JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Jalamandana


__ADS_3

“Oh.. itu..” Gentayu nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal menerima ucapan terimakasih dari pendekar sepuh itu.


”Sebenarnya saya tadi bukan bermaksud menolong tuan. Maaf jika menyinggung tuan. Saya memang memiliki masalah dengan mereka dan saya hanya sedang menuntaskan masalah saya, itu saja. Saya muak melihat tindak-tanduk mereka yang petentang-petenteng seolah dunia ini milik mereka. Sudahlah, tuan. Tak perlu merasa berhutang budi. Lalu,.. bantuan apa sebenarnya yang tuan Shou harapkan dari saya? Silakan sampaikan saja, siapa tau saya mampu melakukannya. Tapi sebelumnya, sebaiknya saya bantu tuan memulihkan diri dulu..”


Gentayu tidak keberatan untuk membantu Tetua Shou lebih jauh. Tentu saja sebelum menyetujui dia ingin mendengar terlebih dahulu bantuan yang diinginkan tetua sekte tersebut. Apalagi misi perjalanannya saat ini memang akan berhubungan sedikit banyaknya dengan sekte Naga Merah. Bukankah ini sebuah kebetulan yang langka bertemu dengan sosok penting sebuah kelompok yang terkenal tertutup dari dunia luar?


Namun saat ini, hal paling mendesak adalah memulihkan lelaki itu dari luka-luka yang diterimanya dari Wanadri, pimpinan Bintang Merah.


“Ah... mana.. mung..kin ..aku tidak.. berterima.. kasih.. heh..!” Lelaki tua itu kembali memuntahkan darah segar saat Gentayu berhasil menyangga bagian belakang tubuhnya untuk tetap duduk walaupun kondisinya semakin lemah.


“Lukaku ini.. hah.. haku tidak.. ber...fikir.. bisa.. diselamatkan. Tapi, jika.. tuan ingin membantu.. memulihkanku..... bawa.. saja.. aku.. ke.. tem...pat.. sahabatku... dia.. tabib.. ter..kenal.. di.. kota.. ini. Tapi... aku... ingin... mem..masti..kan.... benda... ini... sam..pai.. ke.. Na..ga..Merah.. ber..janji...lah.. anak..muda..” Tetua Shou berkata dengan sangat lemah. Dia menyerahkan sebuah benda dalam balutan kain putih kepada Gentayu. Lukanya terlalu parah sehingga dia sendiri tidak yakin akan bisa pulih dan menyelesaikan misinya.


Gentayu tidak lagi banyak bicara setelah itu. Dia hanya mengangguk dan menerima benda yang diserahkan tetua Shou tersebut, lalu memapah lelaki itu meninggalkan tempat itu menuju bekas penginapan yang terbakar.


Puluhan pasang mata mengamati mereka berdua dengan bermacam perasaan dan bisik-bisik yang bermacam-macam. Sebagian besar begitu mengagumi sosok Gentayu yang terlihat begitu muda namun mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi penduduk Sei Asin dengan sangat mudah. Sebagian lagi berharap dirinya atau anak keturunannya memiliki kemampuan seperti pemuda tersebut. Meskipun ada juga yang justru menyalahkan mereka atas kejadian ini karena menganggap Bintang Merah membuat kerusuhan juga karena kehadiran mereka di tempat ini. Tentu saja Gentayu tidak mempedulikan semua itu. Saat ini, hal terpenting yang harus dilakukan adalah mendapatkan kuda atau kereta untuk mebawa Tetua Shou menuju tempat tabib sahabatnya.


Penginapan yang kini telah sepenuhnya dilalap api itu berhasil menyelamatkan kereta-kereta kuda milik penginapan yang biasa digunakan mengantar dan menjemput para tamu penginapan. Para pengurus penginapan mengenali Gentayu sebagai pemuda penghuni salah satu kamar penginapan yang kemudian menghabisi pimpinan Bintang Merah sekaligus memaksa Bangsawan Tian untuk bertanggungjawab memperbaiki penginapan. Tentu saja mereka sangat berterimakasih. Perempuan berumur 40-an tahun yang sepertinya adalah pemilik penginapan sampai hampir bersujud bila tidak dicegah Gentayu. Selama ini, Kelompok Bintang Merah memang selalu mempersulit bisnis mereka di kota ini.


