setelahnya. Aku diminta keluar dari ruangan oleh Datuk Buana. Karena aku mencurigai hal tak beres di sana, aku menurut untuk pergi tapi tanpa sepengetahuan mereka aku menggunakan kemampuanku mendengar dari jarak jauh untuk menguping pembicaraan kedua.


Ruangan itu disegel agar apa yang mereka bicarakan tidak sampai keluar.


Tapi, mereka pasti tidak mengetahui bahwa aku telah menguasai bagian-bagian penting ilmu tingkat tinggi yang seharusnya hanya dikuasai oleh Datuk Buana itu. Berkat kemampuanku, segel yang menghalangi pembicaraan untuk didengar orang lain tidak bekerja padaku.


Hasil mengupingku, aku mendapati fakta tentang asal muasal kemampuan hebat Mislan Katili. Bagaimana dia bisa menguasai seluruh kemampuan para pendekar terkuat setiap marga? Jawabnya adalah karena leluhur orang-orang Faksi Tengkorak Merah ini!


Mereka, Faksi Tengkorak Merah ini, memiliki kemampuan mengubah wajah sehingga mempermudah mereka melalukan penyusupan selama ratusan tahun. Mungkin setalah ratusan tahun itu, pada periode inilah para penyusup itu berhasil mencapai posisi-posisi penting kecuali posisi Datuk Buana.


Aku bahkan sampai pada kesimpulan dan aku yakini itu, bahwa Datuk Buana periode ini sudah tewas terbunuh. Dan orang-orang dari Tengkorak Merah ini menyamar menjadi dirinya!” Anjani berkata dengan berapi-api penuh kemarahan.


Kemarahan yang wajar sebenarnya. Sebab, andai bukan karena campur tangan Datuk Rajo Narako yang menolongnya di Dipantara, mungkin Anjani akan berakhir hanya menjadi batu trisula dengan roh yang terkunci di dalamnya. Selamanya.


Keterangan Anjani benar-benar berhasil mengguncang jiwa Gentayu. Semua impian yang dibangunnya seperti lenyap menguap.


Awalnya, setelah mendapat petunjuk dari Datuk Rajo Narako bahwa dirinya harus memperkuat diri sebelum bisa kembali ke dunianya, Gentayu berfikir bahwa kembali ke dunianya adalah sebagaimana kembalinya seorang perantauan yang akan disambut suka cita.

__ADS_1


Namun setelah mendengar cerita lengkap Anjani, Gentayu jadi lebih memahami kuatnya pergolakan yang terjadi dalam Klan Api, klan leluhurnya.


Meskipun belum pernah bertemu orang tuanya, Gentayu bisa merasakan besarnya pengorbanan yang mereka lakukan untuk memastikan dirinya tetap hidup hingga hari ini.


Dengan menguasai pucuk pimpinan tertinggi Marga Api, Tengkorak Merah jelas mendapat keuntungan berlipat ganda. Seluruh rahasia klan, termasuk penguasaan ilmu tingkat tinggi jelas telah jatuh ke tangan mereka dengan sempurna. Berikut Sumberdaya dan kekuatan para pendekar di dalamnya.


“Kuharap, kau tidak gegabah, muncul di saat kekuatanmu masih begitu lemah seperti sekarang.. Sebaiknya, kau tetap bersikap dan berfikir seolah ayah dan ibumu memang sudah tidak ada. Setidaknya, hingga kau mampu mencapai tingkat Pendekar Langit!


Kalau kau nekat mendatangi Marga Api sekarang, maka sama saja membunuhku, membunuh ayah dan ibumu, juga membunuh dirimu sendiri. Fikirkan itu..” Anjani menurunkan nada bicaranya hingga terdengar lirih. Lalu menyandarkan punggungnya pada pohon kecapi sembari menengadahkan wajahnya menatap purnama di langit.


Andai perkiraan Anjani tentang telah terbunuhnya Datuk Buana yang asli itu benar, maka itu artinya posisi ayah Gentayu sebagai pendekar terkuat saat ini, barangkali hanya simbolik semata. Mampu membunuh Datuk Buana Api jelas menunjukkan mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan.


Selain itu, pasti ada rencana besar di balik itu semua yang telah dirancang oleh kelompok Tengkorak Merah.


Andai Gentayu muncul saat ini, tentu saja akan mengancam bukan hanya nyawanya, namun juga nyawa ayahnya. Karena dengan kemunculan Gentayu sebagai anak pendekar terkuat yang masih mungkin berkembang hingga mencapai tingkat pendekar Langit, tentu akan mengancam posisi Datuk Buana berikutnya dari jalur keturunan Datuk Buana Periode ini. Begitulah pemikiran Gentayu saat ini.


“Hari sudah larut. Sebaiknya kita beristirahat dulu. Besok kita lanjutkan perjalanan..” Anjani beranjak menyadarkan Gentayu yang sedang larut dalam kemelut fikirannya.


“Baiklah. Sebaiknya begitu. Kita istirahat dahulu, besok baru kita putuskan tujuan dan rencana kita selanjutnya..” Jawab Gentayu.


Akhirnya, keduanya kembali memasuki kediaman Joh Kaiman dalam diam. Tanpa berkata apapun lagi. Mereka memang sedang memikirkan langkah apa yang sebaiknya mereka lakukan selanjutnya di dunia asing ini. Andai bisa memilih, Gentayu jelas memilih kembali ke Dipantara.


Nb. Ada banyak Puzle cerita ini yang belum tersambung utuh.


Sengaja, biar kalian penasaran dan sedikit mikir.. wkwkwkwk...


Pingin Crazy Up, tapi dari semalam selalu gagal pegang laptop.

__ADS_1


Semoga malam ini bisa maksimal ya..


Menulis cerita itu, gak jauh beda ternyata dengan ngungkapin perasaan untuk pertamakali ke gebetan. Sekalipun konsep lengkap, skenario ada.. tapi begitu lihat ada bapaknya, semua buyar!


__ADS_2