
“Anak muda, tunggu..” Sang senopati mencegah gentayu yang hendak pergi meninggalkan tempat tersebut selepas selesai mengamankan seluruh ‘harta karun’ berikut peliharaannya ke dalam gelang gerobok.
“Ada apa, tuan senopati? Apakah ada sesuatu yang terlewat?” Gentayu yang sudah bersiap pergi segera berbalik.
“Terimakasih atas bantuanmu.? Oh iya, Siapa namamu dan… dari mana asalmu , anak muda?” Sang senopati bertanya sembari menyodorkan sebuah lencana kepada Gentayu.
“Nama saya Gentayu, tuan. Saya tidak berasal dari manapun. Saya, pengembara..” Gentayu tidak menyatakan bahwa dirinya berasal dari marga api. Bagaimanapun, dirinya memang belum pernah dan masih asing dengan tanah asal leluhurnya tersebut sekalipun tidak akan mengingkari andaikan ada orang yang mengenalinya sebagai bagian dari Marga Api nantinya.
“Oh.. kukira kau berasal dari Marga Api. Apa benar demikian, dirimu bukan bagian dari Marga Api?” Sang Senopati nampak meragukan identitas Gentayu.
“Seumur hidup, saya tidak pernah menginjakkan kaki di Marga Api. Bahkan saya tidak tahu, di mana negeri itu berada..” kali ini, Gentayu menjawab dengan sangat jujur. Apa adanya.
Mendengar itu, Sang Senopati mengangguk-angguk.
“Apakah, kau mau mengabdikan diri di kerajaan? Dengan kemampuanmu ini, aku yakin bisa memberikanmu pekerjaan yang bagus di ibukota jika kau ingin hidup sebagai bagian dari kerajaan” Tanya Senopati setelah merasa yakin dengan penuturan Gentayu.
“Maafkan saya, tuan. Sejauh ini saya masih ingin mengembara. Banyak hal yang harus saya pelajari dan fahami..” Gentayu menolak tawaran sang senopati dengan halus.
Dirinya pernah merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai salah satu petinggi militer kerajaan. Terlebih, Gentayu belum mengenal identitas dari kerajaan mana senopati dan tuan pangeran yang dikawalnya berasal.
__ADS_1
Mendengar penolakan Gentayu, raut wajah sang senopati sedikit berubah. Namun akhirnya kembali normal, seolah jawaban Gentayu tidak mengganggunya sama sekali.
“Baiklah. Aku mengagumi pilihanmu. Tak banyak pemuda sepertimu, yang menolak jabatan, hehehe.. Ini, terimalah” Senopati itu menyerahkan lencana di tangannya. Langsung ditaruh di telapak tangan Gentayu.
“Bila suatu hari kau berkunjung ke Kotaraja Giri Kencana, mampirlah dan temui aku...Namaku Senopati Tancawesi. Semoga, saat kita bertemu, aku bisa menjamumu dengan layak, Gentayu..” Sang Senopati menepuk pundak pemuda di hadapannya.
“Baiklah, tuan Senopati Tanca. Saya tidak akan sungkan andai nanti nasib membawaku ke kerajaan..” Saat mengatakan ini, fikiran Gentayu sebenarnya tengah berkecamuk sendiri.
Kerajaan Giri Kencana? Bukankah itu sebuah kerajaan yang jaraknya sangat jauh dari Sindur Kuntala? Letaknya di wilayah timur pulau Sunda Besar, melewati gunung raksasa bernama Rakatoa? Bahkan, dalam ingatan Gentayu setelah membaca peta di kediaman Nyi Suntari sebelumnya, seharusnya ada lebih tiga kerajaan di antara Sindur Kuntala dan Giri Kencana.
Bila tempat ini berada dalam wilayah Giri Kencana, bukankah itu artinya Gola Ijo telah membawanya begitu jauh? Bila ditempuh dengan terbang, barangkali butuh waktu hampir sebulan lamanya. Entahlah.
Sebuah kata yang terucap di bibirnya kemudian adalah..” Anjani..”
++++++
Matahari telah beranjak menuju peraduan saat Gentayu memasuki bagian lebih dalam hutan. Keributan yang ditimbulkannya bersama pertarungan melawan Laba-laba hitam raksasa tampaknya menakuti siluman-siluman di hutan ini.
Gentayu terpaksa harus terbang tinggi untuk bisa melihat ke arah mana sebaiknya menuju di tengah rimbunnya hutan itu. Saat terbang tinggi itulah, dia menyadari bahwa tempat yang dituju ternyata mengarah ke sebuah gunung berapi.
__ADS_1
Karena buta wilayah, Gentayu tidak terlalu ambil pusing kemana tujuannya. Yang jelas, dia harus menemukan lawan yang cukup tangguh untuk menjadi batu lompatan menaikkan levelnya menjadi pendekar langit.
Seharian ini, siluman-siluman yang ditemui hanyalah siluman-siluman di level pendekar bumi awal dan menengah. Dan semuanya telah dikirim dalam bentuk daging setengah gosong ke gelang gerobok. Memastikan seluruh hewan peliharaannya tidak akan kelaparan selama sebulan ke depan, sekaligus cadangan kristal siluman yang cukup untuk mereka bertambah kuat.
Setelah melewati sebuah padang rumput yang banyak dihuni oleh banteng liar, akhirnya Gentayu menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah wilayah di mana cahaya matahari tidak menimbulkan bayangan di atas tanahnya.
‘Tempat apa ini?’ batin Gentayu penasaran.
Tempat itu berupa lembah mirip cerukan.
Cukup luas karena seekor banteng di ujung cerukan itu hanya terlihat sebagai sebuah titik hitam saja jika dilihat dari tempat Gentayu berdiri.
Tak banyak pepohonan tumbuh di tempat itu sehingga sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan tanah yang ditumbuhi rerumputan segar. Tapi anehnya, bahkan pepohonan di sana tak memiliki bayangan!
Gentayu yang penasaran terus melangkah memasuki lembah, menuju ke bagian tengah. Dia mengamati tanah di sekitarnya, benar-benar tanpa bayangan. Padahal kulitnya merasakan sorot matahari sore masih menyisakan kehangatan.
Ketika hampir mencapai bagian tengah lembah, barulah Gentayu menyadari sesuatu..
Langit di atasnya terhalang sesuatu yang transparan!
__ADS_1