Ketika Gentayu bermaksud menyewa salah satu kereta kuda berikut kusirnya, wanita pemilik restoran bermaksud menolak menerima pembayaran uang sewanya. Gentayu sudah dianggapnya sebagai pahlawan. Bukan hanya untuk penginapan ini namun juga seisi Kota Sei Asin. Namun Gentayu bersikeras dan meletakkan sepuluh koin emas di tangan wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita itu kaget melihat jumlah koin emas yang diterima. Sepuluh koin emas cukup untuk menginap lima hari lima malam di kamar termahal penginapannya berikut sewa kereta untuk berkeliling kota. Jumlah yang tidak sedikit bila hanya untuk membayar sewa kereta dan biaya menginap semalam. Apalagi Gentayu adalah orang yang menyelamatkan penginapannya dari kebangkrutan total setelah kebakaran dengan memaksa bangsawan Tian mengganti rugi kerusakan yang dideritanya malam ini.


Tak ingin berlama-lama, setelah mendapatkan kereta kuda berikut kusirnya, Gentayu segera meminta kusir kereta untuk membawa mereka menuju rumah tabib yang dimaksud tetua Shou. Butuh waktu sekitar setengah jam sebelum mereka tiba di kediaman tabib Mo You, sahabat dari tetua Shou. Rumah tersebut terletak di pinggiran Kota Sei Asin dan sedikit terpencil karena dikelilingi kebun tanaman obat langka dan berkhasiat.


Tabib Mo You dan tetua Shou adalah sahabat saat keduanya masih muda sebelum memilih jalan yang berbeda sebagai pendekar. Tabib Mo You mendalami ilmu pengobatan sedangkan Xie Shou mendalami bela diri.


Tabib Mo You terkejut mendapati sahabat lamanya dipapah oleh seorang anak muda dan kusir kereta dalam kondisi memprihatinkan saat membuka pintunya yang diketuk. Dengan cekatan Tabib yang terlihat seumuran dengan tetua Shou itu mempersiapkan tempat untuk berbaring bagi sahabatnya dan segera melakukan pemeriksaan saat Kusir kereta pamit untuk kembali kepada majikannya.


Ekspresi muka tabib itu berubah-ubah saat memeriksa kondisi sahabatnya tersebut. Lalu menoleh kepada Gentayu.


“Maaf tabib Mo" Gentayu tanggap bahwa Tabib Mo ingin sedikit penjelasan darinya "Tetua Shou ini terluka karena bertarung dengan pemipin Bintang Merah. Seingatku namanya Wanadri” hanya penjelasan singkat dari Gentayu dan kalimat tersebut membuat Tabib Mo manggut-manggut memahami kondisi yang dihadapi.


“Nama Saya Gentayu, Tuan. Terimakasih atas kebaikan tuan. Saya mohon diri untuk beristirahat. Bila tuan butuh bantuan saya, tuan silakan memanggil saya. Sementara ini, saya memang cukup lelah setelah dua hari ini tidak beristirahat..” Gentayu berkata jujur kepada Tabib Mo. Dia segera beranjak menuju kamar yang ditunjuk Tabib Mo.


++++++++++++++++++++


Sementara itu di Kediaman Bupati Jalamandala, kepala wilayah di bawah kerajaan Muaro Lamahtang yang menaungi beberapa daerah kecil di wilayah bagian Barat, muka bupati itu merah padam menerima laporan dari bangsawan Tian yang tak lain adalah putra kandungnya. Nama Lengkap pemuda tersebut adalah Bahastian, kakak dari Putri Marisa yang sehari sebelumnya kehilangan sebuah perhiasannya dan menuduh beberapa orang di sekitarnya sebagai pencurinya. Lima belas orang telah dipenjara dan digeledah hanya dengan tuduhan tanpa bukti. Namun ketika hendak menangkap dan menggeledah tetua Shou, mereka mengalami perlawanan. Tetua Shou dikejar sampai ke depan penginapan di mana terjadi bentrok yang disaksikan Gentayu.


