JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kitab Api Abadi


__ADS_3

“Aaahk..!” Gentayu terbanting keras saat kibasan tangan Gola Ijo mengarah kepadanya. Cukup hanya terkena angin dari kibasan tangan tersebut telah cukup untuk membuatnya kembali muntah darah. Dadanya sesak dan seolah dunia disekitarnya berputar.


“Ini namanya pukulan menggunakan energi daht! Energi Alam! Energi dewa! Tahan kalau kau bisa!” kata Gola Ijo sembari kembali melayangkan sebuah pukulan jarak jauh dengan santai.


Gentayu segera membentuk formasi tangan dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memblokir energi pukulan yang tak kasat mata tersebut. Hasilnya..


‘Drak!!’


Tubuhnya terhempas ke belakang sejauh puluhan meter. Menyapu rerumputan dan meninggakan jejak terseret.


Gola Ijo sedetik kemudian telah berada di hadapan Gentayu.


“Dengarkan! Tenaga dalammu cukup kuat untuk mengalahkan puluhan pendekar dari kalangan manusia biasa. Aku yakin bahkan kau mampu mengimbangi level awal pendekar bumi. Tapi, kelemahan dari teknik tenaga dalam adalah Keterbatasannya!


Aku tak tahu kenapa kau memilih menggunakan teknik tenaga dalam daripada menggunakan energi Dath yang berlimpah di alam raya ini. Energi tenaga dalammu, kau olah melalui latihan pernafasan dan laku yang rumit. Belum lagi waktu untuk mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar sepertimu pasti sangat lama prosesnya.


Yang paling buruk adalah, untuk memulihkan tenaga dalam yang terkuras dalam pertarungan juga membutuhkan waktu tidak sebentar. Dan itu kelemahan utamanya.


Berbeda dengan Energi alam yang berlimpah dari semua unsur alam. Kau tinggal menyerap dan mengolahnya dalam dirimu. Apalagi tubuhmu adalah tubuh Dewa Api, dan matahari adalah api terbesar! Pelajari ini, dan seminggu dari sekarang kita akan melihat hasilnya! Selama waktu itu, jangan ganggu aku!” Gola Ijo mengakhiri ceramah singkatnya dengan mengeluarkan sebuah lempengan berwarna kuning dan melemparkannya ke arah Gentayu.


Tak menunggu Gentayu bereaksi, Gola Ijo segera berbalik badan dan kembali lenyap. Benar-benar seperti hantu.


Gentayu meringis merasakan sakit pada beberapa bagian tubuhnya. Terutama wajahnya yang terparut tanah keras. Tapi melihat lempengan serupa logam emas di hadapannya, dia tak lagi mempedulikan rasa sakit tersebut. Dengan penasaran diraihnya lempengan tersebut.


Pupil mata Gentayu melebar saat memeriksa lempengan tersebut. Ternyata, itu bukanlah lempengan logam biasa.


Lempengan berwarna emas itu, nyatanya berisi ukiran-ukiran kalimat yang sangat kecil dalam enam bagian. Gentayu pernah melihat lempengan sejenis ini saat bersama Datuk Rajo Narako.

__ADS_1


Lempengan tersebut, tak lain adalah media untuk mencatatkan hal-hal sangat penting. Sedangkan yang ada di tangan Gentayu saat ini, bagian awalnya adalah sebaris kalimat dengan tulisan lebih besar dari lainnya “Kitab Api Abadi”!


GEntayu membelalak tak percaya membaca judul lempengan tersebut. Dia mengenali nama kitab tersebut karena Datuk Rajo Narako pernah menceritakannya.


Kitab Api Abadi adalah kitab tertinggi milik Marga Api, milik leluhurnya!


Untuk sesaat, Gentayu tak mampu berfikir apapun. Pikirannya kosong.


Ketika telah meraih kembali kesadarannya yang sempat melayang, fikiran Gentayu justru dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana kitab keramat itu bisa berada di tangan Setan Hijau ini?? Mengapa ada bersama makhluk ini? Siapa dia?


Perlahan Gentayu berdiri. Menghadap ke arah titik menghilangnya Gola Ijo lalu membungkukkan badan. Gentayu telah sampai pada sebuah kesimpulan, siapapun Gola ijo ini, dia sebenarnya makhluk yang baik. Setidaknya, itu yang Gentayu fikirkan, mengingat makhluk itu telah dua kali menyelamatkannya.


Pertamakali, melalui teratai bulan. Yang kedua membawanya pergi sehingga terhindar dari dampak serangan Gandini yang menghancur leburkan seisi hutan rawa!


“Aku takk perlu tahu siapa tuan sebenarnya. Yang jelas, saat ini aku telah dua kali berhutang nyawa pada tuan. Dan sekarang, entah apapun tujuannya, karena tuan telah menyerahkan kitab ini padaku, aku berterimakasih!” Gentayu berlutut dengan mengangkat kitab Api Abadi di kedua tangannya.