“Apa katamu?? Kau dipaksa untuk mengganti rugi penginapan milik Gandawati?? Lancang Sekali dia! Panggil Wanadri dan bunuh wanita dan pemuda itu!” Bupati Jalamandana sangat marah.

__ADS_1


Laporan yang diterima sang bupati dari anaknya adalah bahwa Bahastian bersama 30 anggota Bintang Merah telah mengejar pelaku yang menghajar tiga anggota mereka sore sebelumnya. Mereka menggeledah penginapan. Namun karena dihalangi, kemudian seluruh penjaga penginapan dihajar dan penginapan dibakar. Namun kemudian, mereka dikalahkan oleh seorang pemuda dan pemuda tersebut mengharuskan mereka membayar ganti rugi atas penginapan.


“Maafkan saya, Ayah. Bahkan Wanadri telah dibunuh oleh pemuda itu...” Bahastian akhirnya membuka kenyataan bahwa tangan kanan kepercayaan ayahnya itu telah tewas.


Awalnya dia sengaja menutupi kematian Pimpinan Bintang Merah itu karena takut ayahnya akan murka kepadanya. Seharusnya Wanadri sedang bertugas ke luar kota. Namun Wanadri menunda pelaksanaan tugas ayahnya itu karena Bahastian justru memintanya untuk membantunya merebut sebuah tempat pelelangan ikan air tawar di Kota itu dari tangan seorang saudagar hanya karena saudagar itu menolak anak gadisnya hendak diambil sebagai selir Bahastian.


‘BRAK..!’


Meja di depan bupati digebrak sekuat tenaga. Gelas minuman dan keranjang buah terlempar dari tempatnya. Semua pembantunya menjadi pucat ketakutan.


“Kurang ajar! Siapa Pemuda itu berani mengusik Bupati Jalamandana?!!” Pekiknya dengan marah.


Sebagai bupati, posisinya adalah seperti raja kecil di wilayahnya. Walaupun di atas Bupati masih ada Adipati sebagai kepanjangan tangan raja, namun posisi bupati tetaplah sebagai penguasa wilayah. Tak boleh ada yang bisa mengusik kekuasaanya atau dengan mudah orang itu dicap sebagai pemberontak dan dihabisi oleh para prajuritnya. Tentu baginya ini adalah penghinaan sekaligus pemberontakan. Bupati Jalamandana bermaksud menggerakkan pasukan dengan memanggil seorang kepala pasukan di bawah kendalinya.


“Maafkan sekali lagi ayah.. Orang ini tidak bisa kita sentuh.. dia.. dia.. dia.. adalah.. adalah Putra Panglima...” Bahastian menjelaskan posisi mereka sambil tetap menundukkan kepalanya.


Mendengar nama Panglima perang kerajaan disebut, wajah Bupati itu langsung berubah pucat. Tak lagi ada amarah dan kesombongannya. Kini diwajahnya tergambar ketakutan. Siapa yang tidak mengenal sosok penting Panglima Wiratama? Bukan hanya sebuah wilayah sekecil wilayahnya, bahkan dalam beberapa pertempuran selama sepuluh tahun terakhir, kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Lamahtang bahkan tidak berkutik. Dan nama anak angkat yang telah dianggap sebagai anak sang panglima, siapa yang tidak kenal Kapten termuda kerajaan yang menjadi komandan divisi teliksandi. Kecuali raja, Mahapatih dan para pangeran putra raja, berurusan dengan keduanya sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri.


“Kalau begitu.. bahkan keluarga kita bisa musnah...” sang Bupati tertunduk lesu. Lalu mengibaskan tangannya dan memerintahkan bahastian menyelesaikan urusan ini sebelum sepuluh hari yang dijanjikan.

__ADS_1


.


__ADS_2