Saat itu juga, GEntayu langsung mempelajari bagian pertama dari kitab tersebut.


Bagian pertama ternyata berisi tentang metode dan teknik menyerap energi alam dari beberapa unsur alam sesuai dengan elemen dasar pada tubuh masing-masing pendekar.


Meskiun terlihat kecil, ternyata lempengan itu menampung informasi lebih banyak dari yang bisa terlihat. Ketika satu kalimat telah selesai difahami dan terpatri di dalam jiwa sebagai ilmu, maka kalimat itu akan menghilang dan berganti menjadi kalimat lainnya. Seolah-olah ada tangan-tangan gaib yang mengukir kalimat-kalimat baru setiap kali kalimat lama berhasil difahami dan diserap.


Waktu tiga hari akhirnya dihabiskan Gentayu untuk mendalami bagian pertama dari enam bagian kitab tersebut. Bagian pertama ini ternyata bernama ‘Mengisi Kekosongan’.


Berisi bukan hanya tentang bagaimana menyerap energi alam berunsur api sebagai bahasan utama, namun juga berisi petunjuk tentang tahapan membentuk ‘tubuh dewa api’. Termasuk di dalamnya, segala hal engenai seluk beluk dan karakter energi berunsur api dan perubahan bentuknya.


Gentayu tidak bisa tidak menjadi sangat antusias. Hilang sudah rasa sakit di tubuhnya, berganti dengan semangat menggebu untuk bertambah kuat. Dia tidak bisa segera melanjutkan mempelajari bab kedua, karena bab kedua sudah bicara mengenai mengolah energi api menjadi berbagai senjata pertahanan dan serangan.

__ADS_1


Tentu saja sebelum melangkah ke bab kedua, dia harus memiliki energi api dalam jumlah yang cukup besar. Dan sepertinya, itu tidak akan mudah mengingat dia pernah gagal sebelumnya. Sekaligus, ketika berhasil menjalankan bagian pertama ini, dia telah melangkah masuk level sebagai pendekar Bumi!


Gentayu segera duduk bersila. Memejamkan matanya, dan mulai mempraktekkan seni ‘Mengisi Kekosongan’ yang baru saja dipelajarinya.


Tangannya melakukan serangkaian gerakan, sementara nafasnya keluar masuk dalam ritme teratur mengikuti petunjuk dalam kitab Api Abadi. Selebihnya, fikirannya terfokus untuk menyerap energi api dari matahari. Sepuluh detik kemudian, dirinya telah berada dalam zona meditasi mendalam.


Dalam posisi meditasi seperti inilah, Gentayu menghabiskan dua hari berikutnya di tempat tersebut.


Barulah pada hari ketiga, tubuhnya bergetar hebat. Sesuatu melonjak dalam dirinya dengan rasa sakit yang tak terkira. Namun, Gentayu mencoba tetap fokus karena ini adalah titik krusial baginya untuk sepenuhnya menembus level pendekar Bumi.


Tubuhnya terus bergetar, dan keringat sebesar biji jagung mulai membasahi keningnya. Tampaknya, upayanya untuk menyerap energi dath atau energi dewa mulai menunjukkan hasil.


Perlahan, dari tujuh titik cakra dan seluruh meridian di tubuhnya, untaian halus seperti serat laba-laba yang tak tampak oleh mata biasa merembes keluar dari tulang dan daging tubuhnya. Bersamaan dengan itu, perasaan bahwa seluruh sel di tubuhnya mengembang juga dirasakannya. Namun, Gentayu tetap fokus pada meditasinya.


Itu adalah energi dath yang telah terakumulasi di dalam tubuhnya dan membentuk untaian berwarna putih kekuningan. Untaian energi yang awalnya tampak mirip benang-benang tipis serupa serat sarang laba-laba dan tak beraturan. Sebagiannya kemudian kembali menghilang begitu saja setelah beberapa saat.


Gentayu meningkatkan fokus meditasinya untuk memadatkan untaian tipis benang energi tersebut ke dalam dirinya. Perlahan namun pasti, untaian tipis benang energi yang awalnya tak terkoordinasi itu mulai berkumpul dan memadat walaupun masih sangat tipis.


Akhirnya, Gentayu membuka matanya dengan senyum cerah di wajahnya.


Tubuhnya serasa bukan lagi tubuh yang sama dengan dua hari lalu. PErasaan lebih ringan, lebih kuat dan peningkatan ketajaman inderanya membuatnya mengagumi dirinya untuk beberapa saat.


“Ah.. inikah rasanya level Pendekar Bumi? Menyenangkan sekali..” gumamnya lirih.


Tapi, tepat pada saat itulah, sesuatu bergerak cepat di antara semak-semak menimbulkan suara ribut yang mengganggu..


“Kraawk… Kraaawk…!!”

__ADS_1


__ADS_2